Indonesia
NovelToon NovelToon
Setelah Diselingkuhi, Aku Dinikahi CEO Misterius

Setelah Diselingkuhi, Aku Dinikahi CEO Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aren Vely

Alya Pramesti kehilangan segalanya dalam satu hari karier sebagai dokter yang dibangunnya bertahun-tahun hancur karena fitnah, dan tunangannya sendiri memilih berpaling ke pelukan wanita lain di depan matanya.

Di titik paling rendah dalam hidupnya, dia justru bertemu Raka Wirawan CEO dingin dan misterius yang menawarkan kesepakatan tak masuk akal: menjadi istri kontrak selama satu tahun. Bukan karena cinta, tapi demi memenuhi permintaan terakhir sang nenek yang sekarat.

Alya menerima, tanpa ekspektasi apa pun selain bertahan hidup dan membuktikan diri.

Namun semua berubah saat sebuah malam krisis memaksa Alya mengambil alih sebagai dokter menyelamatkan nyawa nenek Raka saat semua orang panik. Untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat tanpa emosi itu melihat Alya bukan sekadar "istri di atas kertas", melainkan seseorang yang nilainya jauh lebih besar dari yang pernah disadari siapa pun termasuk orang-orang yang dulu membuang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aren Vely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak yang Tersembunyi

Raka bergegas menuju ruang kerja Alya begitu mendapat telepon, wajahnya penuh rasa ingin tahu sekaligus waspada. Alya menunjukkan layar laptopnya, artikel bisnis lama yang berhasil dia temukan setelah pencarian panjang.

"Lihat ini," kata Alya, menunjuk bagian tertentu dari artikel itu. "Bagas pernah bekerja sebagai analis investasi di Meridian Capital, tiga tahun lalu. Dan Meridian Capital ini..."

"...adalah salah satu investor utama di balik Handoko Group, pesaing bisnis lama keluarga kami sebelum kerja sama dengan mereka terjalin," lanjut Raka, matanya menyipit tajam mengenali nama itu. "Tapi ini tidak serta-merta membuktikan apa pun. Banyak profesional muda yang berpindah-pindah tempat kerja di dunia investasi."

"Ada lagi," lanjut Alya, men-scroll ke bagian lain artikel. "Perusahaan itu terlibat sengketa hukum dengan Wirawan Group lima tahun lalu, soal akuisisi lahan yang gagal. Dan yang menarik, kasus itu ditangani langsung oleh firma hukum yang sama dengan yang sekarang mewakili Bagas dalam gugatan warisan ini."

Raka terdiam, mencerna informasi itu dengan seksama. "Itu bisa jadi kebetulan, tapi juga bisa jadi pola yang disengaja. Aku akan meminta tim investigasi internal untuk menelusuri lebih dalam hubungan antara Bagas dan pihak-pihak yang pernah bersengketa dengan kita."

Keesokan harinya, tim investigasi swasta yang disewa Wirawan Group mulai bekerja diam-diam, menelusuri jejak digital dan riwayat profesional Bagas dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan kecurigaan sebelum waktunya.

Sementara itu, Bagas mulai lebih sering muncul di kehidupan keluarga Wirawan, memanfaatkan kesempatan "mengenal keluarga" yang ditawarkan Raka. Dia menghadiri makan malam keluarga, bersikap sopan dan hangat pada Oma Ratna, bahkan berusaha mendekati ibu Raka dengan penuh perhatian yang tampak tulus.

"Kau tahu," kata Bagas pada suatu sore, saat kebetulan hanya berdua dengan Alya di taman rumah menunggu yang lain, "aku sebenarnya cukup terkesan dengan yayasan kesehatan yang kau rintis. Aku dengar fokusnya membantu tenaga medis muda yang menghadapi ketidakadilan karier, seperti pengalamanmu sendiri dulu."

"Terima kasih," jawab Alya sopan, meski kewaspadaannya tetap terjaga. "Itu memang sesuatu yang sangat personal bagiku."

"Aku punya beberapa kenalan di dunia investasi kesehatan," lanjut Bagas, senyumnya ramah namun matanya berkilat dengan sesuatu yang sulit Alya artikan. "Mungkin aku bisa membantu menghubungkanmu dengan beberapa investor potensial untuk mengembangkan yayasan itu lebih besar lagi."

"Itu tawaran yang baik," jawab Alya hati-hati, "tapi saat ini kami masih fokus membangun fondasi yang kuat dulu sebelum memikirkan ekspansi."

Bagas mengangguk mengerti, namun Alya tidak melewatkan kilasan kekecewaan singkat yang muncul di wajahnya sebelum kembali tersenyum ramah seperti biasa.

Malam harinya, Raka pulang dengan wajah serius, membawa laporan awal dari tim investigasi yang disewanya. Dia mengajak Alya duduk berdua di ruang kerja pribadinya, memastikan tidak ada orang lain yang bisa mendengar percakapan mereka.

"Tim investigasi menemukan sesuatu yang mengkhawatirkan," kata Raka, membuka laporan itu di layar tabletnya. "Tiga bulan sebelum mengajukan gugatan warisan, Bagas melakukan beberapa kali pertemuan tertutup dengan seorang eksekutif senior di Meridian Capital perusahaan yang sama yang pernah bersengketa dengan kita. Pertemuan-pertemuan itu terjadi tepat setelah skandal Vania mulai mereda, saat perusahaan kita masih dalam posisi rentan pasca-krisis kepercayaan publik."

"Jadi menurutmu ini bukan kebetulan," simpul Alya, dadanya berdebar cemas.

"Aku curiga," jawab Raka pelan, "Bagas memang mungkin benar anak kandung ayahku itu bagian yang mungkin saja tidak dia bohongi. Tapi gugatan hak waris ini, timing-nya, dan keterlibatannya dengan Meridian Capital... aku curiga ada pihak lain yang memanfaatkan situasinya, mendorongnya mengajukan klaim ini di saat yang paling menguntungkan untuk melemahkan posisi kita, baik secara hukum maupun secara internal keluarga."

Alya menatap Raka lama, memikirkan semua kemungkinan itu. "Jadi dia mungkin korban sekaligus alat dari rencana yang lebih besar?"

"Itu kemungkinan yang paling masuk akal saat ini," jawab Raka, menghela napas berat. "Yang aku khawatirkan, jika benar ada pihak ketiga yang mendalangi ini, tujuan mereka mungkin bukan sekadar merebut sebagian saham perusahaan kita, tapi sesuatu yang jauh lebih besar mungkin kendali penuh, atau menghancurkan Wirawan Group sepenuhnya dari dalam."

Percakapan itu terhenti oleh suara ketukan pintu. Salah satu staf keamanan rumah masuk dengan wajah gugup, menyerahkan sebuah amplop cokelat yang baru saja diantarkan kurir tanpa identitas jelas.

"Ini baru saja diantar untuk Anda, Pak Raka. Tanpa nama pengirim."

Raka membuka amplop itu perlahan, dan matanya membelalak membaca isi surat singkat yang tertulis di dalamnya:

"Bagas hanyalah permulaan. Aku sudah menunggu bertahun-tahun untuk momen ini. Nikmati sisa waktumu, Raka, sebelum semua yang kau bangun runtuh sepenuhnya."

Tidak ada tanda tangan, tidak ada petunjuk lain hanya ancaman dingin yang membuat seisi ruangan seketika hening mencekam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!