Indonesia
NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Kembali

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:396
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

Setelah melewati penolakan, kehilangan buah hati pertama, dan perjuangan panjang, Nala dan Kim Namjunho akhirnya memiliki kehidupan yang mereka impikan. Restu keluarga telah mereka dapatkan, dan seorang putra kecil melengkapi keluarga mereka.

Namun, satu hal tak pernah berubah.

Nala masih menjadi istri rahasia—perempuan yang dicintai Junho, tetapi tak pernah bisa ia akui di hadapan dunia.

Nala bertahan karena percaya pada cinta yang dahulu membuat mereka melawan segalanya. Hingga perlahan, Junho berubah. Sorot matanya tak lagi sama. Pria yang dulu berjanji akan berjuang bersamanya, kini membuat Nala merasa harus berjuang seorang diri.

Ketika cinta masih ada, tetapi kepercayaan mulai runtuh, apa yang tersisa? Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Tentang Batas.

Setelah makan malam usai dan dapur kembali rapi, Nala menemani Jun-seok ke kamar. Lampu utama dimatikan, menyisakan cahaya temaram dari lampu tidur di sisi ranjang, Jun-seok sudah mengenakan piyama, tubuhnya terbaring setengah malas, setengah manja. Nala duduk di sisi ranjang, menyelimutinya perlahan, gerakannya otomatis seperti gerakan yang lahir dari kebiasaan, bukan kewajiban.

“Mommy,” panggil Jun-seok tiba-tiba. Suaranya sudah setengah mengantuk.

“Iya?”

“Tadi sore… sebelum Daddy jemput… ada saem-nim yang selalu menemani Seok jika sopir datang terlambat.” Ia berhenti sejenak, seperti sedang memilih kata yang tepat. Nala tersenyum tipis sambil mengusap rambut anaknya, merapikan beberapa helai yang jatuh di dahinya.

“Guru siapa?” tanyanya pelan.

“Namanya Hae-in saem... Dia baik. Dia duduk di samping Seok, sering cerita atau mendengarkan cerita Seok tentang Mommy dan Daddy... Lalu Daddy datang,” jawabnya ringan, tanpa menyadari dampak dari nama itu.

Tangan Nala terhenti sepersekian detik.

“Hae-in…?” ulangnya pelan, seolah memastikan telinganya tidak salah menangkap. Nama itu terasa tidak asing, tetapi ia tidak berpikir apa pun. Hanya ada sesuatu yang samar, seperti ingatan yang belum cukup jelas untuk dikenali.

“Iya. Saat Daddy datang, saem-nim itu langsung memeluk Daddy seperti sudah mengenalnya lama,” lanjut Jun-seok, masih santai.

Kalimat itu jatuh begitu saja tanpa maksud, tanpa tekanan. Namun, bagi Nala, udara di kamar terasa berubah. Bukan berat, bukan pula sesak. Hanya… bergeser. Tatapannya sempat jatuh pada wajah Jun-seok yang sudah mulai terpejam. Anak itu sama sekali tidak menyadari bahwa beberapa kata sederhana darinya baru saja meninggalkan pertanyaan kecil di benak sang ibu.

“Oh... Lalu, apa yang terjadi setelahnya?” ucapnya akhirnya, menjaga nada tetap datar.

Jun-seok sudah tidak tertarik pada topik itu ia beralih menceritakan hal lain; tentang Yul yang lupa membawa bekal, tentang lomba menggambar minggu depan, tentang keinginannya memiliki pensil warna baru. Cerita-cerita kecil yang melompat tanpa transisi, seperti biasa ketika pikirannya sedang dipenuhi banyak hal.

Nala mendengarkan cerita itu, terkadang mengangguk, dan menanggapi seperlunya. Namun, tak satu pun dari pikirannya benar-benar tinggal pada cerita-cerita itu. Nama yang baru saja disebut Jun-seok masih terselip di sudut pikirannya, samar, tetapi cukup untuk membuatnya sesekali kehilangan jejak dari cerita anaknya.

Tak lama kemudian, napas Jun-seok melambat ceritanya terputus di tengah kalimat. Tubuh kecil itu akhirnya terlelap, jemarinya masih menggenggam ujung selimut. Nala menunggu beberapa saat sebelum bangkit ia memastikan anaknya benar-benar tidur, lalu keluar dari kamar dengan langkah senyap.

Di ruang makan, lampu masih menyala redup di atas meja. Buket bunga dari Junho tergeletak rapi; lily putih, peony, baby breath, dan mawar biru kelopak-kelopaknya tampak segar, belum tersentuh vas. Nala berhenti melangkah tatapannya tertahan pada bunga-bunga itu cukup lama. Entah mengapa, tanpa peringatan, suara Jeongin kembali hadir di kepalanya.

“Kau tidak ingin diakui sebagai istrinya di hadapan dunia? Hidup seperti pasangan normal?”

Nala menarik napas pelan karena ia tahu itu tidak adil, ia tahu pikiran tersebut datang bukan sepenuhnya dari dirinya sendiri, melainkan dari benih yang sengaja ditanam seseorang. Namun, kesadaran tidak selalu cukup untuk menyingkirkan bayangan karena terkadang sebuah kalimat hanya membutuhkan sedikit celah untuk tumbuh menjadi keraguan.

Ia menggeleng kecil, seolah menegur dirinya sendiri.

“Tidak sekarang, tidak malam ini.” Ia meraih bunga itu, meletakkannya ke dalam vas, lalu menatanya dengan hati-hati—seperti sedang menata ulang pikirannya sendiri.

Setelah itu, ia berjalan menuju kamar dan saat masuk dia melihat Junho sudah ada di sana. Ia berdiri di dekat jendela, punggungnya setengah menghadap pintu. Begitu Nala menutup pintu, ia menoleh.

“Nala, kita perlu bicara,” panggilnya. Suaranya tenang, tetapi tega nada itu membuat Nala berhenti sejenak sebelum menutup pintu. Ia menoleh dan menatap suaminya.

“Ada apa?” tanyanya lembut.

Junho mendekat satu langkah tidak menyentuh, tidak pula menjaga jarak terlalu jauh.

“Aku ingin kita jelas tentang batas,” ucapnya langsung membuat alis Nala sedikit berkerut, tetapi ia tidak memotong. “Aku tahu kau lelah. Aku tahu kau menanggung banyak hal; di rumah, di pekerjaan, di luar semua yang orang lihat. Tapi itu tidak memberi ruang bagi siapa pun untuk masuk ke area yang seharusnya tetap menjadi milik kita, kan?” lanjutnya.

Nala menatapnya, masih diam dan mencoba memahami arah pembicaraan itu tanpa terburu-buru menyimpulkan.

“Aku tidak berbicara tentang kecurigaan,” katanya lagi. Nada suaranya tetap terkendali, meski ada sesuatu yang samar di balik ketenangannya. “Aku berbicara tentang kejujuran. Tentang hal-hal yang mungkin terasa kecil, tetapi bisa berkembang jika dibiarkan.”

Junho berhenti sejenak rahangnya mengeras sebelum akhirnya ia menarik napas pendek.

“Jujur saja, aku tidak ingin kau terlalu fokus pada pekerjaanmu...” Ia menatap mata Nala, kali ini tanpa berusaha menyembunyikan perasaannya. “Aku cemburu.”

Nala sedikit terdiam.

“Aku ingin batas yang jelas...” lanjut Junho. “Aku ingin ada di hidupmu tanpa merasa dinomorduakan setelah pekerjaanmu. Jujur, aku tidak bisa menahannya lagi.”

Nala mengembuskan napas pendek tatapannya turun sesaat, sementara kedua tangannya perlahan saling bertaut di depan tubuhnya. Bukan karena ia tidak mengerti perasaan Junho tetapi justru karena dia terlalu mengerti Junho.

“Lalu, oppa ingin aku apa?” tanyanya sembari bergerak dan duduk di tepi ranjang. Tangannya terlipat di pangkuan ia menatap Junho yang mengikutinya, lalu berhenti berdiri tepat di hadapannya.

“Batas,” jawab Junho, kali ini lebih pelan, tetapi justru di situlah tekanannya terasa semakin kuat. Ia berdiri tegak di hadapan Nala, pandangannya lurus dan tidak menghindar “Batas yang membuatku tahu aku masih menjadi pusat rumah ini, bukan sekadar seseorang yang menunggu di sela jadwalmu,” lanjutnya.

Nala menatapnya tanpa berkedip wajahnya tetap tenang, tetapi napasnya sedikit tertahan. Ada sesuatu dalam kalimat itu yang membuat dadanya terasa sesak, bukan karena marah, melainkan karena ia mulai menyadari ke mana arah pembicaraan mereka.

“Aku tidak pernah menomorduakanmu. Pekerjaanku bukan pelarian, Oppa. Itu bagian dari diriku sama seperti pernikahan ini juga bagian dari hidupku,” katanya lembut.

Junho menghela napas panjang, kali ini suara itu terdengar berat, seolah ada sesuatu yang sejak tadi ia tahan di dalam dada.

“Masalahnya justru di situ. Kau begitu utuh di luar sana sampai aku merasa...” Ia berhenti sejenak tatapannya turun sebelum kembali bertemu dengan mata Nala. “Aku hanya kebetulan berada di rumah yang sama denganmu.”

Kalimat itu tidak keras, tetapi tajam.

“Aku pulang dan mendapati pikiranmu masih di ruang rapat. Aku duduk di sampingmu, tetapi perhatianmu tertinggal di kota lain.” Suaranya semakin rendah. “Aku suamimu, Nala—bukan jeda di antara dua proyek.”

Nala bangkit perlahan dari duduknya hingga posisi mereka kini berhadapan, meskipun tidak sejajar. Jarak di antara keduanya hanya sejengkal, tetapi ia tetap tidak menyentuh Junho.

“Aku lelah, iya, tetapi lelah bukan berarti aku pergi. Aku selalu pulang ke sini... Kepada kalian.” Nala menatap kosong ke arah lain, seolah mencari susunan kata yang tepat untuk menjelaskan sesuatu yang sebenarnya sudah ia yakini sejak lama.

“Tubuhmu pulang... tetapi tidak selalu dengan hatimu. Mungkin, jika kau harus memilih antara aku dan pekerjaan itu... kau akan memilih pekerjaan itu, kan?” sahut Junho cepat. Untuk pertama kalinya, nada emosinya sedikit lolos dari kendali.

“Oppa... Kenapa berpikir seperti itu?” gumam Nala pelan.

Hening jatuh begitu saja, lampu kamar seakan menjadi lebih terang atau mungkin ketegangan di antara mereka yang membuat segala sesuatu terasa demikian. Junho mengusap wajahnya sekilas, mengembuskan napas panjang, lalu kembali menatap Nala; kali ini lebih tajam, lebih jujur.

“Aku cemburu,” ucapnya tanpa berputar-putar. “Pada pekerjaanmu. Pada dunia yang memujimu. Pada orang-orang yang mendapatkan versimu yang penuh, sementara aku harus puas dengan sisanya,” lanjutnya.

Nala menelan ludah tiba-tiba saja ada sesak tipis yang mengendap di dadanya, tetapi suaranya tetap lembut ketika ia menjawab.

“Oppa tidak pernah mendapatkan ‘sisa’. Kau selalu mendapatkan aku yang paling jujur,” balas Nala.

“Kalau begitu, mengapa aku harus meminta batas?” tanyanya cepat.

Pertanyaan itu menggantung di udara membuat Nala menghela napas panjang. Pandangannya turun sesaat, memperhatikan jemarinya sendiri yang saling bertaut, sebelum akhirnya ia mengangkat wajah kembali.

“Karena kau takut kehilanganku, bukan karena aku benar-benar pergi,” katanya lirih.

Jawaban itu membuat Junho terdiam tatapannya tertahan pada wajah Nala, seolah kalimat sederhana itu baru saja menyentuh bagian dirinya yang selama ini berusaha ia sembunyikan.

“Aku tidak menutup mata terhadap perasaanmu, tetapi jangan jadikan pekerjaanku sebagai lawanmu. Aku tidak ingin memilih antara menjadi diriku sendiri dan menjadi istrimu.” Nada suara Nala tidak meninggi. Tidak ada tantangan di sana, justru ada keteguhan yang tenang, jenis keteguhan yang tidak bisa dipatahkan hanya dengan tekanan.

“Sama seperti Oppa dulu... Kamu juga tidak bisa memilih antara aku sebagai istrimu atau kamu sebagai dirimu sendiri, kan? Dan itu tidak harus karena aku tidak pernah meminta itu.”

Nala menatap Junho lama, ada kelembutan dalam tatapannya, tetapi juga keyakinan yang tidak memberinya ruang untuk menghindar dari apa yang sedang ia rasakan. Junho mengepalkan rahangnya sejenak, lalu perlahan mengendurkannya.

“Aku tidak meminta kau berhenti. Aku meminta ruang di mana aku tidak harus bersaing. Maafkan aku,” ucapnya.

Nala melangkah setengah langkah lebih dekat meskipun tidak langsung menyentuh.

“Ruang itu selalu ada. Namun, kau juga harus berhenti mengukur cintaku dengan waktu yang terlihat. Jika diperlukan... bukan hanya pekerjaan. Aku rela meninggalkan jiwaku jika kau yang memintanya. Kau tidak pernah aku nomorduakan... tidak sama sekali,” jawab Nala.

Sunyi kembali hadir di antara keduanya. Namun, kali ini bukan sunyi yang menggantung, melainkan sunyi yang memaksa keduanya menatap perasaan masing-masing apa adanya.

Junho akhirnya mengangguk kecil, tangannya terangkat, lalu menarik pinggang Nala ke dalam dekapannya dengan gerakan yang nyaris terburu-buru. Tubuhnya merapat, seolah jarak yang hanya sejengkal tadi tiba-tiba terasa terlalu jauh untuk ditanggung.

Ia menundukkan wajah ke pundak istrinya hening beberapa saat namun tiba-tiba Nala bisa merasakan bahu Junho yang bergetar diiringi isak tangis yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah di sana, tanpa lagi berusaha disembunyikan.

“Maaf...” suaranya terdengar serak di sela isak. “Aku salah meragukanmu... Maafkan aku.”

Pelukan itu menutup jarak yang sejak tadi berdiri di antara mereka. Nala tidak terkejut ketika tubuh Junho seolah kehilangan seluruh kekuatannya dan runtuh di dadanya. Ia hanya mengangkat tangan, satu menepuk punggung suaminya, sementara tangan yang lain menahan kepalanya dengan gerakan yang pelan dan pasti—seolah ia sudah tahu, sejak awal, ke mana malam ini akan berujung.

Tangis Junho tertahan, tidak keras, lebih menyerupai napas yang patah-patah. Getaran kecil di tubuhnya terasa begitu jujur. Lelaki yang pada siang hari mampu menguasai ruang rapat dengan ketegasan dan wibawanya, malam ini memilih bersandar tanpa perlawanan.

“Tidak apa-apa... Tenanglah... Aku di sini,” bisik Nala di rambutnya.

Tangannya terus mengusap punggung Junho perlahan, membiarkan lelaki itu menangis tanpa perlu merasa malu karena telah menunjukkan sisi yang selama ini jarang ia perlihatkan. Nala tidak membantah, tidak mengoreksi, tidak menuntut penjelasan lanjutan. Untuk malam ini, ia memilih membiarkan pelukan itu menjadi jawaban.

Kehadirannya cukup—dan barangkali, itulah yang selama ini dicari Junho.

Beberapa saat berlalu dalam diam napas Junho berangsur teratur. Tangannya yang semula mencengkeram pinggang Nala perlahan mengendur, berubah menjadi pelukan yang tidak lagi memohon, melainkan sekadar menahan agar mereka tidak terpisah.

Junho mengangkat wajahnya meski matanya masih basah, tetapi sorotnya sudah lebih jernih.

“Aku takut... takut suatu hari aku pulang dan kau sudah terlalu jauh untuk kujangkau,” akunya lirih.

Nala menggeleng pelan. Ujung jarinya menyapu rahang Junho dengan gerakan yang nyaris tidak terasa, seolah ingin memastikan lelaki di hadapannya benar-benar tenang.

“Aku selalu kembali, dan aku selalu memilih pulang... Bagaimana mungkin aku pergi dari rumah yang telah melindungiku? Aku mungkin sering keluar, tetapi... aku kembali kepadamu. Selalu.” Nala menarik wajah pria itu perlahan, lalu menjatuhkan kecupan lembut di bibir Junho.

Tidak ada kata janji. Tidak ada sumpah. Hanya kebenaran yang diucapkan tanpa hiasan. Junho menarik napas dalam, lalu menempelkan dahinya ke dahi Nala. Jarak mereka kini begitu dekat hingga percakapan tidak lagi diperlukan napas keduanya berpadu dalam keheningan yang sama, sementara ketegangan yang tadi mengeras perlahan-lahan luruh, digantikan kehangatan yang membuat malam terasa lebih tenang.

Lampu kamar yang redup seolah membuat dunia di luar menyempit menjadi dua napas yang menyatu. Junho menggenggam tangan Nala, membawanya menuju ranjang tanpa tergesa. Gerakannya lembut seperti seseorang yang akhirnya mengerti bahwa kedekatan bukan soal kepemilikan, melainkan kepercayaan.

“Terima kasih sudah pulang.”

Nala membiarkan dirinya ditarik masuk ke dalam ruang itu tanpa keraguan, dan tidak ada perlawanan. Hanya kepercayaan yang perlahan mengambil tempat setelah percakapan panjang yang menguras hati mereka.

Malam melanjutkan pekerjaannya dan di antara seprai yang jatuh rapi, dua orang yang sempat saling mencurigai akhirnya memilih hal yang sama—tinggal, saling percaya, dan mengingat kembali bahwa pulang tidak selalu tentang waktu, melainkan tentang hati yang memutuskan untuk tetap berada di tempat yang sama.

1
Namira Mara
Nala kaya perempuan zaman batu aja deh lawan ke Nala lawan
Ramapratama
Junho nyebelin nya awet bahkan setelah 13 tahun berlalu 🤭
Namira Mara
🤣🤣🤣🤣🤣 mimpi bisa barengan gitu 😭
Namira Mara
Junho ternyata gak berubah Thor, tetep dia yang sama nyebelin nya. 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!