Karena terlalu lelah dengan urusan skripsi, Ayara pingsan dan saat terbangun Ayara mendapati dirinya berada dikehidupan dimasa depan.
Dimasa depan Ayara menikah dan bahkan sudah memiliki seorang anak laki-laki tampan, tetapi yang membuat Aya ingin pingsan kembali adalah Ayara menikah dengan musuhnya saat di bangku kuliah, pria tampan bernama Guzelar adalah suaminya dimasa depan.
Guzelar pria tampan yang suka menghinanya dan mengatainya wanita tidak benar karena saat di bangku kuliah Ayara suka gonta-ganti pacar hampir setiap hari, bagaimana bisa dimasa depan Guzelar menjadi pria yang lembut dan manja serta bucin padanya?.
Bagaimana Ayara bisa mengatasi semuanya dimasa depan? Menghadapi Guzelar versi bucin dan menerima fakta jika mereka sudah memiliki anak? Ikuti terus perjalanan Ayara dimasa depan! Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jaga Jarak
Keesokan paginya, sinar matahari cerah menembus celah gorden, menyinari kamar tidur Gabriel yang luas dan penuh warna. Namun, suasana hati Ayara sama sekali tidak secerah cuaca pagi itu. Sejak terbangun dari tidur, wanita itu tampak terang-terangan menjaga jarak dan enggan bertatap muka dengan suaminya sendiri.
Bayangan kejadian semalam masih tercetak sangat jelas di dalam ingatannya, bagaimana dirinya dengan penuh kerelaan dan rasa malu memuaskan gairah Guzelar menggunakan jemari dan bibirnya. Pipi Ayara mendadak memerah padam setiap kali memori panas itu terlintas di kepalanya.
"Sebenarnya... apa yang kupikirkan semalam, hah?!" rintih Ayara pelan di dalam hati, merutuki dirinya sendiri sambil menepuk-nepuk dahinya dengan perasaan campur aduk.
"Bagaimana bisa aku melakukan hal sejauh dan seberani itu?! Astaga, Ayara! Kamu benar-benar tidak bermoral!"
Ayara menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha keras membela diri dari rasa malu yang membakar ubun-ubunnya.
"Tidak, tidak! Ini pasti gara-gara jiwaku sedang tidak waras! Ya, benar! Ini semua terjadi karena efek ingatan dan emosiku yang belum stabil! Pokoknya ini bukan salah murni dari pikiranku!" tekad Ayara mantap, menolak mentah-mentah untuk menyalahkan dirinya sendiri.
"Mama...?" panggil sebuah suara mungil yang membuyarkan lamunannya.
Ayara terlonjak kaget. Ia menoleh dan mendapati Gabriel tengah menatapnya dengan bola mata bulat yang memancarkan kepolosan luar biasa. Bocah itu miringkan kepalanya bingung melihat sang mama sejak tadi hanya menggeleng-gelengkan kepala seperti orang kebingungan.
"A-ah... Iya, Sayang? Ada apa, Boy?" sahut Ayara gugup, berusaha menyunggingkan senyuman senormal mungkin.
"Mama kenapa menggeleng-gelengkan kepala terus dari tadi? Apa Mama tidak mau menemani Iel membaca buku cerita lagi?" tanya Gabriel polos sambil memeluk buku dongeng tebal bercover warna-warni di dadanya.
"Eh? Tentu saja mau, Sayang. Mama cuma... cuma sedikit pusing saja kepalanya," elak Ayara beralasan, mencari aman agar sang anak tidak bertanya macam-macam.
Mendengar kata pusing, raut wajah Gabriel seketika berubah panik. Bocah lima tahun itu langsung meletakkan bukunya ke karpet dan berdiri menghampiri mamanya.
"Pusing?! Astaga! Kalau begitu Mama harus berbaring saja di kasur! Ayo, Mama berbaring sekarang, nanti pusingnya makin parah!" seru Gabriel panik. Tangan mungilnya menarik-narik lengan Ayara, berusaha membantu sang mama untuk merebahkan diri di atas karpet empuk.
Melihat perhatian yang begitu tulus dari putra kecilnya, rasa bersalah mendadak menghantam dada Ayara. Ia merasa sangat berdosa telah membohongi anak sekecil dan selucu Gabriel hanya demi menutupi rasa malunya pada Guzelar.
"Eh, tidak apa-apa, Gabriel. Mama sudah tidak apa-apa kok, sungguh. Tidak perlu sampai berbaring begitu, Sayang," tolak Ayara lembut sambil mengusap rambut halus putranya.
Sejak subuh tadi, Ayara memang sudah mengendap-endap melarikan diri dari kamar utama menuju kamar Gabriel. Saat terbangun dari tidurnya dan mendapati sang mama sudah berada di sampingnya, Gabriel merasa sangat bahagia. Bocah itu langsung memeluk erat Ayara, dan berakhir dengan membujuk mamanya untuk menemani membaca buku cerita bersama di atas karpet kamar.
Sementara itu, di dalam kamar utama, pemandangan yang sangat berbanding terbalik tengah terjadi. Guzelar berdiri di depan cermin besar dengan bibir mencebik kesal, mirip sekali dengan anak kecil yang mainannya baru saja direbut.
Padahal baru semalam ia mendapatkan pelayanan dan kepuasan luar biasa dari sang istri tercinta. Namun pagi ini, begitu ia membuka mata, posisi di sebelahnya sudah kosong melompong. Ayara melarikan diri dan memilih menghindarinya.
"Dasar penjahat kecil... Kamu pasti sengaja berniat menjauh dariku setelah melakukan hal semalam!" gerutu Guzelar kesal setengah mati.
Pria itu memasang kancing kemeja warna navy atau biru dongker miliknya dengan gerakan kasar.
"Hah... Kalau begini caranya, aku malah merasa seperti pria panggilan yang ditinggal pergi begitu saja setelah dipakai!" gumamnya cemberut, merutuki nasibnya yang diabaikan sang istri.
Dengan langkah-langkah lebar yang menghentak lantai, Guzelar keluar dari kamar utama dan melangkah lurus menuju kamar Gabriel. Pria itu yakin seratus persen bahwa istri penakutnya itu pasti bersembunyi di sana.
Tok! Tok! Tok!
Guzelar mengetuk pintu kamar sang anak tiga kali, lalu langsung memutar knop pintu tanpa menunggu jawaban. Dan benar saja, di sana, tepat di atas karpet bulu tebal, Ayara dan Gabriel tengah duduk berdampingan dikelilingi oleh beberapa buku dongeng yang terbuka.
"Wah, rajin sekali... Membaca buku di pagi hari begini?" sindir Guzelar dengan nada suara berat, melipat kedua tangannya di dada sambil menyenderkan tubuhnya di bingkai pintu.
Ayara mendongak, terkejut mendengar suara suaminya. Namun dengan cepat ia menetralkan ekspresi wajahnya.
"Gabriel yang minta di temani membaca kok," balas Ayara ketus tanpa memandang mata Guzelar.
"Oh ya? Gabriel yang minta, atau kamu yang sedang mencoba melarikan diri dariku, hm?" tanya Guzelar dengan tatapan mata tajam dan mengintimidasi.
"Apa sih, Guzelar! Jangan aneh-aneh, deh! Aku ini cuma mau menemani anakku sendiri, memangnya tidak boleh?!" sahut Ayara tajam, memalingkan wajahnya ke arah lain demi menyembunyikan rona merah yang mulai menjalar di pipinya.
Guzelar melangkah mendekat, menyunggingkan senyuman miring yang penuh arti.
"Benarkah begitu, Nyonya Maximilian? Bukannya kamu sengaja kabur ke sini karena merasa malu setelah mendapatkan apa yang kamu inginkan semalam?" tanya Guzelar tanpa beban, sengaja memancing emosi istrinya.
"Padahal ya, aku masih ingat jelas bagaimana semalam mulutmu itu dengan lihai menghis—"
"GUZELAR!" potong Ayara setengah memekik, wajahnya seketika merah padam seperti kepiting rebus.
"Mulutmu itu tolong dikontrol ya! Jangan sembarangan bicara! Di sini ada Gabriel!" tegas Ayara panik setengah mati. Dengan cepat, wanita itu merengkuh tubuh Gabriel dan menutup kedua telinga kecil putranya dengan kedua telapak tangannya rapat-rapat.
Gabriel yang berada di dalam dekapan mamanya mengerjap-ngerjap bingung, matanya berpindah-pindah menatap papa dan mamanya yang sedang beradu argumen.
Guzelar terkekeh rendah melihat kepanikan istrinya, namun wajahnya kembali dipasang cemberut manja.
"Makanya, lain kali jangan pernah berani-berani meninggalkanku sendirian di atas ranjang yang dingin itu! Sekarang ayo ikut aku ke kamar!" ajak Guzelar tegas.
Pria itu mengulurkan tangan kekarnya, merangkai pergelangan tangan Ayara dan menariknya agar berdiri.
Melihat mamanya hendak ditarik dan dibawa pergi, insting protektif Gabriel langsung menyala seketika. Bocah itu membelalakkan mata, tidak terima mamanya diusik.
"Tidak boleh! Papa tidak boleh bawa Mama pergi!" teriak Gabriel histeris. Bocah mungil itu langsung melingkarkan kedua lengan kecilnya di pinggang Ayara, menahan tubuh sang mama dengan sekuat tenaga.
"Mama sedang menemani Iel membaca buku! Papa pergi sana!"
"Gabriel, lepas! Mama mau Papa ajak bicara sebentar di kamar!" usir Guzelar, mencoba melepaskan pegangan tangan putranya dari pinggang Ayara.
"Tidak mau! Waktu pagi itu jadwalnya Mama sama Iel! Papa kan sudah sama Mama dari kemarin!" bantah Gabriel tidak mau kalah, semakin mengencangkan pelukannya di tubuh Ayara.
Ayara yang berada di tengah-tengah menjadi bahan rebutan antara suami dan anaknya hanya bisa meringis dan memutar bola matanya pasrah.
"Duh, Guzelar! Lepasin tangan aku! Kamu ini apa-apaan sih, malah berebutan begini sama anak sendiri?!" omel Ayara kesal, mencoba menyentak pegangan tangan Guzelar.
"Aku tidak mau melepasnya sebelum kamu janji tidak akan kabur lagi dariku hari ini!" jawab Guzelar kekeh, terus menarik lembut tangan istrinya.
"Papa jahat! Lepasin Mamanya Iel! Mama ini punya Iel!" teriak Gabriel kencang, memasang wajah garang sambil terus menahan mamanya agar tidak tertarik pergi.
Aksi saling tarik dan rebutan Ayara pun tak terhindarkan di kamar itu. Guzelar dengan sifat manja dan posesifnya menolak mengalah, sementara Gabriel dengan sifat manja dan penurutnya bersikeras mempertahankan mamanya. Dan Ayara hanya bisa menghela napas panjang di antara dua laki-laki Maximilian yang sama-sama keras kepala dan kekanakan tersebut.
Bersambung...
my brother is my Hero 🫰🥹🥹
guzelar nya yg ogah
atu aja pusing apalagi banyak🤣🤣
kalau yg lain.. selesai lah anda🤣🤣
tapi dari orang yg paling dia cintai .
yg dikira jadi pelindung dia
😔🥹🥹🥹
sayang akal sehat selalu mengalah. Karena jajan nya aku banyak. kalau kabur susah ntar jajan nya🤣🤣🤣🫣