Di balik gemerlap kariernya sebagai aktor papan atas, Ethan Voss menyimpan rahasia besar: pernikahan tanpa cinta bersama Mia Taylor. Pernikahan yang lahir dari utang budi itu terikat perjanjian ketat—dirahasiakan dari publik, tanpa keterikatan emosional, dan wajib berakhir dalam empat tahun.
Selama empat tahun, Mia bertahan hidup bagai bayangan. Ia menelan dinginnya sikap Ethan dan rasa sakit saat melihat pria itu memamerkan kemesraan bersama kekasihnya di media. Saat masa perjanjian usai, Mia pergi dengan tenang, meninggalkan Ethan yang mengira dirinya telah bebas.
Namun, kepergian Mia justru menyisakan kehampaan mendalam. Setelah menemukan rahasia pengorbanan tulus sang mantan istri, Ethan sadar ia telah membuang cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Mawar Putih Dan Kartu Nama Hitam
“Mia! Sumpah demi apa pun, kamu harus jelaskan semuanya sekarang juga!” Ivy melompat mendekat, menepuk meja konter dengan kedua telapak tangannya hingga cangkir kopi Mia sedikit berguncang. Matanya membulat sempurna. memancarkan rasa takjub, iri, dan penasaran setengah mati.
“Pria setampan itu, bersikap se-gentle itu, dan baru saja membelikanmu anting berlian mahal seolah hanya membeli permen? Mia, katakan padaku, dari mana kamu kenal pria seperti Liam Vance?!” cecar Ivy tanpa memberi jeda bernapas.
“Jangan bilang kamu hanya 'kebetulan' bertemu dia semalam!” imbuhnya antusias.
Mia menarik napas panjang, merapikan letak kotak beludru kecil di tangannya itu sebelum menyimpannya di bawah konter.
“Ivy, tolong pelankan suaramu,” bisik Mia berusaha tetap tenang, walau sisa aroma bergamot di udara masih membuat dadanya berdesir asing.
“Bagimana bisa tenang?! Tadi itu Liam Vance! Dia itu taipan muda di dunia investasi, Mia. Wajahnya tampan bak aktor, gayanya berkelas, dan dia datang ke sini khusus hanya untuk mencarimu, Mia. Kamu sadar tidak?” Ivy memegang dadanya sendiri, bersandar di kaca display.
“Aku baru pertama kali bertemu dan bicara dengannya hari ini, Ivy. Semalam aku hanya menjalankan tugasku mengawal perhiasan. Aku bahkan tidak tahu kalau dia memperhatikan situasi di lokasi syuting,” jawab Mia jujur.
Ivy menyipitkan mata, menatap Mia penuh selidik dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Tapi tatapannya padamu tadi itu... itu bukan hanya tatapan atasan ke calon pekerja, Mia. Itu tatapan pria yang tertarik! Dan tawaran proyek privat itu? Anting ini? Kamu yakin mau menolaknya?”
Mia menatap kartu nama hitam bersepuh emas yang kini berada di samping cangkir kopinya. Nama Liam Vance terukir tegas di sana. Tawaran itu sangat menggiurkan untuk kariernya, sebuah batu loncatan besar yang jujur saja ia butuhkan.
Namun, bayangan raut wajah Ethan yang dingin dan penuh luka semalam mendadak terlintas di benaknya, menghadirkan rasa sesak yang tak diundang.
“Aku belum mengambil keputusan. Aku harus memikirkannya baik-baik,” ujar Mia pelan, jemarinya mengusap permukaan kartu nama itu.
“Kalau aku jadi kamu, aku akan langsung berkata 'ya' tanpa berpikir dua kali,” sahut Ivy mantap.
“Pria berwibawa, menghargai kerja kerasmu, dan jelas-jelas berniat mendekatimu secara terhormat... ini kesempatan bagus untukmu, Mia. Lagipula... bukankah kamu masih sendiri?”
Kata-kata Ivy menancap tepat di dada Mia.
Masih sendiri?
Dulu ia memiliki seseorang. Namun orang itu tidak pernah mau menghargai perasaan serta keberadaannya.
Pintu toko kembali berdenting. Mia dan Ivy refleks menoleh ke arah pintu. Namun kali ini, bukan wangi bergamot yang masuk, melainkan seorang pria berseragam kurir yang membawa sebuah buket bunga mawar putih berukuran besar dan sebuah amplop tanpa nama.
“Selamat pagi, siapa di sini yang bernama Nona Mia?” tanya kurir tersebut.
Ivy menoleh pada Mia dengan alis terangkat tinggi, sementara Mia merasakan firasat kurang enak yang mendadak merayapi tengkuknya.
Siapa lagi yang mengirimkan sesuatu padanya pagi ini? Apakah Liam? Atau... seseorang dari masa lalunya yang belum selesai?
****
Langit pagi di lokasi syuting terasa dingin dan berawan, dinaungi kesibukan kru yang mulai lalu lalang memindahkan peralatan.
Suara teriakan pengarah lapangan, gemerincing kabel yang diseret, serta derum genset berbaur menciptakan riuh yang kontras dengan keheningan di balik mobil campervan produksi. Di sana, suasana terasa jauh lebih berat dan menyesakkan.
Ethan duduk di kursi lipatnya dengan posisi tubuh membungkuk. Kedua sikunya bertumpu pada lutut, sementara matanya terpejam rapat saat ponsel tertempel rapat di telinganya. Raut wajahnya memperlihatkan kepedihan yang mendalam, jarinya memijat pangkal hidung yang berdenyut menahan gelombang cemas dan penyesalan yang tak tertahankan.
Setiap detik menunggu kepastian dari ujung telepon terasa bagai siksaan panjang. Dadanya bergemuruh hebat, dibayangi ketakutan terbesar dalam hidupnya, bahwa permintaan maaf lewat seikat mawar putih itu mungkin sudah sangat terlambat untuk merengkuh kembali hati Mia.
“Sudah dikirim tepat waktu, Tuan Ethan. Kurir kami mengonfirmasi buket bunga dan amplopnya sudah diterima langsung oleh Nona Mia,” suara di ujung telepon memberikan kepastian.
Ethan memejamkan mata rapat-rapat. Rasa bersalah yang meremukkan dadanya sejak semalam tak kunjung mereda. Ia ingat betul bagaimana dinginnya tatapan Mia saat mereka berpapasan di lokasi syuting semalam.
Mawar putih itu adalah simbol permintaan maafnya. Sebuah upaya awal untuk memperbaiki puing-puing yang ia hancurkan sendiri.
“Terima kasih,” ucap Ethan singkat lalu mematikan sambungan telepon.
Ia memasukkan ponsel ke saku celananya, mendongak menatap langit pagi lokasi syuting yang mulai riuh oleh kru film. Di saat yang sama, asisten sutradara berteriak memanggil namanya untuk segera bersiap di set.
Ethan melangkah dengan hati yang tak tenang. Ia tidak tahu bahwa saat ini, di toko perhiasan tempat Mia bekerja, bunga kirimannya bersanding di atas meja yang sama dengan kartu nama hitam bersepuh emas milik Liam Vance, seorang pria yang siap memberikan segala hal yang dulu pernah Ethan sepelekan dari Mia.
“Ethan,” panggil sutradara Aries. Pria itu menyejajarkan langkahnya dengan Ethan yang berjalan gontai menuju area take, lalu menepuk pundak sang aktor utama dengan semangat membara.
“Ethan, aku mau kamu paham betul betapa krusialnya adegan hari ini,” ujar sutradara sambil menunjuk layar monitor preview yang menampilkan deretan peralatan kamera kelas atas terbaru.
“Skala produksi kita mendadak naik kelas. Nilai proyek ini membengkak sampai ratusan juta dolar, sebuah angka yang fantastis dan belum pernah tersentuh oleh judul film kita sebelumnya.”
Ethan menghentikan langkahnya, menatap sang sutradara dengan dahi berkerut. “Ratusan miliar? Siapa yang mau menyuntikkan dana sebesar itu di tengah jalan?”
“Tuan Liam Vance,” jawab sang sutradara mantap, matanya berbinar melukiskan kekaguman.
Di saat yang sama, sebuah mobil limousine hitam elegan berhenti mulus di batas area lokasi syuting. Pintu penumpang terbuka, dan Liam Vance melangkah keluar.
Sosoknya menjulang tinggi dalam balutan setelan jas abu-abu gelap yang terpotong sempurna, memancarkan aura dominasi yang tenang namun mutlak. Tatapan matanya yang tajam meneliti setiap sudut lapangan sebelum melangkah mendekati area sutradara.
“Tuan Vance adalah investor utama tunggal kita sekarang,” bisik sutradara cepat pada Ethan sebelum menyambut pria itu.
“Dan ingat, dia adalah tipe pria yang menuntut kesempurnaan tanpa cela. Tidak ada ruang untuk kesalahan sekecil apa pun dalam proyeknya.”
Liam berhenti di hadapan mereka, memasukkan satu tangannya ke saku celana. Senyum tipisnya amat dingin, penuh wibawa seorang pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan.
“Selamat pagi. Saya harap kedatangan saya tidak mengganggu fokus kerja kalian.” Suara Liam terdengar berat dan tenang, menguasai suasana seketika.
Matanya berganti menatap Ethan, memberi impresi seperti sedang menilai sebuah aset bernilai tinggi. “Saya menginvestasikan dana tanpa batas untuk proyek ini karena saya hanya menoleransi hasil yang sempurna. Setiap adegan, setiap detail, hingga keamanannya... harus tanpa cela.”
Ethan berdiri terpaku, merasakan tekanan tak kasat mata yang begitu berat menjerat dadanya saat bertatap mata langsung dengan Liam Vance.
–tbc–