Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Kedua Di Atas Luka

Cinta Kedua Di Atas Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:41.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Serina Nirmala harus kehilangan suaminya, secara tragis tepat di hari ulang tahun putra mereka. Saat hendak membeli kue, Riki tewas tertabrak mobil Jovan Narendra, seorang pembalap muda yang saat itu kehilangan kendali akibat pengaruh obat yang diam-diam diberikan oleh seseorang yang ingin mencelakainya.

Dihantui rasa bersalah, Jovan berniat menebus kesalahannya dengan menikahi Serina, seorang wanita yang lima tahun lebih tua darinya. Awalnya Serina menolak, tetapi demi masa depan putranya dan karena Jovan bersedia bertanggung jawab atas kehidupan mereka, ia akhirnya menerima pernikahan tersebut.

Namun, pernikahan yang dimulai dari rasa bersalah perlahan berubah menjadi cinta bagi Jovan. Sementara Serina masih bergulat dengan luka kehilangan suaminya, sebuah pertanyaan terus menghantuinya.

Mampukah ia mencintai pria yang menjadi penyebab kematian suaminya, atau pernikahan ini justru menyimpan tujuan lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32

Malam semakin larut setelah seluruh rangkaian acara pernikahan Jovan Narendra dan Serina Nirmala selesai dilaksanakan. Para tamu undangan telah meninggalkan Mansion Narendra, sementara para pelayan mulai membereskan dekorasi dan perlengkapan resepsi yang memenuhi taman.

Hari itu menjadi salah satu hari paling berkesan bagi Jovan. Ia akhirnya resmi menikahi wanita yang perlahan-lahan berhasil mengubah jalan hidupnya. Namun, di balik kebahagiaan tersebut, ada rasa gugup yang sejak tadi terus mengusik pikirannya.

Kini, Serina bukan lagi sekadar wanita yang ingin ia lindungi. Serina telah menjadi istrinya.

Sementara itu, Farel yang sejak pagi begitu bersemangat mengikuti acara pernikahan akhirnya kehabisan tenaga. Bocah itu bahkan hampir tertidur di pelukan Jovan ketika mereka diantar menuju kamar barunya.

Kamar Farel telah disiapkan secara khusus oleh seorang desainer interior ternama. Dindingnya dihiasi warna biru muda dengan gambar karakter kartun kesukaannya, sementara sebuah tempat tidur mungil berbentuk mobil balap diletakkan di tengah ruangan. Di sudut kamar, terdapat rak besar yang dipenuhi berbagai mainan, termasuk robot dan mobil-mobilan yang selama ini diberikan Jovan.

"Wah, kamar Farel bagus sekali!" seru bocah itu dengan mata setengah terpejam.

Jovan tertawa kecil sambil menggendongnya.

"Suka, Jagoan?"

Farel mengangguk lemah.

"Suka banget, Om. Ada banyak mainan."

"Kalau begitu, sekarang waktunya tidur. Besok kamu bisa bermain sepuasnya."

Farel menggeleng kecil.

"Om Jovan temani Farel dulu."

Jovan melirik Serina yang berdiri di dekat pintu.

"Bunda yang temani, ya?"

Farel langsung mengerucutkan bibirnya.

"Om Jovan nggak tidur sama Farel?"

Jovan mengusap rambutnya. "Om tidur di kamar sendiri. Tapi kalau Farel membutuhkan Om, tinggal panggil saja."

Serina mendekat dan mengecup kening putranya.

"Sudah malam, Sayang. Farel harus istirahat. Besok Bunda akan menemanimu bermain."

Farel akhirnya mengangguk.

"Janji, Bunda?"

"Janji."

Jovan membaringkan Farel di atas tempat tidurnya, kemudian menyelimuti tubuh kecil itu hingga sebatas dada. Ia mengecup keningnya Farel sebelum berdiri.

"Selamat tidur, Jagoan."

Farel meraih tangan Jovan.

"Om Jovan..."

"Hm?"

"Jangan pergi jauh, ya."

Jovan tersenyum hangat.

"Om ada di rumah ini, Sayang. Tidur yang nyenyak."

Farel pun memejamkan matanya. Tak lama kemudian, napasnya mulai teratur, menandakan bocah itu telah terlelap.

Serina memandang putranya dengan senyum lembut. Ada rasa lega melihat Farel begitu mudah menerima lingkungan barunya, meskipun ia sendiri masih membutuhkan waktu untuk terbiasa tinggal di mansion keluarga Narendra.

Di sisi lain, Darren memilih menghindari keramaian setelah acara pernikahan adiknya selesai.

Sejak tadi, ia lebih banyak diam. Ia tetap memberikan ucapan selamat kepada Jovan dan Serina, bahkan berusaha tersenyum ketika keduanya menerima doa dari para tamu. Namun, jauh di dalam hatinya, ada perasaan yang sulit ia kendalikan.

Wanita yang selama ini ia cintai dalam diam kini telah resmi menjadi adik iparnya.

Darren berjalan menyusuri lorong mansion dengan langkah berat. Ketika seorang pelayan menyapanya, ia hanya membalas dengan anggukan singkat sebelum memasuki kamarnya.

Begitu pintu tertutup, ia melepaskan jas yang dikenakannya dan meletakkannya di sofa. Kemudian, ia duduk di tepi ranjang sambil mengusap wajahnya.

"Selamat, Jovan..."

Suara lirih itu terdengar begitu getir.

Darren memejamkan mata. Bayangan Serina yang berjalan menuju altar bersama Farel kembali terlintas dalam pikirannya.

Ia teringat senyum wanita itu ketika Jovan menggenggam tangannya. Senyum yang selama ini diam-diam ingin ia lihat, tetapi ternyata bukan untuk dirinya.

Darren menghela napas panjang.

"Seharusnya aku bahagia melihat Serina mendapatkan seseorang yang bisa menjaganya. Jovan adalah adikku sendiri. Dia juga menyayangi Farel dengan tulus." gumamnya

Namun, sekeras apa pun ia mencoba meyakinkan dirinya, rasa sakit itu tetap ada.

Ia mengeluarkan ponsel dari saku, lalu membuka sebuah foto lama yang tersimpan di galeri. Foto dirinya bersama beberapa teman sekolah, termasuk Serina yang masih mengenakan seragam putih abu-abu.

Darren menatap foto itu cukup lama.

"Kalau saja dulu aku lebih berani mengungkapkan perasaanku..."

Ia segera menggeleng, menyadari bahwa penyesalan tidak akan mengubah apa pun.

Kini, Serina telah menjadi istrinya Jovan. Dan sebagai seorang kakak sekaligus anggota keluarga Narendra, Darren harus menghormati pernikahan mereka.

Ia meletakkan ponselnya, kemudian berbaring dengan satu tangan menutupi wajah.

Malam itu, Darren memilih mengurung diri di kamar dengan alasan kelelahan setelah menangani banyak kasus. Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa di balik sikap tenangnya, ia sedang berusaha menerima kenyataan bahwa cinta pertamanya telah menjadi bagian dari kehidupan adiknya.

Sementara itu, Jovan mengantar Serina menuju kamar pengantin mereka.

Kamar yang sebelumnya merupakan kamar pribadi Jovan telah disulap menjadi ruangan bernuansa putih dan krem dengan dekorasi bunga segar. Kelopak mawar menghiasi sebagian tempat tidur, sementara lampu tidur berwarna hangat membuat suasana kamar terasa romantis dan nyaman.

Serina berhenti di ambang pintu.

"Jovan..."

Jovan menoleh.

"Kenapa?"

Serina memandang sekeliling kamar.

"Ini semua disiapkan untuk kita?"

Jovan mengangguk.

"Iya. Daddy yang meminta para pelayan menyiapkannya."

Serina menelan ludah. Jujur saja, ia masih merasa canggung. Meskipun telah resmi menjadi istrinya Jovan, ia belum terbiasa memikirkan bahwa mulai malam ini mereka akan berbagi kamar yang sama.

Jovan seolah memahami kegelisahannya.

"Serina, kamu nggak perlu merasa tertekan."

Serina menatapnya.

"Aku tahu."

Jovan tersenyum lembut.

"Aku masih ingat janji kita. Aku tidak akan menyentuhmu atau melakukan sesuatu yang belum kamu inginkan."

Serina mengangguk pelan.

"Terima kasih, Jovan."

Jovan menunjuk sofa panjang di dekat jendela.

"Kalau kamu merasa lebih nyaman tidur sendiri, aku bisa tidur di sofa."

Serina segera menggeleng. "Tidak perlu. Ini kamarmu juga."

"Serina, aku nggak keberatan."

"Aku tahu. Tapi aku juga tidak ingin membuatmu merasa seperti orang asing di kamar sendiri."

Jovan tersenyum tipis. "Kalau begitu, kita jalani malam ini dengan santai saja. Nggak perlu memaksakan apa pun."

Serina mengangguk.

Namun, ketika mereka sama-sama terdiam, kecanggungan kembali menyelimuti ruangan.

Jovan sesekali mencuri pandang kepada istrinya. Serina terlihat begitu cantik dalam gaun pengantin yang masih dikenakannya. Wajahnya yang lembut tampak sedikit lelah setelah seharian menjalani rangkaian acara.

"Serina..."

"Hm?"

"Kamu capek?"

"Sedikit."

"Kalau begitu, kamu bersihkan diri dulu. Aku tunggu di sini."

Serina mengangguk, lalu mengambil perlengkapan mandi dan berjalan menuju kamar mandi.

Beberapa menit berlalu.

Jovan duduk di tepi ranjang sambil membuka ponselnya. Namun, pikirannya tidak benar-benar tertuju pada layar. Ia masih memikirkan bagaimana caranya membuat Serina merasa nyaman sebagai istrinya.

Tiba-tiba, terdengar suara Serina dari balik pintu kamar mandi.

"Jovan..."

Jovan langsung menoleh.

"Iya, Sayang?"

Serina terdiam sejenak mendengar panggilan itu.

"Bisakah kamu membantuku sebentar?"

Jovan segera berdiri.

"Ada apa?"

"Resleting gaunku sulit dibuka. Aku sudah mencoba beberapa kali, tapi tidak bisa."

Jovan terdiam sesaat.

"Oh... baiklah. Aku masuk, ya?"

"Iya."

Jovan membuka pintu kamar mandi perlahan. Serina berdiri membelakanginya, sementara rambut panjangnya telah disibakkan ke salah satu sisi bahu agar tidak menghalangi bagian belakang gaun.

"Maaf merepotkanmu," ujar Serina dengan suara pelan.

"Nggak apa-apa. Mana resletingnya?"

Serina menunjuk bagian belakang gaunnya.

Jovan mendekat dengan hati-hati. Ia berusaha memusatkan perhatian pada resleting yang tersangkut, kemudian perlahan menariknya ke bawah.

Namun, ketika gaun itu mulai terbuka, Jovan tanpa sengaja melihat punggung Serina yang terekspos.

Ia langsung menahan napas.

Wajahnya terasa menghangat, sementara jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

"Tenang, Jovan. Dia istrimu, tapi dia juga sudah meminta batasan. Jangan membuatnya merasa tidak nyaman." batinnya gugup

Jovan berusaha menyelesaikan tugasnya dengan cepat. Namun, ketika ia sedikit menunduk untuk memeriksa bagian resleting yang tersangkut, wajahnya tanpa sengaja terlalu dekat dengan punggung Serina.

Hidungnya nyaris menyentuh kulit wanita itu.

Serina sontak merasakan tubuhnya meremang. Ia segera melangkah menjauh dan merapatkan kedua tangannya untuk menahan gaun yang mulai terlepas dari bahunya.

"Jovan!"

Jovan langsung tersadar dan mundur beberapa langkah.

"Maaf, Serina! Aku nggak sengaja."

Serina menoleh dengan wajah yang memerah.

"Tidak apa-apa. Aku hanya terkejut."

Jovan mengusap tengkuknya dengan canggung.

"Resletingnya sudah terbuka. Kamu bisa melanjutkannya sendiri."

Serina mengangguk cepat.

"Terima kasih."

Jovan segera memalingkan wajah dan keluar dari kamar mandi, lalu menutup pintunya dengan perlahan.

Begitu berada di luar, ia menghembuskan napas panjang.

"Astaga..."

Jovan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

Ia tidak menyangka hal sesederhana membantu membuka resleting gaun pengantin bisa membuat dirinya begitu gugup.

Sementara itu, Serina bersandar di dekat wastafel. Ia mengusap dadanya yang masih terasa berdebar.

Kenapa aku jadi segugup ini?

Serina memejamkan matanya sejenak.

Ia tahu Jovan tidak sengaja membuatnya terkejut. Namun, kedekatan mereka barusan membuatnya sadar bahwa kehidupan sebagai pasangan suami istri akan menghadirkan banyak hal baru yang belum pernah ia alami bersama Jovan.

Setelah berganti pakaian dengan baju tidur yang nyaman, Serina keluar dari kamar mandi.

Jovan yang sedang berdiri dekat jendela langsung menoleh.

"Kamu sudah selesai?"

Serina mengangguk.

"Iya."

Jovan menunjuk tempat tidur.

"Kamu tidur di sana saja. Aku bisa tidur di sofa."

Serina terdiam.

"Jovan, kita bisa tidur di ranjang yang sama. Aku hanya ingin kamu menghormati batasan yang sudah kita sepakati."

Jovan menatapnya, memastikan bahwa Serina benar-benar merasa nyaman dengan keputusan itu.

"Kamu yakin?"

Serina mengangguk.

"Iya."

Jovan tersenyum lega.

"Baiklah. Kalau nanti kamu berubah pikiran, bilang saja."

Serina membalas senyumnya.

Mereka kemudian berbaring di sisi masing-masing, dengan jarak yang cukup untuk membuat Serina merasa aman dan nyaman.

Lampu utama dimatikan, menyisakan cahaya temaram dari lampu tidur.

Untuk beberapa saat, keduanya hanya diam.

"Jovan..." panggil Serina lirih.

"Hm?"

"Terima kasih untuk hari ini."

Jovan menoleh ke arahnya.

"Seharusnya aku yang berterima kasih. Kamu sudah memberiku kesempatan untuk menjadi suamimu."

Serina tersenyum kecil.

"Aku masih belum terbiasa dengan semua ini."

"Aku tahu."

Jovan menatap langit-langit kamar.

"Kita nggak harus langsung terbiasa malam ini. Kita punya banyak waktu untuk saling mengenal."

Serina mengangguk.

"Selamat malam, Jovan."

"Selamat malam, Serina."

Jovan memejamkan mata, tetapi senyum tipis masih menghiasi wajahnya. Ia merasa bahagia meskipun malam pertama mereka jauh dari gambaran romantis yang mungkin dibayangkan orang lain.

Baginya, bisa berada di sisi Serina saja sudah cukup.

Sementara Serina perlahan memejamkan mata. Ia masih merasakan kecanggungan yang sama, tetapi juga mulai memahami bahwa Jovan benar-benar berusaha menghormati setiap batasan yang telah ia tetapkan.

Malam itu, tidak ada janji yang berlebihan ataupun tuntutan untuk menjadi pasangan sempurna.

Hanya dua orang yang sedang belajar menjalani kehidupan baru bersama, dengan kesabaran dan kepercayaan yang perlahan tumbuh di antara mereka.

Dan tanpa disadari, di balik kecanggungan malam pertama itu, benih-benih cinta mulai menemukan tempatnya.

Bersambung....

1
vania larasati
lanjut kak
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋
Semoga itu jodohnya Daren 👍
Nar Sih
jodoh mu sdh otw ya daren
Nar Sih
seperti nya ini awal kisah cinta daren
Sri Angga
semoga menjadi jodoh mu y pak polisi Daren
Lucy
ini jodohnya Daren🤣🤣biar dia GK trlalu memikirkan Serina lagi👍👍👍
Oma Gavin
jodoh Darren ini
vania larasati
lanjutt kak
vania larasati
lanjut kak
Nar Sih
ahir nya kbnr terungkap ,semoga gk ada mslh lgi yg sulit dlm rmh tangga jovan serina
Nar Sih
ahir nya ketangkap oleh ank sendiri🤣
Nadja 🎀
waah sebentar lagi terbongkar misteri knp ibunya jovan died? alasannya...
Lucy
mampus kau Marcella ketakutan juga kan,KLO Daren dah bertindak jgn kau berharap akan lolos ttp mendekam di jeruji besi😃😃😃
Lucy
Daren terus semngat bantu Jovan jgn sampai ibumu dan Jenifer berhasil menghancurkan Jovan 👍
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
main lo kalian kurang bersih say... 😏
Oma Gavin
ngga perlu berputar putar masalah marcella dan jovan segera aja dibongkar Darren kamu jgn ngulur" waktu keburu marcella kabor dia sudah feeling kamu yg selidiki otomatis dia akan cari aman sendiri tanpa peduli sama jenifer
vania larasati
lanjut kak
Nar Sih
tunggu bntr lgi kedok kejhtn mu terbongkar oleh putra mu sendiri ,marcela🤣🤣
Nar Sih
semagat dareen💪usut tuntas kasus adik mu walau tersangka nya mungkin ibu mu sendiri
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!