Clarissa kehilangan segalanya setelah bisnis ayahnya hancur dan sang ayah meninggal dalam kesengsaraan. Saat hidupnya kembali berubah karena pernikahan rahasia ibunya dengan seorang pengusaha kaya, Clarissa menemukan kenyataan yang jauh lebih pahit.
Pria itu ternyata menyimpan rahasia tentang kehancuran keluarganya.
Clarissa berniat mendekatinya demi membalas dendam. Namun, permainan yang awalnya hanya penuh kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.
Jika dendam membawanya ke dalam pelukan pria yang sama sekali tak boleh ia cintai… apakah Clarissa mampu berhenti sebelum semuanya terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kilatan Lampu Kilat dan Runtuhnya Singgasana
Deru mesin jet pribadi Perkasa Group meredup perlahan saat roda pesawat menyentuh landasan VIP Bandara Soekarno-Hatta. Dari balik jendela bermotif mahoni, Jakarta disambut oleh langit mendung yang menggelap, seolah mencerminkan atmosfer panas yang sedang memuncak di pusat kota.
Begitu pintu kabin terbuka, udara ibu kota yang lembap dan pekat langsung menyambar. Pak Herman sudah menunggu di bawah tangga dengan empat pengawal bertubuh tegap bersetelan serba hitam. Di area parkir privat, dua unit SUV berlapis kaca anti-peluru telah menyala dengan mesin meraung halus, siap menembus barikade media.
"Tuan Raymond, Nona Clarissa," bisik Pak Herman seraya membukakan pintu mobil dengan raut wajah serius. "Lobi utama Perkasa Tower sudah dipadati lebih dari lima puluh media nasional dan internasional. Nyonya Siska dan tim hukum pribadinya saat ini sudah berada di lantai holding room, menunggu kedatangan Tuan."
"Biarkan dia menunggu," sahut Raymond dingin. Pria itu memperbaiki posisi cufflinks perak di pergelangan kemeja hitamnya sebelum melangkah masuk dan duduk di sampingku.
Aku merapikan gaun blazer putih gadingku, membiarkan liontin blue sapphire 15 karat di dadaku terpapar sempurna di balik kerah rendahnya. Pendar birunya yang tajam bagaikan tameng yang membentengi diriku dari segala keraguan. Aku bukan lagi gadis lemah yang menangis di pemakaman Ayah beberapa tahun lalu; hari ini, aku melangkah sebagai eksekutor akhir bagi wanita yang merusak hidup keluargaku.
Perjalanan menuju segitiga emas Jakarta terasa begitu singkat. SUV hitam kami membelah kemacetan jalur khusus hingga akhirnya berbelok memasuki pelataran gedung pencakar langit berlantai lima puluh Perkasa Tower.
Pemandangan di luar lobi utama sangat riuh. Puluhan wartawan, kamerawan, dan fotografer menumpuk di belakang garis polisi dan barikade keamanan internal. Pendar lampu kilat kamera langsung menyambar begitu konvoi mobil kami berhenti tepat di depan pintu kaca utama.
"Siap, Clarissa?" suara bass Raymond terdengar memikat di sisiku. Tangannya yang besar dan hangat meraih jemariku, menggenggamnya dengan ketegatan yang tak tergoyahkan.
"Aku sudah siap sejak hari pertama melangkah ke mansionmu, Raymond," balasku mantap, menyunggingkan senyuman dingin yang terukir sempurna di bibir merah menyalaku.
Pintu mobil dibuka.
Seketika, kilatan blitz kamera menghujam dari segala arah bagaikan badai petir. Teriakan pertanyaan dari para wartawan saling bersahutan memecah keheningan sore.
"Tuan Raymond! Bagaimana tanggapan Anda soal tuduhan penggelapan dana lelang?!"
"Apakah wanita di samping Anda adalah wanita simpanan seperti yang dirumorkan?!"
"Nona Clarissa! Apa hubungan Anda dengan suami ibu kandung Anda sendiri?!"
Raymond tidak membalas satu pun seruan tersebut. Dengan postur tegap dan aura dominan yang mengintimidasi, ia membimbingku melangkah mantap menembus kerumunan. Lengannya melingkar posesif di pinggangku, melindungiku sepenuhnya dari desakan kamera. Langkah kaki hak tinggiku mengetuk lantai marmer lobi dengan ritme yang anggun dan percaya diri, mengabaikan tatapan liar orang-orang di sekeliling kami.
Kami naik menggunakan lift privat langsung menuju holding room di lantai 45. Begitu pintu lift berdenting dan terbuka, sebuah jeritan histeris memotong kesunyian koridor bernuansa karpet merah tebal.
"Clarissa! Raymond!"
Ibu berdiri di ujung koridor. Penampilannya yang biasa serba sempurna kini tampak berantakan. Riasan wajahnya luntur oleh bekas air mata, matanya sembap memerah, dan gaun mewahnya tampak kusut. Dua pengacara berjas gelap berdiri di belakangnya dengan raut wajah cemas.
"Kalian... kalian benar-benar datang bersama?!" jerit Ibu, matanya menatap tajam ke arah tangan Raymond yang masih berada di pinggangku, lalu beralih pada kalung The Tear of Serpent yang melingkar cantik di leherku. "Raymond! Kamu tega melakukan ini padaku di depan media?! Dan kamu, Clarissa... anak kurang ajar! Kamu memang iblis yang sengaja mau merusak hidupku!"
Ibu melangkah maju dengan jemari melengkung hendak mencakar wajahku. Namun sebelum tangannya sempat menyentuh udara di depanku, Raymond melangkah satu senti ke depan, mencengkeram pergelangan tangan Ibu dengan kibasan yang sangat keras hingga wanita itu terdorong mundur.
"Jaga sikapmu, Siska!" bentak Raymond rendah, nada suaranya begitu dingin hingga sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya. "Ini adalah area kantor, bukan ruang hiburan murahan tempatmu membuat drama."
"Dia menggodamu, Raymond! Anak itu memanfaatkanmu untuk membalas dendam padaku!" tangis Ibu pecah, berlutut di atas karpet dengan tubuh gemetar hebat. "Tolong, Raymond... usir dia dari sini! Katakan pada media kalau kalung itu milikku! Katakan kalau aku masih istrimu!"
Aku melangkah maju dari balik tubuh tegap Raymond, menundukkan pandanganku menatap wanita yang tergeletak pasrah di atas lantai marmer tersebut.
"Ibu..." suaraku keluar begitu tenang, sangat jernih dan sarat akan penghinaan yang elegan. "Bukan aku yang merebut posisimu. Ibu sendiri yang kehilangan tempat di hati Raymond sejak Ibu sibuk mengejar harta tanpa pernah menggunakan otak Ibu. Sama persis seperti saat Ibu meninggalkannya Ayah dulu demi pria ini."
"Kamu..." Ibu mendongak dengan tatapan penuh kebencian dan ketakutan mendalam.
"Pak Herman," potong Raymond tanpa emosi, melempar sebuah map dokumen tebal bertulisan emas ke atas meja kaca di dekat Ibu. "Serahkan draf gugatan cerai dan pengalihan seluruh hak aset pra-nikah ini pada tim hukum Siska. Jika dia menandatanganinya sekarang, aku akan memastikan tunjangan bulanan pensiunnya tetap mengalir. Tapi jika dia menolak... aku akan membiarkan tim hukum Perkasa Group menuntutnya atas pencemaran nama baik perusahaan."
Ibu membeku total. Wajahnya pucat pasi bagaikan mayat. Pengacaranya terburu-buru mengambil map tersebut dan membacanya dengan raut shock. Singgasana kemewahan dan status nyonya rumah kaya yang dikejar Ibu selama bertahun-tahun runtuh menjadi puing-puing tak berharga di depan matanya sendiri.
Sepuluh menit kemudian, pintu ganda ballroom utama Perkasa Tower terbuka lebar. Lebih dari seratus insan pers duduk berdesakan di bawah pendar lampu sorot, menantikan pernyataan resmi dari sang taipan tambang.
Raymond melangkah menuju mimbar utama dengan langkah mantap, sementara aku berdiri tegak tepat di sisi kanannya, dipayungi oleh puluhan pendar lampu kilat kamera yang tak berhenti berganti.
"Selamat sore," suara bariton Raymond bergema nyaring melalui mikrofon, seketika membungkam seluruh keriuhan di dalam ruangan. "Hari ini saya berdiri di sini untuk meluruskan seluruh tuduhan palsu dan manipulasi informasi yang beredar di publik."
Raymond menatap lurus ke arah puluhan kamera yang menyiarkan acara tersebut secara langsung ke seluruh pelosok negeri.
"Transaksi perhiasan The Tear of Serpent bernilai tiga puluh miliar rupiah adalah murni akuisisi aset investasi atas nama Perkasa Group," tegas Raymond tanpa ragu. "Dan wanita di samping saya, Clarissa, adalah Pemegang Saham Utamaku yang baru untuk divisi investasi privat Perkasa Group, sekaligus satu-satunya figur yang memegang kendali penuh atas kebijakan strategis perusahaan mulai hari ini."
Gumam kekagetannya meledak serentak di seluruh penjuru ballroom. Pendar lampu kilat kamera kian liar menghantam wajahku.
Raymond memutar tubuhnya sedikit, menatapku dengan manik mata hazel-nya yang memancarkan pendar kepemilikan dan kejayaan yang tak tertandingi. Pria itu mengulurkan tangannya di depan seluruh kamera nasional, menyatukan jemarinya dengan jemariku di atas mimbar utama.
Malam ini, di tengah riuh skandal dan kehancuran masa lalu, sebuah penguasaan baru resmi dideklarasikan dan aku telah berdiri tegak di puncak kekuasaannya.