Indonesia
NovelToon NovelToon
Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Status: tamat
Genre:Mafia / Penikahan Kontrak / Perubahan Hidup / Putri malang / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Adriánex Avila

Dalam satu pagi Minggu, dunia Maya Adiwangsa runtuh.

Ayahnya—konglomerat properti tersohor—diseret keluar dari rumah dengan borgol di tangan, dikhianati oleh darahnya sendiri. Dalam hitungan hari, kekayaan tiga generasi lenyap: rekening dibekukan, mansion disita, teman-teman berpaling. Sang putri manja yang tak pernah menyentuh harga apa pun kini terdampar di apartemen kumuh, dengan ibu yang hancur dan seorang ayah yang membusuk di balik jeruji.

Lalu, di sebuah jalan gelap, muncul satu-satunya orang yang berani menawarinya jalan keluar: Bara Prakoso. Raja gelap kota ini. Laki-laki yang namanya dibisikkan dengan gentar, yang tangannya konon berlumur darah. Tawarannya sederhana dan gila sekaligus—sebuah pernikahan. Nama baik keluarga Maya sebagai ganti kekuasaan, perlindungan, dan kebebasan ayahnya.

Itu bukan cinta. Itu transaksi.

Namun di balik tatapan sedingin baja dan reputasi seorang monster, tersembunyi luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan di balik kelembutan seorang gadis yang kehilangan segalanya, tumbuh keberanian yang bahkan tak ia sangka ia miliki. Semakin dalam mereka terjebak dalam permainan pengkhianatan, balas dendam, dan musuh-musuh yang mengintai dari masa lalu, semakin sulit membedakan mana perjanjian dan mana perasaan yang sesungguhnya.

Ketika kehilangan segalanya justru mempertemukannya dengan segalanya—beranikah Maya mempertaruhkan hati pada laki-laki yang seharusnya ia takuti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adriánex Avila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 EKSODUS

Dokter keluarga, yang selama ini selalu merawat mereka, datang ke apartemen itu seminggu kemudian.

dr. Hidayat sudah tua, rambutnya memutih dan tangannya gemetar. Ia yang dulu menyambut kelahiran Maya, dan telah menangani flu tiga generasi keluarga Adiwangsa.

Ia datang membawa tas kulit yang sudah lusuh, memandang kawasan itu dengan campuran ngeri dan iba, lalu menaiki tangga tanpa berkata sepatah pun.

Ratna Adiwangsa tak mengucapkan sepatah kata pun selama tiga hari. Ia duduk di ranjang, matanya terbuka namun hampa, tangannya gemetar di atas seprai. Ia tak makan. Tak minum. Tak bicara. Ia hanya ada, dan itu pun nyaris tak terasa.

dr. Hidayat memeriksanya dalam diam. Ia mengukur denyut nadi Ratna, menatap pupil matanya, mendengarkan detak jantungnya. Lalu ia menutup tasnya, duduk di satu-satunya kursi di kamar itu, dan menatap Maya dengan keseriusan yang membekukan darah gadis itu.

"Ibumu mengalami gangguan stres pascatrauma akut," katanya dengan suara tenang khas dokter kampung. "Juga serangan kecemasan menyeluruh. Ini bukan penyakit yang bisa sembuh dengan satu pil, Maya. Ia butuh waktu, butuh terapi, butuh... kestabilan."

"Justru itulah satu-satunya yang tak bisa kuberikan padanya," sahut Maya, dan suaranya patah di akhir kalimat.

dr. Hidayat meresepkan beberapa obat penenang. Ia menuliskan resep dengan tulisan yang bergetar, menyerahkannya, lalu sebelum pergi, meletakkan sebelah tangannya di bahu Maya.

"Kamu juga butuh pertolongan," ucapnya. "Jangan lupakan dirimu sendiri, Nak."

Maya mengangguk, menyimpan resep itu ke saku celananya, lalu terus menatap ibunya. Ratna masih di sana, pandangannya kosong, tangannya diam, mulutnya terkatup rapat.

Ibuku hancur, batin Maya.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia sadar bahwa ia tak boleh membiarkan dirinya ikut hancur. Harus ada seseorang yang tetap utuh. Harus ada seseorang yang berjuang. Harus ada seseorang yang menemukan jalan keluar.

Orang itu haruslah dirinya.

* * *

Apartemen itu kecil.

Maya tak pernah memakai kata itu untuk menggambarkan tempat tinggal. Kecil. Kata itu terdengar seperti hinaan baginya, seperti kekalahan, seperti sesuatu yang tak layak dihuni.

Di dunianya dulu, rumah-rumah itu luas, langit-langitnya tinggi, lorong-lorongnya cukup panjang sampai orang bisa tersesat di dalamnya jika berjalan sambil melamun. Kecil adalah kata sifat untuk perhiasan, untuk anjing ras, untuk pernik-pernik cantik yang muat digenggam telapak tangan.

Tak pernah untuk sebuah rumah.

Kini ia mengulang-ulang kata itu seperti mantra, sebab kalau ia cukup sering mengucapkannya, kalau ia membisikkannya tiap kali membuka pintu, mungkin dadanya tak lagi terasa sakit.

Mungkin simpul yang membentuk di tenggorokannya tiap kali ia masuk akan sedikit mengendur. Kecil. Kecil. Kecil. Tak berhasil. Dadanya tetap terasa sakit.

Sebuah dapur seluas dua meter persegi. Benar-benar dua meter persegi.

Maya mengukurnya dengan langkah kakinya sendiri: dua langkah lebar, satu langkah panjang. Kulkasnya begitu kecil sampai sekotak pizza ukuran keluarga saja nyaris tak muat. Kompornya bermata dua, salah satunya rusak.

Ovennya, kalau kotak logam berkarat itu memang pantas disebut oven, gagangnya patah dan hanya bisa dibuka dengan sentakan keras yang mengancam mencabutnya lepas dari dinding.

Sebuah kamar mandi berubin kuning. Bukan kuning yang cantik seperti buah lemon atau matahari pagi. Kuning yang sakit-sakitan, warna empedu, air seni basi, warna sesuatu yang seharusnya putih namun membusuk termakan waktu.

Beberapa ubinnya retak, dan di celah-celahnya menggumpal lembap kehitaman yang tak sudi Maya periksa terlalu dekat.

Pancuran mandinya cuma selang dengan kepala berlubang yang menyemburkan air bertekanan tak menentu: mula-mula mendidih, lalu sedingin es, tanpa peringatan.

Satu kamar untuk ibunya, satu lagi untuk dirinya, dan sebuah ruang yang sekaligus jadi ruang makan sekaligus lorong.

Ruang tamu itu panjangnya empat langkah. Sofanya, sofa tiga dudukan berbahan kulit sintetis yang sudah usang, warisan penghuni sebelumnya, berbau rokok dan anjing basah.

Meja lipat yang bersandar di dinding hanya dibentangkan saat waktunya makan. Selebihnya, ia cuma penghalang.

Jendela-jendelanya menghadap ke gang tempat para tetangga membuang sampah kapan saja mereka mau. Tak peduli siang atau malam.

Selalu saja ada seseorang yang menjinjing kantong hitam, mengayun-ayunkannya bagai pendulum kotor, lalu melepaskannya dengan bunyi bedebum tumpul yang membuat anjing-anjing liar menggonggong.

Baunya naik ke atas. Bau manis-asam yang mustahil diabaikan. Maya cepat belajar untuk selalu menutup jendela, meski itu berarti sesak dalam panas lembap apartemen.

Hari pertama, Maya mencoba membersihkan.

Bukan pekerjaan gampang bagi orang yang seumur hidup tak pernah membersihkan apa pun. Di kediaman Adiwangsa, ada seorang perempuan bernama Yanti yang mengurus itu semua.

Yanti tahu produk apa yang cocok untuk tiap permukaan, seberapa sering harus mengelap debu, cara membuat cermin berkilau tanpa meninggalkan bercak.

Maya, sebaliknya, menatap kotak perlengkapan pembersih yang ia temukan di bawah kompor dan merasa sedang berhadapan dengan tulisan hieroglif yang tak terbaca.

Pemutih. Penghilang lemak. Pembersih kaca. Botol semprot. Lap. Spons kawat. Untuk apa masing-masing benda ini? Bolehkah dicampur? Dipakai dalam urutan yang mana?

Ia memutuskan mulai dari dapur. Diambilnya spons kawat hijau, dibasahinya dengan air dan sabun cair, lalu ia mulai menggosok ubin dinding. Sabunnya berbusa, tapi lemaknya tak juga hilang. Ia menggosok lebih keras. Sia-sia. Ia berganti produk.

Ia mencoba penghilang lemak. Di labelnya tertulis "gunakan dengan sarung tangan". Maya tak punya sarung tangan. Ia tetap memakainya.

Bau bahan kimia itu membakar hidung dan matanya, tapi ubin-ubin itu mulai berkilau. Ia tersenyum menang. Untuk pertama kali dalam beberapa hari, ada satu hal yang berjalan lancar.

Lalu, ketika membersihkan bagian bawah kulkas, ia menemukan seekor kecoak mati.

Bukan kecoak kecil. Kecoak raksasa, jenis yang tampak seperti mainan, kakinya terentang menghadap langit-langit dan sungutnya melengkung di atas tubuh.

Maya menatapnya selama waktu yang terasa berjam-jam. Ia merasakan empedu naik ke tenggorokannya, perutnya mual, dunia mulai berputar.

Ia berlari ke bak cuci dan muntah.

Ia muntah sampai tak ada lagi yang tersisa di perutnya. Lalu ia memuntahkan empedu, cairan pahit dan kuning yang membakar tenggorokannya.

Ia tetap di sana, berlutut di lantai kamar mandi, dahinya bersandar di bibir kloset, menarik napas dalam-dalam. Kecoak itu masih di sana, di bawah kulkas. Mati. Kaku. Menuduh.

Maya menangis. Tapi hanya semenit. Lalu ia bangkit, membasuh wajahnya, membungkus kecoak itu dengan beberapa lapis koran, dan membuangnya ke tong sampah di jalan.

Ia tak pernah lagi membersihkan bagian bawah kulkas. Ada pertempuran-pertempuran tertentu, ia putuskan, yang tak layak dijalani.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!