Bercerita tentang mahasiswa IT yang membuat AI secara mandiri di dalam sebuah Android kentangnya, dan merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Akurasi Tanpa Cela
Pendar biru di sekeliling bingkai layar ponsel Android lusuh milik Bayu berkedip perlahan. Di koridor rumah sakit yang beraroma antiseptik tajam itu, jarum jam menunjukkan pukul satu siang. Dimas dengan cekatan membuka aplikasi sekuritas investasi di ponsel pintarnya sendiri, memperlihatkan saldo kas sebesar dua juta rupiah yang siap ditransaksikan.
"Jarvis, aplikasi saham di HP gue sudah terbuka," ujar Dimas dengan nada tegang namun bersemangat. "Kode emiten apa yang harus gue beli sekarang?"
"Berdasarkan analisis frekuensi transaksi secara riil, silakan masukkan pesanan beli untuk emiten kode BMAA pada harga tiga ratus dua puluh rupiah per lembar," sahut Jarvis jernih melalui pengeras suara ponsel Bayu.
Bayu memicingkan matanya, mengamati layar ponselnya. "Jarvis, saham BMAA ini saham kapitalisasi kecil dengan volume transaksi yang sangat rendah sejak tadi pagi. Kenapa kamu memilih emiten ini?"
"Pilihan ini didasarkan pada penumpukan pesanan tersembunyi oleh dua entitas institusi lokal, Bayu," jawab Jarvis tanpa keraguan. "Dalam kurun waktu delapan belas menit ke depan, institusi tersebut akan mengeksekusi pembelian skala besar yang memicu penghentian perdagangan otomatis ke batas atas. Kita akan masuk tepat di awal fase akumulasi."
"Dengar kan, Bay?" Dimas menatap Bayu mantap. "Gue pasang buy order di harga tiga ratus dua puluh rupiah sekarang ya. Dua juta rupiah, seluruh saldo kas gue."
"Lakukan, Dim," angguk Bayu mantap.
Jemari Dimas menari di atas layar, memasukkan angka volume dan harga. "Oke, pesanan beli sudah terpasang... Dan langsung matched! Seluruh modal dua juta rupiah kita resmi dibelikan saham BMAA."
Mereka bertiga, termasuk Jarvis yang terus memantau pergerakan data, kembali terdiam. Menit-menit berlalu terasa amat lambat di lorong rumah sakit itu. Dimas terus menyapu layarnya, memperhatikan order book yang bergerak lambat.
"Bentar, Bay," bisik Dimas dengan rasa cemas yang mulai merayap. "Harganya malah turun ke tiga ratus delapan belas rupiah. Uang gue terpotong beberapa puluh ribu rupiah ini. Jarvis, lu yakin kodenya nggak salah?"
"Penurunan harga sebesar nol koma enam dua persen tersebut merupakan fase pancingan untuk memicu aksi jual dari investor ritel," sahut Jarvis tenang. "Proses penyerapan penawaran hampir selesai. Kenaikan impulsif akan dimulai dalam empat puluh detik dari sekarang."
Bayu menyentuh lengan Dimas. "Tenang, Dim. Percayalah pada kalkulasi Jarvis. Dia memproses jutaan titik data yang tidak bisa kita lihat."
"Gue percaya kok, Bay. Cuma ya... deg-degan saja. Ini kan sisa tabungan gue," kekeh Dimas sambil mengusap keringat dingin di dahinya.
Tepat saat hitungan detik di jam dinding mencapai angka empat puluh, angka pada layar sekuritas Dimas mendadak meloncat. Warna hijau terang mendominasi tampilan papan transaksi.
"Bay! Lihat!" jerit Dimas tertahan, membelalakkan matanya. "Harganya melompat ke tiga ratus lima puluh rupiah! Naik sepuluh persen dalam satu detik!"
"Volume transaksi institusi telah masuk ke sistem pasar," Jarvis menyampaikan pembaruan status secara otomatis. "Harga saham BMAA akan terus terdorong hingga ambang batas atas pada empat ratus enam puluh rupiah per lembar."
Grafik harga di layar ponsel Dimas membentuk garis lurus menanjak tanpa henti. Angka persentase keuntungan bergerak cepat, lima belas persen... dua puluh lima persen... hingga akhirnya menyentuh angka empat puluh tiga koma tujuh persen.
"Empat ratus enam puluh rupiah! Sahamnya Auto Rejection Atas!" teriak Dimas girang setengah berbisik. "Gila! Uang dua juta gue sekarang berubah jadi dua juta delapan ratus tujuh puluh ribu rupiah dalam waktu kurang dari sepuluh menit!"
"Tunggu dulu, Dim. Jangan langsung puas," sela Bayu cepat. Ia beralih menatap ponselnya. "Jarvis, apakah kita harus menjualnya sekarang?"
"Negatif, Bayu. Jangan keluar sekarang," jawab Jarvis presisi. "Tekanan beli masih sangat kuat. Pada sesi kedua perdagangan pukul dua siang nanti, lonjakan fluktuasi kedua akan tercipta. Kita akan mengeksekusi penjualan tepat di harga empat ratus sembilan puluh rupiah saat pembatasan harga dibuka sementara."
"Siap, komandan Jarvis!" sahut Dimas penuh semangat, emosi tegangnya berganti menjadi rasa takjub yang luar biasa. "Gue bakal ikuti semua perintah lu."
Mereka memanfaatkan waktu tunggu untuk mengecek kondisi ibu Bayu di dalam ruang ICU. Dokter mengonfirmasi bahwa penanganan awal berjalan lancar, namun pelunasan sisa deposit tetap harus diselesaikan sore itu juga agar pasokan obat intensif tahap dua bisa dilanjutkan.
Pukul dua siang lewat lima menit, Dimas kembali menyalakan aplikasi sekuritasnya.
"Instruksi eksekusi, Pasang pesanan jual seluruh unit saham BMAA pada harga empat ratus sembilan puluh rupiah sekarang," perintah Jarvis tepat waktu.
"Langsung gue pasang pesanan jual di harga empat ratus sembilan puluh rupiah!" sahut Dimas cepat.
Hanya dalam hitungan tiga detik setelah tombol ditekan, notifikasi berbunyi di ponsel Dimas: [Status Pesanan]: Tersekusi. Seluruh unit berhasil terjual.
"Berhasil terjual!" seru Dimas seraya memperlihatkan layarnya pada Bayu. "Bay! Saldo akhir kas gue sekarang... empat juta delapan ratus ribu rupiah! Kita untung bersih dua juta delapan ratus ribu rupiah cuma dalam hitungan jam!"
Bayu menghembuskan napas lega yang amat dalam, rasa haru menembus dadanya. "Empat juta delapan ratus ribu... Artinya kita punya cukup uang untuk melunasi sisa biaya rumah sakit dan mengembalikan modalmu, Dim."
"Tingkat akurasi prediksi transaksi ini mencapai sembilan puluh sembilan koma delapan persen dari estimasi awal," Jarvis menambahkan informasi melalui pengeras suara. "Proses pencairan dana instan ke rekening utama dapat dilakukan dalam kurun waktu lima menit."
"Jarvis, lu beneran jenius tingkat dewa!" puji Dimas sambil menepuk-nepuk ponsel Bayu pelan. "Bay, ayo kita ke kasir rumah sakit sekarang juga!"
Keduanya berlari kecil menuju loket pembayaran administrasi. Di depan petugas kasir yang sama dengan pagi tadi, Bayu menyerahkan kartu debit milik Dimas setelah dana berhasil dicairkan.
"Pelunasan sisa deposit sebesar tiga juta delapan ratus ribu rupiah atas nama Ibu Suminah," ujar Bayu dengan suara tenang dan penuh rasa percaya diri.
Petugas kasir menatap layar komputernya, lalu menggesek kartu debit dan mencetak resi pembayaran lengkap. "Pembayaran berhasil, Mas Bayu. Seluruh sisa deposit dan biaya resep obat intensif sudah lunas seratus persen. Pasokan obat tahap dua akan segera diproses oleh apotek."
"Terima kasih banyak, Mbak," sahut Bayu tulus sambil menerima resi lunas tersebut.
Saat melangkah keluar dari area kasir, Dimas merangkul bahu Bayu erat-erat. "Bay, modal gue dua juta rupiah sudah kembali utuh, dan sisa keuntungan bersih satu juta rupiah ini... milik lu sepenuhnya buat pegangan."
"Dim, ini kan berkat rekeningmu--"
"Nggak ada tapi-tapi, Bay!" potong Dimas tegas. "Ini berkat AI buatan lu! Tanpa kejeniusan lu dan Jarvis, uang dua juta gue nggak bakal berkembang jadi segini banyak dalam sehari. Ini baru langkah awal, Bay."
Bayu memandang lembaran resi pelunasan di tangannya, lalu menatap layar ponsel Android lusuhnya yang berkedip lembut. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama berada dalam impitan kemiskinan dan ketakutan, Bayu Anggara merasakan pijakan hidupnya kembali kokoh. Dengan kemampuan akurasi sempurna dari Jarvis, bayang-bayang kegelapan finansial yang selama ini mengurungnya mulai runtuh seutuhnya.