[SEASON 3]
"Aku sudah menandai lehernya. Dia milikku!" — Jonah (Vampir Dingin)
"Jangan membual! Dia adalah Mate sejatiku!" — Josiah (Vampir Playboy)
"Mustahil kami bertiga memiliki satu Mate yang sama!" — Jonas (Demon Sulung)
"Lepaskan dia, atau klanmu akan kuhancurkan." — Cedric (Bangsawan Elf)
Elisa mengira dia hanya gadis panti miskin dengan kekuatan aneh memanipulasi ingatan. Namun dalam semalam, dunianya runtuh saat ia dikepung oleh tiga pangeran kegelapan Salvatore yang tampan namun mematikan. Mereka semua mengklaim Elisa sebagai belahan jiwa (Blood Mate) yang tertulis di takdir kuno.
Saat berusaha kabur, Elisa justru tak sengaja membuka gerbang menuju Alfheim—dunia Elf Hutan—di rumah Cedric, bos restorannya yang misterius.
Siapa sebenarnya Elisa? Mengapa para makhluk abadi ini begitu terobsesi pada darahnya? Di tengah ingatan masa lalunya yang perlahan terhapus, permainan berburu di antara mereka baru saja d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Salah Orang: Serupa tapi tak sama
"Yang benar? Ya Tuhan... terima kasih banyak, Eve! Kau benar-benar sahabat terbaik yang pernah dikirimkan Tuhan untukku!"
Elisa langsung berhambur maju, memeluk tubuh Evelyn dengan sangat erat, menumpahkan segala rasa lega yang sempat menghimpit dadanya hingga sesak.
"Sama-sama, El. Sudah, jangan menangis. Sekarang ayo kita bergegas ke sana sebelum terlambat. Aku akan menemanimu menemui mereka," balas Evelyn lembut sembari menepuk punggung Elisa.
Keduanya segera bergerak cepat menuju sebuah mobil sedan hitam mewah milik keluarga Evelyn yang sudah terparkir di halaman. Dengan bantuan supir pribadi keluarga Evelyn, kendaraan roda empat itu segera meluncur membelah jalanan aspal menuju kawasan pusat kota, membawa Elisa menuju titik balik takdirnya yang baru.
Mobil sedan mewah itu akhirnya mengerem pelan, berhenti tepat di depan sebuah gerbang raksasa berlapis emas yang dihiasi dengan ukiran sayap perak yang megah di kedua sisinya. Inilah kediaman megah milik Keluarga Pendragon, sebuah kompleks bangunan bergaya kastil barat yang berdiri kokoh dan aristokratis di pusat Kota Luminara.
"Ayo turun, El. Scarlett rupanya sudah menunggu kita di depan," ajak Evelyn sembari membuka pintu mobil dan menggandeng tangan sahabatnya yang jemarinya masih terasa agak dingin.
Saat mereka melangkah melewati halaman depan yang ditumbuhi bunga-bunga langka, seorang gadis remaja cantik sudah berdiri menyambut di dekat pilar pintu utama kastil.
Penampilannya seketika membuat Elisa terpaku; gadis itu memiliki rambut panjang lurus berwarna putih perak berkilau yang tampak begitu magis di bawah cahaya matahari—sebuah warna rambut khas yang hanya dimiliki oleh bangsa berdarah murni Pegasus.
Saat gadis itu menoleh ke arah kedatangan mereka, sepasang manik matanya yang berwarna ungu jernih laksana batu kecubung menatap mereka dengan binar ramah, struktur wajahnya yang tegas namun anggun merupakan warisan mutlak dari sang ayah, Alan Pendragon.
"Kak Eve!"
Suara Scarlett terdengar berwibawa namun tetap menyiratkan kelembutan aristokrat yang kental.
Pandangan mata ungunya yang jernih lantas beralih, terkunci tepat ke arah sosok Elisa yang berdiri kaku di samping Evelyn.
Sebagai keturunan murni dari perpaduan ras agung Pegasus dan Elf Hutan, insting alami Scarlett bekerja dengan sangat tajam. Pupil ungunya mendadak mengecil, bersinkronisasi dengan getaran supranatural di udara saat ia menangkap riak aura aneh yang samar namun pekat berselimut di dalam tubuh manusia Elisa.
"Halo, Scarlett. Ini Elisa, sahabat baikku yang tadi sempat aku ceritakan lewat telepon," ucap Evelyn, bergegas memperkenalkan keduanya demi memecah keheningan ganjil yang mendadak tercipta.
Scarlett melangkah mendekat. Alih-alih mengulurkan tangan untuk berjabat, hidung mancungnya justru tampak mengendus udara di sekitar tubuh Elisa.
"Aroma laut yang pekat... dan... bau karat besi?" gumam Scarlett dengan kening berkerut dalam, menatap Elisa dengan penuh selidik.
Jantung Elisa berdegup kaku. Ia refleks menarik kerah gaun hitamnya ke atas, mencoba menyembunyikan luka gigitan yang menyiksa di lehernya. Namun, gerakan Scarlett jauh lebih cepat dan sigap.
"Sepertinya kau sama sekali bukan gadis manusia biasa, Elisa..." bisik Scarlett dengan volume suara yang sangat rendah, sengaja menekan suaranya sedemikian rupa agar Evelyn yang berdiri di samping mereka tidak menangkap kecurigaannya.
"Anda salah, Nona. Saya hanya seorang gadis miskin dari pinggiran distrik yang butuh bantuan," ujar Elisa defensif, memasang dinding pembatas yang tegap.
Scarlett terdiam selama beberapa detik. Indra penciumannya yang tajam mengenali aroma familiar di tubuh Elisa—itu bukan sekadar aroma laut fana biasa. Itu adalah tanda kepemilikan.
Scarlett sedikit terkejut, namun dengan keanggunan alaminya, ia segera menetralkan kembali ekspresi wajahnya yang sempat menegang.
"Menarik. Tidak banyak makhluk di dunia ini yang bisa membuat seorang bangsawan berdarah murni melepaskan mangsanya begitu saja tanpa dihabiskan sampai kering," gumam Scarlett sarat akan teka-teki.
"Dan panggil saja aku Scarlett. Mulai sekarang kamu tidak usah bersikap terlalu formal padaku."
"Apa maksudmu dengan bangsawan, Scarlett?" tanya Evelyn dengan wajah bingung, sama sekali tidak memahami arah pembicaraan penuh sandi di antara kedua gadis itu.
Sementara itu, Elisa yang langsung mengerti bahwa Scarlett mengetahui dirinya baru saja diserang oleh vampir, memilih untuk menutup rapat mulutnya.
"Ah, bukan apa-apa, Kak Eve. Masuklah dulu ke dalam," alih Scarlett dengan senyuman tipis.
"Ayahku memang sedang tidak berada di rumah hari ini karena urusan yayasan, tetapi Ibuku ada di dalam. Mari kita bicarakan masalah pemindahan panti asuhanmu di tempat yang lebih nyaman."
Scarlett lantas menuntun mereka berdua melintasi koridor kastil yang megah hingga tiba di sebuah ruang tamu yang luar biasa luas.
Mereka dipersilakan duduk di atas sofa beludru merah yang empuk dan mewah. Tak butuh waktu lama bagi Scarlett untuk kembali ke ruangan itu, kali ini didampingi oleh seorang wanita paruh baya yang memiliki kecantikan abadi tanpa cela—Stefany Elves, sang nyonya rumah.
Elisa dan Evelyn segera berdiri dari sofa, membungkukkan tubuh mereka dengan rasa hormat yang mendalam.
"Jadi... kau yang bernama Elisa?" tanya Stefany lembut namun tegas, sembari memposisikan dirinya duduk di sofa seberang kedua gadis itu.
"Betul, Nyonya Pendragon. Saya Elisa Morpheana," jawab Elisa, suaranya terdengar stabil meski batinnya cemas.
Stefany mengangguk-angguk mantap, menatap Elisa dengan binar mata yang penuh wibawa. "Baiklah, aku tidak suka menunda waktu dalam situasi darurat. Aku akan segera mengirimkan beberapa bawahanku ke distrik lama untuk menjemput seluruh anak-anak dan pengasuh pantimu sekarang juga."
"Tapi, Nyonya... saya bahkan belum menjelaskan situasi rincinya atau memperlihatkan bagaimana kondisi fisik panti asuhan kami," ucap Elisa merasa tak enak hati sekaligus takjub dengan kemudahan ini.
"Tidak perlu, Elisa. Aku tahu kau pasti sangat lelah setelah berlari jauh," potong Stefany dengan nada mutlak yang menenangkan.
"Asisten pribadiku yang akan mengurus seluruh birokrasi kepindahan mereka ke yayasan kami. Soal pakaian, dokumen panti, dan barang-barang pribadimu, biarkan orang-orangku yang menangani semuanya dengan bersih."
Stefany lantas bangkit berdiri, beralih menatap putri tunggalnya. "Scarlett, Ibu harus segera pergi ke kediaman Kakek untuk menjemput adik-adikmu. Ibu serahkan sisa urusan Elisa dan Evelyn kepadamu. Elisa... Evelyn... maafkan aku karena harus pergi tergesa-gesa."
"Terima kasih banyak atas ketulusan
dan kebaikan hati Anda yang luar biasa, Nyonya," ucap Elisa dengan ketulusan yang membuncah dari dasar dadanya.
Stefany melangkah pergi meninggalkan ruangan. Namun, tepat sebelum ia melintasi pintu utama, wanita agung itu sempat menolehkan kepalanya sekilas, menatap punggung Elisa dengan dahi berkerut.
Siapa sebenarnya gadis yatim piatu itu? Jelas-jelas riak jiwanya berbeda dari manusia fana lainnya, batin Stefany penuh tanya sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam mobil mewah yang menunggunya di halaman depan.
Bertepatan dengan kepergian Stefany, seorang pelayan panti kastil datang membawakan nampan berisi beberapa gelas jus segar dan camilan premium.
"Kalian minumlah dulu untuk menenangkan diri," ucap Scarlett dengan ramah.
"Terima kasih banyak, Scarlett. Maaf jika kedatanganku hari ini merepotkanmu," ujar Elisa. Ia kini memberanikan diri memanggil nama langsung karena Scarlett sendiri yang memintanya tadi.
Namun, di tengah rasa leganya, rasa nyut-nyutan yang teramat panas di leher kirinya kembali mendera. Kulitnya terasa terbakar dan gerah akibat sisa air liur vampir yang melekat di sana.
"Uhm, Scarlett... bolehkah aku menumpang ke kamar mandi sebentar untuk membasuh muka?"
"Tentu saja boleh. Kamar mandi ada di koridor sebelah kanan," Scarlett memberikan isyarat visual pada pelayan di dekatnya untuk mengantarkan Elisa.
****
Setelah membasuh wajahnya berulang kali dengan air dingin di wastafel marmer kamar mandi, Elisa mengeringkan wajahnya dengan tisu. Ia merasa sedikit lebih tenang, dan detak jantungnya yang gila mulai melambat. Namun, tepat saat ia melangkah keluar dari pintu kamar mandi yang sepi, hidungnya yang mendadak menjadi luar biasa sensitif kembali menangkap sebuah aroma familiar di udara.
Itu bukan aroma hutan cemara yang sedingin es. Melainkan aroma laut asin yang pekat bercampur bau besi tajam yang maskulin—aroma yang sangat ia kenali sebagai milik si "pengendara motor sport" bajingan sekaligus monster yang telah menyerangnya di hutan tadi!
Dia di sini! Berani-beraninya makhluk astral sialan itu masuk dan menyusup ke rumah semegah ini?!