Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".
Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.
Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.
*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*
Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10: Pertandingan Basket
“Kalau begitu, mulai sekarang.”
Arya benar-benar mulai dari satu.
Selama dua hari berikutnya, Kirana menerima setangkai mawar setiap pagi. Tidak ada gunungan bunga, tidak ada lobi terblokir, hanya satu tangkai dengan catatan pendek yang diselipkan di depan pintu.
Hari pertama: Sudah sarapan?
Hari kedua: Jangan pulang terlalu malam setelah pertandingan.
Kirana memasukkan mawar kedua ke dalam botol kaca bekas minuman. Winda yang sedang memilih kaus tim menatap dua bunga di meja dengan ekspresi geli.
“Dari sembilan ratus sembilan puluh sembilan turun jadi satu. Prof. Arya benar-benar bisa dilatih.”
“Dia cuma menepati janji.”
“Dan lo menyimpan bunganya.”
Kirana mengambil tas. “Sayang kalau dibuang.”
“Semua alasan lo ujungnya mubazir.”
Mereka berangkat menuju gedung olahraga UN sebelum Kirana terpaksa mengakui bahwa ia sudah memesan vas kecil secara online.
***
Pertandingan antarfakultas selalu menjadi acara terbesar pada awal semester. Tribun penuh oleh mahasiswa dengan kaus warna fakultas, poster buatan tangan, dan ponsel yang siap merekam. Musik berdentum dari pengeras suara. Bau keringat, minuman energi, dan lantai kayu bercampur di udara.
Winda menarik Kirana ke baris ketiga. “Di sini kelihatan jelas.”
“Kita cuma nonton satu babak, kan?”
“Final, Kira. Masa pulang sebelum selesai?”
“Gue ada presentasi Senin.”
“Hari ini Sabtu. Hidup sedikit.”
Di lapangan, Fajar Nugroho memimpin tim Fakultas Ekonomi melakukan pemanasan. Tingginya menonjol, gerakannya cepat, dan setiap kali bola masuk ke ring, tribun sisi kiri bersorak. Sebagai senior populer sekaligus kapten tim, wajahnya sudah memenuhi akun media sosial kampus sejak pagi.
Fajar melihat Kirana dan mengangkat tangan. Beberapa mahasiswa mengikuti arah tatapannya, lalu mulai bersiul.
Kirana membalas dengan anggukan sopan.
“Kenapa semua laki-laki di kampus tahu tempat duduk lo?” tanya Winda.
“Gue duduk di depan.”
“Alasan lagi.”
Gilang muncul dari lorong tribun sambil membawa dua botol air mineral. Setelah penolakan terakhir, sikapnya sedikit lebih tertahan, tetapi ia masih sering mencari kesempatan berada di dekat Kirana.
“Winda, ini buat kamu.” Ia menyerahkan satu botol.
Winda menerimanya. “Tumben gue kebagian.”
“Yang satu buat Kirana.”
“Ternyata tetap ada maunya.”
Kirana menolak dengan telapak tangan. “Aku bawa minum sendiri.”
Gilang tidak memaksa. Ia duduk dua kursi dari mereka. “Fajar lagi on fire. Katanya hari ini dia mau bikin kejutan.”
“Kejutan apa?”
“Nanti juga tahu.”
Sebelum Kirana sempat bertanya lagi, Fajar meninggalkan barisan pemain dan berlari kecil ke tepi tribun. Para mahasiswa langsung bersiul saat ia berhenti tepat di depan Kirana.
“Datang juga,” katanya sambil tersenyum.
“Winda yang maksa.”
“Apa pun alasannya, gue senang.” Fajar melepaskan gelang kain warna tim dari pergelangan tangannya dan mengulurkannya. “Pegang ini buat pembawa keberuntungan.”
Sorakan di sekitar mereka semakin keras. Kirana tidak ingin menerima simbol yang mudah disalahartikan, tetapi menolaknya di tengah kerumunan juga akan menciptakan tontonan.
“Taruh di sini saja, Kak.” Ia menunjuk pagar tribun. “Nanti habis pertandingan bisa diambil lagi.”
Fajar sempat terdiam, lalu menyelipkan gelang itu pada pagar. “Oke. Jangan pulang sebelum gue ambil.”
Begitu ia kembali ke lapangan, Winda memandang Kirana dengan mulut terbuka.
“Itu bukan sekadar gelang.”
“Makanya gue nggak pakai.”
“Gue mulai takut sama kejutan dia.”
Kirana juga. Ia melirik ke arah pintu gedung, tanpa tahu kenapa berharap melihat seseorang di sana.
Ponselnya berbunyi lebih dulu.
Jangan pakai gelang itu.
Pesan dari Arya.
Kirana menoleh cepat. Belum melihat pria itu, ia membalas.
Mas ada di mana?
Jawabannya muncul.
Temukan saya.
Kirana menyapu kerumunan, melewati kaus-kaus tim dan poster besar. Baru pada pandangan kedua ia menemukan Arya berdiri di sisi gelap dekat pintu. Pria itu tidak melihat gelang di pagar. Ia melihat Fajar dengan ketenangan yang jauh lebih mengancam daripada kemarahan.
Senyumnya membuat perut Kirana terasa tidak nyaman. Bukan sakit, hanya tarikan halus yang biasa datang menjelang menstruasi. Ia menekan telapak tangan pada perut sejenak, lalu mengabaikannya.
Peluit berbunyi.
Pertandingan berjalan cepat. Fajar mencetak poin pertama, lalu mencuri bola pada menit berikutnya. Setiap aksinya disambut teriakan. Winda ikut berdiri dan bersorak, menarik Kirana bangkit ketika tim mereka unggul.
Di sisi lain gedung, seorang pria berkemeja gelap berdiri dekat pintu keluar.
Arya.
Ia tidak mengenakan pakaian olahraga atau atribut tim. Keberadaannya nyaris tidak terlihat di tengah kerumunan, tetapi Kirana langsung menemukannya.
Tatapan mereka bertemu melewati lapangan.
Arya mengangkat ponsel. Sesaat kemudian, ponsel Kirana bergetar.
Saya sudah bilang jangan pulang terlalu malam. Bukan jangan datang.
Kirana menahan senyum dan membalas.
Mas datang untuk mengawasi saya?
Tiga titik muncul.
Pertandingan.
Kirana mengangkat wajah. Arya sama sekali tidak sedang melihat bola. Matanya tertuju kepadanya.
Pembohong.
Ia baru hendak menyimpan ponsel ketika kram kedua datang. Kali ini lebih tajam. Kirana menahan napas dan duduk kembali.
“Lo kenapa?” Winda membungkuk.
“Kayaknya mau datang bulan.”
“Bawa obat?”
Kirana menggeleng. “Harusnya masih dua hari lagi.”
Winda merogoh tas. “Gue ada pembalut, tapi obat nggak ada.”
“Nanti saja. Masih aman.”
Kirana tidak ingin berjalan di tengah pertandingan dan menjadi pusat perhatian. Ia tidak tahu bahwa sebentar lagi seluruh perhatian gedung memang akan jatuh kepadanya.
Babak pertama berakhir dengan keunggulan Fakultas Ekonomi. Musik kembali memenuhi gedung. Para pemain berkumpul di tepi lapangan untuk minum, tetapi Fajar mengambil mikrofon dari pembawa acara.
“Sebelum lanjut,” katanya, masih terengah setelah bermain, “gue minta waktu sebentar.”
Sorak-sorai langsung naik. Beberapa rekan setimnya tertawa dan mendorong bahunya.
Winda menoleh kepada Gilang. “Ini kejutannya?”
Gilang mengangkat bahu, tetapi wajahnya tegang.
Fajar berdiri di lingkaran tengah. “Ada seseorang yang sudah lama ingin gue ajak bicara. Tapi tiap ketemu, selalu ada alasan buat menunda.”
Teriakan “siapa” bergema dari tribun.
Kirana mendadak memiliki firasat buruk.
Fajar mengangkat tangan ke arah baris ketiga.
“Kirana Anindya Saraswati.”
Seluruh kepala menoleh.
Kirana membeku.
Satu kamera ponsel langsung diarahkan ke wajahnya. Lalu dua, lima, belasan. Winda menggenggam tangannya.
Di dekat pintu keluar, wajah Arya berubah tanpa ekspresi. Hanya rahangnya yang mengeras.
“Kirana,” lanjut Fajar, “gue suka sama lo. Bukan sejak hari ini. Gue serius dan gue pengin dapat kesempatan buat kenal lebih dekat.”
Tribun meledak dalam sorakan. Teman-teman Fajar meneriakkan terima, terima, terima. Sebuah akun kampus menyiarkan langsung, angka penontonnya melonjak setiap detik.
Kirana merasakan telinganya berdenging.
Ia tidak membenci Fajar. Senior itu selalu sopan. Namun cara ini membuatnya berdiri di bawah tekanan ratusan orang, seakan penolakan akan menjadikannya penjahat dalam kisah romantis yang dibuat orang lain.
Kram berikutnya menusuk. Kirana mencengkeram tangan Winda, lalu tetap memaksa berdiri.
“Kak Fajar,” katanya. Mikrofon terlalu jauh untuk menangkap suaranya.
Fajar memberi isyarat kepada panitia. Seorang mahasiswa membawa mikrofon ke tribun. Kirana menerimanya dengan tangan dingin.
“Terima kasih sudah jujur,” ucapnya. Kerumunan perlahan tenang. “Kak Fajar orang baik. Tapi aku nggak punya perasaan yang sama.”
Beberapa orang berseru kecewa. Kamera bergerak semakin dekat.
Fajar menahan senyum. “Kita belum mencoba. Kasih aku satu kesempatan.”
“Perasaan bukan audisi yang harus dicoba dulu.” Kirana menjaga suaranya tetap stabil. “Kalau aku menerima karena semua orang menyuruh, itu nggak adil buat Kak Fajar dan nggak adil buat aku. Jadi jawabanku tidak.”
Keheningan berlangsung satu detik sebelum bisik-bisik memenuhi gedung.
Fajar menurunkan mikrofon. Kekecewaan jelas terlihat, tetapi ia mengangguk. “Oke. Gue hargai jawaban lo.”
Kirana menyerahkan mikrofon kepada panitia. Begitu duduk, lututnya kehilangan tenaga.
Winda merangkul bahunya. “Lo keren. Tapi wajah lo putih banget.”
“Sakit,” bisik Kirana.
Di layar ponsel Winda, potongan video penolakan itu sudah beredar dengan judul besar.
CEWEK PALING CANTIK UN MENOLAK FAJAR DI DEPAN SATU GEDUNG.
Komentar bergerak terlalu cepat. Ada yang memuji ketegasan Kirana, ada yang memakinya sombong, ada pula yang mulai menebak siapa laki-laki lain di balik penolakannya.
Ponsel Arya sudah menempel di telinga.
“Rian,” katanya pelan, tak mengalihkan mata dari Kirana. “Turunkan siaran langsung. Lindungi data pribadinya. Jangan hapus video penolakan, tapi bersihkan komentar yang menyebarkan alamat atau nomor telepon.”
“Siap, Pak,” jawab Rian dari seberang.
Arya bergerak menyusuri sisi lapangan. Beberapa mahasiswa mengenalinya sebagai dosen dan memberi jalan. Namun sebelum ia mencapai tribun, dua mahasiswi sudah menghampiri Kirana untuk meminta komentar.
“Kirana, kenapa ditolak? Kamu sudah punya pacar?”
“Apa benar ada dosen yang dekat sama kamu?”
Winda berdiri menghalangi. “Minggir. Dia nggak enak badan.”
Kirana mencoba bangkit. Rasa sakit di perut bawah melipat tubuhnya. Keringat dingin muncul di pelipis, suara di sekelilingnya terdengar jauh.
“Win...”
“Pegang gue.”
Gilang ikut berdiri, membuka jalan di antara penonton. “Bawa ke luar dulu.”
Mereka berhasil mencapai tangga tribun. Kirana menekan satu tangan ke perut, satu lagi menggenggam pagar. Setiap langkah membuat pandangannya berkunang.
Di luar gedung, sebuah sedan hitam berhenti tanpa suara.
Pintu belakang terbuka.
Arya muncul dari sisi lapangan tepat saat lutut Kirana goyah.
Tatapan dinginnya menyapu kerumunan, lalu jatuh pada wajah pucat Kirana.
“Rana.”
Kirana ingin mengatakan ia baik-baik saja.
Namun sebelum satu kata keluar, nyeri tajam merobek perutnya dan seluruh dunia miring.
Lengan Arya terulur, menangkap tubuhnya sebelum kepala Kirana menyentuh lantai.