Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Episode 1

Bab 1: Malam yang Salah

Nyeri itu menyambut Kirana bahkan sebelum ia membuka mata.

Paha bagian dalamnya terasa ngilu. Pinggangnya seakan baru dilipat semalaman, sementara kulit di bawah tulang selangkanya perih saat bergesekan dengan selimut hotel. Ketika ia berusaha bergeser, sebuah lengan berat yang melingkar di perutnya ikut bergerak, menarik tubuh telanjangnya semakin rapat ke dada hangat di belakangnya.

Napas Kirana terhenti.

Aroma kayu bercampur sisa sampanye memenuhi indra penciumannya. Bukan wangi kamar hotel. Bukan pula parfum Galih atau Chandra yang semalam memaksanya menenggak gelas demi gelas di lounge.

Ini aroma seorang laki-laki.

Dan laki-laki itu sedang tidur di ranjang yang sama dengannya.

Kirana membuka mata lebar-lebar. Cahaya pagi Singapura menerobos celah tirai, membelah kamar suite di kawasan Marina menjadi garis-garis keemasan. Gaun hitamnya tergeletak di dekat sofa. Sepatu haknya terpisah jauh, satu di bawah meja, satu lagi di dekat pintu kamar mandi.

Potongan ingatan semalam menghantam tanpa aba-aba.

Tangan Galih yang terus mengisi gelasnya meski ia sudah menolak. Chandra yang tertawa saat pintu ruang privat dikunci. Panas alkohol menjalar dari tenggorokannya ke seluruh tubuh. Kepalanya yang berat, tetapi kesadarannya tetap cukup utuh untuk mengenali bahaya. Naluri yang akhirnya memaksanya menendang tulang kering Galih, meraih tas, lalu berlari keluar.

Setelah itu, Kirana ingat bersandar pada dinding koridor lounge. Ingat seorang pria tinggi berbaju hitam berhenti di hadapannya. Ingat sepasang mata gelap di balik kacamata tipis yang menatapnya tanpa menyentuh.

“Butuh bantuan?” suara pria itu rendah.

Kirana seharusnya meminta petugas keamanan. Seharusnya menelepon keluarganya. Seharusnya melakukan seratus hal lain yang lebih masuk akal.

Namun ketika mendengar suara Galih memanggil namanya dari ujung koridor, ia justru mencengkeram kerah pria asing itu.

“Cium aku.”

Pria itu tidak langsung bergerak. Tatapannya turun ke bibir Kirana, lalu kembali menatap matanya.

“Kamu sadar dengan apa yang kamu minta?”

Di belakang mereka, langkah tergesa dan suara Galih terdengar makin dekat. Tubuh Kirana gemetar, bukan hanya karena panas yang mencurigakan di bawah kulitnya. Ia mengenali rasa takut. Mengenali cara dua laki-laki itu saling bertukar pandang sebelum Chandra menutup pintu ruang privat.

“Tolong,” bisiknya kali ini. “Jangan biarkan mereka bawa aku.”

Sorot mata pria asing itu berubah. Ia melepas jasnya, menyampirkannya ke bahu Kirana, lalu berdiri di antara tubuhnya dan koridor.

Saat Galih muncul, pria itu cukup berkata, “Dia bersama saya.”

Tidak keras. Tidak mengancam. Namun Galih berhenti seketika, memucat seolah mengenali sesuatu yang Kirana sendiri tidak pahami. Chandra menarik lengannya dan keduanya pergi tanpa berani membantah.

Seharusnya Kirana merasa aman setelah itu. Seharusnya ia meminta pria tersebut mengantar ke lobi. Namun panas di tubuhnya justru semakin liar, dan satu-satunya hal yang terasa menenangkan adalah aroma kayu dari jas yang memeluk bahunya.

Kirana menjawab dengan menariknya lebih dekat dan menempelkan bibir mereka.

Satu ciuman berubah menjadi pintu lift yang tertutup. Di dalam kamar, pria itu memberinya air dan menunggu sampai langkahnya kembali stabil. Ia meminta Kirana menyebut nama, tanggal, dan tempat mereka berada, lalu bertanya apakah ia ingin menelepon seseorang. Kirana menjawab semuanya dengan benar. Ia menolak telepon, menarik pria itu mendekat, dan menyatakan keinginannya sekali lagi tanpa keraguan.

Baru setelah itu, kartu kamar jatuh di lantai dan telapak tangan besar menopang pinggangnya ketika lututnya kehilangan tenaga.

Di sela napas yang kacau, pria itu berulang kali bertanya apakah ia yakin. Kirana, dengan kepala berputar dan tubuh yang terbakar oleh sesuatu yang belum pernah ia rasakan, berkali-kali mengangguk dan menariknya kembali.

Ia juga ingat saat pria itu berhenti begitu melihat bercak merah tipis di seprai. Wajah yang semula keras berubah tegang.

“Pertama kali?”

Kirana terlalu malu untuk menjawab. Ia hanya menutup wajah dengan kedua tangan.

Pria itu mencium ruas-ruas jarinya, jauh lebih lembut dari seluruh sentuhan sebelumnya.

“Saya juga.”

Astaga.

Wajah Kirana panas sampai ke telinga. Ia mengangkat lengan laki-laki itu perlahan, menahannya agar tidak jatuh keras ke kasur, lalu menyelinap keluar dari pelukan.

Gerakannya membuat selimut melorot. Ia buru-buru menarik kain itu menutupi dada, tetapi tetap sempat melihat bekas kemerahan di pinggangnya. Malu dan panik saling berkejaran hingga ujung jarinya gemetar.

Laki-laki di sampingnya masih tertidur miring. Dalam cahaya pagi, wajahnya terlihat terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menghancurkan seluruh prinsip hidup Kirana dalam satu malam. Rambut hitamnya sedikit berantakan. Kacamata yang semalam membuatnya tampak dingin terletak di nakas. Sebuah tahi lalat merah kecil tampak jelas di dekat tulang selangkanya.

Terlalu tampan. Terlalu berbahaya.

Kirana memalingkan wajah.

Ia menemukan ponselnya di dalam tas. Ada sembilan panggilan dari Winda, tiga belas pesan dari Mama, dan satu pesan Galih yang membuat isi perutnya bergolak.

Jangan lebay. Tadi cuma bercanda.

Kirana memblokir nomor itu tanpa membalas. Ia mengenakan gaunnya secepat mungkin, meringis saat tubuhnya memprotes setiap gerakan. Di depan cermin kamar mandi, ia hampir tidak mengenali gadis berambut kusut dengan bibir bengkak dan jejak kebiruan di leher itu.

Apa yang harus ia katakan jika pria itu bangun?

Terima kasih?

Maaf?

Tolong anggap saya tidak pernah ada?

Tidak. Ia tidak sanggup menghadapi percakapan apa pun.

Kirana membuka dompet. Di antara uang rupiah dan kartu-kartunya terselip selembar uang seratus dolar Singapura. Ia menatapnya beberapa detik, lalu meletakkannya di atas nakas. Dari meja kerja, ia mengambil secarik kertas hotel dan menulis dengan tangan yang masih gemetar.

Anggap saja ini bayaran. Lupakan aku.

Uang itu ia gunakan untuk menindih catatan.

Keputusan bodoh, mungkin. Namun pagi itu Kirana hanya ingin memberi garis akhir pada malam yang salah. Tidak ada nama, tidak ada nomor telepon, tidak ada tanggung jawab, tidak ada kesempatan kedua.

Ia memandang pria yang masih tertidur untuk terakhir kali.

Lalu pergi tanpa menoleh lagi.

***

Enam minggu kemudian.

“Kalau Prof. Hartono sampai benar-benar pensiun, gue bakal nangis di depan ruang dekan.”

Suara Winda menyeret Kirana kembali ke ruang kuliah bertingkat Fakultas Ekonomi Universitas Nusantara. Di luar, matahari Depok baru pukul sembilan tetapi panasnya sudah menempel di kaca. Puluhan mahasiswa memenuhi bangku, menebak-nebak siapa dosen pengganti untuk mata kuliah Analisis Keuangan semester ini.

Kirana menaruh tablet di meja. “Beliau cuma cuti penelitian, Win. Bukan pensiun.”

“Sama aja. Katanya penggantinya galak. Lulusan luar negeri. Masih muda.” Winda mendekatkan wajahnya. “Kalau ganteng, gue rela dikasih tugas tiap minggu.”

“Nanti gue rekam ucapan lo.”

“Silakan. Buat bukti sejarah.”

Kirana menggeleng sambil tersenyum tipis. Pagi pertama semester ganjil seharusnya terasa seperti tombol mulai ulang. Enam minggu cukup lama untuk mengubur satu malam memalukan di negeri orang.

Setidaknya itulah yang terus ia katakan kepada dirinya sendiri.

Ia sudah memblokir Galih dan Chandra, menjalani pemeriksaan kesehatan, lalu menyimpan hasilnya jauh di dasar laci. Tidak ada kehamilan. Tidak ada infeksi. Tidak ada konsekuensi yang bisa mengejarnya pulang.

Winda mengeluarkan roti dari tas dan menyobek bungkusnya pelan-pelan. “Lo kenapa pucat? Masih kepikiran kejadian Singapura?”

Kirana menoleh cepat. “Kejadian apa?”

“Galih yang kurang ajar itu. Lo nggak pernah cerita lengkap.”

“Nggak ada yang perlu diceritain.” Ia membuka tablet hanya agar memiliki sesuatu untuk ditatap. “Gue berhasil pulang. Selesai.”

Winda menahan bungkus roti di udara. Tatapan usilnya lenyap. “Kalau dia ganggu lagi, bilang. Bokap gue mungkin masih nyicil rumah sampai dua belas tahun ke depan, tapi urusan gebuk anak orang, gue bisa gratis.”

Kirana tertawa kecil meski tenggorokannya terasa sempit. “Preman Bekasi.”

“Sahabat siaga.”

Hanya mimpi-mimpi pendek tentang telapak tangan panas di pinggangnya dan suara rendah yang bertanya, “Yakin?”

Kirana mencubit ujung jarinya sendiri.

Lupakan.

Pintu ruang kuliah terbuka.

Obrolan yang memenuhi ruangan surut dalam hitungan detik.

Seorang pria tinggi melangkah masuk membawa laptop tipis dan setumpuk berkas. Kemeja putihnya digulung sampai siku, celana hitamnya jatuh rapi, dan kacamata berbingkai emas bertengger di wajah yang terlalu ia kenal.

Kirana tidak mendengar Winda mengembuskan peluit kecil di sampingnya.

Ia tidak mendengar kursi bergeser atau bisikan para mahasiswi di baris depan.

Yang ia dengar hanya detak jantungnya sendiri, keras dan kacau, saat pria itu meletakkan barang-barangnya di meja dosen.

Tahi lalat merah di dekat tulang selangka itu tersembunyi di balik kerah. Namun aroma kayunya, meski samar dan terhalang jarak beberapa meter, seolah kembali menempel di kulit Kirana.

Astaga.

Dosen pengganti itu lelaki yang tidur dengannya di Singapura.

Jari Kirana kehilangan tenaga. Stylus di tangannya jatuh dan membentur lantai.

Pria di depan kelas mengangkat wajah.

Tatapan mereka bertemu.

Tidak ada keterkejutan di mata gelap itu. Tidak ada tanda bahwa ia baru saja melihat perempuan yang meninggalkan uang di samping ranjangnya. Ia hanya menatap Kirana sesaat, tenang sekali, lalu mengalihkan pandangan ke seluruh ruangan.

“Selamat pagi.”

“Pagi, Prof,” jawab kelas hampir serempak.

“Nama saya Arya Danuwangsa. Selama satu semester ke depan, saya akan menggantikan Prof. Hartono.” Ia menulis namanya di papan dengan gerakan rapi. “Saya tidak peduli seberapa tinggi nilai kalian semester lalu. Di kelas saya, semua orang mulai dari nol.”

Winda menyenggol lengan Kirana. “Gila. Aura direktur, bukan dosen.”

Kirana tidak mampu menjawab.

Arya membuka daftar hadir. Suaranya datar saat menyebut nama demi nama. Beberapa mahasiswa mengangkat tangan. Yang lain menjawab singkat. Semakin dekat urutan abjad pada namanya, semakin dingin telapak tangan Kirana.

Mungkin dia tidak ingat.

Mungkin malam itu terlalu gelap.

Mungkin ia sudah sering bangun bersama perempuan asing sehingga wajah Kirana tidak berarti apa-apa.

Pikiran terakhir itu seharusnya melegakan. Anehnya, ada sesuatu yang menusuk kecil di dadanya.

“Kirana Anindya Saraswati.”

Seluruh darah di tubuhnya seperti berhenti mengalir.

“Hadir,” jawabnya pelan.

Arya tidak melanjutkan ke nama berikutnya.

Ia mengangkat kepala dari daftar hadir. Pandangannya menyapu seisi kelas, lalu berhenti tepat di wajah Kirana. Perlahan, sangat tipis, sudut bibirnya terangkat.

“Kirana Anindya Saraswati,” ulangnya, seolah sedang memastikan nama itu tersimpan baik-baik. “Silakan berdiri.”

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!