Episode 2

Bab 2: Dosen atau Direktur?

“Kirana Anindya Saraswati,” ulangnya, seolah sedang memastikan nama itu tersimpan baik-baik. “Silakan berdiri.”

Kirana mencengkeram ujung meja sebelum memaksa kedua kakinya bergerak. Puluhan pasang mata beralih kepadanya. Winda bahkan berhenti mengunyah roti.

“Hadir, Prof,” ucap Kirana, kali ini lebih jelas.

Arya menatapnya selama dua detik yang terasa seperti dua jam. “Saya dengar. Saya hanya ingin memastikan mahasiswa di kelas ini berdiri saat memperkenalkan diri pada pertemuan pertama.”

Beberapa mahasiswa yang tadi menjawab sambil duduk saling pandang. Satu demi satu, mereka ikut berdiri ketika nama berikutnya dipanggil.

Kirana perlahan duduk kembali.

Jadi, bukan hanya dia.

Namun ketika Arya menunduk pada daftar hadir, senyum tipis itu masih ada. Kecil sekali, tetapi cukup untuk membuat tengkuk Kirana panas.

Dia ingat.

Sepanjang perkuliahan, Arya bertingkah seolah mereka benar-benar baru bertemu. Ia menjelaskan kontrak belajar, sistem penilaian, dan standar tugas dengan suara datar. Tidak ada satu kata pun tentang Singapura. Tidak ada lirikan genit. Justru sikap profesionalnya membuat Kirana semakin tidak tenang.

Pria yang sama pernah mencium jemarinya di atas seprai kusut.

Sekarang ia berdiri di depan grafik arus kas, menjelaskan analisis risiko seolah tidak pernah melihat seluruh bagian tubuhnya.

“Kira.” Winda berbisik tanpa mengalihkan pandangan dari slide. “Lo kenal dia?”

“Nggak.”

“Jawaban lo kecepetan.”

“Dengerin kuliah.”

“Gue dengerin. Tapi Prof. Arya dari tadi empat kali lihat ke sini.”

Kirana pura-pura mencatat lebih cepat.

Di akhir kelas, Arya menampilkan kode QR di layar. “Silakan masuk ke grup WhatsApp mata kuliah. Semua pengumuman dan materi akan dikirim di sana. Jangan menghubungi saya untuk hal yang tidak berkaitan dengan akademik.”

Ponsel terangkat serentak. Kirana memindai kode itu dengan perasaan seperti sedang menyerahkan alamat rumah kepada pencuri.

“Satu lagi.” Arya menutup laptop. “Kirana, tetap di kelas. Saya perlu bicara tentang tugas semester lalu yang belum tercatat di sistem.”

Winda menoleh begitu cepat sampai rambutnya mencambuk bahu Kirana. “Katanya nggak kenal?”

“Memang nggak.”

“Terus kenapa cuma lo?”

“Mungkin sistemnya bermasalah.”

Winda menyipitkan mata. “Atau hidup lo yang bermasalah.”

“Keluar sana.”

“Gue tunggu di koridor. Kalau lima belas menit lagi lo nggak keluar, gue dobrak pintunya.”

Setelah mahasiswa terakhir pergi, ruang kuliah mendadak terasa terlalu luas dan terlalu sunyi. Arya tetap di depan, memasukkan laptop ke dalam tas. Kirana menunggu beberapa langkah dari meja dosen, sengaja menjaga jarak.

“Tugas saya yang mana, Prof?” tanyanya.

“Tidak ada.”

Kirana mengangkat wajah. “Apa?”

“Nilai kamu lengkap. A.”

“Lalu kenapa saya ditahan?”

Arya memasang kembali kacamatanya. Kaca bening itu sama sekali tidak menyembunyikan cara ia memandang Kirana dari ujung kepala sampai kaki.

“Untuk memastikan kamu tidak kabur lagi.”

Jantung Kirana menghantam tulang rusuk.

“Saya nggak paham maksud Prof.”

“Yakin?”

Arya melangkah mendekat. Kirana mundur refleks, tetapi hanya satu langkah. Ia menolak terlihat takut.

“Kalau pembicaraan ini bukan soal akademik, saya mau keluar.”

“Silakan.”

Jawaban mudah itu membuatnya curiga. Kirana membalikkan badan, berjalan ke pintu, lalu mendengar langkah Arya menyusul dengan tenang.

Mereka keluar ke koridor. Winda yang menunggu di dekat jendela langsung berdiri tegak, pura-pura sibuk dengan ponsel.

“Mbak Kirana.”

Kirana berhenti. Ia menoleh dengan rahang kaku. “Ya, Prof?”

Arya berdiri cukup dekat untuk menurunkan suara tanpa didengar orang lain. Aroma kayunya menyusup di antara hawa pengap koridor.

“Kita pernah bertemu, kan?”

Pupil Kirana melebar.

“Saya rasa Prof salah orang.”

“Mungkin.” Tatapannya turun sekilas ke bibir Kirana. “Tapi saya jarang lupa pada orang yang meninggalkan uang untuk saya.”

Kirana menggenggam tali tasnya sampai buku jarinya memutih.

“Itu salah paham.”

“Bagus. Berarti kita perlu waktu untuk meluruskannya.” Arya mengeluarkan ponsel. “Nomor WhatsApp pribadi kamu.”

“Sudah ada di grup kelas.”

“Saya tidak bertanya nomor yang ada di grup.”

“Prof. Arya sendiri bilang mahasiswa tidak boleh menghubungi untuk urusan nonakademik.”

Untuk pertama kalinya, ada sesuatu seperti rasa puas di mata pria itu. “Pintar. Sayangnya, saya yang akan menghubungi kamu.”

Winda mengintip dari balik ponselnya dengan wajah terang-terangan ingin tahu. Kirana tidak punya ruang untuk berdebat tanpa membuatnya semakin curiga. Ia menyebutkan nomor dengan suara pelan.

Ponselnya langsung bergetar.

Pesan dari nomor baru masuk.

Jangan blokir saya, Rana.

Napas Kirana tersangkut. Tidak ada seorang pun yang pernah memanggilnya Rana.

Ketika ia mengangkat wajah, Arya sudah berjalan pergi.

“Oke.” Winda mendekat dengan kedua tangan bersedekap. “Sekarang jelaskan kenapa dosen baru superganteng itu punya nomor pribadi lo dan memandang lo kayak mau nagih utang.”

“Dia cuma mau bahas tugas.”

“Tugas apaan sampai kuping lo merah?”

Kirana memasukkan ponsel ke tas. “Panas.”

“Koridor ini pakai AC.”

“Win, gue lapar.”

“Pengalihan lo jelek banget.”

Kirana menarik lengan sahabatnya menuju tangga. Ia baru mengembuskan napas ketika mereka sampai di lantai bawah, tanpa sadar bahwa dari ujung koridor atas, Arya masih memperhatikannya pergi.

***

Pintu sedan hitam menutup, meredam bising kampus.

Rian menoleh dari kursi pengemudi. “Ke kantor pusat, Pak? Rapat direksi dimulai empat puluh menit lagi.”

Arya melepas kacamata tanpa lensa koreksi itu dan membuka tablet. Di layar, agenda Danuwangsa Group memenuhi sisa harinya, mulai dari akuisisi perusahaan logistik sampai laporan investasi kampus.

“Ke SCBD,” jawabnya. “Minta tim legal menyelesaikan berkasnya sebelum saya tiba.”

“Baik, Pak.” Rian menjalankan mobil, lalu melirik lewat kaca tengah. “Kalau boleh tahu, bagaimana kelas pertama Direktur Danuwangsa sebagai dosen pengganti?”

“Berisik.”

“Mahasiswanya?”

“Satu orang.”

Rian menahan senyum. Ia tahu atasannya mengambil jadwal Prof. Hartono bukan karena UN kekurangan tenaga pengajar. Sebagai penyandang dana terbesar kampus, Arya bahkan bisa meminta satu gedung baru diberi namanya. Namun selama enam minggu terakhir, pria yang biasanya menganggap waktu sebagai aset termahal itu justru memindahkan tiga rapat direksi demi satu kelas.

Arya membuka dompet kulitnya.

Di balik kartu hitam tersimpan selembar uang Singapura yang sudah dirapikan, bersama secarik catatan hotel.

Anggap saja ini bayaran. Lupakan aku.

Rahangnya mengeras tipis.

Seumur hidup, perempuan tidak pernah bisa berdiri terlalu dekat dengannya tanpa membuat perutnya mual. Namun malam itu Kirana jatuh ke pelukannya, menciumnya, dan untuk pertama kalinya dalam hampir dua puluh tahun, tubuh Arya tidak menolak.

Gadis itu mengambil pengalaman pertama mereka, meninggalkan uang, lalu menghilang.

“Rian.”

“Ya, Pak?”

Arya melipat kembali catatan itu dengan hati-hati.

“Kosongkan jadwal saya setiap Selasa dan Kamis pagi sampai semester berakhir.”

Rian menatap jalan agar ekspresinya aman. “Untuk mengajar?”

“Untuk memastikan seorang mahasiswi berhenti lari.”

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!