Saka mengalami kecelakaan tragis. Mobilnya menabrak pembatas jembatan lalu terjun bebas ke sungai dan meledak.
Ajaibnya Saka masih hidup. Namun saat membuka mata, dia terbangun di tubuh orang lain. Saka hidup dalam tubuh Aryan, pria yang mengalami kecelakaan di hari yang sama dengannya.
Setelah selamat dari kecelakaan tragis, hidup Saka berubah seratus delapan puluh derajat. Bukan saja harus menjalani kehidupan orang lain, matanya juga bisa melihat kilatan masa depan.
Saka bisa melihat kejadian buruk di masa depan. Kejadian yang memaksanya ikut campur dalam takdir seseorang. Dan membuka tabir rahasia tentang kematiannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Simbiosis Mutualisme
“Kalau Anda tidak bersedia, tidak masalah.”
Saka segera berbalik dan hendak keluar dari ruangan. Revan segera mencegah pria itu. “Baiklah, aku setuju,” putus Revan.
Sudut bibir Saka tertarik ke atas. Dia berbalik, lalu mendekati meja kerja Revan dan mendaratkan bokongnya di kursi.
“Kapan audit akan dilakukan?” tanya Saka.
“Saya tidak tahu. Semua keputusan ada di tangan Ayah saya. Apa kamu tahu kapan tim audit akan datang ke sini?”
Revan memandang Saka lekat-lekat. Dia yakin bahwa Saka sudah mengetahui waktu audit karena pria itu memiliki kemampuan untuk melihat masa depan.
“Tentu saja saya tahu,” jawab Saka sambil menyunggingkan senyum misterius. Hal tersebut semakin membuat Revan kesal.
“Segera katakan apa yang kamu mau!”
“Apa Anda siap melakukan apa yang saya katakan?”
“Tentu saja.”
“Kalau begitu, saya minta data dari semua divisi yang ada di sini. Saya akan memberitahu bagian mana saja yang berpotensi menjadi celah bagi tim audit menemukan kesalahan.”
Revan langsung menghubungi semua manajer di perusahaan ini. Dia meminta mereka mengirimkan semua data ke ruangannya.
“Oh ya, tolong panggil Dirga. Hari ini dia akan membantu saya,” ujar Saka.
Belum sempat Revan menghubungi Dirga, suara Saka kembali terdengar. “Tentu saja apa yang kami lakukan hari ini tidak gratis. Siapkan uang setoran untuk kami. Dan jangan ambil dari uang perusahaan, tapi dari kantong Anda sendiri.”
Revan tampak kesal mendengar ucapan Saka selanjutnya. Namun karena dirinya membutuhkan bantuan Saka, mau tidak mau dia menyanggupi permintaan pria itu.
Dalam waktu singkat, semua yang diminta Saka sudah berada di ruangan Revan, termasuk Dirga. Saka meminta Dirga mengklasifikasikan data sesuai arahannya. Revan pun tidak dibiarkan menganggur. Pria itu juga diminta mengerjakan sesuatu.
Sikap arogan Revan perlahan menghilang. Dia mulai serius bekerja. Sesekali pria itu memperhatikan Saka.
Dilihat dari caranya berbicara dan bekerja, Saka sudah seperti pimpinan sebuah perusahaan. Revan kerap terkejut saat Saka melontarkan ide yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
“Segera kirim kendaraan yang harus diperbaiki ke bengkel. Sudah ada pengajuan sejak enam bulan lalu, tapi tidak ada satu pun yang Anda setujui.
Apa Anda sadar, sikap Anda yang seperti ini bisa menghancurkan reputasi perusahaan. Satu saja kesalahan, untuk memulihkan nama baik perusahaan membutuhkan waktu panjang.”
Revan langsung terdiam. Apa yang dikatakan Saka sama seperti yang dikatakan ayahnya tadi. Pria itu mulai bertanya-tanya tentang siapa Saka sebenarnya.
Dilihat dari riwayat hidupnya, Saka hanyalah lulusan SMA. Rasanya mustahil jika pria itu tahu seluk beluk manajemen perusahaan.
Bukan hanya Revan, Dirga pun mengalami kebingungan yang sama. Sudah berteman lama dengan Aryan, baru kali ini dia melihat sahabatnya itu membahas hal serius seperti ini. Aryan memang pintar, tetapi dia tidak pernah tertarik dengan urusan manajemen.
Aryan lebih senang berurusan dengan hal teknis, seperti memperbaiki barang-barang, atau membuat sesuatu. Aryan lebih tertarik pada bidang operasional.
Sementara itu, apa yang dilakukannya sekarang berbanding terbalik. Dirga melihat bahwa saat ini Aryan sudah seperti seorang konseptor.
Menjelang sore, pekerjaan selesai. Saka sudah selesai menyusun apa saja yang harus dilakukan Revan agar bisa lolos audit nanti.
Revan terlihat cukup puas melihat hasil kerja Saka. Dia memuji kecakapan Saka dan otak encernya hingga bisa mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapinya.
“Apa yang saya susun bisa langsung dijalankan besok. Kalau Anda menjalankannya dengan benar, saat audit nanti mungkin akan menimbulkan pertanyaan, tapi Anda bisa menjawabnya seperti yang sudah saya tuliskan.”
“Baiklah.”
“Saya sudah menjalankan kewajiban saya, sekarang sudah waktunya mendapatkan hak saya, bukan?”
“Katakan apa yang kamu mau.”
Saka mencetak perjanjian yang sudah disusunnya, kemudian memberikannya kepada Revan. Mata Revan membulat melihat tiga permintaan Saka sebagai bayarannya.
“Apa ini?” kesal Revan.
“Itu bayaran yang saya minta. Seperti yang saya katakan, harus ada timbal baliknya dari hal yang kita sepakati. Saya menganggap ini sebagai simbiosis mutualisme. Baik Anda, maupun saya, sama-sama mendapat keuntungan.”
Karena penasaran, Dirga mengambil kertas yang baru selesai dibaca Revan. Pria itu juga terkejut sekaligus senang. Permintaan Saka ternyata menguntungkan semua rekan kerja mereka.
Permintaan pertama Saka adalah pemberian bonus untuk semua karyawan PRIMA TAKSI. Pemberian bonus sudah pernah dilakukan oleh pimpinan terdahulu.
Hanya saja saat Rafi menjabat, bonus ini dihilangkan. Tentu saja atas usulan Revan. Saat tampuk kepemimpinan berganti ke Revan, bonus tetap ditiadakan.
Untuk pemberian bonus ini, Saka meminta bonus dibayarkan penuh sebanyak empat kali dalam setahun. Sesuai dengan masa jabatan Revan yang sudah berjalan setahun.
Permintaan kedua adalah penyediaan fasilitas di ruang istirahat pengemudi. Saka meminta semua furniture yang sudah usang diganti, begitu juga dengan peralatan elektronik yang ada di sana ikut diganti.
Sofa, meja makan, lemari kabinet untuk menaruh barang, televisi, kulkas, dan dispenser diganti dengan yang baru. Bukan itu saja, Saka juga memasukkan satu item baru yang harus ada di sana, yakni kursi pijat.
“Permintaanmu tidak masuk akal!” kesal Revan.
“Kenapa tidak? Soal bonus, saya hanya mengembalikan apa yang dulu pernah ada. Dua tahun Pak Rafi menjabat, ditambah masa jabatan Anda selama setahun, bonus itu tidak pernah cair. Pertanyaannya, ke mana uang bonus itu mengalir?”
“Bukankah gaji kalian sudah dinaikkan?”
“Hanya sepuluh persen kenaikan gaji pegawai. Tapi bonus per empat bulan yang didapat setiap pegawai, jumlahnya lebih besar dibanding kenaikan gaji. Lagi pula kenaikan gaji bukan karena kebijakan perusahaan, tapi mengikuti aturan UMK.”
Revan langsung terdiam. Uang bonus yang seharusnya diberikan kepada karyawan disimpan dalam bentuk deposito di bank. Bunga dari deposito mengalir ke rekening pribadinya.
“Bukankah selama ini Anda dan Pak Rafi menikmati bunga deposito dari uang bonus tersebut?”
Lagi-lagi perkataan Saka membuat Revan terdiam. Sepertinya dia sudah menganggap remeh Saka. Dipikirnya dia bisa memanipulasi pria itu dan memanfaatkan sesuka hati. Namun ternyata, ada bayaran mahal yang harus diberikan olehnya.
“Dan untuk permintaan ketiga, saya hanya meminta bayaran atas ide yang saya berikan,” lanjut Saka.
Dirga tersenyum mendengar perdebatan Saka dan Revan. Dia senang melihat sahabatnya berhasil membuat Revan tidak berkutik. Jika Revan mengabulkan permintaan Saka, dia bisa merasakan naik mobil mewah.
“Kalau Anda tidak mau menandatangani perjanjian ini, tidak apa. Anda mau memakai ide saya pun, tidak masalah. Tapi saya akan pastikan ayah Anda tahu soal ini.”
Ancaman terakhir Saka tak ayal membuat Revan menciut. Jumlah uang yang harus dikeluarkan memang cukup banyak, tapi jika menolak, maka dia akan kehilangan lebih banyak. Yang terpenting, dia akan kehilangan kepercayaan ayahnya.
Mau tidak mau, Revan akhirnya menandatangani perjanjian di atas materai tersebut.
“Bonus harus sudah masuk sebelum audit dilakukan, begitu juga dengan fasilitas di ruang istirahat. Soal bonus mobil, bisa Anda berikan setelah audit selesai.”
“Baiklah,” jawab Revan pelan.
“Senang bekerja sama dengan Anda, Pak Revan.”
Tanpa berlama-lama, Saka dan Dirga meninggalkan ruangan Revan. Dengan kesal, Revan membuang barang-barang di meja ke lantai. “Brengsek!” makinya.
***
Keesokan harinya, para sopir taksi dikejutkan saat memasuki ruang istirahat. Sesuai permintaan Saka, semua furniture dan peralatan elektronik diganti dengan yang baru. Bukan hanya itu, terdapat juga kursi pijat di sana.
“Wah, ada angin apa ini? Kenapa semua peralatan di sini diganti?” tanya Wandi senang. Dia langsung mencoba kursi pijat yang diletakkan di sudut ruangan.
“Kalian harus berterima kasih kepada Aryan. Dia yang sudah bernegosiasi dengan Pak Revan sampai akhirnya fasilitas di sini diganti,” jawab Dirga.
“Benarkah?” tanya Wandi terkejut. “Terima kasih, Aryan.” Wandi langsung mendekati Aryan lalu memeluknya. Karyawan lain pun ikut melakukan hal yang sama.
Di tengah kegembiraan mereka, muncul Tikno, salah satu pengemudi taksi. “Kalian diminta segera ke aula sekarang!” serunya, membuat karyawan lain terkejut sekaligus was-was.
Mereka khawatir Revan akan mengeluarkan kebijakan lain yang tidak menguntungkan untuk mereka.
***
Saka memikirkan kepentingan para sopir ternyata
bentar mau ambil air sama baskom...
mau di liat lewat media air dlm baskom... apakah bisa keliatan gk ya .... Saka mau jujur apa mingkem 😂
apakah mau jujur kau...ato kau masih mau ngeles blom mau terbuka 😔
jangan bikin in cemas pembaca Ka....kamu itu kuat dan dgn keyakinan seyakin-yakinnya pasti kerja kerasmu akan membuahkan hasil /Determined//Determined//Determined/