Indonesia
NovelToon NovelToon
Lilin Terakhir EMEI

Lilin Terakhir EMEI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:600
Nilai: 5
Nama Author: Chandra Arbara

Di malam terakhir, kepala biara wafat di aula yang kosong dan dingin.

Tidak ada murit, tidak ada upacara, hanya Jingyue yang menemani sampai fajar.

Sebelum menghembus kan nafas terakhir nya, sang guru berbisik:
"selama masih ada satu orang yang menyapu pelataran ini.... Emei belum mati"

Bukan untuk mencari ketenaran.
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena kalau dia juga pergi, maka emei akan benar-benar hilang dari dunia.

Di Jianghu yang berisik, seorang gadis paling tenang berjalan....

Untuk membuktikan bahwa sekte nya belum padam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25. Lumpur Surat dan Demam yang Bangun

..."Ketika kuda mati dan jalan hancur, maka kaki kita yang menjadi kuda, karena obat yang terlambat adalah sama dengan obat yang tidak pernah ada."...

Air di Desa Majia akhirnya surut pada hari ke 32, tidak dengan cepat seperti ketika ia datang, melainkan dengan cara yang pelan dan jahat, meninggalkan lapisan lumpur setebal betis di jalan, menempel di dinding rumah panggung sampai ke lutut, dan mengeluarkan bau busuk yang naik dari tanah seperti napas bumi yang sakit, bau bangkai ayam, bau kayu yang membusuk, dan bau kotoran yang bercampur dengan air sungai sehingga siapa pun yang menghirupnya terlalu lama akan merasa mual dan pusing.

Jing yue berdiri di ujung jembatan bambu yang baru diperbaiki semalam, menatap ke arah dataran yang kemarin masih tergenang dan kini berubah menjadi lautan lumpur coklat dengan benda-benda mengambang berupa panci pecah, sandal anak, dan batang pohon yang patah, lalu dia menghela napas karena dia tahu bahwa surutnya air bukanlah akhir, melainkan awal dari musuh baru yang lebih sunyi.

Benar saja, belum genap dua hari sejak air turun, demam mulai muncul lagi di beberapa rumah, bukan demam biasa, melainkan demam yang disertai ruam merah di leher dan lengan, diare yang tidak berhenti, dan batuk yang membuat dada anak-anak bergetar seperti genderang kecil, dan Tetua Keempat yang paling mengerti obat menggeleng sambil berkata bahwa ini adalah demam lumpur susulan, penyakit yang datang ketika orang mulai membersihkan rumah dan tanpa sengaja menghirup debu dan bakteri dari tanah yang basah.

Masalahnya, persediaan obat yang tersisa dari banjir pertama sudah hampir habis dipakai untuk mengobati luka dan luka bakar ketika memasak di dapur darurat, dan obat-obat yang lebih kuat seperti bubuk penurun panas dan ramuan untuk diare tidak ada di Majia, harus diambil dari kota kabupaten yang jaraknya dua hari perjalanan dengan kuda.

Tetapi semua kuda yang mereka punya sudah mati, tiga ekor hanyut saat banjir kedua, dua ekor sakit karena memakan rumput yang tercemar, dan satu-satunya kuda milik Paman Chen kakinya patah ketika mencoba menarik gerobak dari lumpur, sehingga sekarang tidak ada cara cepat untuk sampai ke kabupaten kecuali berjalan kaki melewati jalan yang hancur.

Jing yue mengumpulkan semua Tetua di balai desa yang lantainya masih basah, dan dia berkata bahwa dia akan pergi sendiri ke kota, membawa surat dari pengadilan dan cap dari Tuan Zhou, untuk meminta tambahan obat, garam, dan kain bersih, karena kalau menunggu kiriman dari istana maka akan terlambat dan anak-anak bisa mati.

Tetua Pertama menolak dengan keras karena jalannya berbahaya, katanya banyak perampok yang memanfaatkan kekacauan untuk merampas orang yang membawa surat, dan katanya Jing yue terlalu lelah untuk berjalan sejauh itu, tetapi Jing yue menjawab bahwa kalau dia tidak pergi maka yang lelah nanti adalah semua orang yang harus mengubur orang yang mereka cintai.

Keputusan itu diambil sebelum tengah hari, dan Jing yue hanya membawa satu karung kecil berisi roti kering, satu botol air, satu pisau, satu sapu bambu, dan surat-surat yang dilipat rapat dan dimasukkan ke dalam tabung bambu yang digantung di leher agar tidak basah.

Lei Feng bersikeras ikut, katanya dia tidak akan membiarkan seorang murid Emei berjalan sendirian di jalan yang penuh lumpur dan penjahat, dan akhirnya mereka berdua berangkat dengan tongkat di tangan dan sepatu jerami yang sudah diikat dua kali agar tidak lepas.

Perjalanan hari pertama terasa seperti berjalan di atas adonan, setiap langkah harus ditarik dengan tenaga karena lumpur menghisap kaki, dan di beberapa titik mereka harus memutar jauh karena jembatan putus dan harus menyeberang dengan berpegangan pada akar pohon yang menjulur ke sungai.

Malamnya mereka bermalam di sebuah kuil kecil yang atapnya bocor, menyalakan api kecil dari kayu basah yang mengepul banyak asap, dan Jing yue menulis di bukunya dengan tangan gemetar karena dingin, menulis bahwa hari ini dia belajar bahwa setelah banjir orang tidak mati karena air, tapi mati karena apa yang ditinggalkan air.

Hari kedua lebih berat, karena mereka harus mendaki bukit licin yang tanahnya longsor di beberapa tempat, dan di tengah jalan mereka bertemu dengan sekelompok tiga orang bersenjata golok yang keluar dari semak dan meminta surat serta makanan, dan ketika Jing yue menolak dan menunjukkan cap istana, salah satu dari mereka mengayunkan golok ke arahnya.

Lei Feng langsung menarik pedangnya dan menangkis, dan dalam waktu yang singkat perkelahian itu selesai, bukan karena mereka membunuh, tapi karena Jing yue berteriak bahwa kalau mereka membunuh utusan istana maka kepala mereka akan dipenggal di alun-alun kabupaten, dan ancaman itu membuat perampok itu lari sambil mengumpat.

Mereka sampai di gerbang kota kabupaten menjelang senja, dengan baju penuh lumpur, wajah pucat, dan kaki yang melepuh, dan penjaga gerbang awalnya tidak mau membuka karena mengira mereka pengemis, sampai Jing yue mengeluarkan surat dan cap dan berkata bahwa dia datang atas nama Kaisar untuk meminta obat bagi lima desa yang baru saja selamat dari banjir.

Di dalam kota, keadaannya tidak jauh berbeda, jalanan becek, orang-orang mengantri di depan kantor pengobatan, dan pejabat yang bertugas, seorang pria kurus bernama Tuan Li, awalnya menolak dengan alasan bahwa persediaan kota juga menipis dan harus diprioritaskan untuk warga kota.

Jing yue tidak marah, dia duduk di lantai kantor itu selama tiga jam, tidak makan, tidak minum, hanya menunjukkan daftar nama anak-anak yang demam di Majia, menunjukkan gambar yang dia gambar sendiri tentang ruam di kulit, dan menceritakan bahwa kalau obat tidak dikirim dalam dua hari maka jumlah kematian akan lebih banyak dari saat banjir.

Akhirnya Tuan Li mengalah, bukan karena kasihan, tapi karena dia takut kalau laporan ini sampai ke ibu kota dan namanya disebut sebagai pejabat yang menolak membantu, dan dia memerintahkan agar dua gerobak obat, garam, kain, dan kapur barus dikeluarkan dari gudang kota.

Malam itu Jing yue dan Lei Feng tidak tidur, mereka membantu para pekerja memuat gerobak, mengikat terpal agar tidak basah, dan menulis daftar barang satu per satu agar tidak ada yang bisa menuduh mereka mencuri.

Fajar berikutnya, dengan dua gerobak yang ditarik oleh delapan orang sewaan dan dengan pengawalan dua prajurit kota, mereka berangkat kembali ke Majia, dan perjalanan pulang terasa lebih cepat meskipun lebih berat karena gerobak sering tersangkut di lumpur dan harus didorong bersama-sama.

Ketika mereka sampai di Majia tiga hari kemudian, seluruh desa sudah menunggu di ujung jalan, dan ketika melihat gerobak penuh obat datang, orang-orang berlutut dan menangis karena mereka pikir Jing yue tidak akan kembali.

Pembagian obat dimulai malam itu juga, dapur umum diubah menjadi tempat pengobatan, dan Jing yue sendiri yang meracik, mengajari ibu-ibu cara merebus, cara memberi dosis untuk anak kecil, dan cara membersihkan luka dengan air yang sudah direbus.

Dalam lima hari, demam mulai turun, ruam menghilang, dan anak-anak kembali bisa berlari meskipun masih kurus, dan Paman Chen datang membawa seekor ayam dan meletakkannya di depan tenda Jing yue sebagai tanda terima kasih.

Lei Feng yang awalnya hanya mengawal kini tinggal membantu, dia mengajari pemuda desa cara membuat saluran pembuangan agar air kotor tidak menggenang, dan dia berkata bahwa dia tidak menyangka berjalan kaki dua hari bisa menyelamatkan lebih banyak orang daripada seratus jurus pedang.

Di malam ketujuh setelah kembali, ketika semua orang sudah tidur, Jing yue duduk sendirian di depan api, menulis di bukunya dengan tinta yang dia buat dari arang, dan dia menulis bahwa hari ini dia belajar bahwa berjalan kaki tidak selalu lebih lambat dari berkuda, karena berjalan kaki memaksa kita melihat setiap wajah di jalan, melihat setiap rumah yang rusak, dan melihat setiap orang yang butuh diingat.

Dia juga menulis bahwa obat paling mahal bukan yang ada di gerobak, tapi keberanian untuk mengetuk pintu pejabat dan tidak pergi sebelum pintu itu dibuka.

Sebelum menutup buku, dia menatap ke arah Sungai Min yang kini tenang dan berkilau di bawah bulan, dan dia berbisik bahwa dia tahu musim belum selesai, bahwa mungkin masih ada banjir, mungkin masih ada penyakit, tapi selama dia masih bisa berjalan maka dia akan terus berjalan.

Lalu dia memadamkan api, menutup selimut ke tubuhnya yang masih sakit karena lecet, dan tidur dengan mimpi tentang Gunung Emei, tentang lonceng, dan tentang hari ketika dia akhirnya bisa pulang tanpa membawa nama orang mati di punggungnya.

Dan di luar, di tengah desa yang mulai pulih, terdengar suara batuk yang semakin jarang, suara anak yang tertawa, dan suara palu yang mulai lagi karena rumah panggung kelima akan dinaikkan besok.

1
Oppojaya
👍👍
Oppojaya
👍👍👍
Oppojaya
ditunggu karya selanjutnya
Oppojaya
🤗
Pena Quality
👍
Oppojaya
Keren... ditunggu lagi lanjutan episode berikutnya 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!