Bagi Cinta (24 tahun), moralitas tidak ada harganya jika dibandingkan dengan uang. Menggunakan paras cantik dan tubuh indahnya, penipu ulung ini selalu berhasil meloloskan diri setelah mengeruk harta korbannya.
Hingga suatu hari, sebuah tawaran senilai 10 Miliar Rupiah datang dari Nyonya Valen, seorang wanita kalangan elit. Misinya terdengar mudah: goda Tuan Maxim, jadilah selingkuhannya, dan buat pria itu setuju untuk bercerai.
Cinta mengira ini hanyalah pekerjaan biasa di mana dia yang memegang kendali penuh sebagai pemburu. Namun, dia keliru. Begitu terjebak di dalam mansion mewah Maxim, Cinta baru menyadari bahwa dia bukan sedang memburu, melainkan sedang masuk ke dalam sangkar emas. Nyonya Valen tidak sedang menyewanya, melainkan menumbalkannya untuk melepaskan diri dari jeratan seorang pria posesif yang sangat berbahaya.
Ketika semua jalan keluar telah tertutup, akankah Cinta berhasil meloloskan diri, atau justru terbakar oleh api permainan yang dia nyalakan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERMAIN API DENGAN CINTA Bab 35: Sangkar yang Kembali Kosong
BERMAIN API DENGAN CINTA
Bab 35: Sangkar yang Kembali Kosong
Klik.
Pintu kaca kamar mandi mewah yang berembun itu terbuka perlahan. Maxim melangkah keluar dengan selembar handuk putih yang melilit pinggang kokohnya. Tetesan air sisa pancuran masih membasahi dada bidangnya yang dipenuhi guratan merah keunguan tanda kepemilikan semalam. Rasa lelah pasca-pergulatan gairah yang intens berangsur-angsur sirna, menyisakan senyuman tipis yang sarat akan kepuasan maskulin di sudut bibirnya.
Namun, senyuman itu membeku dalam hitungan detik.
Sepasang mata hitam Maxim menyipit tajam saat pandangannya mengunci ke arah ranjang King Size yang luas. Ranjang itu kosong. Selimut beludru putih yang semalam membungkus tubuh mereka kini tersingkap berantakan, meninggalkan jejak dingin yang menandakan bahwa orang yang berbaring di sana sudah pergi sejak lama.
Pandangan Maxim bergerak secepat kilat ke atas meja nakas. Tas Chanel hitam milik Cinta sudah tidak ada di sana. Pakaian sutra putih gading yang semalam robek pun telah lenyap dari atas lantai marmer.
"Cinta...?" suara bariton Maxim memanggil lambat, gaungnya terdengar sunyi di dalam kamar penthouse VVIP yang sepi.
Tidak ada jawaban. Hanya desau AC dingin yang mengejek kebodohannya pagi ini.
Dalam sekejap, seluruh darah di dalam tubuh Maxim rasanya surut ke dasar bumi. Gumpalan kepanikan yang teramat pekat—sebuah rasa takut yang paling dia hindari seumur hidupnya—mendadak meledak hebat di dalam dadanya, mencekik rongga parunya hingga dia kesulitan bernapas. Wajah tampannya berubah pucat pasi sekaku pualam yang dihantam badai.
Dia melarikan diri lagi. Wanita itu mencampakkanku... untuk keempat kalinya!
Akal sehat sang penguasa bisnis runtuh tanpa sisa ke titik paling kritis. Sifat gila kendali dan obsesi posesifnya melesat melampaui batas kewarasan karena merasa harga dirinya sebagai pria paling berkuasa telah diinjak-injak sampai hancur berkeping-keping oleh wanita manipulatif yang sama.
Otak Maxim berputar liar menghitung setiap penghinaan yang dia terima dari Cinta. Malam pertama di hotel, wanita itu mengiranya gigolo murahan dan mencampakkannya dengan meninggalkan uang dua juta rupiah. Malam kedua, wanita itu mendepaknya lagi secara sepihak dengan meninggalkan seonggok uang kompensasi di meja nakas. Kemarin sore di ruang CEO, Cinta menjerat gairahnya hingga ke puncak lalu menarik rem darurat dan meninggalkannya frustrasi dengan alasan ada janji palsu.
Dan pagi ini, setelah dia menyerahkan seluruh jiwa, raga, dan rahasia terbesarnya di atas ranjang... Cinta melancarkan pencampakan keempat yang paling kejam. Kali ini, rubah kecil itu bahkan tidak meninggalkan uang kompensasi atau pesan teks selembar pun. Cinta benar-benar menganggapnya seperti barang habis pakai yang bisa dibuang begitu saja setelah misinya selesai.
"Kurang ajar... Berani sekali kamu mempermainkanku sampai seperti ini, Cinta!" desis Maxim dengan suara rendah yang serak, dipenuhi oleh amarah frustrasi yang bercampur baur dengan keputusasaan yang menyedihkan.
Kali ini, dia tidak akan melepaskannya begitu saja. Jika Cinta ingin terus bermain api, maka Maxim bersumpah akan membakar seluruh dunia demi menyeret wanita itu kembali ke dalam dekapannya.
Tanpa memedulikan tubuhnya yang masih basah, Maxim menyambar ponsel pribadinya di atas meja nakas dengan sentakan emosi yang kasar. Dia mengetuk layar dengan beringas, menghubungi nomor komandan tim pengawal pribadinya.
"Lacak posisinya sekarang juga!" perintah Maxim mutlak tanpa basa-basi, suaranya menggelegar mematikan bagai titah iblis pencabut nyawa. "Kerahkan seluruh intelijen Kencana Group. Periksa semua CCTV jalanan, cari ke mana dia pergi! Kejar dia sampai ke ujung dunia dan bawa dia kembali ke hadapanku!"
Sementara itu, di sebuah kedai es krim gelato premium bergaya Prancis yang terletak di pusat kota, atmosfer ketegangan yang membuat Maxim hampir gila sama sekali tidak terasa.
Alunan musik klasik yang lambat dan menenangkan mengalir lembut di dalam ruangan ber-AC tersebut. Di sudut ruangan dekat jendela besar yang menghadap ke arah jalanan ibu kota, Cinta sedang duduk dengan sangat santai...
Cinta belum berniat untuk pergi ke luar negeri atau menghilang dari radar malam ini. Sebagai seorang ahli yang sudah berpengalaman menaklukkan belasan pria kaya, dia bukanlah amatir yang akan langsung panik dan melarikan diri ke bandara setelah merampok mangsanya. Cinta tahu betul psikologi pria posesif gila kendali seperti Maxim. Melarikan diri di tengah amarah yang membara hanya akan membuat perburuan menjadi lebih agresif. Strategi terbaiknya adalah menunggu dengan tenang sampai Maxim lengah dan mendingin, barulah dia akan melangkah pergi dengan bersih tanpa jejak.
Dia telah mengganti penampilannya dengan setelan kasual cadangan yang super nyaman: sebuah sweater rajut longgar berwarna krem lembut yang menutupi bekas kemerahan di lehernya, dipadukan dengan celana jin hitam pas badan. Kacamata hitam berbingkai besar bertengger manis di atas hidung mancungnya, menyembunyikan binar mata jelinya yang penuh intrik.
Di atas meja kaca di hadapannya, ada sebuah mangkuk kaca kristal kecil berisi tiga sekop besar es krim rasa mint chocolate chip—es krim rasa kesukaannya yang selalu bisa mengembalikan suasana hatinya dalam sekejap.
Cinta menyendok sedikit es krim hijau pucat itu dengan sendok perak, memasukkannya ke dalam mulut, lalu membiarkan rasa dingin yang manis dan menyegarkan itu meleleh di atas lidahnya. Dia mengembuskan napas panjang, bersandar santai pada kursi beludru dengan senyuman miring yang penuh kepuasan kemenangan tersungging indah di bibir ranumnya.
Ah, nikmatnya kebebasan dan uang delapan belas miliar, batin Cinta bersorak girang penuh kemenangan psikologis.
Di samping mangkuk es krimnya, ponsel rahasia miliknya terus bergetar tanpa henti di atas meja. Panggilan dari Valen sengaja diabaikannya. Dia membiarkan nyonya besar itu panik sendirian di luar sana, sementara dirinya bersantai menikmati pagi yang tenang.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Di seberang jalan, salah satu bawahan tegap Maxim yang menggunakan pakaian sipil terus mengamati gerak-gerik Cinta lewat teropong kecil. Pria itu dengan cepat menekan tombol panggil ke ponsel sang CEO.
"Lapor, Tuan. Nona Cinta sudah ditemukan," ucap bawahan itu dengan tergesa-gesa. "Dia sedang berada di kafe butik pusat kota. Dia... dia hanya sedang duduk santai menikmati es krim kesukaannya. Dari penampilannya yang hanya menggunakan pakaian kasual santai, sepertinya dia sama sekali tidak memiliki rencana untuk bepergian jauh atau melarikan diri dari kota ini."
Mendengar laporan dari seberang telepon, napas Maxim yang tadinya memburu panik seketika tertahan di tenggorokan. Rasa lega yang luar biasa dahsyat menyergap dadanya, namun sedetik kemudian, gumpalan amarah obsesifnya kembali membumbung tinggi.
Dia tidak kabur... dia hanya sedang makan es krim seolah tidak terjadi apa-apa setelah membuatku hampir gila?! batin Maxim bergemuruh.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Maxim menyambar pakaiannya, memakai kemeja hitam dan celana kain mahalnya dengan gerakan beringas, lalu langsung meluncur membelah jalanan dengan kecepatan penuh menuju lokasi kafe tersebut.
Sepuluh menit kemudian, di dalam kafe yang tenang, Cinta baru saja hendak menyendok es krimnya yang tinggal setengah. Namun, sebuah bayangan tubuh yang teramat tinggi dan tegap mendadak memutus sorotan cahaya matahari dari jendela, mengurung posisinya.
Sebelum Cinta sempat mendongak atau meraih tas Chanel-nya, sepasang lengan kekar yang sangat kokoh dan hangat tiba-tiba merengkuh tubuh rampingnya dari arah belakang dengan sentakan yang teramat kuat dan posesif.
Aroma parfum maskulin kayu cendana yang sangat pekat langsung menyerbu indra penciuman Cinta, mengunci seluruh pergerakannya. Maxim memeluk tubuh Cinta dengan begitu erat dari belakang, menyembunyikan wajah tampannya di ceruk leher Cinta yang tertutup sweater, seolah-olah dia sedang memastikan bahwa wanita di dekapannya ini benar-benar nyata dan tidak menghilang lagi bagai asap. Tubuh kekar sang CEO tampak bergetar samar karena sisa kepanikan yang luar biasa hebat.
Cinta tersentak kaku di kursinya, sendok peraknya terlepas begitu saja ke atas meja kaca. Jantungnya berdegup kencang karena tidak menduga Maxim akan menemukannya secepat ini.
Maxim mempererat cengkeraman tangannya di pinggang Cinta, memenjarakan tubuh wanitanya tanpa celah. Dia mencondongkan wajahnya, mendekatkan bibirnya tepat di depan daun telinga Cinta, lalu membisikkan sebuah kalimat ancaman dengan suara bariton yang teramat rendah, serak, sedingin es, dan mengandung aura kegilaan gila kendali yang sesungguhnya.
"Aku pikir kamu mencampakkanku lagi, Sekretaris Cinta..." bisik Maxim, embusan napas panasnya terasa begitu mengekang di kulit leher Cinta. "Dengar baik-baik, Kakak Cantik... kalau kamu benar-benar berani melakukannya lagi di masa depan, aku akan mematahkan kedua kaki mu agar kamu tidak akan pernah bisa melangkah pergi meninggalkan sangkarku untuk selamanya."
Mendengar ancaman psikologis yang begitu ekstrem dan mengerikan, Cinta sama sekali tidak gemetar atau menunjukkan guratan ketakutan di wajah cantiknya. Sebagai penipu ulung yang memegang kendali atas emosi sang mangsa, dia tetap bersikap teramat sangat tenang. Topeng ketenangannya sedingin es, seolah ancaman mematikan dari sang CEO barusan hanyalah angin lalu yang tidak berarti.
Cinta justru menyunggingkan sebuah senyuman miring yang penuh intrik menggoda di bibirnya yang ranum. Dengan gerakan tangan yang sangat lambat, anggun, dan penuh penekanan sensual, dia memungut kembali sendok perak di atas meja kaca.
Dia menyendok perlahan es krim rasa mint chocolate chip hijau pucat yang tersisa di dalam mangkuknya menggunakan sendok bekas yang baru saja dia gunakan.
Cinta sedikit memutar tubuh rampingnya di bawah kekuasaan pelukan Maxim, mendongakkan kepala cantiknya hingga sepasang mata jelinya menatap langsung ke dalam manik mata hitam Maxim yang masih berkilat dipenuhi kegilaan posesif. Tanpa sepatah kata pun, Cinta mengarahkan sendok perak berisi es krim dingin itu tepat ke depan bibir tipis Maxim, menyuapi pria itu dengan tatapan mata yang begitu sayu dan memikat.
"Bicaramu terlalu banyak, Tuan Max... atau harus kupanggil Ethan?" bisik Cinta dengan nada suara yang teramat manja, rendah, dan mendayu. "Makan ini, dan dinginkan otak gilamu itu sebelum kamu benar-benar membuatku bosan."
Melihat reaksi tenang dan suapan manis dari sendok bekas Cinta, pertahanan amarah Maxim seketika goyah. Bibir tipisnya refleks terbuka, menerima suapan es krim dingin yang langsung meleleh di atas lidahnya, menyalurkan rasa manis yang beradu dengan aroma parfum black opium milik wanita yang telah mengunci mati seluruh hidup dan kewarasannya malam ini.