"Musuh kalian bukanlah orang asing, tapi orang terdekat kalian sendiri"
Suara itu terdengar begitu jelas di telinga tiga pemuda yang berada di sebuah kampung penuh misteri.
Akankah mereka bisa menemukan siapa musuh terdekat mereka itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karman berbeda
Saat tiba di kampung Mahoni, Hamka di buat terkejut karena ada beberapa rumah warga yang rusak akibat tertimpa pohon, bahkan ayam ayam menumpuk dalam satu lubang untuk di bakar warga, rumputnya terlihat sudah tidak mengkristal lagi. Area di sana terasa dingin dan Liam langsung memberikan jaketnya pada Dirman.
"Pakai ini pak, di sini dingin" Ucap Liam
"Tapi nak Liam?" tanya Dirman
"Saya punya energi panas, jadi tidak akan kedinginan, ada Hamka juga kami bisa gantian pakai jaketnya" jawab Liam
"Kalau begitu terima kasih nak, bapak memang kedinginan sejak tadi" ungkap Dirman
"Liam, Hamka" panggil Panca yang sedang membantu memotong batang pohon yang menimpa rumah warga.
Hamka dan Liam menghampiri mereka dan ikut membantu, bahkan Liam dan Hamka menggunakan gergaji mesin yang di bawa dari rumah Sagara agar proses pemotongan lebih cepat selesai.
"Untung di rumah pak Sagara semuanya komplit alat alatnya, jadi bisa membantu meringankan para warga" ungkap Panca
"Lalu yang rumahnya rusak akan tinggal di mana kak?" tanya Liam
"Untuk sementara akan tinggal di balai desa, di sana luas dan mereka bisa aman di area yang memiliki bilik, tidak akan kena angin dingin itu" jawab Panca
"Syukurlah kalau mereka punya tempat berlindung" ungkap Hamka
"Nak Liam, kamu harus ke tempat Mbah Karman kan?" tanya Dirman
"Iya pak, saya harus lihat bapak, Kenanga khawatir katanya" jawab Liam
"Kalau begitu segeralah ke sana, daerah rumah Mbah Karman juga banyak yang rusak" ucap seorang warga
"Kalau begitu kami pamit dulu ya pak, ini gergaji mesinnya saya simpan di sini satu siapa tuhu di butuhkan, yang satu akan saya bawa untuk bantu warga lain di tempat bapak" ucap Liam
"Iya nak, hati hati, jalan ke sana juga licin" jawab Dirman
Liam dan Hamka segera pergi ke rumah Karman, Karna juga kata Dirman ada di sana karena khawatir dengan ibunya juga adik adiknya. Hingga saat sampai di sana, Karman terlihat membantu para warga tapi ada yang berbeda dari nya, tatapannya kosong dan terlihat ada titik titik putih di rambut Karman yang terhubung ke otaknya.
"Apa itu yang di maksud Kenanga, jadi selama ini pocong pocong di kampung ini sengaja bersekutu dengan Mbah Karman untuk memanfaatkan Mbah Karman juga" bisik Hamka
"Sepertinya begitu, ayo kita dekati, siapa tahu kita akan tahu cara untuk menolong bapak" jawab Liam berjalan mendekati Karman dan Karna.
"Pak, kak" panggil Liam
"Kalian ke sini juga, Kenanga baik baik saja kan?" tanya Karna
"Baik kak, Kenanga yang minta kami ke sini untuk bantu kalian" Jawab Liam
Liam terus melihat ke arah Karman yang sama sekali tidak melihatnya bahkan menatap matanya saja tidak, Karna yang menyadari hal itu langsung menepuk pundak Karman agar melihat kalau di sana ada Liam dan Hamka.
"Eh.. Maaf, Mbah sedang banyak pikiran, kalian mau mengajar di sekolah kan? Silahkan, tidak apa apa, Mbah sedang membantu yang lain" ucap Karman tersenyum ramah.
Ucapannya sama sekali tidak nyambung dan melantur, Karna sampai harus meminta maaf pada mereka karena sejak bangun tadi pagi Karman terlihat linglung, warga juga banyak yang prihatin karena mengira mungkin Karman sedih dengan musibah yang menimpa kampung.
"Sejak sekolah itu berdiri, ada saja yang terjadi" celetuk salah seorangnya warga
"Itu tidak benar bapak bapak, sekolah itu penting untuk anak anak, kalaupun ada yang terjadi di tempat ini, ini hanya kebetulan saja" ucap Karna
"Tapi ini sudah yang ke dua kali, pertama anak anak yang di racun, sekarang ada angin dingin yang setiap malam meneror tempat ini" ungkap seorang warga lagi
"Untuk racun itu, saya pastikan adalah ulah dari orang yang tidak bertanggung jawab bapak bapak, kalau untuk angin ini, ini murni musibah, saya bisa memastikan itu karena angin ini juga ada di tempat kami" ungkap Liam
"Lagipula kalau memang ini karena sekolah, kenapa leluhur kalian tidak datang? Dia akan datang kalau ada masalah kan, tapi dia tidak datang dan itu artinya penyebab semua ini bukan sekolah kami" ucap Hamka kesal
"Kamu harusnya menyebut leluhur kami itu dengan hormat, jangan kurang ajar" ucap seorang lagi
"Kalau kalian menghormati leluhur kalian, harusnya kalian juga menghormati apa yang di restui oleh leluhur kalian kan? Ini malah terus saja menyalakan sekolah, sekolah itu untuk menuntut ilmu supaya anak anak kalian tidak bodoh dan tidak di bodohi orang! Di bantu bukannya bersyukur malah menggerutu" sinis Hamka
"Kamu tidak takut kalau leluhur kami marah padamu?" tanya seorang lagi
"Tidak, kami berteman kenapa harus takut" Jawab Hamka membuat semuanya mengusap dada karena mereka tidak percaya ada orang sekurang ajar Hamka.
"Maafkan teman saya bapak bapak, saya kesini Ingin bicara dengan bapak dan kak Karna" ungkap Liam
"Ada apa? Apa rumah pak Sagara juga rusak?" tanya Karna dan Karman terlihat melirik penasaran ke arah Liam.
"Tidak sama sekali, di sana aman dan Kenanga juga aman, tapi ada sesuatu, dan tidak bisa di bicarakan di sini" jawab Liam
"Kalau begitu ayo ke rumah, ayo pak" ajak karna menuntun Karman
"Bapak tidak mau, kalian saja" ucap Karman
"Ini penting pak, menyangkut hidup dan mati Sudarso" ucap Liam dan Karman langsung terlihat semangat.
Saat Liam berjalan dengan Karman di depan, Hamka langsung menjelaskan apa yang terjadi pada Karna, Karna sempat tak percaya karena selama ini pocong pocong yang ikut Karman adalah pocong peliharaan Karman sendiri dan sering di berikan makanan dengan tumbal kambing putih untuk mereka. Tapi setelah melihat arah di tunjuk Hamka di kepala Karman dan juga perilaku Karman yang berbeda dua hari ini, Karna memilih untuk percaya dan menyerahkan semuanya pada Liam dan Hamka.
"Jadi begini pak, Kemarin kan saya ke hutan, dan di sana mendengar kabar kalau kakek Sudarso sedang lemah dan banyak makhluk yang mengincar posisinya, memangnya Kakek Sudarso itu siapa ya pak?" Tanya Liam berbohong karena dia sedang mencari cara untuk menolong Karman agar bebas dari ikatan dengan para pocong yang mulai satu persatu masuk ke dalam tubuhnya itu.
"Sudarso itu adalah orang yang sudah membuat Dahlia turun jabatan, harusnya dulu Dahlia yang ada di posisi itu, tapi karena dia punya pasukan monyet yang begitu banyak, pemimpin kami jadi mempercayakan posisi Patih itu padanya" jawab Karman
"Kenapa bapa tahu banyak tentang urusan para jin itu, bapak kan tidak pernah menemui Mbah Sudarso kalau tidak dengan NYI Dahlia" batin Karna