Baru lulus SMA di usia 19 tahun, masa depan Aira hancur berantakan. Ayahnya berselingkuh hingga memiliki anak lain, dan mirisnya, Aira serta ibunya terpaksa tinggal seatap dengan keluarga baru sang ayah demi bertahan hidup. Tekanan batin yang luar biasa membuat sang ibu terserang stroke parah.
Tanpa biaya pengobatan, Aira mengambil keputusan nekat: menerima penawaran 2 Miliar rupiah untuk menikah dengan Arka Danuartha, seorang duda kaya raya berumur 39 tahun yang dingin dan memiliki putra kecil bernama Elano.
Kehidupan pernikahan beda 20 tahun ini penuh kejutan. Kepedihan masa lalu Aira dan sifat kaku Arka memicu berbagai momen canggung yang kocak sekaligus menggemaskan, terutama saat Aira belajar menjadi ibu sambung bagi Elano. Namun di balik sikap dinginnya, Arka perlahan menjadi pelindung yang menyembuhkan luka hati Aira. Dari pernikahan kontrak yang berawal dari kepedihan, mampukah cinta sejati tumbuh di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16.Perang dingin
Kejadian di sekolah Elano siang itu meninggalkan riak yang mendalam di kediaman Danuartha. Insiden tersebut menjadi bukti nyata bahwa ancaman Dania tidak lagi sekadar gertakan di meja rapat, melainkan sudah mulai menyenggol batas personal keluarga Arka.
Setibanya di rumah, Elano yang kelelahan dan sempat mengalami guncangan emosi akhirnya tertidur lelap di kamarnya setelah ditenangkan oleh Aira. Aira melangkah keluar dari kamar Elano dengan gerakan sepelan mungkin, menutup pintu berpanel kayu itu rapat-rapat.
Begitu berbalik, Aira tertegun menemukan Arka berdiri bersandar di dinding koridor luar kamar.
Pria berusia 39 tahun itu sudah melepas jas formalnya, menyisakan kemeja putih yang lengannya tergulung rapi hingga ke siku. Garis-garis keletihan terpancar di dahinya, namun tatapannya tetap tajam dan penuh wibawa saat tertuju pada Aira.
"Elano sudah tidur?" tanya Arka dengan suara serak yang begitu rendah.
Aira mengangguk pelan, merapikan letak kardigan rajutnya. "Sudah, Mas. Elano cuma kaget sedikit. Setelah saya buatkan susu hangat dan saya dongengkan, dia langsung nyenyak."
Arka menghembuskan napas panjang, mengusap dagunya sejenak. "Ikut saya ke ruang keluarga. Ada hal penting yang harus kita luruskan."
Aira menyanggupi tanpa membantah. Mereka berdua berjalan berdampingan menuju ruang keluarga di lantai dua—sebuah ruangan luas yang dikelilingi jendela kaca besar dengan pemandangan langsung ke arah kolam renang dan taman belakang yang mulai temaram disiram cahaya lampu hias.
Arka mendudukkan dirinya di sofa kulit berwarna cokelat tua, sementara Aira mengambil tempat di sofa tunggal di seberangnya. Keheningan sempat menggantung di antara mereka selama beberapa saat, diiringi suara denting jam dinding yang teratur.
"Mulai besok," buka Arka tegas, memecah keheningan,
"saya akan menambah dua pengawal pribadi dari Danuartha Security untuk mengawal kamu dan Elano setiap kali keluar rumah. Termasuk saat kamu pergi ke sekolah atau menjenguk ibumu di rumah sakit."
Aira mengerjapkan matanya, merasa agak sungkan. "Mas Arka... apa tidak berlebihan? Di rumah sakit kan sudah ada pengawal yang menjaga kamar Mama. Kalau saya ke mana-mana diikuti pengawal lagi, nanti..."
"Tidak ada kata berlebihan jika menyangkut keselamatanmu dan Elano, Aira," potong Arka dengan nada tak terobahkan.
Tangannya terjalin di atas pangkuan, matanya mengunci tatapan Aira lurus-lurus.
"Dania adalah tipe wanita yang tidak terbiasa menerima kekalahan. Kejadian hari ini membuktikan dia sanggup memanfaatkan celah sekecil apa pun untuk menekan saya. Dan celah terbesarmu adalah kepolosanmu."
Aira menundukkan kepalanya sedikit, meremas jemarinya. Kata-kata Arka rasanya sangat masuk akal, tetapi julukan 'kepolosanmu' membuat Aira sadar betapa jauhnya jarak pengalaman hidup di antara mereka.
Arka adalah pria matang yang terbiasa berhadapan dengan intrik dunia bisnis yang kejam, sedangkan Aira hanyalah gadis muda yang baru saja lepas dari serangkaian penderitaan keluarga.
"Maafkan saya kalau sikap saya tadi di sekolah kurang bijaksana, Mas," bisik Aira pelan. "Saya cuma refleks karena takut Elano kenapa-kenapa."
"Siapa yang bilang sikapmu kurang bijaksana?" Arka memajukan tubuhnya, menopang siku di atas lutut. Suaranya melunak beberapa tingkat.
"Sikapmu di sekolah tadi sangat luar biasa, Aira. Kamu berdiri mempertahankan anak saya di depan orang lain dengan ketegasan yang bahkan tidak saya duga dari gadis seusiamu. Saya bangga padamu."
Deg.
Dada Aira berdesir hebat. Kalimat 'Saya bangga padamu' yang meluncur jujur dari bibir Arka bagaikan usapan hangat yang langsung menembus sudut terdalam hatinya.
Aira mendongak perlahan, menatap mata Arka yang kini memancarkan kehangatan murni—sebuah tatapan yang tidak lagi menyembunyikan apresiasi di balik benteng kaku seorang pengusaha.
"M-mas Arka..." Aira kehilangan kata-kata, wajahnya merona merah hingga ke ujung telinga.
Arka memperhatikan rona merah di pipi Aira dengan tatapan yang sulit diartikan.
Ada keinginan kuat di benak pria itu untuk menjangkau tangan Aira yang meremas jemarinya di pangkuan, tetapi Arka menahan dirinya. Ia tahu, Aira masih terlalu muda dan pernikahan mereka dibangun di atas fondasi perjanjian yang rumit.
Melangkah terlalu cepat justru bisa menakuti gadis yang rapuh namun tegar ini.
"Dania akan mencoba menyerangmu secara verbal atau sosial jika ada kesempatan," lanjut Arka, mengalihkan fokus pembicaraan untuk menutupi getaran aneh yang mulai menjalar di dadanya sendiri.
"Tapi ingat satu hal ini, Aira. Di rumah ini, di perusahaan saya, dan di mata hukum... kamu adalah Nyonya Danuartha. Kamu tidak perlu merasa rendah diri atau takut pada siapa pun dari keluarga besar saya atau almarhumah Siska."
Aira menelan ludah, berusaha mencerna bobot penegasan Arka. "Tapi Mas... pernikahan kita kan cuma—"
"Kontrak?" potong Arka cepat, alis tebalnya bertaut tipis.
"Surat perjanjian itu hanya ada di antara kita berdua dan Raymond. Di depan dunia luar, kamu adalah istri sah saya. Dan saya tidak akan membiarkan siapa pun menginjak-injak harga diri istri saya."
Ketegasan Arka memberikan rasa aman yang luar biasa bagi Aira. Namun di saat yang sama, batas antara 'tanggung jawab ikatan kontrak' dan 'kepedulian pribadi' menjadi makin samar dan kabur. Aira tidak bisa membedakan apakah Arka melindunginya karena prinsip kehormatan seorang pria dewasa, ataukah karena ada sedikit benih perasaan yang mulai tumbuh di hati pria itu.
Sementara itu, di sebuah penthouse mewah di kawasan Jakarta Selatan, suasana malam terasa sangat panas dan penuh amarah.
Dania berdiri di dekat minibar, meremas gelas kristal berisi minuman keras hingga buku-buku jarinya memutih. Di hadapannya, seorang pria paruh baya bertubuh agak tambun mengenakan kemeja batik mahal duduk di sofa kulit dengan raut wajah gusar. Pria itu adalah Tuan Kertarajasa, salah satu pemegang saham senior sekaligus paman dari pihak almarhumah Siska.
"Kamu sudah gila, Dania!" bentak Tuan Kertarajasa dengan suara tertahan.
"Memerintahkan utusanmu untuk menjemput Elano secara paksa di sekolah?! Apakah kamu tidak berpikir bahwa Arka bisa menggunakan hal itu untuk memenjarakan utusanmu dan menuntutmu secara hukum?!"
Dania meneguk minumannya hingga kandas, lalu membanting gelas itu ke atas meja bar dengan suara nyaring.
"Aku tidak peduli, Paman! Arka sudah keterlaluan! Dia mengusirku dari rumahnya demi gadis ingusan yang tidak jelas asal-usulnya itu! Bahkan di depan rapat komisaris tadi pagi, dia mempermalukanku di depan kalian semua!"
"Itu karena analisismu yang salah dan ceroboh!" sembur Kertarajasa pedas.
"Kamu terlalu emosional karena cemburu! Arka itu pebisnis genius. Kamu tidak bisa menjatuhkannya hanya dengan gertakan murah di meja rapat!"
Dania mengepalkan tangannya rapat-rapat, matanya menyipit penuh dendam.
"Gadis itu... Aira. Aku sudah menyuruh orang untuk mengulik asal-usulnya."
Kertarajasa menaikkan sebelah alisnya. "Lalu? Apa yang kamu temukan?"
Dania mengumbar senyum culas yang sangat dingin. "Ternyata Arka menikahi gadis itu secara mendadak setelah membayar pelunasan utang dan biaya rumah sakit ibunya sebesar dua miliar rupiah. Ayah kandung dan ibu tiri gadis itu adalah penipu kelas teri yang terlilit utang judi dan pemerasan!"
Kertarajasa tertegun sejenak, lalu bersandar pada sofa. "Kamu yakin dengan informasi ini?"
"Seratus persen yakin, Paman!" seru Dania penuh kemenangan.
"Pernikahan Arka ini jelas bukan pernikahan atas dasar cinta, melainkan kesepakatan transaksi atau setidaknya ada skandal keuangan di belakangnya! Jika kita menyebarkan informasi ini ke media massa dan dewan komisaris utama, citra Arka sebagai pria terhormat akan hancur seketika.
Pemegang saham akan mempertanyakan integritasnya!"
Kertarajasa mengetuk-ngetuk jarinya di armrest sofa, berpikir keras.
"Menyerang Arka secara langsung melalui media bisa memicu perang terbuka yang merugikan saham keluarga kita juga, Dania. Tapi... jika kita menekan gadis itu sampai dia tidak tahan dan memilih pergi sendiri dari hidup Arka, itu cerita lain."
Dania melangkah mendekati pamannya, tatapan matanya berkilat jahat. "Gadis itu sangat menyayangi ibunya yang sedang koma di rumah sakit. Itu adalah titik lemah terbesarnya. Jika kita bisa membuat hidup ibunya atau hidupnya di rumah sakit menjadi kacau, gadis ingusan itu pasti akan menyerah dan lari."
"Pastikan kamu tidak meninggalkan jejak yang bisa mengarah pada keluarga Danuartha," peringatkan Kertarajasa dingin. "Arka bukan pria yang akan melepaskan siapa pun yang menyentuh ranah pribadinya."
"Tenang saja, Paman," bisik Dania sinis. "Kali ini aku akan menggunakan tangan orang lain untuk menghancurkan gadis itu."
Keesokan harinya, kehidupan di kediaman Danuartha berjalan dengan ritme baru. Sesuai janjinya, Arka menugaskan dua pengawal pribadi berseragam rapi yang selalu siap mengawal mobil yang ditumpangi Aira dan Elano.
Siang hari yang cerah, Aira menjenguk ibunya di Rumah Sakit Medika Prima setelah mengantar Elano kembali ke rumah untuk istirahat siang bersama Bi Inah.
Di dalam ruang VIP yang harum dan tenang, Aira duduk di samping tempat tidur Ny. Wahyuni. Kondisi ibunya menunjukkan perkembangan yang makin positif. Dokter bilang, refleks mata dan respons saraf motorik halus Ny. Wahyuni makin membaik dari hari ke hari berkat perawatan intensif dan fasilitas terbaik yang disediakan oleh Arka.
Aira mengusap lembut telapak tangan ibunya, menempelkan pipinya di sana.
"Mama..." bisik Aira lirih, air matanya menetes pelan menimpa punggung tangan sang ibu.
"Aira kangen banget sama suara Mama. Aira mau dengar Mama panggil nama Aira lagi..."
Ruangan itu hening, hanya terdengar detak lembut alat pemantau jantung di samping tempat tidur.
"Mama tahu tidak..." lanjut Aira dengan senyum tipis di bibirnya,
"pria yang menolong kita... Mas Arka. Dia baik sekali, Ma. Dia sangat tegas dan dingin di luar, tapi dia selalu melindungi Aira dan Mama. Mas Arka bahkan sewa dua pengawal di depan pintu kamar Mama ini supaya tidak ada orang jahat yang ganggu Mama lagi."
Aira memejamkan matanya, merasakan hangatnya jemari sang ibu. "Aira takut, Ma... Aira takut Aira mulai menyukai Mas Arka. Padahal Aira tahu posisi Aira cuma istri kontrak yang dibayar. Aira takut kalau nanti masa kontrak ini selesai, hati Aira yang bakal hancur..."
Perasaan dilematis itu terus menghantui Aira. Di satu sisi, rasa kagum dan benih cinta perlahan-lahan makin mengakar di dadanya akibat kebaikan dan ketegasan Arka. Namun di sisi lain, kenyataan bahwa pernikahan mereka diawali oleh transaksi dua miliar rupiah menjadi tembok tinggi yang selalu mengingatkannya untuk tidak melambung terlalu tinggi.
Tiba-tiba, Aira merasakan jemari tangan kanan Ny. Wahyuni bergerak pelan, meremas jemari Aira dengan remasan yang sedikit lebih kuat dari biasanya.
Aira tersentak kaget dan buru-buru mendongak. "Mama?!"
Kelopak mata Ny. Wahyuni bergerak-gerak pelan, lalu perlahan-lahan terbuka sedikit. Bibir pucat ibunya gemetar, mencoba membentangkan suara yang sudah melenyap selama berminggu-minggu.
"Ai... ra..." desah suara serak yang sangat pelan dan lemah keluar dari bibir Ny. Wahyuni.
Air mata bahagia seketika tumpah membasahi pipi Aira. Gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangan, tak kuasa menahan haru yang membuncah hebat di dadanya. Ibunya telah sadar dari komanya!
"Mama! Iya Ma, ini Aira!" seru Aira berbisik antusias, mengecup tangan ibunya berulang kali.
"Dokter! Suster!"
Aira segera memencet tombol darurat di samping tempat tidur. Tak lama kemudian, tim dokter spesialis masuk ke ruangan dan langsung melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap Ny. Wahyuni.
Setelah pemeriksaan selama dua puluh menit, dokter utama berbalik menatap Aira dengan senyuman lega. "Selamat, Nyonya Aira. Ibu Wahyuni sudah sepenuhnya melewati masa kritisnya. Kesadarannya sudah pulih, meski fungsi motorik dan bicaranya masih membutuhkan terapi pemulihan secara bertahap."
"Terima kasih, Dokter! Terima kasih banyak!" ujar Aira dengan isak tangis bahagia.
Begitu dokter dan suster keluar dari ruangan, Aira segera merogoh ponsel dari dalam tasnya dengan tangan gemetar. Orang pertama yang ingin ia beritahu tentang kabar bahagia ini bukanlah siapa-siapa... melainkan Arka Danuartha.
Aira menekan nomor telepon Arka.
Sambungan terdengar berdering beberapa kali sebelum akhirnya suara berat dan dalam yang khas itu menyapa dari seberang telepon.
"Ya, Aira? Ada apa?" tanya Arka datar, namun terdengar sedikit perhatian.
"M-mas Arka..." suara Aira tercekat oleh tangis haru.
Di ujung telepon sana, Arka yang sedang memeriksa berkas di kantornya seketika menegang. Pria itu berdiri dari kursinya dengan raut wajah cemas.
"Aira? Ada apa? Kenapa kamu menangis? Apakah ada masalah di rumah sakit?!"
"T-tidak, Mas..." Aira mengusap air matanya, mengumbar senyum paling bahagia yang pernah ia miliki.
"Mama... Mama sudah sadar, Mas! Mama baru saja buka mata dan panggil nama Aira!"
Hening sejenak di seberang telepon. Arka melepaskan napas lega yang sangat panjang, membiarkan ketegangan di bahunya luruh seketika.
"Ibumu sudah sadar?" ulang Arka pelan, ada nada kehangatan yang sangat tulus terpancar dari suaranya.
"Iya, Mas Arka! Terima kasih banyak... kalau bukan karena bantuan Mas Arka yang sewakan kamar dan dokter terbaik ini, Mama tidak akan pernah bisa bangun seminggu ini..." tutur Aira dengan ketulusan yang murni dari dasar hatinya.
Arka tersenyum tipis di ruang kerjanya—sebuah senyuman hangat yang tidak dilihat oleh siapa pun. "Syukurlah. Kamu tidak perlu berterima kasih terus-menerus, Aira. Saya ikut senang mendengarnya."
Arka merapikan jasnya yang tergantung di sandaran kursi. "Tunggulah di sana. Saya akan menyusul ke rumah sakit sekarang."
"Hah? Tapi Mas Arka kan masih jam kerja..."
"Pekerjaan bisa ditunda," potong Arka tegas dan tidak bisa dibantah.
"Saya ingin melihat kondisi ibu mertua saya sendiri. Tunggu saya di sana."
Sambungan telepon terputus. Aira menggenggam ponselnya di dada, menatap wajah ibunya yang tersenyum lemah dari atas tempat tidur.
Dada Aira bergetar hebat oleh rasa haru dan kebahagiaan yang meluap. Di balik segala ancaman dan konflik yang mengepung mereka, keputusannya untuk menerima ikatan kontrak dengan Arka Danuartha adalah takdir terbaik yang pernah hadir dalam hidupnya. Dan siang itu, benih rasa cinta yang selama ini Aira lawan mati-matian... akhirnya mekarlah sudah tanpa sanggup ia cegah lagi.
_Bersambung