Diana melihat suaminya mencium atasannya di mobil, kala hujan deras di depan rumah. Alih-alih minta maaf, Geo malah menceraikan Diana saat istrinya itu minta penjelasan. Bahkan kedua orang tua Geo menghina dan mengusir Diana dari rumah itu.
Tak hanya itu, Sandra wanita selingkuhan suaminya, yang ternyata adalah salah satu putri orang terpandang di kota itu, membayar orang untuk membakar toko orang tua Diana. Memaksa Diana mempercepat perceraian dan menyerahkan hak asuh anak mereka pada Geo.
Saat Diana merasa sangat putus asa dan terpuruk, karena tak punya sepeser pun untuk membayar biaya rumah sakit ibunya dan operasi ayahnya. Seorang pria datang mendekat dan berkata,
"Kamu Diana kan? mau menikah denganku? aku akan bayar semua pengobatan ayah dan ibumu. Juga mengambil kembali hak asuh putrimu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Sementara banyak sekali masalah yang terjadi pada Geo dan keluarganya. Di rumah sakit, Diana sedang tertawa bersama dengan ayah dan ibunya. Tak ada yang tak bisa dilakukan oleh Ravi, bahkan ruangan rawat untuk Arman dan Desy bisa di buat menjadi satu ruangan saja.
Seperti kamar di rumah malah, sangat nyaman dengan fasilitas yang sangat lengkap. Bahkan ada dua perawat yang khusus menjaga dan merawat mereka.
Ketika Diana mengupas buah, Diana membaginya sama rata kanan dan kiri. Hal seperti itu saja sudah bisa membuat mereka tersenyum senang. Candaan kecil tentang para perawat juga bisa membuat orang tua dia tertawa.
"Ayahmu bilang jangan pakaian perawatnya seperti pakaian baby sitter, coba kamu kasih tahu ayahmu. Kalau sampai perawat itu mendengarnya, dia pasti akan panggil ayahmu bayi kan?"
Candaan itu terus berlanjut. Bahkan sampai buah di piring masing-masing kedua Orang tua Diana habis.
Tak ada lagi rasa sedih, kekecewaan dan rasa sakit yang mereka rasakan karena putrinya diperlakukan tidak baik oleh Geo dan ibunya. Keduanya tampak senang melihat Diana yang dari penampilan juga jauh lebih baik daripada saat Diana masih jadi istri Geo.
"Aku hanya mengatakan sesuai dengan yang aku lihat. Ibumu tidak bisa di ajak bercanda!"
Diana tersenyum. Kondisi ayah dan ibunya juga jelas lebih baik. Dokter yang dicarikan oleh Ravi adalah dokter terbaik. Semua obat harganya tidak ada uang di bawah satu juta. Kesehatan ayah dan ibunya sungguh membaik dengan cepat.
"Bagaimana dengan nak Ravi, apa dia jadi pulang hari ini?" tanya Desy.
Diana mengangguk cepat.
"Iya ibu, dia sudah berangkat siang tadi. Mungkin sore atau malam akan sampai!"
"Semoga dia selamat di perjalanan. Dia baik sekali. Luka bakar itu sudah hampir hilang, dan kaki ayahmu itu, kata dokter satu bulan lagi juga sudah bisa latihan jalan. Kita beruntung bertemu dengan nak Ravi, Diana!"
Diana mengangguk setuju. Ibunya benar, dia sangat beruntung bertemu dengan Ravi. Ravi itu seperti cahaya setelah badai. Benar-benar memberinya jalan terbaik.
"Iya Bu, ibu benar. Aku beruntung bertemu mas Ravi"
Beberapa menit kemudian, Diana memutuskan untuk pulang. Ketika para perawat harus mengurus ayah dan ibunya. Lalu memberinya obat dan harus istirahat.
Saat Diana berada di lobby rumah sakit, dia berpapasan dengan troli tempat tidur pasien dorong, dimana para perawat membawanya dengan cepat menuju unit gawat darurat rumah sakit itu.
"Mas, ya ampun. Bangun mas! kamu membuatku takut! mas Ikbal...!"
Diana menoleh ke arah pria tua yang terbaring di atas troli tempat tidur pasien itu. Dia mengenalnya, itu adalah mantan ayah mertuanya. Ya, sebut saja ayahnya Geo.
Dan di belakangnya, tampak berlari panik mengikuti para perawat itu Dewi. Ibunya Geo.
Diana masih diam melihat pemandangan yang dulu sering sekali dia yang mengalaminya. Geo sibuk, ayahnya itu memang sakit-sakitan. Dan kerap kali Diana yang dihubungi Dewi untuk mengurus Ikbal.
Diana menghela nafas panjang. Meski Dewi dan Geo sudah banyak menyakitinya. Tapi Ikbal tidak pernah jahat dan bicara kasar padanya. Dia harap, pria tua itu bisa ditangani dan pulih lagi seperti semula.
"Maaf Bu, sebaiknya ibu cepat urus administrasinya. Kami akan berusaha menangani pasien dengan baik...!"
"Administrasi? admistrasi apa? aku tidak paham. Aku harus apa?"
Diana yang nyaris akan berjalan pergi, menghentikan langkahnya. Diana menoleh ke arah Dewi. Wanita itu memang tidak pernah mengurus hal semacam ini. Dulu Diana yang selalu mengurusnya.
Diana terdiam sejenak, wajah Dewi terlihat sangat panik. Tapi, jika dia pikirkan lagi... antara dia dan keluarga itu seharusnya tidak ada hubungan apapun lagi. Di rumah sakit ini ada banyak petugas dan perawat. Diana pikir, bukan ranahnya lagi ikut campur. Dia sudah pernah menjadi seseorang yang mengorbankan banyak hal itu keluarga itu, waktunya, karirnya, masa mudanya, dan kasih sayang orang tuanya. Tapi, saat Geo ingin membuangnya, juga tak ada yang ingat semua perbuatan baiknya itu.
Diana menghela nafas panjang sekali lagi. Dia memilih berbalik dan pergi. Bukan tidak punya rasa simpati dan kemanusiaan, dia hanya tidak ingin terus mendzolimi dirinya sendiri. Dia harus menjaga perasaan Ravi juga.
"Aku tidak mengerti..."
"Ibu, pergi saja ke sana. Disana ada tulisannya nanti bagian administrasi dimana. Setelah itu, ibu bisa minta bantuan dari petugas yang ada disana, bagaimana mengurus administrasinya. Saya harus membantu dokter di dalam!"
"Eh..."
Perawat itu menutup pintu unit gawat darurat. Dewi masih berusaha mengetuk, tapi kemudian dia berhenti.
"Aduh, bagaimana ini. Aku tidak paham!"
Beberapa saat Dewi terus mondar-mandir di depan unit gawat darurat. Hingga ada seorang perawat yang datang menghampirinya dan memintanya ikut ke bagian administrasi. Saat berada di bagian administrasi, Dewi benar-benar kebingungan. Dia tidak bawa KTP. Terpaksa dia pulang dan mengambilnya, mondar-mandir membuatnya merasa sangat kelelahan. Tapi ketika dia menghubungi Geo, ponsel anaknya itu sama sekali tidak bisa dihubungi.
Dewi terduduk lemas di bangku di depan unit gawat darurat. Tak berapa lama, seorang dokter keluar.
"Keluarga pasien..."
Dewi berusaha berdiri, meski langkah tuanya itu sebenarnya sangat lelah.
"Iya, bagaimana suami saya dokter?"
"Pasien mengalami stroke ringan. Karena jatuh dengan keras, maka ada saraf yang terganggu. Mungkin tidak akan bisa jalan untuk sementara!"
Dewi terhuyung, bagaimana bisa seperti itu? stroke ringan? bukankah itu hampir mirip dirinya 7 tahun yang lalu.
"Sebentar lagi pasien akan dipindahkan di ruang rawat! baru setelah itu, bisa di jenguk!"
Setelah mengatakan semua itu, dokter yang mengurus Ikbal tadi segera pergi.
Dewi bersuara berjalan dengan bertumpu pada tembok, tangannya bertahan menjadikan tembok sandaran sampai ke bangku besi yang ada tak jauh darinya. Wanita paruh baya itu terduduk lemas. Suaminya tidak akan bisa berjalan, lantas bagaimana selanjutnya? dia harus mengurus suaminya yang tidak bisa apa-apa. Kenapa malah jadi seperti ini?
Dewi menghela nafas berat, sangat berat. Bahkan ketika dia ingin memberitahu anaknya tentang kondisi ayahnya. Dia tidak bisa menghubungi Geo. Air mata akhirnya mengalir di wajah Dewi. Kenapa justru di usia tuanya, suaminya jadi seperti itu. Bagaimana dia menjalani kehidupan ke depannya. Niatnya punya menantu kaya ingin hidup senang, tapi malah sama sekali tidak bisa hidup tenang.
***
Bersambung...
mana pemilik nya lagi🤣
karyawan aja pada sok ngehina pemilik 🫣
ni orang kepalanya kepentok kali ya
Trus amnesia
eh liat kita sangkanya kita orang yg paling dicintainya 🤣🤣
lah kalau tetibaan dia inget lagi,gimana donk😔
pasti bingung..
ini orang ,mesti gimana ya balesnya?
pandai ny cuma mengeluh aj dy
hitung2 pembalasan dari diana
dia aja bisa seenaknya ngerebut ank lu dengan ga tau malu nya
bisa ngapain lagi ntar nya..
tebak aja
seruu kan hidup lo🤣🤣
marah?
lah emang fakta,gimana donk
udah mokondo ga tau malu lagi🫣🤣