"Musuh kalian bukanlah orang asing, tapi orang terdekat kalian sendiri"
Suara itu terdengar begitu jelas di telinga tiga pemuda yang berada di sebuah kampung penuh misteri.
Akankah mereka bisa menemukan siapa musuh terdekat mereka itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
berkumpul
########
Di kampung Mahoni.
"Tidur bang, pasti Lo lelah karena sejak Kemarin sibuk mengurus mertua Lo" ucap Lintang saat mereka sudah pulang dari sekolah
"Nanti, gue mau tunggu Kenanga selesai mengerjakan PR nya" jawab Liam
"Luka Lo gimana Ka?" tanya Lintang
"Sudah sembuh, Tante Sahara kayanya nyerap racun itu deh" jawab Hamka memperlihatkan tangannya yang sudah tidak menghitam.
"Mereka kenal mommy, Om Gafi dan Om Khalid loh" ucap Liam
"Mungkin mereka itu makhluk yang kata mommy pernah menolong Om Khalid waktu jantung nya mau di ambil dan di jadikan wadah mahkluk jahat" jawab Lintang
"Iya, pasti yang itu, soalnya dia bilang kalau dia pernah menolong Om Khalid" jawab Liam
"Lian.. Dah"
"Nambah lagi kosa katanya, dah" ledek Hamka
Plak.
"Aaaa!"
Pekik Kenanga karena tak suka di ledek oleh Hamka, bahkan sampai memukul punggung Hamka.
"Jangan ledek dia, sekarang dia tambah nekat" ucap Liam meriksa pekerjaan rumah Kenanga.
"Kenanga, ini salah, harusnya miringnya ke kanan bukan ke kiri, ulangi" ucap Liam
"Aa"
"Kamu mau pintar atau tidak?" tanya Liam dan Kenanga mengangguk"
"Ayo ulangi lagi"
"Aaa" rengek Kenanga memijat tangannya yang terasa pegal
"Sepertinya menulis itu adalah pekerjaan berat untuk Kenanga" ucap Hamka
"Ayo kamu tulis ulang, nanti Liam pijat tangan kamu" bujuk Hamka dan barulah Kenanga kembali menulis.
"Nanti gue nggak bisa tidur Hamka sialan!" umpat Liam
"Kalau mau rayu Kenanga itu ya harus pakai nama Lo baru dia mau" jawab Hamka cuek
"Semalam pagar gaib di luar terus di hantam sama angin dingin itu, dia nggak ke kampung mahoni, tapi dia ke setiap sudut pagar gaib di sini, sampai ke area air terjun juga" ucap Lintang
"Apa Jaka dan ayu baik baik saja?" tanya Hamka khawatir
"Kata Tante Kalia dan Om Gatra mereka sudah ketahuan jadi akan memagari tempat itu juga supaya tidak terlihat dari luar" jawab Lintang
"Gue akan ke sana nanti untuk bantu mereka" ungkap Hamka
"Menurut kalian, apa iya Dahlia sudah kehilangan kekuatannya?" tanya Liam
"Om Hala kan bilang begitu, dia harus bertapa selama seribu tahun kalau ingin kekuatannya kembali" jawab Hamka
"Memangnya Dahlia di apakan?" tanya Lintang
"Dia di siksa habis habisan sama Tante Sahara, sampai sampai dia nggak bisa kembali ke wujud aslinya, hanya bisa jadi ular kecil saja" jawab Hamka yang melihat bagaimana Sahara dengan kejam memukul dan membanting tubuh Dahlia.
"Perkelahian perempuan itu memang selalu bikin ngilu" ucap Hamka merinding
"Laily dan Kenanga, kalian harus hati hati kalau melihat ular kecil ya, mungkin itu Dahlia, langsung lari kalau melihatnya" ucap Liam
"Iya" jawab keduanya
"Coba sekali lagi" pinta Liam karena sepertinya Kenanga juga mengatakan iya
"Aa" jawabnya
"Iiya"
"Aaa"
"Pelan pelan deh, bisa bilang Lian dan dah saja sudah Alhamdulillah" ungkap Liam lesu
"Mungkin perjuangan Lo masih lama sampai bisa membuat Kenanga bicara, sama dengan membuat PoMat berbuah, dia sudah semakin tinggi sekarang, sudah mulai bisa melindungi dirinya dan juga pagar gaib yang dia buat bersama Opa Sagara" ungkap Hamka
"Iya, dan kita tidak boleh menyerah, masih banyak pengganggu sampai pohon itu benar benar berubah dan buahnya bisa kita lindungi" jawab Liam
"Bukan di makan?" tanya Hamka
"Kalau di makan bisa jadi apa kita?" tanya Lintang
"Jadi Gatot kaca" jawab Liam tertawa
"Otot kawat tulang besi" ucap Lintang ikut tertawa
"Itulah Hamka" ledek keduanya lagi dan sekarang Kenanga dan Laily yang tertawa
"Gue akan bawa Lyra nanti untuk menertawakan kalian" sinis Hamka memilih untuk menyalakan televisi dan mencari saluran berita.
"Itu kan gedung pengemasan perusahaan Opa buyut, ko ada di berita" ucap Lintang
"Katanya ada penemuan ja*i manusia di sana" jawab Hamka yang melihat headline di depan berita itu.
"Itu Daddy, dia pakai stelan kantor, apa dia kerja di sana lagi?" gumam Liam
Mereka mendengarkan keterangan dari Langit dan juga Miqdam, ternyata itu adalah ja*i yang di bawa salah satu karyawan mereka yang depresi karena tidak terima dengan kematian suaminya yang mendadak.
"Syukurlah bukan karena masalah di kampung ini" ungkap semuanya
"Alhamdulillah" ucap Liam
"Iyah..."
Cup.
"Lama lama aku jadi gemas sama kamu Kenanga, kamu mirip adiknya Hamka yang baru dua tahun, Hikam" ungkap Liam mengecup pipi Kenanga.
"Perasaan Hikam nggak Lo kecup kecup begitu meski gemas" ledek Hamka
"Gue normal jadi gue kecupnya Eiliya" balas Liam
"Lo berani kecup anak gue!" bentak Hamka
"Bapaknya aja nggak masalah wlee.." cibir Liam menjulurkan lidahnya
"Bapaknya kan nggak tahu, kalau tahu juga pasti marah" sambung Lintang
"Awas Lo kalau begitu lagi Liam!" ancam Hamka
"Iya nggak akan, nanti gue ijin dulu deh, tapi sama Alda bukan sama kalian bapaknya yang posesif" jawab Liam dan langsung di piting Hamka
"Hahaha.. Becanda gue!" pekik Liam
"Aaaa... Lian!" pekik Kenanga menjambak rambut Hamka
"Sana bayi Liam! Jangan ikut campur urusan laki laki!" ucap Hamka mendorong pelan Kenanga.
"Ii...an.. Lian... Dah!" pekik Kenanga menarik tangan Hamka yang sedang memiting leher Liam.
"Tidak ada sudah sudah, suami kamu ini sudah membuat anakku ternodai pipinya!" ucap Hamka
"Camilan sayang" ucap Lintang memeluk Laily dan menikmati pemandangan tiga orang yang sedang berkelahi di depannya.
Hamka bahkan tidak peduli rambutnya terus di jambak oleh Kenanga karena salah satu kelebihan Hamka adalah dia tidak merasakan sakit, selain dari saat tubuh Hamka di obati Sahara beberapa waktu lalu dan saat Hamka terluka akibat di serang oleh jin monyet milik Sudarso.
"Hiks... Lian..."
"Cengeng" ejek Hamka
"Aaa!"
"Suami kamu tuh yang jahat!" sinis Hamka
"Hamka, Kenanga ini sudah tujuh belas tahun tapi pikirannya masih seperti anak kecil" ucap Liam mengusap lehernya yang terasa kaku.
Tak.
"Rasakan ini bayi Liam, menangis lah yang kencang" ucap Hamka tidak peduli bahkan menyentil kening Kenanga.
"Hiks... Huaaaaa!"
Kenanga benar benar menangis kencang dan itu membuat Hamka puas karena Liam sekarang menjadi kerepotan menenangkan bayi besarnya yang tidak besar itu.
"Hamka sialan!" umpat Liam
"Bodo, Laily mau ikut Abang tidak?" tanya Hamka
"Diam Lo Hamka atau gue adukan Lyra" ancam Lintang
"Sensi" sinis Hamka kembali menonton televisi sambil sesekali menjulurkan lidahnya ke arah Kenanga yang masih menangis.