JUDUL: BERANDAL
GENRE: Romantis / Aksi / Posesif
TAG: #Badboy #GengMotor #Protective #DarkRomance #EksanPrasetya
***
"Kenapa kau menolongku? Kau tahu aku ini berandal jalanan, kan?"
"Nasya cuma tidak mau melihatmu mati di depan rumah..."
"Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Nasya. Di duniaku, sekali kau terlibat dengan seorang berandal, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi. Mulai hari ini, kau adalah milikku."
***
Eksan tidak pernah memilih untuk menjadi berandal. Namun, kerasnya kehidupan jalanan menempanya menjadi pemimpin faksi pemuda yang paling ditakuti di dalam gang kota. Di balik seragam sekolahnya yang koyak dan jaket hitam berlambang mawar berdarah di lengannya, Eksan adalah definisi nyata dari kata berandal—dingin, ugal-ugalan, dan tak tersentuh hukum. Bagi Eksan, hidup di jalanan hanya tentang satu prinsip: "Dalam gang, hidup berani, mati berarti."
Hingga suatu malam, setelah pertempuran berdarah yang nyaris merenggut nyawanya, Eksan yang terluka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denis Suhendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Guncangan di Garis Batas
Deru knalpot kolektif dari tiga puluh motor gede milik faksi Black Cobra menggelegar membelah keheningan pagi, menciptakan getaran konstan yang seolah merobek lapisan kabut tipis di sepanjang jalan raya perbatasan distrik utara. Eksan memimpin di barisan paling depan dengan posisi tubuh yang tegak dan angkuh di atas jok motor gede hitam pekat kesayangannya. Jaket kulit hitam tebal berlambang mawar berdarah yang ia kenakan berkibar gagah tertiup angin jalanan yang dingin, memancarkan aura kepemimpinan yang tak terbantahkan oleh siapa pun.
Meskipun perban tebal di perut kirinya masih terasa agak kaku dan berdenyut perih akibat robekan kemarin, Eksan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kelemahan fisik seujung kuku pun di hadapan anak buahnya. Di belakangnya, Raka bersama puluhan anggota inti bergerak dalam formasi barikade jalanan yang sangat rapi. Mereka sengaja melaju lambat namun konstan, memberikan unjuk kekuatan fisik yang masif kepada siapa saja yang berani mencuri dengar atau mengintip dari balik ruko-ruko pinggir jalan.
Iring-iringan motor faksi Black Cobra itu akhirnya memperlambat kecepatan mereka saat mendekati area jembatan layang yang menjadi garis batas suci antara wilayah kekuasaan mereka dengan distrik utara. Di seberang jalanan yang luas, atmosfer mendadak berubah menjadi sangat mencekam saat puluhan motor sport berwarna putih bersih tampak sudah terparkir berbaris rapi secara melintang, menutup mati jalur perlintasan utama.
Pengendaranya adalah para pemuda bertubuh tegap dengan jaket kulit putih berlambang kepala macan putih—pasukan inti dari geng White Tiger. Di barisan paling depan, berdiri sesosok pria kembar dengan tatapan mata yang beringas dan memegang sebatang pipa besi tebal di tangan mereka. Mereka adalah si kembar brutal, panglima perang tertinggi faksi utara yang terkenal kejam dan tak kenal rasa ampun dalam mengeksekusi perintah ketua mereka.
*Vroom! Vroom!*
Eksan mematikan mesin motor gedenya dengan satu gerakan tangan yang tenang tepat sepuluh meter di hadapan barisan musuh, disusul oleh riuhnya suara mesin anak buah faksi Black Cobra yang juga turut meredup secara bersamaan. Sunyi mendadak menguasai seluruh area jembatan layang tersebut, menyisakan suara deru angin pagi yang berembus kencang membawa aroma ketegangan perang yang kian memuncak di antara kedua kubu jalanan.
Salah satu dari si kembar brutal faksi White Tiger melangkah maju tiga langkah dengan seringai licik yang penuh nada provokasi, mengayunkan pipa besinya perlahan hingga menimbulkan suara desingan kecil di udara. "Hahaha! Lihat siapa yang datang mengantarkan nyawanya sepagi ini!" teriaknya dengan suara parau yang menggema keras di bawah jembatan layang. "Eksan Prasetya! Kau nekat membawa seluruh sisa pasukanmu ke perbatasan kami dalam kondisi tubuh compang-camping seperti itu hanya demi membela selembar nyawa bocah sekolah ingusan?!"
Eksan tidak langsung membalas teriakan provokasi murahan tersebut. Ia melompat turun dari atas motor gedenya dengan gerakan yang sangat tenang namun penuh kewibawaan yang menindas batin. Sepasang mata elangnya yang pekat menyipit tajam, menyapu bersih seluruh barisan pasukan jaket putih di hadapannya dengan sorot mata dingin yang memancarkan kilatan haus darah murni yang amat sangat mengerikan.
Eksan melangkah maju beberapa langkah secara mandiri tanpa memegang senjata apa pun di tangannya, membiarkan angin pagi menerpa wajah tegasnya yang dipenuhi bekas luka perkelahian jalanan. "Kau terlalu berisik untuk ukuran seekor anak macan yang baru belajar menggonggong di garis batasku," balas Eksan dengan nada suara yang sangat rendah, berat, namun memiliki gaung intimidasi mutlak yang sanggup menciutkan nyali siapa saja yang mendengarnya secara dekat.
Eksan merogoh saku jaket kulit hitamnya secara perlahan, lalu mengeluarkan selembar kain putih bernoda darah yang tadi subuh dikirim oleh musuh sebagai bentuk teror fisik di markasnya. Dengan gerakan meremehkan, Eksan menjatuhkan kain putih berlogo macan itu ke atas permukaan aspal yang basah, lalu melumat dan menginjaknya menggunakan ujung sepatu bot kulitnya yang berat dan kotor oleh lumpur jalanan.
"Kembalikan kain sampah ini pada ketua pengecut kalian di wilayah utara," ucap Eksan dengan nada suara yang kian mendingin ekstrem, rahang tegasnya mengeras sempurna dengan urat-urat di lehernya yang menegang kuat. "Dan sampaikan pesan kematian ini baik-baik ke telinganya. Nasya adalah harga diriku yang paling sakral. Dan di dalam hukum jalanan Black Cobra, siapa pun orang dari faksi mana pun yang berani mengusik atau menuliskan nama Nasya di atas kain teror mereka... mereka semua sudah resmi menandatangani kontrak kematian dengan tanganku sendiri."
Mendengar deklarasi perlindungan posesif yang begitu angkuh dan mematikan dari mulut Eksan, senyuman licik di wajah si kembar brutal faksi White Tiger seketika lenyap tanpa sisa dalam sekejap. Rahang mereka mengeras dan cengkeraman tangan mereka pada pipa besi tampak mengerat kuat karena tersulut amarah yang luar biasa besar akibat penghinaan logo faksi mereka di bawah sepatu Eksan. Namun, anehnya, tidak ada satu pun dari mereka yang berani melangkah maju untuk menyerang. Aura intimidasi dan nama besar Eksan sebagai monster jalanan yang baru saja membantai habis seluruh silsilah faksi Red Wolf kemarin malam benar-benar telah menanamkan rasa ketakutan psikologis yang mendalam di dalam ulu hati mereka.
Eksan memutar tubuh tegapnya secara perlahan membelakangi barisan musuh dengan gaya yang sangat meremehkan, seolah-olah puluhan pasukan White Tiger bersenjata lengkap di hadapannya hanyalah segerombolan semut yang tak berarti bagi kekuasaannya. Ia melompat naik kembali ke atas jok motor gede hitam pekat kesayangannya dengan gerakan yang sangat lihai dan mantap, lalu memutar tuas gasnya hingga mesin besarnya kembali meraung dahsyat mengguncang udara pagi.
*BROOMMM!*
"Raka... bawa seluruh unit kembali ke markas besar sekarang juga," perintah Eksan melalui interkom nirkabel dengan suara rendah yang menggelegar pekat penuh kemenangan taktik jalanan. "Biarkan harimau-harimau sialan dari wilayah utara itu berdiri mematung di sana meratapi nyali mereka yang menciut. Pagi ini, mereka sudah tahu konsekuensi berdarah apa yang akan mereka terima jika mereka berani melangkahkan kaki satu jengkal saja menembus garis jembatan layang ini demi mengincar gadisku."
Seluruh anggota faksi Black Cobra serentak menyunggingkan tawa penuh kepuasan melihat kepanikan tersembunyi dari faksi musuh. Mereka secara bersamaan memutar arah motor gede mereka dengan manuver tajam yang memukau, lalu melesat kencang membelah aspal jalanan perbatasan untuk kembali menuju kawasan industri, meninggalkan rombongan jaket putih wilayah utara yang hanya bisa terdiam membeku menahan malu dan amarah di balik kabut pagi yang kian menipis.
Di dalam kamar atas markas yang aman, Nasya yang sedang duduk cemas menanti kepulangan Eksan tidak menyadari bahwa di garis perbatasan kota, namanya baru saja dideklarasikan sebagai wilayah terlarang paling sakral oleh sang raja berandal jalanan tertinggi yang siap meratakan seluruh kota demi menjaga kepolosannya tetap aman di dalam dekapannya.