Indonesia
NovelToon NovelToon
Naga Tersembunyi Di Kota Metropolitan

Naga Tersembunyi Di Kota Metropolitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Raka Wijaya, mantan komandan unit rahasia Garuda Hitam, dinyatakan tewas dalam misi yang sebenarnya adalah pengkhianatan dari dalam. Untuk melindungi orang-orang yang ia cintai, ia memilih hidup dalam bayang-bayang: menyamar sebagai sopir pribadi yang lemah dan tak berdaya di keluarga mertuanya sendiri — keluarga konglomerat Wijayakusuma yang meremehkannya habis-habisan. Tapi kota metropolitan penuh intrik, dan masa lalunya tidak akan tinggal diam selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 — Malam di Tri Daya Investigasi

Pukul sebelas malam, gedung Tri Daya Investigasi hanya diterangi lampu darurat di lorong-lorongnya, satu penjaga di pos depan sedang menonton pertandingan bola di ponselnya, tidak menyadari bayangan yang melewati celah pagar samping tanpa suara.

"Kamera keempat mati selama dua puluh detik mulai sekarang," bisik Wulan lewat earpiece kecil di telinga Raka. "Itu waktu terbaik yang bisa aku berikan tanpa memicu alarm sistem cadangan."

Raka bergerak cepat menyusuri lorong belakang, melewati ruang arsip yang gelap, menghitung setiap langkah berdasarkan denah yang sudah ia hafal dari briefing Wulan sore itu. Server ruangan berada di lantai dua, di balik pintu berkode akses — bukan penghalang berarti bagi seseorang yang pernah dilatih membuka kunci elektronik jauh lebih rumit di bawah tekanan waktu yang jauh lebih ketat.

Pintu terbuka dalam sepuluh detik. Ruangan server dingin, berdengung pelan, deretan lampu kecil berkedip di antara kabel-kabel yang tertata rapi.

"Colokkan perangkat ke port yang aku tandai merah di layar kacamatamu," instruksi Wulan datang cepat. "Setelah itu aku ambil kendali dari sini."

Raka menyelipkan perangkat kecil seukuran korek api ke port yang dimaksud, menunggu dalam diam sementara lampu kecil di perangkat itu berkedip hijau — tanda Wulan berhasil masuk.

"Aku dalam. Mencari file dengan nama klien Wijayakusuma... ketemu." Ada jeda singkat, terlalu lama untuk sekadar proses teknis biasa. "Raka. Ini... file ini sudah ditandai 'prioritas tinggi, laporan ganda' oleh sistem mereka."

"Apa maksudnya itu?"

"Artinya bukan hanya Handoko yang memesan investigasi soal dirimu." Suara Wulan sedikit menegang. "Ada permintaan kedua, dikirim tiga hari lalu, dari klien berbeda — namanya disamarkan lewat perusahaan cangkang, tapi aku bisa menelusuri jejak pembayarannya sampai ke... Andratama Grup."

Raka membeku sejenak di depan rak server. "Setiawan sudah menyewa perusahaan yang sama untuk menyelidikiku, lewat jalur berbeda, sebelum aku dan Bara sempat bergerak."

"Lebih buruk lagi," lanjut Wulan. "Laporan gandanya sudah selesai lebih dulu — dikirim ke kliennya dua hari lalu. Yang sedang aku ubah sekarang cuma laporan versi Handoko. Tapi kalau Setiawan sudah punya laporan lengkap soal siapa dirimu sebenarnya sejak dua hari lalu..."

"...maka dia tidak lagi mencurigai," Raka menyelesaikan kalimat itu sendiri, dingin. "Dia sudah tahu pasti."

Detik itu, lampu di ruangan server berkedip sekali, lalu suara langkah kaki terdengar mendekat dari lorong luar — bukan langkah santai penjaga yang menonton bola, tapi langkah cepat, terlatih, dua orang setidaknya.

"Raka, ada gerakan di kamera lima. Dua orang, bukan penjaga reguler hotel. Cara jalan mereka—"

"Aku tahu caranya," potong Raka, sudah bergerak mematikan lampu ruangan, bersembunyi di balik rak server tertinggi. "Mereka bergerak seperti orang yang dilatih, bukan satpam gedung biasa."

Pintu ruangan server terbuka pelan. Dua sosok berseragam keamanan generik melangkah masuk, senter kecil menyapu ruangan — tapi gerakan mereka, cara mereka memeriksa sudut ruangan sebelum melangkah lebih jauh, terlalu presisi untuk seragam murahan yang mereka kenakan.

Raka menahan napas, menghitung jarak, menghitung sudut, menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.

Salah satu dari mereka berbicara pelan ke radio genggamnya. "Ruangan aman. Tidak ada tanda penyusupan." Mereka berbalik, melangkah keluar secepat mereka masuk, pintu tertutup kembali.

Raka menunggu sepuluh detik penuh sebelum bergerak dari persembunyiannya, jantungnya baru mulai melambat.

"Mereka bukan mencarimu," bisik Wulan, suaranya masih tegang. "Pola patroli itu terlalu terjadwal untuk kebetulan. Aku rasa... Andratama menempatkan orang mereka sendiri di sini, mengawasi gedung ini dari dalam, sejak laporan ganda itu selesai dua hari lalu."

"Mereka menjaga rahasia mereka sendiri," gumam Raka, menyelesaikan proses penyalinan data dengan tangan yang kini sedikit lebih cepat dari biasanya. "Bukan mengejarku."

"Untuk sekarang," Wulan menambahkan. "File Handoko sudah aku ubah — hasilnya akan menunjukkan riwayat kerja serabutan biasa, cukup untuk memuaskan kecurigaannya tanpa membuka apa pun. Tapi Raka, ini bukan lagi soal apakah Setiawan mencurigaimu."

Raka mencabut perangkat kecil itu, menyelipkannya kembali ke sakunya, bergerak keluar ruangan secepat dan sesenyap ia masuk.

"Ini soal berapa lama lagi sampai dia memutuskan aku lebih berguna hidup, atau lebih aman mati," selesainya sendiri, mengingat kata-kata sosok misterius yang pernah didengar Bara lewat kontaknya — alat yang berguna, bukan sekadar gangguan.

Malam itu, saat Raka akhirnya kembali ke kamar sempitnya di belakang garasi, satu kesadaran baru menetap dingin di dadanya: mereka tidak lagi berlomba melawan waktu untuk menyembunyikan kebenaran.

1
Eka P
c
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!