Di usia 23 tahun, Intan yang introvert mulai cemas karena tak kunjung ada pria yang melamarnya. Desakan rasa takut itu membuatnya nekat mengunduh aplikasi pencari jodoh.
Di sana, ia terbuai manisnya perhatian seorang pria. Namun, setelah rasa percaya terbangun, Intan justru kena tipu. Uang tabungannya sebesar dua juta rupiah raib, dan pria itu menghilang begitu saja.
Bukan soal nominal uangnya, melainkan pengkhianatan yang meremukkan harga diri dan kepolosannya. Malam itu, di depan cermin, Intan menyapu sisa air matanya. Gadis lugu dan penakut dalam dirinya telah mati.
"Kamu salah pilih korban," bisiknya dingin.
Luka itu menjelma dendam. Intan bersumpah akan mengejar penipu itu ke mana pun demi menuntut balas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Sosok Misterius di Kafe
Pagi hari di kawasan industri Zona Empat menyajikan pemandangan yang tak pernah ramah.
Debu semen berisik berterbangan di udara, beradu dengan lengkingan mesin pemotong baja dan deru truk-truk molen.
Namun, di dalam sebuah kafe bernuansa modern yang terletak persis di seberang kompleks megaproyek Mall Pandawa, suasana terasa dingin dan tenang.
Intan Saputri duduk anggun di sudut kafe yang agak remang.
Blazer hitamnya membingkai postur tubuhnya yang tegap, sementara di atas meja kayu di hadapannya terhampar dua rangkap dokumen kontrak kerja sama resmi antara Katering Barokah dan PT Pandawa Perkasa—nama bendera resmi proyek yang dikendalikan oleh Ardiansyah Putra.
Di seberang meja, Ardiansyah menggoreskan pena bertinta hitamnya dengan penuh percaya diri. Lembar demi lembar berkas ia tandatangani tanpa ragu.
"Dengan ini, kerja sama kita resmi berjalan, Mbak Intan."
Ujar Ardiansyah seraya menutup map dokumen dan membubuhkan stempel perusahaan.
Ia tersenyum lebar, menatap Intan dengan binar kepuasan seorang pria yang merasa telah berhasil mengamankan kesepakatan besar.
"Pasokan tiga ratus porsi katering per hari akan dimulai Senin depan."
"Pembayaran termin pertama sebesar lima puluh juta rupiah akan diproses melalui rekening pengadaan mandiri saya."
Intan menerima dokumen yang disodorkan. Jemari tangannya yang ramping memegang tepi map itu dengan sangat mantap.
Di balik senyuman profesionalnya yang menawan, dada Intan bergetar oleh kepuasan yang dingin.
Ardiansyah baru saja mengikatkan tali jerat ke lehernya sendiri.
Dengan menandatangani kontrak resmi bertanda stempel dan rekening penampungan atas nama aslinya, pria itu tidak bisa lagi mengelak atau menghapus jejaknya seperti yang ia lakukan pada Intan di Desa Sukamaju dulu.
"Terima kasih atas kepercayaannya, Pak Ardiansyah."
Sahut Intan lugas, menyuarakan intonasi yang begitu teratur.
"Saya akan memastikan seluruh tim dapur Katering Barokah memberikan kualitas terbaik."
"Saya tidak pernah meragukan kapasitasmu, Mbak Intan."
Puji Ardiansyah. Pria itu melirik jam tangan mewahnya, lalu berdiri.
"Saya ada rapat koordinasi dengan tim direksi utama di dalam proyek."
"Silakan nikmati kopimu dulu."
"Sampai bertemu di pengiriman pertama hari Senin."
"Mari, Pak Ardiansyah."
Intan memandangi punggung Ardiansyah yang melangkah keluar dari kafe.
Begitu pintu kaca kafe tertutup dan sosok pria itu menghilang di balik gerbang proyek Zona Empat, Intan menghela napas panjang.
Ia meraih buku catatan hitam kecil dari tas selempangnya, lalu memasukkan salinan dokumen kontrak yang baru ditandatangani ke dalam kompartemen rahasia.
Satu tahap besar telah tuntas. Umpan telah dimakan, dan dokumen legal sudah berada di tangannya.
Namun, saat Intan hendak menyesap kopi hitamnya yang mulai hangat, sebuah desir halus di tengkuknya membunyikan sinyal bahaya.
Insting berburu yang selama beberapa minggu ini ditempa oleh Maya mendadak bangkit.
Ada seseorang yang sedang mengawasinya.
Intan tidak memutar kepalanya secara mendadak—sebuah kesalahan amatir yang selalu diwanti-wanti oleh Maya.
Sebaliknya, ia memanfaatkan pantulan permukaan kaca jendela kafe yang agak gelap di samping mejanya.
Di meja sudut paling belakang kafe, duduk seorang pria bertubuh tinggi tegap.
Pria itu mengenakan Jaket parka berwarna hijau tentara yang kusam dan topi bisbol hitam yang ditundukkan rendah, menyembunyikan sebagian besar garis wajahnya.
Di atas mejanya hanya ada secangkir espresso yang sudah dingin dan sebuah kamera lensa panjang yang tersimpan di dalam tas kain yang terbuka sedikit.
Pria itu tidak sedang melihat buku atau ponselnya. Matanya terarah lurus ke meja Intan melalui celah di antara dua pot tanaman hias.
Jantung Intan berdesir pelan.
Siapa orang ini?
Apakah dia anak buah Ardiansyah yang ditugaskan untuk mengawasi latar belakangku?
Atau... ada pihak lain yang juga sedang mengintai gerak-gerik proyek Zona Empat?
Intan menatap pantulan pria itu dengan cermat. Cara pria itu duduk—rileks namun siaga, dengan mata yang selalu memindai area sekitar—sangat mirip dengan gaya Maya saat sedang mengamati target.
Intan memutuskan untuk menguji situasi. Ia merapikan dokumen di mejanya, memasukkannya ke dalam tas, lalu berdiri secara perlahan.
Sosok bertopi hitam itu seketika membetulkan posisi duduknya, siap bergerak jika Intan melangkah keluar.
Intan berjalan menuju toilet kafe yang berada di lorong belakang.
Saat ia melintas di dekat meja pria misterius itu, Intan sengaja memperlambat langkahnya.
Dari jarak dekat, ia bisa melihat sekilas rahang tegas pria itu yang ditumbuhi cambang tipis, serta sebuah jam tangan taktis berwarna hitam murni yang melingkar di pergelangan tangannya.
Pria itu tidak mendongak, namun Intan menyadari jemari pria itu mengepal tipis di atas meja saat Intan melewatinya.
Begitu sampai di dalam area washbasin toilet yang sepi, Intan segera mengeluarkan ponsel pintarnya dan menekan tombol panggilan ke nomor Maya.
"Mbak Maya."
Bisik Intan cepat namun tenang.
"Saya ada di Kafe Seberang Zona Empat."
"Kontrak sudah ditandatangani oleh Ardiansyah.
"Tapi... ada masalah."
"Masalah apa, Intan?"
Suara Maya di seberang telepon seketika berubah menjadi mode siaga penuh.
"Ada seorang pria bertopi hitam dan berjaket parka mengawasi saya di dalam kafe sejak Ardiansyah pergi."
"Dia membawa tas berisi kamera lensa panjang. Gaya bicaranya tenang, tapi aura pemburu dari tubuhnya sangat kuat."
"Saya merasa dia bukan orang awam."
Jelas Intan rinci.
Maya terdiam sejenak di seberang telepon. Suara gesekan kertas dan ketikan papan ketik terdengar di latar belakang.
"Pria bertopi hitam dengan jam tangan taktis?"
Tanya Maya memastikan.
"Iya. Mbak Maya kenal?"
"Jangan buat kontak mata langsung dan jangan keluar dari kafe dulu."
Tegas Maya dengan suara yang mendadak serius.
"Ada dua kemungkinan, Intan."
"Pria itu bisa jadi adalah penyelidik independen yang disewa oleh korban Ardiansyah yang lain, atau..."
"Dia adalah Intel dari pihak kepolisian yang sedang membongkar kasus penggelapan dana proyek Pandawa."
Informasi itu menghantam dada Intan. Jika pria itu adalah intel kepolisian atau investigator lain, perburuannya bisa menjadi jauh lebih rumit.
Jika Ardiansyah ditangkap lebih dulu oleh pihak berwajib atas kasus lain sebelum rencana pembalasan dendamnya tuntas, maka usaha dan luka yang ia tanggung selama ini akan terasa menggantung.
"Saya harus bagaimana, Mbak?"
Tanya Intan.
"Tunjukkan ketenanganmu."
Instruksi Maya.
"Melangkah keluar dari kafe seolah-olah kamu tidak menyadari keberadaannya."
"Naik ke mobil van katering dan langsung menuju ruko."
"Saya akan mengintai mobilmu dari jarak dua ratus meter di belakang untuk melihat apakah pria itu mengikutimu atau tidak."
"Paham, Mbak Maya."
Intan mematikan telepon, merapikan blazernya di depan cermin toilet, dan menarik napas panjang untuk menetralkan detak jantungnya.
Ia keluar dari toilet dan melangkah kembali melewati lorong kafe. Sosok misterius di sudut meja itu masih berada di sana, kini tampak meminum espressonya yang dingin seraya melirik tipis ke arah Intan.
Intan berjalan terus dengan langkah yang anggun, melangkah keluar melewati pintu kaca kafe menuju parkiran mobil van katering. Udara panas kawasan industri langsung menyapa wajahnya.
Saat Intan melangkah masuk ke dalam mobil van dan menyalakan mesin, ia melihat dari kaca spion samping: pintu kaca kafe terdorong terbuka.
Sosok bertopi hitam berjaket parka itu melangkah keluar, berdiri di bawah naungan atap kafe seraya memperhatikan van katering milik Intan yang mulai bergerak maju.
Di bawah naungan topi hitamnya, pria misterius itu perlahan mengangkat kamera di tangannya dan mengarahkan lensanya tepat ke arah plat nomor mobil van Intan—mengambil beberapa kali bidikan foto sebelum kendaraan itu meluncur menyatu dengan keramaian jalan raya.
Intan mencengkeram lingkar kemudi van dengan erat. Perburuan ini tak lagi sekadar pertarungan antara dirinya dan Ardiansyah.
Sosok misterius di kafe itu telah melangkah masuk ke dalam arena, membawa ancaman dan misteri baru yang siap menguji sejauh mana Intan mampu bertahan di tengah kerasnya kota liar ini.
*
*
*
Jangan lupa like, komen dan subscribe😉
ceritanya bikin penasaran
rugi, mereka yg g baca karyamu
walau Maya aj belum bisa menguak siapa pelakunya