Indonesia
NovelToon NovelToon
Serving The Ruthless Boss

Serving The Ruthless Boss

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Fantasi
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: seasoulune

Alesia Fiore mengira hidupnya di Korea Selatan sudah berada di titik paling damai. Demi memperbaiki ekonomi keluarga yang ironisnya hanya peduli pada uang kirimannya Alesia rela bekerja keras bagai kuda selama satu tahun sebagai admin pemasaran di Aetheris Games. Biarpun sering lembur, ia bahagia karena memiliki lingkungan kerja yang sehat dan sahabat-sahabat yang suportif.

Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat takdir membawa Dante Luca Alessio masuk ke hidupnya.

Dimulailah hari-hari penuh kesialan, kejengkelan, dan kesalahpahaman kocak bagi Alesia yang harus melayani segala tuntutan ajaib dari bos barunya yang ruthless. Sanggupkah Alesia bertahan demi pundi-pundi won, atau justru benci di antara mereka berubah menjadi benih-benih cinta yang tak terduga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 2

Langkah kaki Alesia terasa seberat beton saat ia berjalan menuju lift khusus eksekutif. Di tangannya, sebuah map biru berisi laporan analisis pasar tergenggam erat.

Jantungnya berdegup kencang, bukan karena pesona sang CEO baru, melainkan karena batas waktu lima menit yang diberikan Dante Luca Alessio benar-benar tidak masuk akal.

Begitu pintu lift terbuka di lantai paling atas, Alesia disambut oleh keheningan yang elegan. Ruangan Dante terletak di ujung lorong dengan pintu kaca besar yang buram.

Setelah mengetuk dua kali dan mendengar gumaman dingin dari dalam, Alesia mendorong pintu tersebut.

Dante sedang duduk di balik meja kerja marmer hitamnya yang luas. Jasnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, menampilkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Pria itu bahkan tidak mendongak saat Alesia masuk.

"Dokumen yang Anda minta, Sajangnim." ucap Alesia formal, meletakkan map tersebut di meja kerja Dante.

Dante menghentikan aktivitasnya pada tablet. Ia mendongak, menatap Alesia dengan mata abu-abunya yang tajam dan mengintimidasi.

Pria itu mengambil map tersebut, membukanya perlahan, lalu membolak-balik halaman demi halaman. Suasana ruangan mendadak sangat mencekam.

Sreeek.

Dante menutup map itu dengan sentakan pelan namun tegas. Ia mendorongnya kembali ke arah Alesia.

"Buat ulang," ucap Dante datar tanpa ekspresi.

Alesia tertegun. "Maaf, Pak? Ada bagian data yang salah? Saya sudah memeriksa tabel analisis pasar ini tiga kali sebelum mencetaknya."

Dante bersandar pada kursi kerjanya, menopang dagu dengan sepuluh jari yang saling bertautan.

"Datanya benar. Tetapi jenis huruf yang Anda gunakan pada sub-bab empat adalah Arial ukuran 11. Sementara standar dokumen resmi Aetheris Games menggunakan Calibri ukuran 11. Dan spasinya... Anda menggunakan 1,15, bukan 1,2."

Alesia melebarkan matanya. Hanya karena jenis huruf dan spasi?!

"Tapi Pak, ini hanya laporan internal awal, isinya sudah sangat akurat dan—"

"Nona Fiore," potong Dante, suaranya merendah namun penuh penekanan yang membuat bulu kuduk berdiri.

"Saya tidak menggaji Anda untuk memberikan pembelaan. Di perusahaan saya, kesempurnaan adalah hal mendasar, bukan pilihan. Jika hal sekecil font saja Anda abai, bagaimana saya bisa memercayakan proyek besar pemasaran game baru pada Anda?"

Alesia mengepalkan tangannya di samping baju. Ego dan kekesalannya meroket, namun bayangan tagihan flat dan pesan ibunya yang meminta uang langsung berputar di kepalanya. Ia menarik napas dalam-dalam, menelan bulat-bulat kekesalannya.

"Baik, Pak. Saya akan segera memperbaikinya," jawab Alesia formal sambil menarik kembali map tersebut.

"Dua menit," ucap Dante pendek sebelum kembali fokus pada tabletnya.

"Jika terlambat, Anda bisa mulai mengemas barang-barang di kubikel Anda."

Alesia berbalik dan setengah berlari keluar ruangan dengan menahan geram.

Bos gila! Diktator perfeksionis! batinnya berteriak sepanjang jalan menuju kubikelnya.

...----------------...

Satu jam kemudian, jam makan siang akhirnya tiba. Alesia berjalan gulai menuju kantin kantor di lantai tengah gedung dengan energi yang sudah terkuras habis.

Belum juga ia sempat menyuap sendok pertama nasi campur Koreanya, Min-ji dan Hana sudah langsung menggeser kursi dan duduk mengepungnya dengan wajah super cemas.

"Fiore! Kamu tidak apa-apa, kan? Tadi aku lihat kamu keluar dari ruangan Sajangnim dengan wajah sepucat hantu!" Min-ji langsung memberondongnya dengan pertanyaan, matanya menatap Alesia dari ujung kepala sampai ujung kaki memastikan temannya tidak terluka.

Hana ikut mencondongkan badannya, berbisik heboh.

"Tadi gosip langsung menyebar di grup obrolan divisi! Katanya kamu langsung kena semprot di ruangan atas. Kamu tidak dipecat, kan? Tolong katakan kamu masih bekerja di sini!"

Melihat kepanikan dan kekhawatiran yang tulus dari kedua sahabatnya, kekesalan Alesia sedikit mereda. Ia menghela napas panjang dan meletakkan sumpitnya.

"Aku tidak dipecat," kata Alesia, membuat Min-ji dan Hana kompak mengembuskan napas lega yang sangat keras.

"Tapi bos baru kita itu benar-benar titisan monster. Kalian tahu kenapa aku disuruh membuat ulang laporan tadi?"

"Kenapa? Datanya salah hitung?" tebak Min-ji ngeri.

"Bukan. Karena aku pakai font Arial, bukan Calibri. Dan spasinya kurang 0,05!" ketus Alesia sambil menyuap makanannya dengan kesal.

Hana langsung menutup mulutnya dengan tangan, syok.

"Astaga... jadi rumor itu benar? Dia benar-benar perfeksionis yang gila kontrol! Fiore, kamu hebat sekali bisa selamat dari ruangan itu dalam waktu dua menit."

"Aku terpaksa bertahan demi taruhan hidup, Hana," gumam Alesia lesu.

"Kalau bukan karena butuh uang untuk dikirim ke rumah, aku pasti sudah melempar map itu ke wajahnya yang menyebalkan itu."

Min-ji mengusap punggung Alesia dengan prihatin.

"Sabar, Fiore. Kami semua mendukungmu dari belakang. Tapi kamu harus ekstra hati-hati mulai sekarang. Sikapmu yang acuh tak acuh kemarin dan insiden mesin fotokopi tadi pagi sepertinya membuat kamu masuk ke dalam radar utamanya."

Alesia tertegun mendengarnya. Radar utama?

Mengingat bagaimana tatapan mata abu-abu Dante yang intens memandanginya tadi, Alesia mendadak merinding.

Ia hanya berharap hari-hari berikutnya bisa berjalan normal kembali. Namun, ia tidak sadar bahwa Dante Luca Alessio justru baru saja memulai daftar panjang 'tugas khusus' yang sengaja dirancang hanya untuk menguji ketahanan seorang Alesia Fiore.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!