Alya Pramesti kehilangan segalanya dalam satu hari karier sebagai dokter yang dibangunnya bertahun-tahun hancur karena fitnah, dan tunangannya sendiri memilih berpaling ke pelukan wanita lain di depan matanya.
Di titik paling rendah dalam hidupnya, dia justru bertemu Raka Wirawan CEO dingin dan misterius yang menawarkan kesepakatan tak masuk akal: menjadi istri kontrak selama satu tahun. Bukan karena cinta, tapi demi memenuhi permintaan terakhir sang nenek yang sekarat.
Alya menerima, tanpa ekspektasi apa pun selain bertahan hidup dan membuktikan diri.
Namun semua berubah saat sebuah malam krisis memaksa Alya mengambil alih sebagai dokter menyelamatkan nyawa nenek Raka saat semua orang panik. Untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat tanpa emosi itu melihat Alya bukan sekadar "istri di atas kertas", melainkan seseorang yang nilainya jauh lebih besar dari yang pernah disadari siapa pun termasuk orang-orang yang dulu membuang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aren Vely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Bahagia
Tiga bulan berlalu sejak penahanan Om Wisnu dan berakhirnya rangkaian konspirasi yang menghantui keluarga Wirawan. Kehidupan Alya dan Raka akhirnya menemukan ritme yang benar-benar tenang sesuatu yang dulu terasa seperti mimpi yang mustahil dicapai di tengah badai demi badai yang mereka lalui.
Yayasan Wirawan Pratama kini berkembang pesat, sudah membantu lebih dari seratus tenaga medis muda di berbagai kota menghadapi kasus ketidakadilan karier, bahkan mulai menjalin kerja sama dengan beberapa kementerian untuk merancang kebijakan perlindungan tenaga medis yang lebih baik secara nasional. Alya semakin dikenal bukan hanya sebagai istri CEO, melainkan sebagai sosok penting dalam reformasi dunia kesehatan.
Suatu pagi, Alya merasa tubuhnya tidak seperti biasanya mual ringan yang terus berulang selama beberapa hari terakhir, disertai kelelahan yang tidak wajar meski jadwalnya tidak lebih padat dari biasanya. Sebagai dokter, dia cukup mengenali gejala itu, namun tetap memilih memeriksakan diri secara resmi untuk memastikan.
Hasil pemeriksaan di kliniknya sendiri membuat matanya berkaca-kaca dua garis merah jelas terlihat di alat tes kehamilan yang dia gunakan sendiri, dikonfirmasi lebih lanjut dengan pemeriksaan darah yang dia lakukan diam-diam bersama salah satu koleganya yang dipercaya.
Malam itu, Alya menyiapkan makan malam romantis sederhana di rumah, menunggu Raka pulang dengan perasaan campur aduk antara bahagia dan gugup. Ketika Raka akhirnya tiba, dia langsung merasakan sesuatu yang berbeda dari sikap istrinya yang biasanya tenang.
"Ada apa?" tanya Raka, dahinya berkerut penasaran melihat meja makan yang dihias lebih spesial dari biasanya.
Alya tersenyum, menggenggam tangan Raka dan meletakkannya lembut di perutnya yang masih rata. "Kita akan menjadi orang tua, Raka."
Raka membeku sejenak, matanya membelalak mencerna kata-kata itu, sebelum akhirnya wajahnya berubah menjadi ekspresi kebahagiaan paling murni yang pernah Alya lihat dari suaminya. "Kau... kau hamil?"
Alya mengangguk, air mata bahagia mulai menggenang di matanya. Raka langsung memeluknya erat, hati-hati namun penuh emosi, mengecup keningnya berkali-kali.
"Aku akan jadi ayah," gumamnya, suaranya bergetar penuh haru. "Setelah semua yang kita lalui, akhirnya kita mendapatkan kebahagiaan seperti ini."
Kabar kehamilan itu segera disambut penuh sukacita oleh seluruh keluarga. Oma Ratna, yang kesehatannya semakin membaik, menangis terharu mendengar kabar akan segera memiliki cicit. Ibu Raka, yang kini sudah jauh lebih hangat pada Alya, bahkan langsung merencanakan berbagai persiapan untuk cucu pertamanya dengan penuh antusiasme yang tidak pernah Alya duga akan dia tunjukkan.
Namun jauh dari kehangatan itu, di sebuah apartemen kecil sederhana di pinggiran kota, Vania duduk sendirian menatap layar ponselnya yang menampilkan foto bahagia keluarga Wirawan yang baru saja diunggah di media sosial mereka foto Alya dan Raka tersenyum bahagia, tangan Raka lembut mengusap perut istrinya yang mulai sedikit membuncit.
Hidupnya sejak bebas bersyarat jauh dari kata mudah. Izin praktiknya sebagai dokter dicabut permanen, tabungannya habis untuk biaya pengacara, dan dia harus bekerja serabutan sebagai staf administrasi di sebuah klinik kecil hanya untuk bertahan hidup. Bimo sudah lama meninggalkannya sejak kasus hukum itu mencuat, tidak sanggup menanggung beban reputasi yang ikut hancur karena hubungan mereka.
"Kau bahkan tidak pantas mendapatkan semua ini," desis Vania pelan, jari-jarinya mencengkeram ponselnya erat-erat, matanya berkaca-kaca antara amarah dan keputusasaan. "Aku yang seharusnya berada di posisimu, Alya. Aku yang seharusnya bahagia seperti itu."
Rasa dendam yang selama berbulan-bulan dia coba padamkan demi bertahan hidup, kini kembali menyala dengan intensitas yang berbeda — bukan lagi sekadar dendam pribadi karena kalah bersaing, melainkan kepahitan mendalam melihat betapa jauh kehidupannya sendiri terpuruk, sementara wanita yang dulu dia hancurkan justru semakin bersinar.
Dia membuka laptop tuanya, mulai mencari-cari informasi tentang yayasan kesehatan yang dipimpin Alya, matanya menyipit penuh perhitungan saat menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya — sebuah lowongan magang terbuka di divisi administrasi Yayasan Wirawan Pratama, yang kebetulan tidak mensyaratkan verifikasi latar belakang yang terlalu ketat untuk posisi sukarelawan.
Senyum tipis penuh perhitungan mulai terbentuk di wajahnya yang lelah. "Mungkin," gumamnya pelan pada diri sendiri, "aku hanya perlu masuk lebih dekat ke dalam kehidupanmu kali ini, Alya. Diam-diam."