Indonesia
NovelToon NovelToon
MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dian Mita

Tiga tahun menikah, Rendy selalu dihina, diperlakukan seperti pembantu, dan dibeda-bedakan oleh ibu mertua serta iparnya karena hanya dianggap seorang sopir miskin tak berpendidikan. Clarissa, sang istri, hanya bisa diam menahan tekanan keluarga besarnya. Puncaknya, saat bisnis keluarga mengalami krisis, Rendy difitnah mencuri, dipaksa menandatangani surat cerai, dan diusir di tengah hujan deras tanpa membawa apa pun.
​Namun, keluarga itu tak pernah tahu bahwa Rendy sebenarnya adalah satu-satunya ahli waris Pradipta Group—konglomerat terbesar yang sengaja menyamar demi menguji ketulusan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Mita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Audit Perusahaan

Pagi yang dingin menyelimuti kota, namun hawa panas yang membakar justru menjalar cepat di ruang rapat utama gedung Pradipta Group. Berkas-berkas berstempel rahasia menumpuk rapi di atas meja kaca panjang. Di balik dinding kaca kedap udara, tim auditor independen yang ditunjuk langsung oleh Rendy Pradipta bekerja tanpa henti selama dua puluh empat jam terakhir.

Rendy duduk di kursi kebesarannya di ujung meja rapat. Kemeja sutra hitamnya yang tergulung hingga siku memperlihatkan lengan kokoh bercelah urat yang amat tegap. Wajahnya yang tampan membeku dalam ekspresi dingin yang tak tersentuh. Di sampingnya, Siska memegang sebuah tablet digital seraya membacakan hasil akhir pemeriksaan keuangan.

"Tuan Presdir," suara Siska mengudara, halus namun sarat akan ketegasan profesional. "Tim auditor telah menyelesaikan pemeriksaan menyeluruh terhadap pembukuan perusahaan milik Bapak Hendra Wijaya. Hasilnya sangat fatal."

Rendy memiringkan kepalanya sedikit, menyesap kopi hitamnya secara perlahan. "Berapa total kerugiannya?"

Siska mengusap layar tabletnya, lalu menatap Rendy dengan binar mata yang pekat. "Dion Wijaya secara sistematis telah memalsukan nota transaksi, membuat proyek fiktif, dan mengalirkan dana perusahaan ke rekening pribadinya. Total penggelapan dana yang ia lakukan mencapai angka lima miliar rupiah."

PAK!

Asisten Bagas yang berdiri di belakang Rendy melangkah satu pijakan maju, meletakkan map tebal bersampul merah di atas meja. "Seluruh bukti transfer, rekaman pembicaraan dengan vendor fiktif, serta tanda tangan palsu atas nama Bapak Hendra sudah diverifikasi secara hukum, Tuan. Ini adalah bukti kejahatan murni yang tidak bisa disangkal di meja hijau."

Rendy menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya—sebuah senyuman dingin yang memancarkan hukuman mutlak.

"Lima miliar rupiah..." gumam Rendy rendah, suaranya berat dan mengintimidasi. "Jumlah yang cukup untuk memastikan Dion menghabiskan masa mudanya di dalam sel tahanan yang dingin."

Sementara itu, di rumah kontrakan keluarga Wijaya yang sepi dan lembap, Clarissa terduduk di sudut tempat tidurnya. Tirai jendela yang tertutup rapat membiarkan kamar sempit itu dibalut keremangan yang dingin.

Clarissa meremas jemari tangannya sendiri. Pipinya masih terasa hangat, sementara bibirnya yang sedikit memar menjadi saksi bisu atas ciuman agresif Rendy di penthouse semalam. Ciuman yang penuh dengan dominasi, luka, dan gairah yang tak terpadamkan.

Clarissa memejamkan matanya erat-erat. Di dalam kegelapan lamunannya, ingatan sensual tentang mantan suaminya kembali menyeruak, membakar dadanya dengan desiran panas yang menyiksa.

Ia membayangkan bentuk jemari tegap Rendy—jemari kuat dengan garis-garis tegap yang dulu selalu mengusap lehernya, mencengkeram pinggang mulusnya, dan menelusuri setiap lekuk tubuhnya dengan kehangatan yang memabukkan saat mereka berada di atas ranjang. Jemari kuat yang sama yang semalam mengunci rahangnya dan menariknya ke dalam kungkungan dada bidang yang keras.

Namun kini, Clarissa menyadari dengan rasa pedih yang merobek jiwa bahwa jemari tegap itu tak lagi menjadi miliknya. Jemari kuat sang Presdir kini berada jauh di atas takhta kekuasaan, tak lagi bisa ia sentuh secara bebas seperti saat Rendy masih menjadi suaminya yang lugu. Jemari yang dulu membelai rambutnya dengan penuh kelembutan, kini telah bertransformasi menjadi jemari penguasa yang siap menancapkan kehancuran bagi keluarganya.

Desir panas di perut bawah Clarissa bercampur rapat dengan rasa penyesalan yang teramat dalam. Air mata hangat menetes menyusuri pipinya, membasahi kain gaun sederhana yang dikenakannya.

Mas Rendy... kenapa sentuhanmu yang sekarang begitu membakar, tapi justru membawaku ke dalam kehampaan yang tak berujung...? bisik batin Clarissa seraya meremas dadanya yang berdegup kencang.

Keheningan di dalam rumah kontrakan itu mendadak pecah oleh jeritan histeris dari ruang tamu.

Clarissa tersentak kaget dari lamunannya. Ia menyapu air matanya dengan terburu-buru, lalu berlari keluar kamar.

Di ruang tamu, Ibu Rosma terduduk di atas sofa kusam dengan wajah pucat pasi. Tangannya yang gemetaran menunjuk-nunjuk ke arah pintu depan yang terbuka lebar. Hendra berdiri kaku di dekat meja, sementara Dion bersembunyi di belakang tubuh ayahnya dengan napas memburu panik dan peluh dingin yang mengucur deras di dahi.

Empat orang pria berseragam dinas kepolisian melangkah masuk ke dalam rumah. Di depan mereka, seorang perwira polisi berpangkat Ajun Komisaris berdiri tegap dengan raut wajah tegas tanpa kompromi.

"Apakah ini benar kediaman saudara Dion Wijaya?" tanya perwira polisi itu dengan suara nyaring yang menggelegar di dalam ruangan sempit tersebut.

Hendra menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu, suaranya gemetaran hebat. "I-iya, Pak... Saya ayahnya. Ada masalah apa ini, Pak Polisi?"

Perwira polisi itu tidak memberikan jawaban lisan. Ia menarik selembar kertas resmi berstempel kepolisian dari dalam map kulit hitamnya, lalu membukanya lebar-lebar di hadapan keluarga tersebut.

"Kami dari Kepolisian Daerah datang membawa Surat Penangkapan Resmi atas nama Dion Wijaya," tegas perwira polisi tersebut, tatapannya mengunci Dion yang gemetaran di belakang Hendra. "Saudara Dion Wijaya secara resmi dilaporkan oleh pihak Pradipta Group atas tuduhan penggelapan dana perusahaan, pemalsuan dokumen, dan penipuan terstruktur sebesar lima miliar rupiah."

DEG!

Ibu Rosma memegangi dadanya, matanya terbelalak lebar sebelum akhirnya memekik histeris. "Tidak! Anak saya tidak bersalah! Ini pasti fitnah dari Rendy! Pria pembawa sial itu sengaja ingin menghancurkan kami!"

Dua anggota polisi melangkah cepat melewati Hendra. Tanpa memedulikan jeritan Rosma, mereka mencengkeram kedua lengan Dion secara kasar, menarik pria itu ke depan dan memaksa kedua tangannya terlipat ke belakang.

KLIK!

Bunyi borgol besi yang terkunci rapat di kedua pergelangan tangan Dion bergema dingin di dalam ruangan.

"Ampun, Pak! Jangan tangkap saya! Saya tidak mau masuk penjara!" jerit Dion histeris, tubuhnya meronta-ronta seraya merangkak meminta pertolongan pada ayahnya. "Mas Hendra! Ibu! Tolong saya! Ini semua perintah Rendy! Mas Rendy yang melakukan ini!"

Clarissa berdiri membeku di ambang pintu kamar. Matanya menatap borgol besi yang mengikat tangan adiknya, menyadari bahwa roda pembalasan dendam Rendy Pradipta kini telah berputar sepenuhnya dan tidak akan pernah bisa dihentikan oleh siapapun.

Ratapan histeris Dion bergema memecah dinding kontrakan yang kusam. Kedua kakinya melentur lemas, terseret di atas lantai keramik kotor saat dua petugas kepolisian mencengkeram lengkannya dengan cengkeraman baja.

"Ibu! Mbak Clarissa! Tolong saya!" teriak Dion dengan mata memerah dan air mata ketakutan yang bercucuran deras. "Saya tidak mau busuk di penjara!"

Ibu Rosma maju merangkak, mencoba menggapai kaki para petugas dengan jemari gemetaran. "Jangan bawa anak saya! Tolong, Pak! Kasihanilah kami! Rendy yang jahat! Rendy yang menjebak Dion!"

Perwira polisi itu menatap Rosma dengan pandangan dingin tanpa kompromi. "Pihak Pradipta Group telah menyerahkan seluruh bukti otentik yang disahkan oleh auditor independen, Ibu. Jika Anda merasa keberatan, silakan ajukan pembelaan resmi di pengadilan."

Hendra hanya bisa terduduk kaku di lantai, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Penyesalan yang terlambat membakar dadanya hingga sesak. Pria tegap yang dulu selalu mereka rendahkan kini tidak hanya menguasai seluruh aset keluarga Wijaya, tetapi juga memegang kunci pintu jeruji besi yang siap mengurung masa depan putranya.

Clarissa menyandarkan tubuhnya pada bingkai pintu. Gaun sederhananya meremas kencang dalam genggaman tangannya. Pandangannya menerawang kosong menatap bayangan mobil polisi yang sirinenya mulai menyala nyaring di luar pelataran kontrakan.

Di dalam benaknya, wajah tegap Rendy berbenang emas Siberia semalam mendadak membayang nyata. Sorot mata hitam mantan suaminya yang dingin dan tak tersentuh seolah sedang menatapnya dari balik kegelapan, mengukir senyum kejam atas kemenangan mutlaknya.

Borgol besi di tangan Dion bukan sekadar hukuman bagi adiknya, melainkan pesan berdarah dari Sang Presdir bahwa setiap caci maki, keringat hinaan, dan air mata yang pernah ia teteskan selama tiga tahun pernikahan kini harus dibayar tuntas tanpa sisa.

1
Dian Paramita Dewi
Semangat....terus berkarya ☺️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!