Di balik senyum humoris pemuda 18 tahun, ada tekad nekat untuk memenangkan hati seorang janda beranak satu yang trauma akan cinta.
Vino, koki kedai berpenghasilan pas-pasan, jatuh hati pada Evita (30 tahun), pemilik butik anggun yang membentengi hatinya rapat-rapat akibat masa lalu yang kelam. Diapit cinta segitiga dengan adik Evita dan kejaran pria dewasa yang mapan, Vino memilih menghilang. Bukan untuk menyerah, melainkan memantaskan diri. Lima tahun berlalu, ia kembali bukan lagi sebagai remaja biasa, melainkan pria yang siap meruntuhkan tembok trauma Evita dan melawan stigma dunia. Bisakah ketulusan dan kehangatan Vino menyembuhkan luka masa lalu Evita, ataukah perbedaan usia dan restu keluarga akan merenggut kebahagiaan mereka?
Ikuti kisah romantis antara Evita dan Arvino dinovel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trik Konyol Sang Remaja
Kira-kira pukul dua siang, suasana Hani’s Atelier terasa lengang. Evita berdiri di dekat deretan manekin gantung, sibuk menata pita dan memastikan tiap helai kain tertata sempurna. Namun, di balik jemarinya yang lincah bekerja, pikirannya justru tertinggal pada ucapan Arvino beberapa hari lalu.
“Garis pembatas yang Mbak buat ini bakal saya hapus sendiri...”
Evita menghela napas panjang, meremas jemarinya pelan. "Ngaco," gumamnya pada diri sendiri. "Dia itu cuma anak remaja yang suka asal ngomong. Perhatiannya, masakan buatannya... itu semua pasti cuma cara dia bersikap ramah sama keluarga temannya."
Lagipula, Yunita sudah jelas-jelas menyukai pemuda itu. Mana mungkin Arvino benar-benar bermaksud lain pada wanita yang terpaut usia lima belas tahun dengannya? Semua perhatian hangat Vino, mulai dari sup iga hingga kue balok tentu hanya pelampiasan sifatnya yang memang supel kepada siapa saja. Evita menepis jauh-jauh prasangka aneh yang sempat singgah di dadanya. Pemuda delapan belas tahun mana yang sungguhan menaruh hati pada seorang janda anak satu? Sungguh tidak masuk akal.
Denting bel pintu kaca memecah keheningan butik.
"Paket makan siang layanan antar resmi Kedai Bang Jaka tiba!"
Suara nyaring yang sangat familiar itu seketika membuat Evita menoleh. Di depan pintu, Arvino berdiri tegak dengan seragam kedai lengkap—celemek kain hitam, topi koki kecil yang agak miring, dan papan jalan berisi lembaran nota pesanan di tangan kirinya. Di tangan kanannya, ia menjinjing tas kantong berisikan dua kotak makanan hangat.
Evita mengerutkan kening, menatap pemuda itu dengan pandangan selidik. "Arvino? Kamu sedang apa di sini?"
"Selamat siang, Ibu Evita Hani yang terhormat," sahut Vino dengan wajah yang dibuat seserius mungkin, melangkah masuk menggunakan gaya jalan tegap bak prajurit. "Saya di sini murni menjalankan tugas negara—eh, tugas kedai. Saya bukan Arvino si kenalan pribadi, tapi Vino sang kurir resmi."
Evita menyilangkan tangan di dada, berusaha menahan raut wajahnya agar tetap datar. "Saya tidak memesan makanan apa pun."
"Memang bukan Ibu yang pesan," balas Vino cepat seraya menyodorkan lembaran nota dari jarak dua meter yang sangat aman. "Pemesannya atas nama Nona Yunita. Beliau telepon ke kedai sepuluh menit lalu, pesan dua porsi nasi tim ayam komplit untuk kakaknya yang katanya suka lupa makan siang kalau lagi sibuk."
Evita tertegun sejenak. "Yunita yang pesan?"
"Seratus persen benar, Nona!" Vino mengetukkan penanya di papan jalan dengan gaya dramatis. "Sebagai kurir profesional yang patuh pada garis batas dan regulasi, saya hanya mengantarkan pesanan sesuai koordinat. Silakan dicek notasinya, sudah dibayar lunas via transfer oleh adiknya Ibu."
Vino lalu meletakkan kantong makanan itu di atas meja peraga terdepan, jauh dari meja kasir tempat Evita berdiri, lalu melangkah mundur tiga langkah secara formal.
"Pesanan sudah diletakkan di tempat netral," ujar Vino serius, walau matanya berkilat jahil yang polos. "Sesuai prosedur operasional kedai, kurir dilarang mendekat dalam radius dua meter untuk menjaga kenyamanan pelanggan yang sangat menjaga batasan."
Evita memandangi kotak makanan itu, lalu beralih menatap penampilan konyol Vino yang memakai topi koki miring. Prasangka di hatinya makin tertepis kuat. "Lihatlah,"pikir Evita dalam hati. "Dia ke sini murni karena pesanan Yunita. Anak ini memang cuma menuruti kemauan Yunita yang perhatian pada kakaknya."
Rasa lega melingkupi dada Evita, walau di sudut hatinya yang terdalam ada sedikit perasaan asing yang enggan ia akui.
"Kalau Yunita yang pesan, kenapa harus kamu yang antar?" tanya Evita, mencoba menguji pemuda di depannya.
Vino membetulkan posisi topi kokinya seraya terkekeh pelan. "Ya karena di kedai Bang Jaka yang hapal jalan ke sini cuma saya, Mbak. Lagian Yunita tadi wanti-wanti banget di telepon, katanya, 'Vin, tolong antarkan buat Mbak Vita ya, kasihan Mbakku belum makan.' Ya sebagai teman sekolah yang baik dan penurut, saya laksanakan tugas dari Yunita dengan sempurna."
Evita mengangguk-angguk kecil. Tentu saja. Yunita dan Vino memang begitu dekat. Perhatian makanan ini adalah bentuk perhatian Yunita padanya melalui perantara Vino. Semua spekulasi konyol soal Vino yang memiliki perasaan padanya terhapus sudah.
"Baiklah. Terima kasih, Arvino," kata Evita, suaranya melunak walau tetap berjarak. "Sampaikan terima kasih saya pada Yunita juga nanti."
"Siap, Mbak Vita!" seru Vino seraya memperagakan hormat konyol yang terlalu berlebihan hingga topinya hampir terlepas.
Vino buru-buru menahan topinya, memancing satu desahan napas dan gelengan kepala dari Evita.
"Oh iya, Mbak," lanjut Vino seraya merogoh saku celemeknya. Ia mengeluarkan sebuah botol kecil minuman vitamin C rasa jeruk yang masih dingin dan meletakkannya di samping kotak makanan. "Kalau ini bukan dari pesanan Yunita. Ini bonus dari kurir."
Evita menatap botol kecil itu. "Bonus?"
"Iya. Kurirnya lihat Mbak Vita harinya kelihatan capek banget, jadi kurirnya inisiatif kasih bonus biar Mbak Vita nggak gampang sakit," jelas Vino santai, mengabaikan fakta bahwa ia baru saja membocorkan perhatian pribadinya sendiri. "Minumannya sudah dibayar pakai uang tips kurir kok, jadi Mbak nggak usah khawatir utang budi."
Vino melangkah mundur menuju pintu keluar, menyunggingkan senyum hangat yang jujur, senyum yang selalu berhasil menembus hawa dingin di dalam ruangan itu.
"Nasi timnya dimakan selagi hangat ya, Mbak. Kasihan Yunita sudah pesan capek-capek," tambah Vino seraya memegang gagang pintu. "Saya permisi balik ke kedai dulu!"
Denting bel pintu berbunyi nyaring saat Vino menghilang ke luar jalanan.
Evita berdiri sendirian di tengah butik. Ia melangkah mendekati meja, meraih kotak makanan hangat dan botol minuman dingin di sampingnya. Saat ia menatap botol jeruk itu, bibir Evita yang biasanya terkatung kaku tanpa sengaja mengukir senyum tipis, senyum yang terbit akibat tingkah konyol sang remaja.
Evita meyakinkan hatinya sekali lagi, Vino hanyalah anak muda yang baik, ramah, dan sangat menghargai Yunita. Tidak ada hal lain di balik itu. Dan pikiran itu membuat Evita merasa aman untuk membiarkan kehangatan kecil itu singgah sejenak di harinya.
btw jangan lupa mampir di novel ku ya judulnya "AKU BUKAN SIMPANAN" terimakasih 🙏👍