Indonesia
NovelToon NovelToon
MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

MENANTU MISKIN INI TERNYATA PRESDIR!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dian Mita

Tiga tahun menikah, Rendy selalu dihina, diperlakukan seperti pembantu, dan dibeda-bedakan oleh ibu mertua serta iparnya karena hanya dianggap seorang sopir miskin tak berpendidikan. Clarissa, sang istri, hanya bisa diam menahan tekanan keluarga besarnya. Puncaknya, saat bisnis keluarga mengalami krisis, Rendy difitnah mencuri, dipaksa menandatangani surat cerai, dan diusir di tengah hujan deras tanpa membawa apa pun.
​Namun, keluarga itu tak pernah tahu bahwa Rendy sebenarnya adalah satu-satunya ahli waris Pradipta Group—konglomerat terbesar yang sengaja menyamar demi menguji ketulusan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Mita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Penggeledahan Kamar

Suasana di dalam kamar sempit itu seketika membeku. Bau kayu pintu yang patah berbaur dengan hawa dingin pagi yang menusuk. Dua petugas polisi berseragam tegap melangkah masuk dengan tatapan sigap dan mengintimidasi, sementara Dion dan Ibu Rosma berdiri di ambang pintu dengan raut penuh kepuasan.

Rendy membalikkan badan perlahan, memosisikan dirinya di depan Clarissa untuk menghalangi pandangan para petugas dari istrinya yang masih shock. Dengan gerakan tenang namun mantap, Rendy meraih kaos polosnya di atas kasur lalu mengenakannya kembali, menutupi dada bidangnya yang tegap.

"Ada apa ini?" tanya Rendy dingin, sorot matanya yang tajam menatap lurus ke arah petugas tertua. "Kalian masuk tanpa izin dan merusak pintu rumah orang."

Petugas polisi bernama Budi menarik napas pendek, menepuk sabuk tugasnya. "Kami mendapat laporan dari saudara Dion atas dugaan pencurian barang berharga berupa jam tangan bermerek senilai puluhan juta rupiah. Karena saudara dicurigai berada di lokasi terakhir barang tersebut hilang, kami berhak melakukan pemeriksaan tempat kejadian."

"Pemeriksaan?!" seru Clarissa dari belakang Rendy. Suaranya bergetar menahan tangis dan amarah. "Pak Polisi, suami saya dari subuh ada di dapur dan bersama saya! Dia tidak pernah masuk ke kamar Dion! Ini cuma fitnah!"

"Sudah, Clarissa! Tidak usah banyak cakap!" potong Rosma dengan nada melengking. "Biarkan pak polisi yang bekerja! Kalau suamimu memang bersih, kenapa harus takut digeledah?!"

Dion tersenyum miring, menyilangkan kedua tangannya di dada. "Silakan, Pak Polisi. Geledah saja seluruh sudut kamar ini. Terutama di sekitar kasur tempat mereka tidur."

Petugas Budi mengangguk pada rekannya. Tanpa membuang waktu, mereka mulai memeriksa lemari pakaian kayu yang ringkih, membongkar tumpukan baju melipat Rendy dan Clarissa secara kasar hingga berantakan di lantai. Rendy berdiri tak bergeming, mengepalkan tangan kirinya erat-erat di samping paha. Ia tahu pasti bahwa dirinya tidak pernah menyentuh jam tangan itu, namun instingnya membisikkan bahwa ada skenario licik yang sedang dimainkan.

Ketika petugas kedua melangkah mendekati tempat tidur dan mulai menyingkap sprei serta mengangkat kasur busa tipis milik mereka, napas Clarissa tercekat.

Secara refleks, Clarissa maju dan melingkarkan kedua tangannya erat-erat di pinggang Rendy dari belakang. Ia menyandarkan dadanya yang berdegup kencang pada punggung kokoh suaminya, meremas kain kaos Rendy dengan jemari yang gemetaran hebat. Kehangatan tubuh Clarissa dan detak jantungnya yang berpacu liar menyatu rapat dengan tubuh Rendy, menyalurkan rasa takut sekaligus kepasrahan yang mendalam.

"Mas... aku takut," bisik Clarissa lirih, dahinya menempel di antara dua belikat Rendy. Napas hangatnya yang terengah-engah mengusap kulit leher belakang Rendy.

Rendy menggenggam pergelangan tangan Clarissa yang melingkari perutnya, memberikan usapan lembut dengan ibu jarinya untuk menenangkan sang istri. Gesekan ketat di antara dada Clarissa dan punggung tegap Rendy menyebarkan gelombang panas yang membakar rasa protektif di dada Rendy. Di tengah kekacauan dan serbuan intimidasi ini, sentuhan fisik istrinya menjadi satu-satunya alasan Rendy untuk tetap menahan diri dan tidak menghancurkan Dion saat itu juga.

Kring!

Bunyi benturan benda logam tebal yang membentur lantai semen terdengar menyentak.

Petugas polisi yang sedang menggeledah bagian bawah kasur membungkuk, lalu memungut sebuah kotak hitam berkilat dengan logo keemasan yang sangat mencolok. Ketika kotak itu dibuka, sebuah jam tangan mewa bermerek Rolex dengan tali rantai perak terpapar jelas di bawah cahaya remang kamar.

"Ini dia barangnya," tegas petugas polisi itu sambil menunjukkan jam tangan tersebut ke arah semua orang. "Ditemukan tepat di bawah kasur busa, di sisi tempat saudara Rendy tidur."

Mata Clarissa membelalak tak percaya. Pegangan tangannya di pinggang Rendy seketika melemah karena lemas. "Tidak... Tidak mungkin! Mas Rendy tidak pernah menaruh barang itu di sana!"

Dion tertawa lepas, tawa penuh kemenangan yang memekakkan telinga. "Lihat kan! Apa aku bilang! Jam tangan lima puluh jutaku ada di bawah kasurnya! Masih mau ngeles apa lagi kamu, Rendy?! Kamu memang pencuri!"

"Benar-benar tidak tahu diri!" jerit Rosma dengan nada histeris yang dibuat-buat, melangkah maju dengan mata memerah. "Sudah menumpang hidup, diberi makan gratis, sekarang malah mencuri barang adik ipar sendiri! Dasar sampah tak tahu malu!"

Rendy menatap jam tangan di tangan polisi itu dengan dingin. Matanya kemudian beralih menatap Dion. Ia melihat sudut bibir Dion yang terangkat tipis, menyisakan kerlingan penuh ejekan. Rendy menyadari segalanya dalam sekejap: Dion sengaja menyusupkan jam tangan itu saat mereka sedang berada di kamar mandi atau ketika rumah sedang sepi tadi pagi. Ini adalah jebakan matang untuk menyingkirkannya.

"Pak Polisi, barang bukti sudah ada," ujar Dion cepat. "Bawa dia ke kantor polisi! Borgol tangannya!"

Petugas Budi melangkah mendekati Rendy sambil mengeluarkan borgol besi dari pinggangnya. "Saudara Rendy, Anda kami amankan atas dugaan tindak pidana pencurian—"

"Tunggu, Pak!" Clarissa melepaskan pelukannya dari punggung Rendy dan pasang badan di depan suaminya. Air matanya menetes deras membasahi pipinya. "Suami saya dijebak! Seseorang pasti menaruhnya di sana! Tolong periksa sidik jarinya dulu, Pak!"

"Clarissa, minggir!" bentak Rosma kasar. Ia menarik bahu Clarissa hingga putrinya terdorong ke samping.

Rosma kini berdiri tepat di hadapan Rendy. Wajah ibu mertuanya itu sangat dekat, dipenuhi oleh kebencian mendalam yang sudah menumpuk selama tiga tahun. Napas Rosma memburu kasar, dadanya naik turun akibat emosi yang meluap-luap.

"Kamu sudah menghancurkan nama baik keluarga kami, Rendy!" teriak Rosma tepat di depan wajah Rendy.

PLAK!

Sebuah tamparan keras dan nyaring mendarat tepat di pipi kiri Rendy.

Sengatan panas dan rasa nyeri menjalar seketika di wajah Rendy. Pipi kirinya memerah seketika di hadapan dua petugas polisi, Dion, dan Clarissa yang menjerit histeris. Kepala Rendy sedikit terdorong ke samping, namun ia tidak jatuh. Ia perlahan menegakkan kembali posisinya, menatap ibu mertuanya dengan mata yang kini menyalakan kilatan dingin mematikan—kilatan seorang Presdir yang selama ini terlelap dalam penyamarannya.

Rendy perlahan meluruskan posisi kepalanya, mengusap bekas tamparan di pipinya dengan sudut bibir yang tertarik dingin. Sorot matanya kini begitu pekat dan tajam, sebuah tatapan intimidatif yang membuat Ibu Rosma secara refleks mundur satu langkah dengan napas tercekat. Untuk sekejap, wanita itu merasakan aura kekuasaan yang luar biasa menekan dari sosok menantu yang selama ini diinjak-injaknya.

"Ibu..." suara Rendy terdengar amat rendah namun bergetar penuh wibawa, menghentikan keriuhan di dalam ruangan sempit itu. "Tamparan ini adalah batas akhir rasa hormat saya pada Ibu sebagai orang tua Clarissa."

"Kamu... kamu mau melawan?!" seru Rosma gagap, mencoba menutupi rasa gentar yang mendadak menyerang dadanya. "Pak Polisi, lihat! Dia bahkan berani mengancam saya di depan kalian!"

"Cukup!" bentak Dion menutupi ketakutannya sendiri. "Pak Polisi, tunggu apa lagi? Bawa dia sekarang! Jangan biarkan pencuri ini makin melunjak!"

Petugas Budi melangkah maju, memegang lengan kanan Rendy secara tegas dan menyilangkan kedua tangan Rendy ke belakang punggungnya. Denting dingin logam borgol besi yang terkunci di kedua pergelangan tangan Rendy terdengar begitu nyaring, memutus harapan terakhir di dalam kamar tersebut.

"Mas Rendy!" jerit Clarissa histeris. Ia mencoba menerobos mendekati suaminya, namun Dion menahan bahunya dengan kasar.

Clarissa memberontak dalam dekapan adiknya. Air matanya mengalir deras, membasahi pipi dan lehernya. Pandangannya tak lepas dari sosok Rendy yang kini dikawal menuju luar rumah. Saat melewati ambang pintu, Rendy sempat menoleh ke belakang, menatap Clarissa dengan sorot mata yang hangat dan menenangkan di balik dinginnya borgol besi.

"Tunggu Mas di rumah, Sa. Mas tidak akan apa-apa," bisik Rendy pelan sebelum diseret keluar menuju mobil patroli yang meraung di depan gang.

Para tetangga mulai berkerumun di luar pagar, berbisik-bisik menyaksikan menantu miskin keluarga Rosma dibawa pergi oleh aparat. Dion tersenyum puas di balik jendela, merasa menang karena berhasil menyingkirkan pengganggu di rumahnya. Sementara itu, Rosma mengibaskan tangannya dengan wajah penuh rasa jijik, mengutuk hari di mana ia mengizinkan putri cantiknya menikah dengan pria tak berguna itu.

Di dalam kamar yang kini berantakan, Clarissa terduduk lemas di tepi kasur busa yang terbuka. Tangannya meremas seprai bekas tempat tidur mereka yang masih menyisakan wangi tubuh Rendy dan aroma hangat bekas pergumulan mereka tadi malam. Hatinya hancur berkeping-keping, terbakar oleh perpaduan rasa bersalah, kemarahan pada keluarganya sendiri, dan keputusasaan yang mendalam.

Namun, saat matanya menatap lantai di bawah gantungan baju, ia melihat sebuah kertas kecil berwarna keemasan yang jatuh terselip di balik lipatan jas hitam lama milik Rendy—jas yang jatuh berantakan saat penggeledahan tadi. Dengan jemari yang gemetaran, Clarissa merangkak mendekat dan memungut kertas tersebut.

1
Dian Paramita Dewi
Semangat....terus berkarya ☺️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!