"Satu tahun lagi kita cerai. Hati aku cuma buat Rosa"
Di malam pertama, Fitri dibuang demi wanita lain. Ia pergi membawa luka... dan rahasia besar di rahimnya. Tiga tahun kemudian, pernikahan Adam hancur oleh pilihan hatinya sendiri. Saat penyesalan datang, ia justru bertemu kembali dengan Fitri yang kini menjadi 'Dokter Cantik' sukses bersama seorang anak yang sangat mirip dengannya.
"Fitri... anak siapa yang kamu pangku itu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Ketabahan hati
Adam meraung, mencium jemari ibunya yang mendingin berkali-kali. Bayangan saat ia menolak ajakan ibunya untuk mengobrol, saat ia mematikan telepon demi menemui Rosa, dan saat ia menuduh ibunya hanya beralasan semua itu berputar cepat di kepalanya seperti mimpi buruk yang menyiksa.
Fitri berdiri diam memperhatikan suaminya yang meraung-raung dalam penyesalan. Tak ada kepuasan di hatinya, hanya ada rasa hampa yang amat luas. Benteng pelindung terakhir dalam pernikahan pura-pura mereka kini telah tiada. Sosok ibu yang selalu memeluknya, membela penampilannya, dan mendoakan kebahagiaannya telah pergi untuk selamanya.
"Ibu sempat titip pesan buat kamu, Mas," ucap Fitri pelan, memecah tangisan Adam.
Adam mendongak dengan mata merah dan basah oleh air mata. "Pesan... pesan apa, Fitri?"
Fitri menatap lurus mata Adam tanpa sedikit pun keraguan. "Ibu minta kamu untuk hidup bahagia dan berhenti menyakiti orang lain. Dan Ibu juga bilang... dia sudah tahu soal surat perjanjian cerai satu tahun yang kamu buat."
Adam membeku. Napasnya tertahan di tenggorokan. "Ibu... tahu?"
"Iya. Ibu bertahan selama ini cuma karena berharap kamu bisa berubah," lanjut Fitri dengan suara dingin. "Tapi sekarang Ibu sudah tenang. Tidak ada lagi yang perlu dipertahankan atau ditutup-tutupi di rumah ini."
Adam terdiam seribu bahasa, menatap wajah ibunya lalu beralih menatap Fitri. Ada tatapan asing dari mata istrinya bukan lagi tatapan penuh cinta dan kesabaran yang biasa ia lihat, melainkan tatapan seorang wanita yang telah menyerah sepenuhnya.
Malam itu, di tengah heningnya duka, rasa bersalah mulai merayap pelan di hati Adam. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa kepergian sang ibu bukan hanya menghilangkan sosok pelindung, tetapi juga membuka awal dari kehancuran hidupnya yang sebenarnya.
"Tidak.. ibu bangun bu.. maafin Adam bu.." Ucap Mas Adam dengan menggoyangkan tubuh ibu Rahma.
Aku hanya bisa melihat Adam merangkul dalam penyesalan. Selepas itu, kami pun bersama mengurus jenazah ibu Rahma. Tak lupa FItri juga mengabari paman dan juga bibi nya mengenai berita duka tersebut. Semenjak kecelakaan ayah dan ibuku, sejak kecil fitri diangkat menjadi puti paman dan bibi nya.
"Paman..Fitri hanya ingin kasih tau kalau Ibu Rahma meninggal dunia" Ucap FItri sambil menelpon.
"Serius kamu fitri? Innalillahi wa innalillahi rojiun.. turut berduka cita ya.. nanti paman dan bibi ke situ"
"Iya paman.. terimakasih ya.."
Selepas telpon itu pun, bersama-sama tetangga, tubuh Ibu Rahma diangkat untuk di mandikan dan di solat kan. Lalu pagi hari nya baru di kebumikan.
"Adam.. paman turut berduka cita ya" Ucap Paman FItri menyalami Adam.
"Iya paman... Terimakasih.."
"Ya sudah, kamu yang sabar ya nak.. paman pamit sekalian untuk pulang dan paman titip Fitri ya.."
"Iyaa paman, hati-hati: Maaf tidak bisa mengantar"
"Tidak apa adam.."
"Fitrii.,. Kamu baik-baik ya di sini.. telpon paman kalau ada apa-apa" Ucap Paman lagi pada Fitri.
"Iyaa paman.. terimakasih banyak.."
**
Tujuh hari telah berlalu sejak pemakaman Bu Rahma. Rumah bergaya minimalis itu kini terasa teramat lengang, seolah kehilangan seluruh nyawanya. Tidak ada lagi aroma teh hangat di pagi hari atau suara batuk halus yang biasa terdengar dari kamar utama. Hanya ada rasa sunyi yang mengendap tebal di setiap sudut ruangan, mempertegas jarak antara dua insan yang terikat status suami istri tanpa cinta.
Fitri berdiri di depan cermin kamar tamu, merapikan jilbab hitamnya yang bersahaja. Setelah mengambil cuti singkat untuk mengurus pemakaman dan tahlilan mertuanya, hari ini ia harus kembali ke rumah sakit untuk melanjutkan dinas koas. Tubuhnya masih terasa lelah, namun matanya yang dulu redup kini memancarkan keteguhan yang berbeda. Tanpa Bu Rahma, tak ada lagi alasan baginya untuk bertahan lebih lama di rumah ini.
Saat melangkah ke ruang tengah untuk mengambil tas ranselnya, Fitri melihat Adam duduk sendirian di meja makan. Pria itu tampak acak-acakan. Kemeja kerjanya sedikit kusut, dan lingkaran hitam tebal membingkai matanya. Di hadapannya melayang secangkir kopi dingin yang tak tersentuh.
Sejak malam kepergian ibunya, Adam berubah menjadi lebih diam. Bayang-bayang rasa bersalah terus menghantuinya setiap kali melihat sudut rumah yang dulu dipenuhi pengorbanan Fitri.
"Kamu... mau berangkat koas sekarang?" suara Adam memecah keheningan, terdengar parau dan agak ragu.
Fitri menghentikan langkahnya sebentar, menatap Adam tanpa ekspresi khusus. "Iya, Mas. Jadwal operan shif ku jam delapan pagi."
Adam menelan ludah gatal, ada canggung yang luar biasa dalam dadanya. Biasanya, Fitri akan menyajikan sarapan hangat atau setidaknya mengingatkan jadwal minum obatnya. Namun pagi ini, meja makan kosong melompong. Fitri bahkan tidak membuatkan kopi untuknya.
"Aku bisa antar kamu naik mobil," tawar Adam cepat, berdiri dari kursinya. "Lagian jalanan luar pasti macet jam segini."
Fitri menyunggingkan senyum tipis yang amat dingin, membuat Adam justru merasa makin berjarak. "Tidak perlu, Mas. Aku sudah pesan taksi online. Lagipula, kamu kan harus siap-siap kerja juga."
"Fitri, aku cuma mau bantu," cetus Adam, ada nada frustrasi yang terlintas halus dalam intonasinya. "Kenapa kamu sekarang bersikap seperti orang asing begitu?"
Fitri menatap Adam lurus, tatapan yang begitu jernih namun sanggup menembus pertahanan Adam. "Bukannya sejak awal kita memang orang asing yang terikat kertas perjanjian, Mas? Dulu ada Ibu yang menyatukan kita di rumah ini. Tapi sekarang... Ibu sudah tidak ada."
Adam membeku di tempatnya. Kata-kata itu meluncur tenang dari bibir Fitri, tetapi dampaknya bagaikan hantaman ombak yang meruntuhkan harga dirinya. Pria itu kehabisan kata-kata.
Ponsel Adam di atas meja mendadak bergetar nyaring. Layarnya menyala, menampilkan nama Rosa beserta pesan singkat yang menanyakan kapan Adam akan menjemputnya untuk pergi ke butik. Fitri sempat melirik layar itu sekilas, namun tak ada lagi raut cemburu atau kesedihan di wajahnya. Hanya ada kekosongan yang teramat sangar.
"Angkat saja telepon dari Rosa, Mas. Dia pasti sudah menunggu," kata Fitri santai sembari menyampirkan tas di bahunya. "Sisa waktu perjanjian kita tidak lama lagi. Kita tidak perlu pura-pura saling peduli hanya karena rasa bersalah."
Suara klakson taksi terdengar nyaring dari luar pagar rumah, menandakan jemputan Fitri telah tiba.
"Aku berangkat dulu, Mas. Assalamualaikum," pamit Fitri singkat tanpa menunggu jawaban. Ia melangkah keluar dengan mantap, menutup pintu depan dengan ketukan pelan yang menggemakan kehampaan.
Fiti berangkat dalam keadaan hampa dan kosong. Sesampainya di rumah sakit pun diantara fokus nya
"Fitriii.. Oh Fitri.. Kenapa sih? Hari ini kenapa kayaknya lemes sekali.." Ucap rekan kerja Fitri.
"Engga papa kok.. emang lagi mumet aja"
"Kudu semangat ya fit.,.. turut berduka cita atas meninggal nya mertua kamu"
"Iya makasih Sep.."
~Bersambung~
Jika Adam berharap pada Fitri ,itu berarti Adam sudah putus urat malunya.
jng mau balikan nnti apa lagi demi anak. jijik banget.
sekarang ngemis ngemis dulu sombong.