Dilara di cerai oleh Kevin karena wanita yang di cintai Kevin kembali.
Setelahnya Dilara melamar menjadi seorang baby sitter, dan di terima pada salah satu keluarga kaya. Dilara memang seorang sarjana, namun dia butuh pergi cepat dari rumah Kevin dan juga butuh tempat tinggal baru. intinya dia ingin lepas dari Kevin dan memulai hidup barunya.
namun, ternyata di rumah itu ada seorang tuan muda bernama Elian yang selalu membuat Dilara kesal dengan sikap dinginnya. lalu apakah pada akhirnya mereka akan saling suka? apa keluarganya akan setuju dengan hubungan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilara 28
"Sederhana?!" teriak Asha, suaranya melengking tinggi hingga memecah keheningan ruangan VIP tersebut. Matanya membelalak lebar, menatap Kevin dengan kombinasi rasa tidak percaya dan amarah yang meluap.
"Kamu bilang sederhana, Kevin?! Setelah semua yang aku korbankan demi kamu, kamu mau menikahi aku secara sederhana?!"
"Asha, tolong pelankan suaramu," bisik Kevin serak, matanya bergerak panik melirik ke arah pintu.
"Ini tempat umum."
"Aku tidak peduli!" bentak Asha seraya menghempaskan genggaman tangannya dari jemari Kevin. Ia berdiri dari kursinya, gaun sutra kremnya bergerak tajam mengikuti emosinya.
"Kamu sadar tidak apa yang baru saja kamu ucapkan?! Kamu menyamakan aku dengan wanita pembantu itu?! Kamu pikir aku wanita murah yang bisa kamu nikahi begitu saja tanpa penghormatan yang layak?!"
"Aku tidak pernah menyamakan kamu dengan siapapun, Asha!" tegas Kevin, ikut berdiri. Dadanya naik-turun menahan sesak.
"Tapi permintaan ini masuk akal atau tidak?! Logam mulia setengah kilo, apartemen di Kemang, satu set berlian... Dalam waktu kurang dari satu bulan?! Kamu pikir uangku tinggal memetik dari pohon?!"
"Kevin!" potong Bu Widya dengan nada sangat tajam, ikut bangkit dan menunjuk wajah Kevin dengan telunjuknya yang gemetar oleh amarah.
"Kurang ajar sekali kamu berbicara seperti itu di depan Tante! Kamu yang menyeret anak Tante kembali ke kehidupanmu! Kamu yang berjanji akan meratukannya setelah bercerai dari Dilara! Sekarang saat kami minta bukti keseriusanmu, kamu malah berhitung seperti pedagang pasar?!"
"Bukan berhitung, Tante!" pangkas Kevin frustrasi, meremas rambutnya sendiri.
"Arus kas perusahaan saya sedang ketat! Jika saya memaksakan menarik dana sebesar itu secara mendadak untuk mahar, operasional kantor saya bulan depan bisa terganggu! Kenapa kita tidak fokus menyelesaikan proses pengadilan dulu? Kenapa harus terburu-buru menuntut hal-hal yang di luar kesepakatan awal?!"
"Karena aku mau kepastian, Kevin!" teriak Asha. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, sebuah transisi kilat dari emosi meledak-ledak menuju drama keputusasaan yang biasa ia gunakan.
"Aku butuh bukti kalau kamu tidak sedang memikirkan wanita lain! Aku tahu kamu berubah sejak minggu lalu! Kamu dingin, kamu sering menghindar, dan sekarang kamu menolak memberikan mahar untukku!"
"Asha, aku tidak..."
"Cukup, Kevin! Cukup!" tangis Asha pecah seketika. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, tubuhnya terguncang hebat oleh isak tangis yang terdengar begitu memilukan.
"Aku kurang apa sama kamu...? Hiks... Aku bela-belain ditinggal di luar negeri dengan rasa sakitku... Aku kembali ke Indonesia cuma buat kamu... Tapi kamu malah memperlakukan aku dan Mamaku seperti pengemis yang minta-minta harta kamu... Hiks... Hikss..."
Bu Widya langsung merengkuh bahu putrinya, menatap Kevin dengan tatapan seolah pria itu adalah penjahat paling kejam di dunia.
"Lihat, Kevin! Lihat apa yang sudah kamu lakukan pada anak Tante! Asha sampai histeris begini karena keegoisanmu!"
"Asha... bukan begitu maksudku," cicit Kevin, rasa bersalah yang terbiasa ditanamkan padanya mendadak menyeruak kembali, melumpuhkan logika yang baru saja terbangun.
"Kalau kamu memang sudah tidak cinta sama aku, katakan!" raung Asha di balik pelukan ibunya, suaranya bergetar penuh kebohongan yang teruji ampuh.
"Katakan sekarang kalau kamu menyesal sudah talak Dilara! Biar pernikahan ini dibatalkan! Biar aku yang menanggung malu ditolak calon suami... biar aku yang pergi sekalian dari hidupmu!"
"Jangan bicara sembarangan, Sha!" Kevin panik. Bayangan skandal, kemarahan keluarganya sendiri, dan rasa bersalah atas 'pengorbanan' Asha membuat kepalanya serasa mau pecah.
"Tante tidak mau tahu, Kevin," sela Bu Widya dingin, membelai kepala Asha yang masih sesenggukan.
"Malam ini tidak ada keputusan yang berubah. Jika kamu memang pria berprestise dan menghargai Asha, kamu penuhi daftar mahar itu. Jika tidak... kamu sendiri yang jelaskan pada Papa Asha dan seluruh keluarga besar kami kenapa pernikahan ini batal."
Kevin membisu. Tenggorokannya terkunci rapat. Ia menatap Asha yang bersandar lemas di dada ibunya dengan air mata yang terus mengalir, lalu beralih menatap kertas berisi daftar mahar fantastis di atas meja.
Dulu, isak tangis Asha adalah hal yang paling menakutkan bagi Kevin, sesuatu yang sanggup membuatnya menyerahkan apa saja. Namun malam ini, di dalam ruangan VIP yang megah itu, melihat tangisan Asha dan tekanan Bu Widya justru melahirkan sebuah kelelahan yang amat pekat di dasar jiwanya, sebuah kesadaran menyiksa bahwa ia telah menukar ketenangan hidupnya bersama Dilara demi sebuah sangkar emas yang kini siap mencekiknya hingga mati.
Langkah kaki Kevin terasa amat berat saat melangkah masuk ke dalam rumah orang tuanya. Suasana rumah bernuansa klasik modern itu tampak tenang dan lengang. Jam dinding kayu di ruang tengah menunjukkan pukul sembilan malam.
Di ruang keluarga, sang ayah, Pak Hendra, duduk membaca koran bisnis dengan kacamata baca di ujung hidungnya. Sementara sang ibu, Bu Rina, sedang memotong buah apel di meja kaca. Begitu mendengar derak pintu dibuka, Bu Rina mendongak. Raut wajahnya yang semula tenang mendadak berubah dingin saat mendapati sosok putranya berdiri kaku di ambang pintu.
"Pulang juga kamu," tegur Bu Rina datar, meletakkan pisau buahnya ke atas piring porselen dengan denting keras.
"Mama pikir kamu sudah lupa jalan pulang ke rumah ini karena terlalu sibuk mengurus rencana pernikahan megahmu itu. Yang bahkan ststusmu di mata hukum saja masih sebagai suami dari Dilara sampai saat ini,"
Kevin menghembuskan napas lelah, berjalan mendekat lalu mencium tangan kedua orang tuanya. Pak Hendra hanya melirik sepintas dari balik korannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, memancarkan aura kekecewaan yang kental.
"Kevin mau bicara sama Mama dan Papa," bisik Kevin parau, menarik kursi di hadapan ibunya.
"Bicara soal apa lagi, Kev?" sela Pak Hendra, membalik lembaran korannya dengan suara agak kasar.
"Soal catering mewah? Soal gaun pengantin Asha? Atau soal tanggal resepsi yang kamu tentukan sendiri tanpa pernah berdiskusi dengan orang tuamu?"
"Pa..."
"Kevin," cut Bu Rina dengan intonasi tegas namun bergetar menahan amarah yang terpendam sejak beberapa minggu lalu.
"Sampai detik ini, Mama masih tidak habis pikir dengan jalan pikiranmu. Satu tahun kamu menikah dengan Dilara, rumah tangga kalian tenang, Dilara melayanimu dengan sangat baik, ramah pada orang tua, tidak pernah menuntut apa-apa. Lalu tiba-tiba, tanpa ada masalah berarti, kamu pulang membawa berita kalau kamu sudah menalak Dilara hanya karena Asha kembali?"
"Apa kamu tahu seberapa dalam rasa kecewa Mama dan Papa padamu? Kami tak pernah mengajarkan hal seperti ini padamu, Kevin! Jika kamu memang tak bisa menerima Dilara karena Asha, kenapa kamu memutuskan menikah dengan dia? Apa kamu fikir Dilara adalah robot atau boneka yang tak memiliki perasaan? Bahkan sampai saat ini dia tak mau bertemu dengan kami karena Mama yakin dia sangat terluka. Dia tidak punya siapa-siapa selain kita, Kevin!" Suar Bu Rina bergetar.
nikmatin harimu sama lampir pilihanmu 😛