Indonesia
NovelToon NovelToon
Kembali Pada Luka Yang Sama

Kembali Pada Luka Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Teen / Mengubah Takdir
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: MIKHACINTA

Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.

Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.

Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.

Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.

Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan Baru

Sepulang Adrian dari rumahku, aku melangkah gontai menuju kamar. Tubuhku terasa lelah, tetapi ada kepakan hangat yang terus berdesir halus di dalam dada. Aku merobohkan diri di atas kasur empuk, memeluk guling erat-erat, dan menatap langit-langit kamar yang mulai dipenuhi remang senja.

Sentuhan jemari Adrian di kepalaku, tatapan matanya yang teduh, hingga 4 kata sederhana yang diucapkannya di dapur tadi terus berputar berulang kali di kepalaku.

"Mas sayang sama Sera."

Aku memejamkan mata, menyembunyikan senyum yang mendadak terkembang begitu saja di bibirku. Belum pernah aku merasakan rasa aman yang seutuh ini. Adrian tak memaksaku untuk melompat ke dalam sebuah ikatan baru. Ia justru memberi waktu, membentangkan ruang yang begitu lapang agar aku bisa bernapas dan pulih sepenuhnya.

Bzzzt... Bzzzt...

Getaran ponsel di samping bantal membuyarkan lamunanku. Aku merogohnya cepat dan menemukan satu pesan masuk di layar:

"Sera, Mas udah sampai rumah ya. Jangan lupa dikunci pintunya."

Sudut bibirku makin terangkat membaca pesan singkat itu. Dengan jemari yang bergerak cepat, aku membalasnya:

"Iya, Mas. Udah Sera kunci dari tadi kok. Mas langsung istirahat ya."

Tak butuh waktu lama sampai balasan berikutnya tiba:

"Siap, Bos. Kamu juga istirahat, jangan bergadang."

"Iya, Mas Adrian."

"Selamat tidur, Sera."

Malam itu, pesan penutup darinya mengakhiri obrolan kami. Rasa bersalah dan kegusaran yang sempat melingkupiku akibat kedatangan Ray pagi tadi perlahan menguap tanpa sisa, digantikan oleh rasa hangat yang mengantar mataku makin berat. Hingga akhirnya, aku tertidur lelap dengan ponsel yang masih tergenggam erat di tangan.

***

Senin pagi menyapa dengan terik matahari yang sudah terasa menyengat sejak pukul tujuh. Lapangan sekolah dipenuhi oleh ribuan siswa yang berbaris rapi mengenakan seragam putih-abu lengkap dengan topi dan dasi untuk mengikuti upacara bendera.

Aku berdiri di barisan kelas bersisian dengan Celine. Mataku menyapu barisan depan, mencari sosok Kania teman sekelasku yang merupakan adik dari Adrian. Namun hingga pembina upacara naik ke atas mimbar, Kania tak kunjung kelihatan.

"Cel, lo liat Kania enggak?" bisikku pelan pada Celine.

Celine melirik ke arah barisan belakang lalu berbisik balik, "Pasti telat lagi tuh anak. Tadi pas gue baru masuk gerbang, dia lagi dideret di barisan terlambat sama Pak Edi."

Aku mengangguk paham. Dari kejauhan, kulihat Kania memang berdiri di barisan siswa terlambat dengan raut pasrah di bawah pengawasan guru piket.

Begitu bel tanda upacara selesai bergema, seluruh siswa berhamburan masuk ke dalam kelas. Aku menghampiri Kania di bangkunya yang berada di barisan terdepan. "Kamu terlambat lagi, Kan? Mas Adrian susah dibangunin, ya?" tanyaku.

Kania merapikan tasnya di atas meja seraya menjawab pertanyaanku dengan nada sedikit kesal namun tetap terdengar lembut. "Iya, Sera... Mas Adrian tuh begadang terus tiap malam. Kalau pagi ya susah banget dibanguninnya."

Aku sempat berpikir sejenak. Bukannya kemarin Adrian sempat bilang kalau Kania yang susah dibangunkan? Ternyata mereka berdua sama-sama saling tuduh.

Aku hanya tersenyum menggelengkan kepala, lalu berlalu menuju bangkuku di barisan tengah. Saat aku hendak mendaratkan tubuh di kursi, Dea yang duduk di depanku menoleh ke belakang menghadapku.

"Nanti pulang sekolah latihan di rumah Kania yang bener-bener ya, Ser. Rabu kan udah pelajaran Bu Rani. Soalnya besok gue enggak bisa ikut kerja kelompok, harus nemenin nyokap gue arisan," kataku Dea mengingatkan.

"Iya, De. Pulang sekolah kita langsung ke rumah Kania lagi kok," jawabku mengangguk paham.

***

Begitu bel pulang sekolah berbunyi, kami berenam: aku, Celine, Dea, Kania, Dini, dan Irma langsung berjalan bersama menuju depan gerbang sekolah. Kami naik angkot bersama-sama menuju rumah Kania. Di dalam angkot yang cukup padat, obrolan riuh diselingi canda tawa teman-teman terasa begitu hangat, sementara aku hanya tersenyum menikmati kebersamaan ini.

Sesampainya di rumah Kania, kami melepaskan sepatu di teras. Kali ini tak ada sapaan hangat dari dalam rumah; suasananya tampak sepi dan lengang. Aku juga tak melihat motor besar Adrian terparkir di halaman.

Kami naik dan duduk melingkar di karpet kamar Kania. Aku mengeluarkan gitar dari tasnya, lalu latihan pun dimulai. Jemariku memetik senar gitar, mengiringi bait-bait puisi yang kubacakan bersama Dea, disambung harmonisasi vokal Kania, Celine, Dini, dan Irma yang menyanyikan lagu Semua Tentang Kita milik Peterpan. Suasana di dalam kamar Kania terasa begitu hangat dan menyenangkan.

Celine yang sedang menyandarkan punggungnya di tepi kasur tiba-tiba menoleh ke arah Kania. "Kan, rumah elo sepi amat. Bunda ke mana?"

Kania yang sedang melipat lembaran kertas menengadah santai. "Oh, Bunda lagi ke rumah Tante Sela jenguk anaknya yang sakit sama Cila," jawab Kania, Cila adalah adik kecil Kania. "Kalau Ayah biasanya jam segini masih di bengkel," tambahnya.

"Kalau Mas Adrian?" tanya Celine dengan nada setengah menggoda.

"Mas Adrian kayaknya pergi sama Kak Sabrina deh. Soalnya tadi pagi pas Nia mau berangkat sekolah, ada Kak Sabrina datang ke sini. Untung aja ada dia, kalau enggak ada mah bisa-bisa Mas Adrian enggak bakal bangun," cerita Kania polos.

"Siapa tuh Sabrina?" celetuk Dea penasaran.

"Pacarnya," jawab Kania santai.

"Ngapain pacarnya pagi-pagi datang ke sini? Rajin amat," celetuk Dini.

"Nia denger sih Kak Sabrina baru pulang dari Lombok, mungkin kangen sama Mas Adrian... enggak tahu deh," tambah Nia santai.

Deg.

Duniaku serasa berhenti berputar detik itu juga.

Jemariku yang sedang berada di atas senar gitar mendadak membeku kaku. Suara riuh di dalam kamar mendadak lenyap dari pendengaranku, tergantikan oleh hantaman tajam yang menghancurkan dadaku.

"Sabrina dari Lombok? " tanyaku dalam hati. "Pantas saja beberapa hari belakangan ini Mas Adrian selalu bersamaku... ternyata cuma karena pacarnya lagi enggak ada."

Kata-kata Kania bergema berulang kali di kepalaku bagai petir di siang bolong. Bayangan selipan foto wanita cantik di dalam dompet Adrian yang sempat kulihat sekilas mendadak terbayang begitu jelas. Kalimat penegasan yang diucapkannya kemarin, "Mas enggak punya pacar, Sera" hingga empat kata manis yang diucapkannya di dapur rumahku sore itu... semuanya hancur berkeping-keping tanpa sisa.

"Sera? Kok berhenti main gitarnya?" tegur Dea heran melihat jemariku yang mendadak diam membisu di atas gitar.

Aku tersentak kaget, berusaha keras menetralkan gemetar di jemariku dan menyembunyikan binar mataku yang mendadak terasa amat panas. Aku menundukkan kepala dalam-dalam, berpura-pura membetulkan setelan kunci gitar untuk menyembunyikan raut wajahku yang mulai pucat.

Rasa kecewa, sesak, dan patah hati yang teramat dalam menghantamku tanpa ampun. Ternyata pengakuan tanpa janji yang diucapkannya kemarin hanyalah kepalsuan manis, dan aku... kembali jatuh pada rasa sakit yang sama.

1
yaya
ngerasa balik lagi ke masa SMA
Ardianto Nugraha
👍
Ana Maria
seruuu
Andari Nasution
semangat
Sri Wulandari
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!