Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Kultivasi Sandera

Sistem Kultivasi Sandera

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi Timur
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Sentuh Aku, Leluhurmu Tamat!

Lahir dengan meridian rapuh dan dijadikan samsak hidup oleh murid dalam sekte, Gu Ran membangkitkan sistem anomali yang menghubungkan nyawanya dengan figur terkuat dari siapa pun yang menindasnya. Semakin keras musuh mencoba melukainya, semakin sekarat leluhur tertinggi mereka sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Suara gelak tawa membahana memecah keheningan padang rumput perbatasan.

Tiga ribu prajurit Sekte Serigala Besi saling menyikut, menunjuk ke arah sosok pemuda kurus berambut putih yang melangkah tenang di atas rumput basah.

“Apakah Sekte Pedang Langit sudah kehabisan pendekar?!” teriak seorang perwira berperut buncit sambil memegangi perutnya yang terguncang tawa. “Mereka mengirim bocah kurus bersandal jerami untuk menghadapi tiga ribu pedang kita!”

Jenderal Tie Lang menarik tali kekang serigala hitamnya, membuat binatang buas itu berhenti tepat sepuluh langkah di depan Gu Ran.

Mata kuning sang serigala menatap Gu Ran dengan dengusan napas panas yang mengepulkan uap putih.

Tie Lang melompat turun dari pelana kulit. Sepatu bot bajanya menghantam tanah berkerikil dengan dentuman berat.

“Siapa kau, bocah?” tanya Tie Lang dengan suara serak menggelegar. “Di mana Song Tianhe? Mengapa klan Song mengirim pelayan kurus sepertimu untuk menemui kematian?”

Gu Ran menghentikan langkahnya. Ia menutup kipas bambu di tangannya dengan bunyi krak pelan, lalu menyelipkannya ke lipatan sabuk kain pinggang.

“Song Tianhe sedang sibuk mencemaskan reputasi sektenya di atas benteng,” jawab Gu Ran santai. “Aku datang ke sini hanya ingin minta tolong agar kalian tidak terlalu ribut. Suara teriakan kalian mengganggu waktu sarapan pagiku.”

Wajah Tie Lang menggelap seketika. Urat-urat hijau di lehernya yang kekar menonjol tebal.

“Bocah kurang ajar,” desis Tie Lang penuh amarah. “Kau pikir ini pasar sayur tempatmu bisa mengoceh sesuka hati?!”

WUSSS!

Tie Lang menghentakkan tombak bermata gandanya ke depan.

Ujung tombak yang dialiri kobaran api merah menyengat melesat maju, berhenti tepat satu inci di depan tenggorokan Gu Ran.

Hawa panas dari bara api membakar beberapa helai rambut putih di dada Gu Ran. Bau belerang dan minyak pembakar menyengat hidung.

Di celah pintu gerbang besi yang terbuka sedikit, Song Ming yang mengintip dari balik daun pintu seketika menjerit melengking bagai anak babi terjepit.

“J-Jenderal Tie! Jangan tusuk! Jangan digores sedikit pun!” raung Song Ming dengan air mata membasahi pipinya yang pucat. “Kalau kau mau tambang batu roh, ambil saja semuanya! Jangan sentuh leher Tuan Muda Gu!”

Di atas dinding benteng, Song Tianhe meremas pagar pembatas batu kapur hingga bongkahan batu itu remuk menjadi serpihan debu. Jantung sang Patriark serasa berhenti berdetak.

Tie Lang melirik ke arah gerbang dengan seringai puas.

“Rupanya kau anak emas klan Song yang disembunyikan itu,” kata Tie Lang seraya menatap Gu Ran dengan tatapan merendahkan. “Bagus. Jika Song Tianhe begitu takut kehilanganmu, aku akan memenggal kepalamu terlebih dahulu dan melemparnya ke atas benteng!”

Otot lengan Tie Lang menegang. Ujung tombak api itu bergetar siap menembus jakun Gu Ran.

Namun Gu Ran sama sekali tidak mundur.

Pemuda itu bahkan tidak memejamkan mata. Sorot matanya yang kelabu tetap tenang bagai genangan air mati.

Gu Ran justru melangkah maju setengah tapak, mendekatkan kulit lehernya ke bilah tombak yang membara.

Ujung logam runcing itu menyentuh lapisan terluar kulit leher Gu Ran, meninggalkan garis merah tipis yang terasa perih menggelitik.

Gu Ran mengangkat tangan kirinya, lalu mengetuk leher bagian kirinya dua kali dengan jari telunjuk.

“Agak ke bawah sedikit, Jenderal,” kata Gu Ran dengan nada datar tanpa nada gentar sedikit pun. “Di sebelah sini ada urat nadi besar. Kalau kau tusuk di situ, darahnya akan menyembur lebih lancar.”

Tie Lang mematung sesaat, tertegun oleh reaksi pemuda di hadapannya.

Gu Ran menguap kecil, lalu menambahkan dengan suara pelan: “Pegang tombakmu yang lurus. Kalau tusukanmu meleset dan hanya membuatku terluka sedikit, kakek buyutku di dalam gua akan sangat marah padamu.”

1
Selarik Syarah
system model baru, menarik utk di baca
Rayzent
🔥👀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!