Cassandra—gadis rebel yang kerap disalahpahami—terjebak dalam rasa yang salah. Ia jatuh cinta pada Narendra, pria hangat yang ironisnya adalah kekasih rival bebuyutannya, Anggita.
Didasari dendam lama dan perasaan yang makin membara, Cassandra nekat menyusun rencana untuk merebut Narendra. Namun, semakin ia melangkah jauh, batas antara obsesi dan cinta sejati kian kabur.
Mampukah Cassandra memenangkan hati Narendra, atau akankah obsesi ini justru menghancurkan mereka semua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 15 Menit Menuju Kehancuran
Gerimis yang membasahi pelataran rumah megah itu perlahan berubah menjadi rintik yang lebih lebat. Jam dinding di kamar Cassandra terus memakan detik tanpa belas kasih. Menunjukkan pukul 23.46 WIB. Terhitung kurang dari empat belas menit sebelum bom waktu yang dipegang Baskoro meledak.
Dari balik jendela lantai dua, Cassandra berdiri mematung. Matanya terpaku pada sosok Narendra yang berdiri berselimut dingin di bawah siraman air hujan. Bajunya basah kuyup. Memeluk buket bunga dan kotak kue kecil agar tidak terkena air.
Tatapan cowok itu lurus ke atas. Dipenuhi kesetiaan yang teramat polos dan tulus. Dada Cassandra serasa dihantam pukulan telak yang membuat napasnya sesak.
"Kenapa lu harus sedatang ini, Ren? Kenapa lu harus sebaik ini sama cewek penjahat kayak gue?" batin Cassandra merintih.
Jika ia membiarkan Narendra bertahan di sana, cowok itu bukan hanya akan sakit karena kedinginan, tetapi juga akan menyaksikan secara langsung saat Baskoro menyebarkan rahasia kelam Cassandra ke seluruh sekolah. Tepat pada tengah malam. Namun, jika ia turun dan menyuruh Narendra pergi, ia harus berhadapan langsung dengan tatapan mata yang penuh kasih itu untuk terakhir kalinya.
Dengan jemari yang gemetar hebat, Cassandra mematikan lampu kamarnya agar Narendra menyangka ia sudah tidur. Namun, Narendra di bawah sana justru mengusap wajahnya yang basah oleh air hujan, lalu berteriak pelan memotong keheningan malam.
"Cas! Gue tahu lu belum tidur!" suara Narendra terdengar samar menembus dinding kaca, sedikit serak karena dingin. "Gue enggak peduli soal masa lalu lu, atau rahasia apa pun yang bikin lu takut! Gue cuma mau memastikan lu enggak sendirian menghadapi ini semua!"
Kata-kata itu bagaikan sembilu yang menyayat hati Cassandra hingga berdarah. Ketulusan Narendra adalah racun paling mematikan bagi nurani Cassandra yang selama ini membeku.
Cassandra berbalik, menatap dua koper besar yang sudah terkemas rapi di sudut kamar, lalu melirik ponselnya.
Sebuah pesan pengingat otomatis dari aplikasi penerbangan muncul di layar: Penerbangan LN-402 ke London stanby pukul 07.00 WIB.
Pukul 23.49 WIB.
Cassandra tidak punya pilihan lain. Ia harus mengusir Narendra malam ini. Demi menyelamatkan cowok itu dari rasa hancur yang lebih dalam.
Dengan menguatkan hatinya, Cassandra melangkah keluar kamar. Merapatkan jaketnya dan turun menuruni tangga rumahnya yang sepi. Setiap pijakan langkahnya terasa berat, seolah-olah ia sedang berjalan menuju panggung eksekusinya sendiri.
Ia membuka pintu depan yang besar, lalu berjalan menembus hujan gerimis mendekati gerbang besi rumahnya.
Narendra tersenyum lebar ketika melihat Cassandra berjalan mendekat. Ia buru-buru menyodorkan buket bunga dan kotak kue yang diusahakannya tetap kering di balik jaketnya.
"Cas! Gue kira lu—"
"Pergi, Narendra," pangkas Cassandra cepat.
Suaranya tidak dingin seperti biasa, melainkan datar, hampa, dan sangat asing. Cassandra sengaja mematikan seluruh ekspresi di wajahnya. Memasang topeng paling kejam yang pernah ia miliki.
Tangan Narendra yang sedang mengulurkan bunga mendadak membeku di udara. Senyum di wajahnya perlahan luntur. Berganti dengan raut bingung.
"Cas... lu ngomong apa? Gue cuma mau—"
"Gue bilang pergi!" bentak Cassandra, menyenggol buket bunga di tangan Narendra hingga jatuh ke tanah yang becek. Kotak kue di tangan cowok itu ikut terlepas, hancur berantakan di atas semen yang basah.
Narendra terperanjat. Ia menatap makanan yang hancur di bawah kakinya, lalu menatap mata Cassandra. Tak ada air mata di sana—Cassandra telah menahannya sekuat tenaga di dalam kelopak matanya agar tidak jatuh di depan Narendra.
"Kenapa lu begini, Cas?" tanya Narendra, suaranya bergetar hebat.
Rasa sakit yang mendalam mulai merayap di dadanya. "Kalau ada masalah, cerita sama gue. Jangan usir gue kayak gini."
"Lu mau tahu masalahnya apa?" Cassandra tertawa sinis, sebuah tawa buatan yang terasa sangat pahit di tenggorokannya sendiri.
"Masalahnya itu lu, Narendra! Gue muak lihat lu terus-terusan berakting jadi pahlawan di hidup gue!"
"Cas..."
"Lu pikir gue butuh dilindungi sama cowok naif kayak lu?" Cassandra melangkah satu titik mendekati gerbang besi, menatap Narendra tepat di matanya dengan pandangan meremehkan.
"Lu tuh gampang banget dimanipulasi, Ren. Lu mau tahu alasan kenapa gue mau dekat sama lu dari awal? Cuma karena gue butuh tameng buat nyingkirin Anggita dan bikin posisi gue aman di sekolah baru ini!"
Narendra menggelengkan kepala, mundur satu langkah seolah-olah baru saja dihantam kenyataan yang sangat pahit. "Enggak... lu bohong, kan? Waktu di atap sekolah, waktu di bawah hujan kemarin, itu bukan manipulasi, Cas. Gue bisa ngerasainnya!"
"Itu cuma akting, Narendra!" jerit Cassandra, menyuntikkan nada kejam yang sanggup meremukkan hati siapa pun yang mendengarnya.
"Gue cuma manfaatin rasa kasihan lu! Dan sekarang, Anggita udah hancur, tujuan gue udah selesai. Gue enggak butuh lu lagi di hidup gue. Jadi tolong, stop datang ke rumah gue dan stop bersikap sok peduli!"
Suasana di depan gerbang seketika berubah menjadi keheningan yang menyiksa. Hanya ada suara rintik hujan yang jatuh menimpa dedaunan dan napas Narendra yang memburu.
Mata Narendra yang biasanya memancarkan kehangatan kini meredup sepenuhnya. Air mata bercampur air hujan mengalir di pipi cowok itu.
Keretakan di hatinya terlihat begitu nyata dari raut wajahnya yang hancur berkeping-keping.
"Jadi... selama ini gue cuma alat buat lu?" bisik Narendra dengan suara yang hampir tak terdengar, runtuh oleh rasa kecewa yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya.
Cassandra memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia tidak sanggup lagi menatap kerusakan yang baru saja ia ciptakan pada jiwa cowok yang dicintainya. "Iya. Jadi sekarang, pergi dari rumah gue. Jangan pernah muncul di hadapan gue lagi."
Narendra menatap Cassandra dalam diam selama beberapa detik. Detik-detik paling menyiksa dalam hidup mereka berdua. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Narendra berbalik dengan langkah gontai. Cowok itu menaiki motornya, menyalakan mesin, dan melaju pergi menembus kegelapan malam tanpa memutar tubuhnya kembali.
Begitu deru mesin motor Narendra menghilang di ujung jalan, pertahanan Cassandra hancur total. Ia luruh berlutut di atas tanah pekarangan yang basah, persis di samping buket bunga yang telah rusak dan kotor. Cassandra meremas dadanya yang terasa sangat sesak, membiarkan tangisnya pecah meraung di bawah siraman hujan malam.
Ia telah berhasil mengusir Narendra dan menyelamatkan cowok itu dari kebenaran yang lebih mengerikan, tetapi ia juga baru saja membunuh separuh jiwanya sendiri.
Ponsel di dalam jaketnya bergetar.
Pukul 23.58 WIB.
Sebuah pesan dari Baskoro masuk:
Baskoro: "Pilihan yang sangat profesional, Cassandra. Kirimkan bukti surat pengunduran dirimu sekarang, dan seluruh utang keluargamu akan lunas malam ini."
Dengan tangan yang gemetar dan pandangan yang buram oleh air mata, Cassandra mengambil gambar surat pengunduran diri yang telah ia tanda tangani dan mengembangkannya via email ke pihak sekolah serta melampirkannya ke nomor Baskoro.
Beberapa detik kemudian, sebuah notifikasi balasan otomatis masuk dari sistem perbankan ayah Cassandra: Status Bebas Utang dan Pembatalan Sita Aset Telah Disetujui.
Permainan telah berakhir. Ia menang secara finansial, tetapi kalah secara utuh sebagai manusia.
Pukul 04.30 WIB.
Dini hari yang dingin dan berkabut. Cassandra berdiri di dalam kamarnya yang kini sudah kosong melompong. Dinding-dinding kamar megah itu terasa asing.
Sebuah mobil sedan hitam utusan Baskoro sudah terparkir di depan gerbang untuk membawanya ke Bandara Soekarno-Hatta. Supir pribadi telah mengangkut dua koper besarnya ke dalam bagasi.
Cassandra mengenakan mantel tebalnya, memegang gantungan kunci kayu yang belum sempat ia serahkan kembali pada Narendra. Ia berniat meninggalkannya di atas meja belajar sebagai satu-satunya kenang-kenangan yang jujur dari hatinya.
Namun, saat ia hendak melangkah keluar kamar, suara benturan keras dan teriakan hiruk-pikuk mendadak terdengar dari arah lantai bawah rumahnya.
BRAK!
"Cari cewek itu! Pastikan dia tidak meninggalkan rumah ini!"
Cassandra terperanjat kaget. Suara itu bukan suara supir penjemput dari Baskoro. Itu suara beberapa pria berwibawa berat dengan nada yang sangat intimidatif dan terburu-buru.
Jantung Cassandra kembali berdetak kencang. Dengan perlahan dan waspada, ia mengintip dari celah balkon lantai dua yang mengarah langsung ke area ruang tamu utama.
Di bawah sana, empat orang pria berjas hitam lengkap dengan tanda pengenal kepolisian dan kejaksaan tinggi sedang menggeledah ruang tamu. Dan, di tengah-tengah mereka, berdiri sosok pria lain yang diborgol tangannya ke belakang—seorang pria paruh baya yang wajahnya sangat dikenal Cassandra.
Itu adalah Baskoro.
Pria yang beberapa jam lalu mengintimidasinya kini tampak pucat pasi, pakaian jas mewahnya kusut, dan matanya memancarkan kepanikan yang luar biasa.
"Anda berhak diam, Pak Baskoro!" tegas salah satu petugas kejaksaan seraya menunjukkan dokumen penangkapan resmi. "Anda resmi ditahan atas dugaan tindak pidana korupsi skala nasional, pencucian uang, dan peretasan data rahasia negara yang baru saja terbongkar satu jam lalu!"
Cassandra melebarkan matanya.
Baskoro ditangkap? Bagaimana mungkin pengusaha sekelas Baskoro yang memegang kontrol penuh bisa jatuh hanya dalam hitungan jam?
Tiba-tiba, langkah kaki terburu-buru terdengar menaiki tangga menuju lantai dua.
Cassandra memutar tubuhnya hendak berlari menuju pintu belakang kamar. Namun seorang cowok berdiri di ambang pintu kamarnya. Terengah-engah dengan napas memburu dan pakaian yang masih sedikit basah sisa hujan semalam.
Cassandra terpaku di tempatnya.
Bukan petugas polisi yang berdiri di depan kamarnya. Melainkan Narendra.
Namun, penampilan Narendra saat ini sangat berbeda. Di tangannya, Narendra memegang sebuah laptop militer berwarna hitam yang masih menyala, menampilkan ribuan baris kode peretasan (hacking) dan dokumen enkripsi tingkat tinggi yang digunakan untuk membongkar seluruh kejahatan finansial ayahnya sendiri, kepada pihak kepolisian malam ini.
Mata Narendra yang semalam redup karena terluka, kini menyala dengan amarah dan kepedihan yang teramat sangat. Cowok itu melangkah masuk ke kamar Cassandra, menatap dua koper di sudut ruangan. Lalu menatap lurus ke dalam mata Cassandra.
"Jadi ini alasan sebenarnya lu ngusir gue semalam, Cas?" suara Narendra terdengar bergetar hebat.
Ia memegang laptop di tangannya dengan buku-buku jari yang memutih. "Bukan karena lu manfaatin gue... tapi karena bokap gue ngancam lu pakai masa lalu keluarga lu, kan?!"
Cassandra membeku. Lidahnya benar-benar kaku. Ia tidak pernah menyangka bahwa Narendra, cowok yang selama ini tampak polos dan idealis, ternyata adalah seorang hacker jenius yang secara diam-diam membongkar seluruh kejahatan ayahnya sendiri demi melindunginya.
Narendra melangkah makin mendekat. Menyudutkan Cassandra hingga punggung cewek itu menempel pada dinding kamar.
"Gue udah periksa server pribadi bokap gue semalam setelah lu usir gue, Cas," bisik Narendra tepat di depan wajah Cassandra.
Suaranya pecah oleh rasa sakit yang luar biasa. "Gue temukan seluruh berkas ancaman dia ke lu... dan gue juga temukan berkas peretasan data sekolah yang lu lakukan empat bulan lalu."
Narendra menatap mata Cassandra dengan tatapan yang sanggup meremukkan jantung.
"Jawab jujur pertanyaan gue sekarang, Cassandra..." suara Narendra berubah menjadi sangat dingin dan menusuk.
"Apakah dari detik pertama lu masuk ke hidup gue... gue ini cuma target pembalasan dendam lu ke bokap gue?"