( upload dalam seminggu 5 sampe 6 kali )
( jam upload 5 sore )
The Artefact of the Past and the Chosen One's Destiny
Setiap seratus tahun, sebuah fenomena misterius bernama Divine Moon muncul di langit.
Setiap kali cahaya bulan tersebut muncul, empat anak terpilih lahir ke dunia. Mereka ditakdirkan menjadi penjaga Ancient Artifacts, peninggalan suci yang menjaga keseimbangan seluruh alam semesta.
Ater. Mala. Angis. Evir.
Empat anak. Empat kekuatan elemen. Satu takdir.
Namun, takdir tidak pernah mudah bagi mereka yang mewarisi dosa masa lalu.
Enam ratus lima puluh tahun sebelumnya, Sora adalah salah satu penjaga terhebat yang pernah dimiliki alam semesta. Dicintai oleh rakyatnya dan mengabdikan hidupnya untuk melindungi Ancient Artifacts, ia berdiri bersama Zeo, sahabat terdekatnya yang telah ia anggap seperti saudara.
Kemudian semuanya berubah.
Cinta yang seharusnya menjadi cahaya berubah menjadi tragedi.
Sebuah kehilangan menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARDICK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
{Chapter 14 }:{secret journey }
Setiap tindakan akan membawamu dan memengaruhi kehidupanmu. Penyesalan dan pengakuan salah di waktu yang kini sudah berbeda tak akan mengubah apa pun. Meski kita membayarnya dengan tetesan darah.
Di sisi lain, Zeo melihat Iles menangis dan segera menghampirinya.
“Ada apa, Iles? Apa yang membuatmu menangis?”
Iles menundukkan wajahnya. Bibirnya bergetar sebelum akhirnya ia berkata,
“Aku sangat menyesal... aku benar-benar menyesal.”
Zeo terdiam sesaat. Alisnya sedikit mengernyit.
“Apa maksudmu, Iles?”
Namun Iles tidak menjawab. Ia langsung pergi, meninggalkan Zeo dengan pertanyaan yang semakin besar.
Zeo memandang kepergiannya.
“Mungkin Iles hanya bersedih karena melihat bangsanya tak seperti dulu.”
Ia menarik napas panjang, lalu kembali memikirkan apa yang harus dilakukan.
“Sudahlah. Aku harus melanjutkan mencari cara agar semua ini berakhir.”
Zeo kembali mencari petunjuk agar alam ini dapat membaik.
Beberapa jam berlalu, tetapi tidak ada satu pun petunjuk yang ia temukan.
Tiba-tiba, Zeo teringat sesuatu.
“Aku ingat... di Artefak Kuno ada buku dan kitab tentang awal mula penciptaan.”
Raut wajahnya yang sebelumnya dipenuhi kelelahan perlahan berubah. Bibirnya membentuk senyum kecil penuh harap.
“Mungkinkah masalah ini akan cepat selesai? Aku harus ke sana.”
Dengan penuh harap, ia menuju Artefak Kuno. Angin yang menerpa tubuhnya saat berlari sedikit menyejukkan pikirannya.
“Akhirnya aku sampai juga.”
Zeo segera membuka satu per satu buku.
Namun semakin lama ia membaca, semakin berat tatapannya.
“Aku sudah membaca buku dan kitab... tetapi masih tidak ada satu pun yang menjelaskan tentang kekuatan yang Sora pakai.”
Zeo telah membaca 185 buku dan kitab kuno. Beberapa di antaranya memiliki bab yang sangat panjang, bahkan mencapai 5.000 bab.
Ia menutup salah satu buku dengan lelah.
“Alam semesta... bila masih ada kesempatan, kembalikanlah ini seperti semula. Aku mohon, berikan aku petunjuk.”
Zeo kembali membuka buku berikutnya.
Satu demi satu halaman ia baca. Namun, penawar dari kekuatan Sora tetap tidak ditemukan.
Raut wajah Zeo semakin tegang. Alisnya mengerut, napasnya mulai berat. Keringat perlahan membasahi tubuhnya.
“Aku lelah... apa yang sebenarnya terjadi?”
Ia menekan pelipisnya.
“Apa kekuatan yang Sora pakai?”
Napasnya terdengar semakin berat.
“Aku sangat lelah... aku mohon, berikan aku petunjuk.”
Pada akhirnya, tubuh Zeo tidak mampu bertahan lagi. Ia tertidur di antara tumpukan buku dan kitab.
Dalam lelapnya, Zeo bermimpi Sora membangunkannya.
“Zeo, ayo kita melanjutkan mencari jalan keluar dari ini semua.”
Zeo hanya terdiam. Tatapannya tertuju pada sosok di hadapannya.
“Apa ini kau, Sora?”
“Ya, ini aku.”
“Bila benar ini kau, Sora, beri tahu aku kekuatan apa yang kau pakai dan apa penawarnya. Aku mohon, beritahu aku.”
Sora hanya menatapnya.
“Kau akan mengetahuinya di tempat yang kau tahu sendiri.”
Lalu Sora pergi dengan cepat.
“Tunggu!”
Zeo berlari mengejarnya.
Sesampainya di luar Artefak Kuno, Zeo terus mengejar Sora.
“Aku mohon berhenti, Sora! Beri tahu aku!”
Sora berhenti dan perlahan membalikkan tubuhnya.
“Kau ingin tahu, Zeo?”
Saat Zeo menatapnya, tiba-tiba api yang sangat besar muncul dari tubuh Sora, seperti hendak melahap Zeo.
“Tidak, Sora!”
Zeo langsung terbangun.
Dadanya terasa dingin. Detak jantungnya berpacu begitu cepat. Keringat membasahi dahi dan lehernya.
Di sisi lain, Iles masih mencoba menggunakan kekuatan dewinyanya untuk menghidupkan tumbuhan.
Ia memejamkan mata dan memusatkan seluruh kekuatannya.
“Aku harus memperbaiki setidaknya sedikit dari alam ini.”
Tekanan dan kekuatan yang begitu besar akhirnya membuat tumbuhan kembali hidup.
Perlahan, negeri demi negeri mulai kembali hijau.
Iles membuka matanya. Senyum kecil muncul di wajahnya.
“Akhirnya... aku berhasil. Terima kasih, alam.”
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Tumbuhan yang baru saja hidup mulai mengering dengan sangat cepat.
Mata Iles membesar.
“Tidak! Jangan sampai ini kembali lagi menjadi gersang!”
Iles segera mengerahkan kekuatannya. Ia mengunci dinding-dinding teras untuk menjaga agar tumbuhan tetap hidup.
Napasnya terengah-engah, tetapi ia tidak berhenti.
“Aku harus menyelamatkan tumbuhan ini.”
Setelah berhasil mempertahankannya, Iles pergi menuju Artefak Kuno menggunakan Burung Api.
“Burung Api, aku ingin bertanya. Adakah cara untuk mengakhiri ini semua dengan cepat?”
Burung Api menjawab singkat,
“Inti Artefak.”
Iles mengerutkan kening.
“Maksudmu apa, Burung Api? Aku tidak memahami apa yang kamu katakan.”
Namun Burung Api tidak menjelaskan lagi.
Tak lama kemudian, mereka sampai di Artefak Kuno. Burung Api berhenti dan langsung pergi.
“Tunggu, Burung Api! Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan!”
Namun Burung Api tidak mendengarkannya.
Akhirnya, Iles masuk ke dalam Artefak Kuno.
Sesampainya di dalam, ia melihat Zeo sedang membaca begitu banyak buku dan kitab.
“Zeo, ada apa? Apa yang sedang kau lakukan dengan kitab-kitab ini?”
“Aku sedang mencari petunjuk agar kita dan semua alam bisa keluar dari semua ini.”
“Apa kau sudah menemukannya, Zeo?”
“Belum, Iles.”
Zeo menunjuk sebuah peti.
“Aku ingin kau membuka peti itu, karena elemen Api yang dapat membukanya.”
“Baik. Aku akan mencoba membukanya.”
Iles mendekati peti tersebut dan menggunakan kekuatan Apinya.
Seketika, peti itu terbuka.
Di dalamnya terdapat sebuah buku yang sangat tebal.
Zeo segera mengambilnya dan mulai membaca.
Ia terus membalik halaman demi halaman.
Hingga akhirnya, ia sampai pada halaman 650 bab.
Mata Zeo tiba-tiba membesar.
“Akhirnya, Iles! Jawaban ini aku temui!”
Senyum penuh harap muncul di wajahnya.
Namun ketika Zeo membaca bagian syaratnya, senyum itu perlahan menghilang.
Tangannya berhenti di atas halaman.
“Apa ini, Iles?”
Zeo menatap Iles.
“Syarat ini memiliki harga yang cukup mahal.”
Iles terdiam.
Mata keduanya saling menatap.
jangan putus di tengah jalan ya💪💪💪
buat yang mau baca mampir
💪💗💗
dan maaf bilah kurang haku
ayo teman teman kita dukung setiap ada karya baru. biar mereka bisa berkembang dalam setiap langkah nya . dan meningkatkan alur cerita nya