Setelah kehilangan ayah dan melihat ibunya terbaring koma, Karissa justru dikhianati oleh Louis, kekasihnya sendiri, yang berselingkuh dengan sahabatnya.
Dalam amarah dan rasa kecewa, Karissa mengambil keputusan nekat—menikahi ayah Louis.
Kini Karissa bukan lagi kekasih Louis, melainkan ibu tirinya.
Namun tinggal serumah dengan pria yang pernah dicintainya ternyata jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan. Louis membencinya, tetapi di saat yang sama, ia juga tidak rela kehilangan Karissa.
Karissa ingin membalas dendam. Tapi tanpa sadar, ia justru terjebak dalam permainan cinta yang ia mulai sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tusya Ryma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Menjaga Jarak
Malam semakin larut, Karissa duduk di samping Tuan Lee di depan api unggun. Ia memeluk kedua lututnya sambil membenamkan wajahnya di kaki.
"Kariss, ngantuk, ya?" tanya Tuan Lee dengan suara lembut. Ia menunduk, melihat Karissa dari dekat.
"Hemm!" Karissa mengiyakan, namun tidak mengangkat wajahnya. Matanya terpejam, setengah tertidur.
"Pindah ke tenda saja, di sini dingin," ucap Tuan Lee sambil menarik pelan lengan Karissa, meminta wanita itu untuk bangun.
"Tidak!" tolaknya.
"Di sini saja, lebih hangat! Kau duluan saja ke tenda, nanti aku menyusul!"
"Baiklah! Aku duluan, ya!" Tuan Lee segera bangkit berdiri, mengelus punggung Karissa sebentar, lalu pergi ke tenda.
Tuan Lee tidak kuat bergadang lagi, karena besok pagi dirinya harus pulang. Ada beberapa hal yang harus ia kerjakan di rumah walau besok hari libur.
Karissa sendirian di depan api unggun yang masih menyala, tertidur dengan memeluk kedua lututnya.
Pukul lima pagi, hawa dingin semakin menusuk. Api unggun pun sudah mulai padam, hanya tinggal arang yang masih sedikit menyala, tidak bisa membuat orang merasa hangat.
Karissa meringkuk di atas tikar tipis hanya memakai jaket tebal dan celana panjang saja. Rasa dingin itu segera menusuk ke tulang belulang di tubuhnya.
Ketika sedang menggigil karena dingin, tiba-tiba tubuhnya terasa sangat ringan. Detik berikutnya, ia melayang di udara. Ketika membuka mata, wajah Louis sudah ada di hadapannya. Walau cahaya di sana sangat redup, ia masih bisa melihat wajah pria itu dengan sangat jelas.
"Apa yang sedang kau lakukan? Turunkan aku!" sergah Karissa tiba-tiba.
Ia membuka mata dan memberontak, berusaha untuk turun dari pangkuannya.
"Diamlah!" Pria itu tidak mendengar penolakan Karissa.
Louis terus berjalan sambil membawa Karissa pergi.
"Hey, kau mau membawa aku ke mana? Aku tidak mau ikut denganmu!" tolak Karissa dengan tajam. Sama sekali tidak bersikap ramah pada pria ini.
Louis masih berjalan, memeluk Karissa dengan erat. Tidak menjawab ucapanya.
Ternyata Louis membawa wanita itu ke tempat parkir, lalu menghampiri mobilnya dan memasukkan Karissa ke dalam kursi depan samping pengemudi. Ia memakaikan Karissa sabuk pengaman, lalu menutup pintu mobil. Semua gerakan itu ia lakukan dengan cepat, tanpa berbicara sepatah kata pun.
Di dalam mobil, Karissa duduk dengan kesal. Ia enggan untuk berbicara dengan pria itu, apalagi duduk berdua di dalam mobil seperti ini. Tapi, ketika dirinya akan membuka sabuk pengaman dan turun dari mobil, Louis segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
Melihat mobil sudah mulai berjalan, Karissa hanya bisa duduk patuh sambil menatapnya dengan tajam.
"Apa kau tidak mendengarku? Aku tidak ingin pergi denganmu!" sergah Karissa dengan tatapan tidak suka.
"Kita akan pulang!" jawabnya dengan singkat. Tidak kesal ataupun marah.
"Hah, pulang?" cibir Karissa. "Kalau kau ingin pulang, pulang saja sendiri! Kenapa harus mengajak aku?"
"Kariss!" Louis menoleh ke arahnya. "Aku membawamu pulang agar kau bisa tidur nyenyak di rumah. Apa aku salah?"
"Ya, kau salah!" bentaknya. "Aku tadi sedang tidur nyenyak, kau malah menggangguku!"
"Karissa!" Louis mengeratkan gigi. Menarik napas panjang lalu mencoba untuk tenang.
Terus berdebat dengan wanita yang sedang marah ini tidak akan ada akhirnya.
Louis segera menutup mulutnya dengan rapat, duduk tenang sambil mengemudikan mobil menuju pusat kota. Menghiraukan tatapan tajam dari wanita di sampingnya.
Matahari sudah mulai muncul. Wanita yang duduk di samping pengemudi sudah tertidur cukup pulas. Walau tadi menolak untuk ikut dengan Louis, lama-kelamaan dia tertidur juga karena masih sangat mengantuk.
Tiba di rumah, Louis segera membawa Karissa masuk ke dalam tanpa membangunkannya. Ia menidurkan Karissa di kamar milik Tuan Lee. Ia pun segera memberitahu ayahnya kalau dirinya dan Karissa sudah pulang.
Louis tahu, saat ini wanita yang sedang tidur itu marah pada dirinya. Tapi, ia tidak bisa menjelaskan apapun pada Karissa, karena wanita ini pasti tidak akan percaya dengan apa yang ia katakan. Walau bilang, "Tidak terjadi apa-apa antara dirinya dengan Marine," pun, Karissa tetap tidak akan percaya.
Pukul sebelas siang, Karissa terbangun karena suara pintu kamar yang terbuka. Tuan Lee masuk dan melihat Karissa masih berbaring di tempat tidur.
"Tadi, kau pulang sama Louis, ya?" tanya Tuan Lee sambil berjalan masuk ke dalam kamar dan menghampiri Karissa.
"Hemmh!" Wanita itu mengangguk.
Karissa mengucek matanya sebentar, lalu bangkit dan duduk di atas tempat tidur.
"Kariss!" Tiba-tiba Tuan Lee mulai serius. Ia duduk di sampingnya, lalu berkata, "Apa kau dan Louis sebelumnya sudah saling mengenal?"
"Hah?" Karissa terkejut mendengar Tuan Lee bertanya tentang hal itu. "A-aku ... aku ti-tidak mengenal Louis!"
"Kenapa bertanya tentang hal itu?" tanya Karissa dengan ragu.
"Aku hanya penasaran saja," jawabnya dengan pelan. "Kalian terlihat sangat akrab. Bahkan, Louis yang selalu menjaga jarak dengan setiap wanita, tetapi tidak menjaga jarak denganmu. Aku kira kalian sudah saling kenal sebelumnya!"
"Oh!" Karissa menunduk, menyibak rambutnya yang berantakan, lalu berkata, "Mungkin ... itu karena kami ibu tiri dan anak tiri, jadi Louis tidak menjaga jarak denganku!"
"Kariss!" lirih Tuan Lee lagi dengan pelan. "Bisakah mulai sekarang kau dan Louis sedikit menjaga jarak di depan orang lain?"
Tuan Lee menggenggam kedua tangan Karissa, menatapnya penuh dengan kelembutan.
"Bukan aku tidak suka kalian ibu dan anak saling akrab. Aku hanya tidak enak mendengar omongan rekan-rekanku tentang kedekatan kalian," ucap Tuan Lee masih dengan lembut.
Ia berusaha menjaga perasaan Karissa agar tidak tersinggung.
"Kalau di dalam rumah, aku tidak masalah kalian sedekat apapun itu. Toh kita berdua juga bukan menikah sungguhan. Tapi di depan orang lain, melihat kalian sangat akrab sampai Louis menggendongmu dan membawamu pergi, itu menimbulkan isu yang tidak enak, baik untukku, untukmu, juga untuk Louis!nKau mengerti kan, dengan maksudku?" tambah Tuan Lee lagi dengan pelan.
Itu membuat Karissa semakin terkejut.
'Apa tadi saat pergi, ada orang lain yang melihat kami?'
Jika itu benar, sungguh gawat. Tuan Lee akan menerima cibiran dan anggapan buruk dari rekan-rekannya. Karissa tidak ingin itu terjadi.
"Baik!" Karissa menjawab dengan lantang. "Aku berjanji, mulai sekarang, kami tidak akan menunjukkan keakraban kami di depan orang umum!"
"Bagus!" jawab Tuan Lee dengan puas. "Ini demi nama baik kita semua! Bukan hanya demi nama baikku saja, tapi juga demi nama baikmu!"
"Ya, aku mengerti!"
Karissa kembali mengangguk, sangat mengerti dengan permintaan Tuan Lee agar menjauhi Louis di depan orang lain.
"Baiklah!" Pria itu mulai melepaskan tangan Karissa.
Tuan Lee bangkit dan berdiri di sampingnya. "Sekarang ... pergilah ke bawah! Pelayan sudah menyiapkan makanan untukmu. Aku mau mandi dulu, kau makanlah duluan!"
"Baik!" Karissa menyibak selimut, turun dari tempat tidur.