Indonesia
NovelToon NovelToon
The Silhouette Of Class

The Silhouette Of Class

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Dosen
Popularitas:812
Nilai: 5
Nama Author: Midtwilight03

"Di kelas, dia adalah hukum. Di dunia luar, dia adalah takdir."

Ravian menjalani dua kehidupan yang berbeda. Di siang hari ia adalah dosen dingin di kampus dan setelahnya ia adalah CEO kejam Evander Corp.

Batasan yang ia buat runtuh seketika ketika ia tak sengaja jatuh cinta pada pandangan pertama kepada mahasiswinya.

Kini Ravian terjebak di antara aturan etika akademis, profesionalisme perusahaan, dan getaran dada yang tak bisa ia kendalikan.

Sanggupkah Ravian mempertahankan rahasianya saat batas antara ruang kuliah, ruang rapat, dan hatinya makin menipis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Midtwilight03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4 Kehadiran Pihak Ketiga

Senin pagi di Lantai empat puluh dua Evander Corp diawali dengan suasana yang sedikit berbeda dari biasanya. Ritme kerja yang ketat dan serba presisi, suara ketukan heels dan sepatu kulit di atas karpet tebal berirama santai memecah ketenangan lorong tempat divisi Pemasaran dan jajaran eksekutif beroperasi.

Liora baru saja selesai merapikan tumpukan berkas evaluasi kinerja mingguan ketika suara langkah kaki yang terdengar santai dan berirama ringan berhenti tepat di depan meja kerjanya.

"Liora? Lah, beneran kamu!"

Liora mendongak, merapikan kacamata tortoiseshell-nya yang melorot pelan di pangkal hidung menggunakan jempol dan jari telunjuknya. Matanya membelalak gembira begitu mengenali sosok yang ada di depannya. "Kaivan? Kamu magang di sini juga?"

Kaivan Ravello, teman satu angkatannya dari Universitas Jagatara yang terkenal populer, ramah, tampan, dan bertubuh jangkung, tersenyum lebar. Kemeja biru muda yang dikenakannya dilipat rapi hingga ke siku, satu kancing kemeja bagian atasnya yang sengaja dilepas mempertegas kesan kasual pada penampilannya, dan tangannya memegang dua cup takeaway kopi dari pantry eksekutif.

Kaivan merupakan salah satu mahasiswa terbaik yang lolos program magang jalur prestasi, bertugas di divisi Pemasaran.

"Iya! Gue ditarik ke divisi Pemasaran di lantai dua puluh delapan, tapi pagi ini diajak Pak Narev naik ke Lantai empat puluh dua buat serah terima berkas kampanye baru," ujar Kaivan santai seraya meletakkan salah satu cup kopi berisi hazelnut latte di meja Liora. "Gue benar-benar nggak nyangka kita satu gedung, Ra. Mana lu langsung ditempatkan di ring satu eksekutif begini lagi. Keren banget lu!"

"Aduh, thanks ya kopinya, Kaivan. Gue cuma beruntung aja kok," balas Liora terkekeh pelan. Binar matanya terlihat ceria, sebuah pemandangan langka dan segar di lantai empat puluh dua yang biasanya kaku, serba cepat, dan penuh tekanan.

"Beruntung gimana? Lu kan memang langganan IPK tertinggi di angkatan kita," puji Kaivan, tanpa canggung mengambil posisi bersandar di tepi meja Liora. Ia menundukkan tubuhnya sedikit untuk melihat dokumen yang sedang disusun Liora. "Nanti makan siang bareng di kantin bawah, yuk? Ada banyak hal yang mau gue tanyain soal tugas dari Pak Narev."

Liora menyunggingkan senyum tulus nan hangat tanpa rasa curiga sedikit pun. "Boleh banget! Gue juga butuh temen ngobrol biar nggak tegang terus di lantai ini."

Tanpa mereka sadari, dari balik dinding kaca tebal di dalam ruang kerja CEO, yang dilengkapi kaca satu arah (one-way glass) berdiri sesosok pria tegap yang menyaksikan seluruh interaksi tersebut.

Ravian berdiri mematung tepat di dekat jendela. Jemari tangan kanannya yang menggenggam cangkir porselen berisi Americano hitam tanpa gula memutih karena cengkeraman yang terlalu kuat. Tatapan matanya lurus, tajam, dan menusuk ke arah Kaivan yang sedang tertawa bersama Liora. Sorot mata Ravian mendingin, menatap tajam gestur Kaivan setiap kali menunduk mendekati Liora. Aura di dalam ruang kerja CEO mendadak merosot hingga ke titik beku.

"Ravian?"

Suara Julian memecah keheningan ruangan. Kepala Tim Hukum Evander Corp itu baru saja melangkah masuk membawa berkas perjanjian Kerja Sama. Namun, melihat sahabatnya berdiri kaku menatap tajam ke arah luar, Julian melangkah mendekat dengan dahi berkerut.

Julian mengikuti arah pandang Ravian, mengintip apa yang dilihat oleh pria itu, lalu pendar jenaka mendadak terbit di wajahnya saat menyadari apa yang sedang menyita perhatian sang CEO.

"Ah, anak magang baru dari divisi Pemasaran ya? Si Kaivan itu," gumam Julian sengaja memancing air tenang. "Ganteng, ramah, seangkatan pula sama Liora. Kalau dilihat-lihat dari jauh... ternyata serasi juga ya?"

Ravian tidak menoleh sedikit pun. Tangannya menggeser cangkir porselennya ke atas meja dengan dentakan halus yang tertahan.

"Dia anak magang, bukan tamu yang bisa nongkrong dan bersantai di meja asisten pribadi direksi," cetus Ravian datar, suaranya mengandung nada tajam yang terselubung. "Di mana profesionalisme supervisor divisi Pemasaran?"

"Santai, Bos. Mereka cuma ngobrol soal rencana makan siang," Julian terkekeh kecil seraya menyandarkan bahunya pada dinding. "Lagipula, di luar jam kerja mereka Cuma sesama mahasiswa yang kebetulan seumuran. Kecuali... ada pihak yang merasa terganggu secara personal?"

Ravian memutar tubuhnya perlahan, mengarahkan pandangannya pada Julian dengan tatapan dingin yang sanggup membekukan seisi ruangan dalam sekejap. "Saya hanya menjaga kedisiplinan dan citra profesionalisme di lantai ini, Julian."

"Terserah kamu deh, Pak CEO," balas Julian terkekeh seraya meletakkan map di meja. "Tapi ingat... di kampus kamu itu dosennya, dan di sini kamu atasannya. Kamu sama sekali tidak punya wewenang untuk melarang kalau Liora mau dekat sama cowok sebayanya."

Kata-kata Julian menghantam kesadaran Ravian bagaikan pukulan telak. Rahang Ravian mengetat, dadanya terasa sesak oleh sengatan rasa cemburu yang tak beralasan, sebuah perasaan impulsif, terlarang, dan sangat kekanak-kanakan yang paling ia benci dari dirinya saat ini, namun sama sekali tak sanggup ia kendalikan.

***

Pukul sepuluh lewat tiga puluh menit.

Suara interkom di meja Liora berbunyi halus, memecah keheningan ruang kerja yang sejak tadi dipenuhi bunyi ketikan dan dengung pendingin udara. Liora yang sedang memeriksa lembar terakhir laporan keuangan langsung menghentikan gerak jarinya.

Ia buru-buru menekan tombol panggilan. "Ya, Pak Evander?"

"Masuk ke ruangan saya sekarang. Bawa berkas analisis proyek untuk kuartal mendatang," perintah suara berat dari dalam tanpa memberi ruang untuk bertanya.

“Baik, Pak.”

Liora menarik napas pelan. Panggilan mendadak dari Ravian selalu sukses membuat bahunya menegang. Ia merapikan blazer krem yang dikenakannya, memastikan rambutnya tidak berantakan, lalu mengambil map tebal berisi berkas analisis proyek.

Sebelum masuk, matanya sempat menangkap gelas kertas hazelnut latte yang tadi diberikan Kaivan. Sengaja ia letakkan di sudut luar ruangan eksekutif agar tidak mengganggu pekerjaannya.

Liora mengira tidak akan ada masalah.

Ia mengetuk pintu dua kali.

“Masuk.”

Ia memutar knop pintu mahoni dan melangkah masuk. Ravian sedang berdiri di balik meja kerjanya, menyingsingkan sedikit lengan jasnya dengan raut wajah tampak lebih kaku dari biasanya.

"Ini berkasnya, Pak," ujar Liora sopan, meletakkan map tersebut di meja tetapi tetap menjaga jarak aman dua meter.

Namun, Ravian sama sekali tidak menyentuh map itu. Tatapannya justru tertuju pada gelas hazelnut latte dari Kaivan yang tadi sempat dibawanya dan diletakkan di sudut luar ruangan dari balik kaca transparan di sisi ruangan.

Tatapan Ravian berubah.

"Miss Arwen," panggil Ravian pelan, namun nadanya menekan.

"Saya, Pak?"

"Evander Corp membayar fasilitas kopi berkualitas tinggi di setiap pantry untuk memastikan staf dan peserta magang menjaga fokus kerja," ujar Ravian datar, matanya terkunci pada manik mata Liora. "Saya tidak menoleransi karyawan yang membawa minuman atau interaksi personal yang tidak penting ke area kerja utama eksekutif."

Liora berkedip bingung. "M-maksud Bapak... kopi dari Kaivan tadi?"

"Siapa pun nama temanmu itu, aturan tetap aturan," potong Ravian cepat. Nada suaranya terdengar terlalu dingin untuk sekadar menegur sebuah gelas kopi. "Fokus pada tugasmu. Jangan biarkan distraksi sosial menurunkan kualitas analisis yang kamu selesaikan."

Liora menelan ludahnya, sedikit terkejut dengan teguran mendadak yang terasa sangat spesifik dan dicari-cari itu. Namun, Liora tidak cukup berani untuk mempertanyakannya, akhirnya ia hanya menundukkan kepala.

"Baik, Pak Evander. Saya minta maaf. Saya tidak akan mengulanginya lagi," jawab Liora patuh.

Ravian memperhatikan raut wajah Liora yang menunduk kaku. Untuk sesaat, ada sesuatu yang bergetar di balik sorot matanya.

Penyesalan.

Namun, rasa gengsi dan cemburu yang menguasai pikirannya membuat Ravian enggan melunakkan ucapan.

"Kembali ke mejamu," perintahnya pendek.

"Baik, Pak. Permisi."

Saat pintu kayu mahoni itu kembali tertutup rapat, Ravian menyandarkan jemarinya di tepi meja kayu. Ia membuang napas panjang yang terasa berat.

Jika di kantor ini ia harus terikat oleh aturan korporasi dan ketatnya batasan profesionalisme sebagai seorang CEO... maka besok pagi di Universitas Jagatara, ia memegang wewenang penuh sebagai seorang Dosen Luar Biasa.

Ravian menyunggingkan senyum tipis penuh intrik yang sangat dingin. Sesi presentasi kelompok untuk mata kuliah Bisnis & Manajemen Strategis besok pagi dipastikan tidak akan berjalan mudah bagi seorang mahasiswa bernama Kaivan Ravello.

1
Sandiakala_
Ceritanya menarik, sukakkk😌🫰🏻
Sandiakala_
Lanjutannya mana Thor?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!