Bagi dunia bawah, Evangeline Cross adalah The Ghost Rose, eksekutor berdarah dingin yang paling ditakuti. Namun bagi dirinya sendiri, ia hanyalah seorang putri yang terjebak dalam malam pembunuhan ibunya empat belas tahun lalu. Satu-satunya jejak sang pembunuh yang tersisa adalah belati dengan ukiran ular dan mawar.
Saat petunjuk mengarah pada Blackwood Syndicate, kelompok mafia paling elit dan berbahaya di Verona Heights, Eva menyusup sebagai pelayan pribadi demi membalas dendam. Targetnya sederhana, menghabisi Dominic Blackwood, sang pemimpin mafia berusia 30 tahun yang dikenal tak berbelas kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
⚠️Hanya untuk pembaca berusia 17 tahun ke atas.⚠️
...****************...
Suara lonceng kuno dari menara barat Blackwood Manor berdenting dua belas kali, mengalun berat membelah keheningan malam Verona Heights.
Hujan deras yang sempat mengguyur sejak sore telah surut, menyisakan kabut kelam yang menggantung rendah di atas halaman.
Di dalam aula utama manor, ratusan lilin hitam yang menyala di atas tempat lilin perak raksasa perlahan mulai dipadamkan satu per satu oleh para pelayan. Perjamuan doa memperingati empat belas tahun Tragedi St. Jude telah resmi berakhir.
Para petinggi tiga faksi, anggota Dewan Konsorsium yang tersisa, serta Lady Eleanor telah kembali ke kediaman masing-masing. Aroma minyak kemenyan tua, mawar kering, dan lilin lebah yang terbakar masih tertinggal tebal di udara, meninggalkan atmosfer yang melankolis sekaligus Mencekam.
Evangeline berdiri di dekat pilar granit aula, mengamati Madam Vane yang sedang merapikan kain altar.
Sesuai petunjuk Madam Vane semalam, perjamuan doa ini memang menjadi panggung penyamaran yang sempurna.
Saat seluruh mata terfokus pada saat ritual dan pengawalan difokuskan di sektor luar, Eva berhasil menyelinap turun ke kedalaman Brankas Besi Kelabu.
Di sana, di balik tumpukan map tua yang tertutup debu, jemari lentik Eva telah berhasil mengamankan kotak besi kecil milik ibunya, Clara Cross.
Setelah berhasil menyelinap dan kembali ke acara, sekarang kotak yang terkunci rapat itu kini telah tersembunyi dengan aman di balik lapisan kain di sudut laci meja rias kamar utamanya, menanti untuk dibuka dan dibaca rahasianya saat situasi benar-benar aman.
"Kotak rahasia Ibu sudah di tanganku, tinggal menunggu waktu untuk membongkar isi di dalamnya tanpa memicu kecurigaan Dominic,"
batin Eva, jemari kirinya meremas pelan kain gaun yang dikenakannya.
Srek.
Sepasang lengan kokoh berotot mendadak melingkari pinggang Eva dari belakang.
Dada bidang yang hangat menempel rapat di punggung halus Eva, membuyarkan seluruh lamunan agen Ghost Rose tersebut. Aroma parfum bercampur sedikit aroma anggur merah mahal melingkupi indra penciuman Eva secara instan.
Dominic.
Pria itu menundukkan kepalanya, menyandarkan dagunya di bahu kiri Eva yang tidak terluka. Napasnya yang hangat dan sedikit memburu menyapu kulit leher Eva yang terbuka, mengirimkan desiran panas yang mendadak menyebar ke seluruh pembuluh darah wanita itu.
"Dominic..." bisik Eva halus, memutar sedikit kepalanya. "Perjamuan doa sudah selesai. Nenek Eleanor sudah kembali ke kamarnya."
Dominic tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu menyapu leher Eva dengan bibirnya, mendaratkan ciuman yang dalam, panas, dan teramat posesif di garis urat leher wanita tersebut. Tangannya yang besar di pinggang Eva mengetat, merapatkan tubuh istrinya tanpa memberi celah sedikit pun.
Sepanjang acara perjamuan doa berlangsung, di saat ia harus mendengarkan pidato kenangan tentang mendiang ibunya dan berinteraksi dengan para petinggi faksi yang penuh kepalsuan, pikiran Dominic sama sekali tidak berada di aula tersebut.
Pikirannya terus berputar pada ingatan tentang gairah membara yang mereka bagikan di dalam mobil Maybach di Bukit Silent Oak, serta tubuh polos Eva yang pasrah di bawah naungannya kemarin malam.
Rasa duka dan tekanan politik Tragedi St. Jude alih-alih meredam nafsunya, justru menjelma menjadi gelombang hasrat yang gila dan liar. Dominic dipenuhi oleh kebutuhan yang mendesak untuk menegaskan kepemilikannya atas wanita ini sekali lagi.
"Kita kembali ke kamar sekarang, Evie," desah Dominic rendah dan serak di telinga Eva.
Klek...
Pintu kayu jati tinggi di kamar utama tertutup rapat dan terkunci secara otomatis.
Dominic bahkan tidak menyalakan lampu dinding atau perapian. Satu-satunya pendar cahaya di dalam kamar luas itu berasal dari pendar bulan paruh yang menerobos dari balik jendela kaca raksasa, melukis bayangan tebal di atas lantai kayu mahoni.
Sebelum Eva sempat melangkah menuju meja rias, Dominic sudah menyambar tubuhnya.
Pria itu menekan tubuh mungil Eva ke pintu kayu jati yang kokoh. Kedua tangan besar Dominic mengunci sisi kiri dan kanan kepala Eva, sementara tubuh tegapnya menghimpit rapat dari depan.
"Dominic... ada apa denganmu?" bisik Eva, mata hazelnya berkilat di bawah temaram pendar bulan. Ia dapat merasakan detak jantung Dominic yang bergedup kencang dan tidak beraturan di dadanya.
"Aku menginginkanmu, Evie," desah Dominic jujur tanpa ada saringan sedikit pun.
Pandangan matanya dipenuhi oleh rasa ketagihan, cinta, dan nafsu yang liar. "Seharian ini... melihatmu berdiri di aula dengan gaun ini... aku hampir gila ingin menelanjangimu di hadapan mereka semua."
Kata-kata erotis yang meluncur dari bibir sang penguasa Blackwood Syndicate itu membuat napas Eva tertahan.
Dominic membungkam bibir Eva dengan ciuman yang penuh tuntutan.
Lidahnya menerobos masuk tanpa permisi, melumat dan menguasai rongga mulut Eva dengan dominasi murni. Tangan kanan Dominic meraup bagian belakang gaun Eva, menarik ritsleting gaun tersebut turun hingga ke pinggul dengan satu tarikan.
Srek!
Gaun itu terlepas dari bahu Eva, meluncur turun ke lantai dan menyisakan Eva hanya dalam balutan pakaian dalam sutra hitam tipis dan kasa steril di bahu kanannya.
Rintihan halus meluncur dari tenggorokan Eva saat tangan hangat Dominic langsung merayap naik, meremas pinggul dan pahanya dengan cengkeraman yang kuat dan posesif.
Hawa panas dari tubuh Dominic menyengat kulit polos Eva, mengikis seluruh pertahanan rasionalnya dalam hitungan detik.
Dominic memutar tubuh Eva, menekankan dada halus wanita itu ke permukaan pintu kayu jati yang dingin. Pria itu menyingkap pakaian dalam sutra Eva ke samping, memperlihatkan lekuk bokong istrinya di bawah pendar cahaya bulan.
"Dominic... di sini...?" desah Eva terbata-bata, jemari kirinya mencengkeram kencang ukiran kayu jati di pintu untuk menopang tubuhnya.
Rasa dingin dari pintu kayu beradu kontras dengan hawa membara yang menguar dari tubuh Dominic di belakangnya.
"Ya... tepat di sini, Evie," bisik Dominic serak di punggung mulus Eva.
Pria itu menurunkan celana kain hitamnya tanpa melepaskan kemejanya yang terikat rapi, menyingkap miliknya yang sudah keras dan berdenyut hebat.
Tanpa memberikan waktu jeda bagi Eva untuk bersiap, Dominic memegang pinggul Eva kencang-kencang, lalu menghujamkan miliknya masuk ke dalam diri Eva dari belakang dalam satu dorongan.
"AH! DOMINIC!"
Jeritan nikmat yang tertahan meluncur spontan dari bibir Eva. Punggungnya melengkung indah ke belakang saat milik Dominic memenuhi bagian kewanitaannya secara mendadak. Jepitan ketat dari dalam diri Eva menyambut masuknya milik Dominic.
Dominic menggeram rendah di leher Eva, gigitan kecilnya di bahu mulus wanita itu mempertegas kegilaan hasratnya malam ini.
Pria itu tidak menunggu, ia langsung memacu pinggulnya dari belakang dengan tempo yang cepat, liar, dan bertenaga.
Suara benturan tubuh mereka yang hangat dengan pintu kayu jati bergema rendah di dalam kamar yang sunyi.
Gaya dorong dari belakang yang dilakukan Dominic menghantam titik paling sensitif di dalam diri Eva secara beruntun dan tanpa ampun.
Setiap hujaman dalam yang diberikan Dominic membuat tubuh mungil Eva terdorong maju menempel pada pintu kayu, sementara jemari lentiknya meremas pintu kencang-kencang untuk menahan sensasi nikmat yang hampir memecahkan kesadarannya.
"Dominic... pelan... pelan sedikit..." rintih Eva serak, matanya dipejamkan rapat-rapat saat gelombang gairah yang dahsyat bergulung-gulung menghantam perut bawahnya.
Namun Dominic yang sedang dibutakan oleh nafsu yang gila tidak mendengarkan permohonan itu. Jepitan ketat dan kehangatan murni dari rahim Eva justru membuat gairah pria itu kian meluap tak terkendali.
Dominic memegang kedua pinggul Eva kencang-kencang, memandu setiap hujaman pinggulnya semakin dalam.
"Kau milikku, Evie..." desah Dominic serak, napasnya memburu membakar leher dan punggung Eva.
Nafsu posesif yang meluap dari Dominic merembes masuk ke dalam jiwa Evangeline. Di dalam kegelapan kamar dan guncangan senggama yang panas ini, kalkulasi agen terlatih di dalam otaknya meleleh sepenuhnya.
Eva membiarkan dirinya pasrah, membalas setiap dorongan Dominic dengan gerakan pinggulnya ke belakang, menyambut milik pria itu kian dalam.
"Ya... Dominic... lebih dalam!" jerit Eva halus, rintihan pasrahnya membakar naluri Dominic hingga ke puncak tertinggi.
Dominic memutar tubuh Eva secara mendadak, pria itu menggendong tubuh Eva, menyandarkan punggung wanita itu pada pintu jati, sementara kedua paha Eva melingkar erat di pinggang tegap Dominic.
Dalam posisi terangkat tersebut, penyatuan mereka menjadi lebih dalam dan intens. Dominic menghujam naik dari bawah dengan kekuatan penuh, memanfaatkan gravitasi untuk menembus kedalaman rahim Eva.
"NNNGH! DOMINIC!"
Eva membelalakkan matanya, meremas bahu kemeja Dominic kencang-kencang saat sensasi nikmat yang teramat sangat menyapu seluruh sistem sarafnya. Puncak pelepasan itu datang bagaikan badai meledak yang tak tertahankan.
Dinding kewanitaan Eva mengencang hebat, mencengkeram milik Dominic dalam jepitan orgasme bertubi-tubi yang membuat seluruh tubuhnya bergetar kencang di udara.
Merasakan ketegangan dan jepitan pelepasan Eva yang teramat hangat dan kencang, Dominic menggeram panjang. Pria itu memacu pinggulnya tiga kali secara dalam dan cepat sebelum melakukan pelepasan secara penuh.
Cairan hangat dan melimpah tersembur jauh di dalam rahim Eva, menyatu utuh dengan kehangatan wanita yang dicintainya di bawah temaram pendar bulan.
Beberapa saat berlalu dalam keheningan napas mereka saling memburu.
Dominic perlahan menurunkan tubuh Eva dari gendongannya. Pria itu menyangga tubuh Eva yang lemas dan bergetar, lalu membopong istrinya ke atas tempat tidur berukuran raksasa.
Dominic merebahkan tubuh polos Eva di atas selimut, lalu menyusul naik dan berbaring di sampingnya. Pria itu menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka berdua, lalu merangkul pinggang Eva dari samping, menarik wanita itu rapat-rapat ke dalam kehangatan dadanya.
Napas mereka berdua yang memburu perlahan-lahan mulai teratur kembali di dalam kegelapan kamar utama.
Dominic mengusap pelipis dan dahi Eva yang dibasahi peluh halus, mengecup bibir merah Eva yang sedikit bengkak akibat ciuman-ciuman panas mereka.
"Maafkan aku, Evie..." bisik Dominic rendah dan tulus di telinga Eva, rasa sayang dan bersalah menyelusup dalam intonasinya. "Aku... aku tidak bisa mengendalikan diriku setiap kali berada di dekatmu malam ini."
Eva menyandarkan kepalanya di dada bidang Dominic, mendengarkan detak jantung pria itu yang perlahan kembali stabil. Jemari kirinya yang dihiasi kuteks merah burgundy mengelus pelan otot dada Dominic.
"Aku tidak apa-apa, Dominic," bisik Eva halus, menyunggingkan senyum tipis.
Dominic tersenyum hangat, lalu mengecup puncak kepala Eva. Rasa puas dan lega yang luar biasa menyelimuti batinnya. Pria itu mengepalkan lengannya di pinggang Eva, lalu perlahan-lahan memejamkan matanya, terlelap dalam pelukan hangat istrinya.
Di dalam dekapan kokoh Dominic yang telah terlelap tenang beberapa menit kemudian, mata hazel Evangeline terbuka secara perlahan di kegelapan malam.
Pandangan matanya beralih menatap ke arah meja rias di sudut kamar, tempat di mana kotak rahasia milik Clara Cross tersembunyi di dalam laci.
Pelepasan gila dan panas Dominic malam ini telah memastikan satu hal, pria itu kini benar-benar terlelap dalam kepuasan dan tidak akan terbangun hingga pagi tiba.
"Kini waktunya, aku akan membuka kotak rahasia Ibu dan membongkar siapa sosok pemilik inisial G.B. yang sebenarnya," batin Evangeline Cross dengan ketajaman pikiran yang kembali sepenuhnya.
Dengan gerakan yang teramat halus dan tanpa suara, Eva melepaskan rangkulan Dominic dari pinggangnya, melangkah turun dari tempat tidur dalam balutan gaun tidur tipis, lalu berjalan menuju meja rias untuk menghadapi kebenaran tergelap dalam hidupnya.
...Bersambung... ...