Bryen berusia 25 tahun seorang pria pemilik cafe sederhana, memiliki karyawan untuk membantu melayani seorang pelanggan, saat sibuk melayani pelanggan ia tidak sengaja menumbuhkan Kopi ke pakaian seorang perempuan sombong, angkuh dan dingin, yg lagi asik berbincang sama teman kantor nya, hingga ia kaget langsung beranjak
"HEI KAMU... HATI - HATI DONG! INI BAJU MAHAL, LIHAT.... BAJUKU JADI KOTOR!! PAKAI MATA ENGGAK!! ". Ucapnya sentak marah
" maaf nona, saya tidak sengaja, sini saya bersihin! ". Jawab brayen sambil mengelap gaun yang kena tumpahan kopi
" TIDAK USAH!! BISA SENDIRI, DASAR LAKI-LAKI!! ". Ucapnya dengan tatap kesel melangkah melewati, temannya pun mengikuti dengan ekpresi bingung
Ini pertama kalinya bagi bryen di marahin oleh seorang wanita.
kehidupan bryen sangat suka hidup biasa saja, walaupun sang ayah selalu menjodohkan dirinya dengan seorang wanita kenalan teman ayahnya, sampai kini sang ayah masih membahas perjodohan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon as2357zzjdj, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 PERJODOHAN??
Di pagi yang cerah terlihat Brayen sedang mencuci mobil di garansi depan halaman rumahnya, ia sekarang tinggal di rumah yang besar, tinggal dengan ayahnya
Tidak lama Ayah Brayen muncul dari dalam rumah dengan sudah berpakaian baju jas hitam kerjanya, saat melangkah ia tidak sengaja melihat putranya sedang mencuci mobil di pagi hari. Ia hanya menggeleng kepala dengan heran melihat kelakuan putranya..
Ayah Brayen sangat keperibadian ber prinsip pada anak-anaknya, tegas dan wibawa, dia adalah Arga Setiawangsa seorang pemimpin perusahaan.
"Brayen! ". Sapa Arga pada putranya sambil melangkah mendekat
Brayen menoleh saat pegang selang air ke mobil untuk di mandikan.
" Iya". Jawabnya
"Berhentilah... bermain-maian, fokus mengurus perusahaan jangan seperti ini, ada sopir, dan juga penjaga rumah, kalau ingin membersihkan mobil, jangan kamu. kamu harus menjaga Imet dan jaga sikap wibawamu". Ujarnya tegas
Brayen menghela nafas panjang dengan ekpresi kesel
"Ayah.. aku punya kehidupan.. terserah aku, suka-suka hidupku, mau bagaimana, aku tidak mau ada aturan yang tidak aku suka, aku bukan robot ayah.. aku ini manusia punya pikiran dan perasaan". Keluh Brayen merasa tidak nyaman tinggal berada di rumah ayahnya
"Brayen. keluarga kita, keluarga berada, keluarga terpandang, jangan malu-maluin dan jangan bikin ayah bertindak sesuatu terhadap kamu, ayah tidak suka, paham! ". ucap Arga bertegas dan menekan
" itulah... kenapa aku tidak suka berada di rumah ini". Jawab Brayen sepontan dengan perasaannya.
"Terserah, nanti malam jangan kemana-mana ada seorang tamu akan datang ke rumah kita, kamu bersiap dan jaga sikap di depan mereka, ayah tidak mau ada sesuatu yang bikin ayah merasa tidak nyaman, paham". Arga pun mengingatkan pada putranya agar tidak macam-macam hal aneh dengan tegas.
"Iya". Jawabnya dengan ekpresi males
" Ya sudah ayah mau berangkat kerja, jangan lupa sarapan pagi". Ucap Arga pamit dan mengingatkan pada putranya
"Hemmm! ". Jawabnya bete
Arga pun melangkah jalan menghampiri mobil yang sudah lama menunggu untuk siap berangkat, terlihat seorang sopir berdiri samping mobil menunggu tuanya untuk masuk ke dalam mobil.
Brayen lanjut menyiramkan mobil dengan selang air setelah bicara dengan ayahnya barusan. Setelah di siram seluruh badan mobil setiap sudut, ia pun mematikan air keran, lanjut mengunakan sabun mengosongkan ke mobil mengunakan busa. saat sibuk mengosongkan mobil mengunakan busa, Tidak lama Joni datang melangkah menghampiri Brayen.
"Pagi". Sapa joni tersenyum manis
" Apa? ". Jawabnya sinis sambil mengosongkan mobil mengunakan busa tidak ia menoleh
" Gitu amat jawabnya, aku kesini baik-baik, ada yang salah? ". Tanya joni heran
Brayen pun berhenti berbalik menoleh dengan tatapan tajam.
" Uuuuhhn, serem amat tatapannya". Ucap lagi joni terkejut melihat wajah temannya ini berubah lebih menakutkan.
"Joni, gue ingin nanya sama, eloh... ".
" ok, mau tanya apa? ".
" Tamunya memang begitu penting, hah? sampai harus menjaga imet dan jaga sikap harus perilakuan baik di depan tamu". tanya Brayen merasa heran
"Entahlah.. aku pun tidak tahu, soal itu, yang pasti tamunya pasti penting, bukan hal sembarangan".
" Dari keluarga mana? keluarga bangsawan atau keluarga kerajaan gitu... repot amat harus menjaga sikap ". Ujar Brayen mengeluh kesel
" Ya sudah tidak usah di pikirkan, lebih baik bersiap untuk berangkat pergi ". Minta joni
" Mau kemana? ". Tanya Brayen bingung
" Astaga... lupa apa? kan kerja di Cafe tempat kerja mu, ".
" Aduhhhh, lupa aku". Sontak Brayen kaget dirinya baru inget hari ini harus berangkat kerja
"Pak.. lanjut cuci mobil". Minta Brayen pada seorang penjaga rumah yang sedang berdiri depan pintu pagar sana.
Seorang penjaga rumah pun berjalan cepat menghampiri setelah di minta untuk melanjutkan cuci mobil.
Brayen bergegas berjalan memasuki rumah dengan ekpresi panik.
Joni yang melihat kelakuan Temannya hanya menggeleng kepala dengan heran.
*****
*****
*****
Di lorong kantor,
Elina saat hendak melangkah masuk ke ruang kantor_____
"Seorang wanita memiliki wibawa yang sangat bagus, elegan, etika dan juga sikap sok.. bagus..ternyata sok peduli hanya ingin menghancurkan hubunganku dengan pacarku yang tampan, kaya raya dan gagah, tapi semua itu tidak akan membuat kami putus, oleh orang yang suka iri". Ucap Dara lantang, datang dengan nada sentil
Elina berbalik menoleh dengan menghela nafas panjang dengan perasaan berat, namun harus di hadapi.
" Dara, Bisakah kamu berhenti bicara seperti itu pada kakakmu sendiri, aku tidak pernah iri dengan pacar kamu si... berengsek itu".
"HEI... JAGA BICARA KAMU YA... KALAU ELOH IRI...CARI PACAR, JANGAN MAUNYA SAMA COWOK GUE". Ucap Dara tegas
" Iiihh benar-benar ya...! ". Sontak Elina gemes ingin rasanya jitak kepala adiknya yang menyebalkan namun ia tahan tidak jadi ia jitak
" Apa? hah? mau apa? aku bilangin iya... sama ayah, biar tahu rasa". Ancam Dara dengan ekpresi melawan
"Iihhh". Elina pun berbalik melangkah memasuki ruang kantor dengan ekpresi kesel.
" Uhhh... makanya jangan sok baik deh... dasar bermuka dua!! ". Ucap Dara menyindir kasar
Semntara Di dalam ruang kantor
" Apa-apaan sih, , dia itu.. keterlaluan ". Elina melangkah menghampiri meja kerja sambil mengomel-gomel sendiri
" untung adek gue, kalau enggak, aku buang ke laut, biar tau rasa". Elina berkata pada dirinya sendiri sambil duduk di kursi dengan kesel.
Elina membuka leptop menyalakan layar, saat hendak untuk mulai berkerja_____
Berdering
Tiba-tiba saja ponselnya berdering, ia pun menoleh melihat layar ponsel samping meja, mengambil ponsel, ternyata dari ayahnya, ia pun mengangkat telepon menempelkan di telinga kanannya.
"Hallo ayah". Jawabnya
" elin.. bisa ke kantor ayah sekarang? ". Tanya Williams
" iya, aku akan kesana". Jawabnya langsung tutup telepon, namun ia terdiam bingung entah ada apa dirinya di suruh untuk ke kantor ayahnya.
"Apa Jangan-jangan dara mengadu lagi". Elina berkata dengan rasa bingungnya
" Anak itu bener-bener dah... ". Elina merasa kesel terhadap adiknya ia merasa adiknya suka mengadu dan suka banget dirinya kena masalah.
Elina beranjak melangkah jalan keluar ruangan, berjalan di lorong kantor untuk menemui ayahnya.
Di dalam ruang kantor terlihat Williams lagi melihat dan membaca berkas hitam yang ia pegang duduk di sofa sendirian, tidak lama___
Tok
Tok
Tok
suara ketokkan pintu terdengar olehnya menoleh ke arah pintu.
"Iya masuk". minta Williams
Elina datang melangkah masuk,
" Ada apa ayah". Tanya Elina
"duduk dulu". minta Williams
Elina duduk di sofa samping ayahnya. Williams meletakkan berkas hitam di atas meja.
"Nanti malam kita akan ke rumah keluarga Setiawangsa teman lama ayah, Arga. kita di undang untuk bertemuan sebagai keluarga, dan ayah ingin menjodohkan kamu dengan putranya, yaitu Brayen Setiawangsa, kalian harus saling mengenal dan menjadi seorang sepasang kekasih, dan keluarga kita akan semakin kokoh dan kuat nantinya". Jelas Williams
Elina terkejut dan tidak menyangka akan berakhir perjodohan
"Kenapa ayah mendadak, kenapa baru sekarang ayah membicarakan itu, aku belum siap ayah. aku punya kehidupan sendiri, lagian aku tidak terlalu mengenal namanya Brayen itu, siapa dia... aku tidak mau ayah". Ucap Elina kesel.
" Elina, kamu tidak kasian dengan adik kamu, Dara ingin menikah, tapi dia tidak bisa melangkahi kamu, karena kamu belum memiliki pasangan, Dara suka sekali bercerita pada ayah, bahwa kamu suka iri padanya, maka dari itu ayah menjodohkan dengan seseorang mungkin cocok dengan kamu". Ujarnya.
"Aku tidak iri ayah, aku hanya... tidak ingin dia salah langkah, laki-laki itu brengsek! tidak pantas untuk jadi pacarnya, aku khawatir dengannya. ".
" Sudah, cukup. untuk sekarang ayah mohon menurut, ok. ayah tidak mau ada keributan terjadi antara kamu dan adik kamu, ayah lakukan ini agar kalian tidak saling iri atau saling ribut, paham". Ucap Williams
Elina pun terdiam tidak mengatakan apapun, dirinya tidak mampu untuk melawan ayahnya sendiri.