Di benua Est, tujuh kerajaan hidup dalam keseimbangan rapuh. Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun penguasa yang mampu menyatukan seluruh wilayah. Perang, perebutan takhta, dan dendam antarkerajaan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zai_zuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 8, BAYANGAN PERBATASAN.
Angin berhembus dingin melewati celah-celah batu di perbatasan Kaelthara. Di bawah langit yang kelabu, Zhoo berlutut di tanah yang kering, tangannya menyentuh rumput yang berwarna kekuningan. Ia baru saja berusia sembilan belas tahun, tubuhnya tegap namun kurus, matanya tajam seperti elang yang sedang mengamati mangsa. Di matanya tidak ada ketakutan, hanya rasa ingin tahu yang tak pernah padam.
"Kau lagi bermimpi lagi, Zhoo?" suara berat terdengar dari belakangnya.
Zhoo menoleh. Di sana berdiri Arvin—pria sepuluh tahun lebih tua darinya, bahu lebar, wajah penuh bekas luka, dan tatapan yang selalu dingin namun jujur. Arvin adalah pendekar yang pernah mengabdi pada kerajaan lain, namun diasingkan dan akhirnya menemukan tempat di perkampungan kecil tempat Zhoo tinggal. Ia adalah guru pertama Zhoo.
"Bukan bermimpi, Arvin," jawab Zhoo pelan namun tegas. "Aku hanya berpikir... mengapa tanah ini begitu luas, namun kita semua hanya terkurung di sudut kecilnya, saling curiga, saling membenci."
Arvin mendekat, lalu duduk di sampingnya, menatap ke arah perbatasan yang samar terlihat di kejauhan. "Karena itulah tujuh kerajaan itu berdiri, Zhoo. Agar tidak ada satu orang pun yang memiliki kekuatan terlalu besar. Agar tidak ada yang menjadi tuan atas segalanya."
"Dan menurutmu itu adil?" tanya Zhoo. "Orang lahir di Veyra hidup dalam kemewahan, makan daging setiap hari. Sementara kita di sini, kadang harus berbagi sepotong roti untuk tiga orang. Padahal matahari bersinar sama untuk semua."
Arvin tertawa kecil, namun tawanya terdengar sedih. "Keadilan itu kata yang diciptakan oleh mereka yang memegang kekuasaan, Nak. Dan mereka tidak akan pernah melepaskannya dengan sukarela."
Mereka terdiam. Angin kencang berhembus, menggoyangkan pakaian kasar yang mereka kenakan. Di kejauhan, burung-burung terbang berkelompok, meninggalkan tempat itu seolah merasakan sesuatu yang buruk akan datang.
"Kau tahu, Arvin," lanjut Zhoo, matanya tetap terpaku pada cakrawala, "Suatu hari nanti... aku akan pergi ke tujuh kerajaan itu. Bukan untuk memohon, tapi untuk berdiri setara dengan para raja. Dan jika memang harus ada satu orang yang memegang kendali atas benua ini... biar itu orang yang tahu rasanya lapar, tahu rasanya diabaikan, tahu rasanya tidak punya apa-apa."
Arvin menatapnya lama. Di mata pemuda itu, ia melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat pada orang lain—bukan ambisi yang buta, melainkan keyakinan yang membara seperti api yang tak bisa dipadamkan.
"Kau tahu apa risikonya?" tanya Arvin pelan. "Semakin tinggi kau naik, semakin banyak orang yang ingin menjatuhkanmu. Dan yang paling menyakitkan... bukan serangan musuh dari depan, tapi pengkhianatan dari belakang. Dari orang yang kau percaya."
Zhoo tersenyum tipis. "Aku tidak akan berjalan sendirian. Dan jika aku harus jatuh, aku akan jatuh sambil mencoba, bukan diam di tempat dan menyesal seumur hidup."
Tepat saat itu, suara langkah kaki terdengar mendekat dengan tergesa-gesa. Kael—pemuda sebaya Zhoo, rambut hitam legam, wajah tampan namun penuh kekhawatiran—berlari ke arah mereka. Napasnya terengah-engah.
"Zhoo! Arvin! Mereka datang!" seru Kael dengan suara gemetar.
Zhoo langsung berdiri. "Siapa?"
"Pasukan Veyra. Rombongan pajak mereka datang lebih awal tahun ini. Dan mereka membawa lebih banyak prajurit dari biasanya."
Arvin bangkit berdiri dengan sigap, wajahnya berubah tegas. "Raja Vereon semakin rakus. Setiap tahun permintaannya bertambah, setiap tahun penderitaan kita semakin dalam."
"Kita harus bersembunyi?" tanya Kael, matanya berkeliling takut.
Zhoo menggeleng pelan. "Tidak. Kita hadapi. Tapi dengan kepala dingin, bukan dengan amarah."