Diceraikan saat hamil dan dibiarkan mati, Clarissa bangkit dalam tubuh Elena—gadis bangsawan super kaya.
Kini Clarissa menguasai dunia, membuang status wanita tertindas, dan naik ke puncak tertinggi. Saat sang mantan suami datang merangkak memohon ampun di kakinya, Elena tersenyum sinis:
"Mantan suami, lihatlah aku sekarang! Kamu bahkan tidak pantas menyentuh ujung gaunku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyyy ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jerat Baru untuk Sang Tuan Muda
Kehancuran total Aris Group dalam waktu kurang dari empat puluh delapan jam menjadi gempa tektonik yang meruntuhkan ketenangan di distrik finansial Secilia City. Di kedai-kedai kopi elite hingga ruang rapat gedung pencakar langit, semua orang hanya membicarakan satu nama: Elena von Secilia. Wanita yang dulunya dianggap sebagai pajangan tak berguna di kediaman Secilia, kini menjelma menjadi sosok predator finansial yang paling ditakuti.
Namun, di kedemian utama Secilia, keheningan yang melanda justru terasa seperti ketenangan sebelum datangnya badai pembalasan.
Adrian von Secilia duduk di balik meja kerjanya yang luas. Lampu ruangan sengaja dimatikan, hanya menyisakan berkas cahaya dari layar laptop yang memantulkan rona biru pucat di wajah tampannya. Adrian menatap grafik pergerakan saham *Secilia Group* yang sejak pagi tadi menunjukkan aktivitas yang tidak biasa. Ada volume pembelian dalam jumlah masif, namun dilakukan secara terpecah melalui puluhan akun sekuritas bayangan di distrik utara.
"Tuan Muda Adrian," suara Sekretaris Hendra memecah keheningan setelah melangkah masuk dengan tergesa-gesa. Wajah pria paruh baya itu dipenuhi keringat dingin, tangannya gemetar saat meletakkan sebuah laporan audit internal di atas meja.
"Katakan padaku, Hendra. Jangan membuang waktuku," desis Adrian, suaranya terdengar parau dan dingin. Sejak Elena pindah ke paviliun barat dan menolak menemuinya, tidur Adrian tidak pernah nyenyak. Rasa cemburu yang membakar egonya karena kedekatan Elena dengan Duke Xavier telah merusak fokus bisnisnya.
"Kebocoran data yang kita takuti... benar-benar terjadi, Tuan," ucap Hendra dengan suara bergetar. "Mata-mata internal yang selama ini membocorkan rahasia dagang kita ternyata dikendalikan oleh mendiang Kakek secara tidak langsung melalui wasiat rahasia yang dialihkan. Dan sekarang... seluruh data kepemilikan utang jangka pendek keluarga Secilia telah dibeli oleh satu lembaga tunggal."
Adrian langsung menegakkan punggungnya, mata elangnya berkilat tajam mematikan. "Siapa? Jangan katakan kalau itu adalah Obsidian Group milik Xavier!"
Hendra menunduk dalam-dalam, menelan ludah dengan susah payah sebelum berani mengucapkan nama itu. "Bukan Duke Xavier, Tuan. Pemilik saham mayoritas dari lembaga asing yang membeli utang kita... adalah *Aethelgard Holdings*. Atas nama Nyonya Muda Elena sendiri."
*Brak!*
Adrian berdiri dengan sentakan keras hingga kursi kerjanya terdorong ke belakang dan menghantam lemari buku jati di belakangnya. Wajahnya seketika memucat pasi akibat syok yang luar biasa, sebelum kemudian perlahan berubah menjadi merah padam akibat kobaran amarah yang meledak-ledak.
"Elena?!" raung Adrian, napasnya memburu kencang. "Bagaimana mungkin wanita yang selama tiga tahun ini tidak pernah menyentuh satu pun berkas kantor bisa menguasai utang perusahaanku?! Dari mana dia mendapatkan modal sebesar itu?!"
"Nyonya Muda Elena memanfaatkan seluruh hak akses finansial tanpa limit dari kartu kredit sekunder yang Anda berikan tiga bulan lalu, Tuan Muda," lanjut Hendra dengan kepala yang semakin menunduk. "Beliau tidak menghamburkannya untuk pakaian atau kosmetik. Beliau memutar uang itu di bursa saham medis tepat sebelum *Aethelgard Corp* meluncurkan produk revolusioner mereka. Keuntungannya berlipat ganda hingga ratusan miliar dalam semalam. Beliau menggunakan uang Anda... untuk membeli leher perusahaan Anda sendiri."
Adrian mencengkeram tepi meja kerjanya begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih. Ingatannya langsung terlempar kembali ke momen tiga bulan lalu di ruang makan, saat Elena menatapnya dengan pandangan sedingin es dan berkata: *"Aku membutuhkan uang itu untuk modal bisnis. Aku akan membangun kerajaanku sendiri."*
Saat itu, dengan keangkuhan setinggi langit, Adrian hanya tertawa meremehkan dan menganggap kalimat Elena sebagai bualan wanita frustrasi yang sedang mencari perhatiannya. Namun sekarang, kenyataan pahit itu justru menampar wajahnya dengan sangat keras. Istri sah yang ia abaikan, ia remehkan, dan ia biarkan ditindas oleh ibunya serta para pelayan rumah, ternyata adalah seorang jenius bisnis bayangan yang kini memegang kendali atas hidup dan mati *Secilia Group*.
"Dan ada satu hal lagi yang harus Anda ketahui, Tuan Muda," Hendra menambahkan dengan ragu-ragu. "Nyonya Besar—ibu Anda—sore tadi mendatangi paviliun barat bersama beberapa pengacara keluarga untuk memaksa Nyonya Muda Elena menandatangani perjanjian penyerahan aset. Namun... mereka semua diusir paksa oleh pengawal pribadi Duke Xavier yang berjaga di sana."
"Sialan!" Adrian mengepalkan tangannya, ego dan harga dirinya sebagai kepala keluarga Secilia hancur berantakan di bawah kaki istrinya sendiri. Dia merasa cemburu, marah, dan tidak berdaya di saat yang bersamaan. Mengapa Duke Xavier begitu protektif terhadap Elena? Apa hubungan sebenarnya di antara mereka di balik dinding paviliun barat itu?
Tanpa memedulikan Sekretaris Hendra yang mencoba mencegahnya, Adrian melangkah lebar keluar dari ruang kerjanya. Dia berjalan dengan langkah besar menembus taman tengah yang diselimuti kegelapan malam, menuju langsung ke arah paviliun barat yang lampunya menyala dengan temaram yang anggun.
Begitu Adrian menginjakkan kaki di anak tangga pertama paviliun, dua pengawal bertubuh tegap dengan setelan jas hitam langsung bergeser cepat, menghalangi jalannya. Pin berlian hitam kecil di kerah jas mereka berkilau di bawah lampu taman—menandakan bahwa mereka adalah pasukan elite milik keluarga Obsidian.
"Minggir!" bentak Adrian, suaranya menggelegar penuh amarah. "Ini adalah rumah keluarga Secilia! Dan aku adalah tuan kalian di sini! Berani-beraninya kalian menghalangi jalanku untuk menemui istriku sendiri?!"
"Maaf, Tuan Muda Adrian," salah satu pengawal menjawab dengan suara bariton yang datar namun kokoh bagai dinding batu. "Kami hanya menerima perintah langsung dari Duke Xavier dan Nona Elena. Siapa pun yang tidak memiliki izin tertulis, termasuk Anda, tidak diperbolehkan melangkah lebih jauh."
"Aku bilang minggir, brengsek!" Adrian maju satu langkah, siap melayangkan pukulan demi mempertahankan harga dirinya yang sudah compang-camping.
"Biarkan dia masuk."
Sebuah suara merdu, anggun, namun sedingin es kutub terdengar dari arah pintu kaca paviliun yang perlahan terbuka. Elena berdiri di sana, mengenakan gaun malam berbahan sutra merah maroon yang elegan, memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Di belakang tubuhnya, di dalam ruangan yang hangat, siluet seorang pria jangkung dengan setelan jas hitam yang sangat familier tampak sedang duduk santai di sofa sembari menyesap segelas anggur merah.
Pria itu adalah Duke Xavier.
Adrian membeku di tempat, napasnya tertahan di tenggorokan saat melihat istrinya sedang berdua di dalam kamar pribadi bersama penguasa bayangan kota pada jam semalam ini. Kobaran api cemburu di dalam dadanya seketika mencapai titik didih, siap meledakkan seluruh ketegangan di antara mereka.
Slmt buat klian brdua....ga mst nunggu lma,clon pewaris udh hdir....
xavier pst mkin posesif.....
Elena slalu luarrrrr biasa....mreka pnts jd raja dn ratu brkuasa,scra spa pun yg mau mnjtuhkn mreka pst akan kalh...
yg 1 pnya kuasa,yg 1 otaknya emng jenius....
btw...slmt jd gembel buat mreka yg awlnya songong.....😛😛😛
aku udh mmpir...slm knal....
btw,aku ngebut bcanya krna pgn cpt komen.....😁😁😁....
brskap songonglh slagi klian bsa,abs tu siap2 mmhon sm orng yg klian hina....🙄🙄🙄