"Dimana Papaku, Ma?"
Pertanyaan seorang bocah cilik bernama Arka Daru Hutama itu membuat wanita dewasa bagaikan tersambar petir. Raut wajah perempuan bernama Ariska Sandra Hutami seketika pucat karena mendengar pertanyaan sederhana itu. Pada akhirnya pertanyaan itu takkan pernah mendapatkan jawaban pasti sampai takdir kembali mempertemukan Ariska dengan sosok seorang laki-laki yang mirip dengan Arka.
Siapakah sosok laki-laki itu? Apakah pertemuan mereka itu bisa menguak cerita masa lalu yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Omelan
"Alka, kenapa kamu ndak ambil aja itu kaltunya? Itu kaltu sama dengan punya Opa dan Oma kemalin yang buat bayal belanjaan kan? Tinggal masukkan mesin telus bisa bayal di mall lho," seru Azura mengomeli Arka dengan berbagai ocehan karena kesal dengan sikap temannya itu.
"Uang Alka udah banyak, ompong dua. Ndak usah minta sama olang asing. Kalau uang di dalam kaltunya itu hasil cuci baju, kita yang kena masalah." ucap Arka membuat Azura kebingungan.
"Hasil cuci baju? Buka londly di lumah itu olang yang kasih? Atau nemu uang di saku pas nyuci baju?" tanya Azura lagi dengan tatapan polosnya.
"Jangan banyak tanya, ompong. Udah kaya waltawan aja. Masih mending waltawan dibayal. Kamu tanya-tanya gini ndak dibayal. Kamu tuh celewet sekali,"
Azura mengerucutkan bibirnya sebal. Padahal dia ingin tahu tentang alasan Arka yang tidak mengambil kartu itu. Kartu yang berharga untuk mereka bisa memenuhi kebutuhan hidup. Namun Arka sama sekali tidak mengambil kartu itu karena tak mau dianggap mudah sekali dibujuk dengan uang. Padahal jika dia mau, Arka bisa mengambil uang sendiri dari Papanya itu. Sekali pun alasannya nafkah, tapi Arka tidak mau secepat itu dibujuk menerima Papanya.
"Ayo pulang. Kebulu dicali sama Mama nanti," ajak Arka agar Azura tak terus bertanya.
"Alka mau belbagi Mama sama Azula? Kemalin waktu Azula nangis, kata Tante Aliska lho Alka mau belbagi Mama. Belalti Azula boleh dong panggilnya Mama Aliska?" ucap Azura memastikan ucapan Ariska kemarin.
"Iya, boleh." ucap Arka santainya. Arka tidak masalah kalau Azura menganggap Ariska sebagai Mamanya.
Woah...
"Punya Mama sekalang ini Azula. Nanti bisa minta makan, peluk, cium, telus gendong." ucap Azura berjalan sambil melompat kecil karena bahagia sudah mempunyai Mama.
"Padahal dali kemalin juga anggap Mama Aliska itu Mamanya juga ndak masalah. Telnyata kebahagiaanmu itu sedelhana sekali, ompong." gumam Arka sambil tersenyum tipis.
"Ndak usah lompat-lompat. Jadi kodok ntal lama-lama," sindirnya.
"Ndak papa. Bial bisa hidup di dalat dan ail,"
Arka menepuk dahinya pelan. Walaupun bawel dan sangat aktif, ternyata Azura ini pintar. Tak berapa lama, keduanya sampai di toko. Keduanya masuk ke dalam toko dan menyerahkan belanjaan pada Ariska. Tiba-tiba saja Azura langsung memeluk Ariska dengan erat. Perasaan bahagia yang membuncah membuat dia ingin berlama-lama memeluk Ariska. Sedangkan Lina merasa tak enak hati karena sekarang Azura lebih menempel pada Ariska. Lina khawatir kalau Ariska akan merasa risih. Padahal Ariska sendiri tidak masalah jika Azura dekat dengannya.
"Ada apa nih?" tanya Ariska sambil mengelus punggung Azura dengan lembut.
"Alka ijinkan Tante Aliska jadi Mamanya Azula. Senang sekali lasanya Azula ini. Boleh Azula panggilnya Mama?" tanya Azura sambil mendongakkan kepalanya dengan binar antusiasnya.
"Boleh dong. Masa sa..."
"Mbak Ariska yakin? Nanti banyak yang salah paham lho," sela Lina karena takut nanti menjadi salah paham dengan keluarga atau warga sekitar mengenai panggilan itu. Apalagi mereka sudah tahu asal usul dari Azura dan Arka.
"Biar aja mereka salah paham. Bagi aku, Azura memang anaknya Ariska." ucap Ariska dengan tegasnya.
Holeeeee...
Lina hanya bisa pasrah saja mendengar keputusan Ariska. Apalagi keponakannya itu terlihat sangat bahagia saat Ariska mengijinkan untuk memanggilnya Mama. Panggilan sederhana, tapi Azura baru bisa memanggilnya sekarang. Sejak lahir, hanya ada Lina di sisinya. Ingin memanggilnya Mama, tapi pada faktanya Lina adalah Tante dari pihak Ibu. Mata Lina terlihat berkaca-kaca melihat Azura sekarang berjingkrak bahagia.
"Nanti kalau Mbak Ariska menikah dan kita harus berpisah, jangan lupakan kami ya. Setidaknya kabari kami kalau Mbak dan Arka baik-baik saja," ucap Lina dengan pelan sambil merangkul bahu Ariska.
"Aduh... Kepikiran menikah aja belum. Jodohnya belum ada, Lina. Mending kamu duluan aja. Nanti Mbak yang jadi pengiring pengantinnya aja," ucap Ariska sambil terkekeh pelan.
"Huh... Lina juga masih jomblo. Mau kerja dulu aja biar bisa beli rumah dan mobil," ucap Lina yang juga belum ada kepikiran sama sekali untuk menikah.
"Tante Lina masih jomblo?" tanya Azura tiba-tiba dan Lina menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Kasiannya. Gelbong keleta aja gandengannya banyak, kok Tante Lina satu aja ndak ada gandengan." ceplosnya membuat Lina menganga tak percaya.
Hahaha...
Ariska tertawa lepas mendengar ucapan Azura yang menjahili Lina. Bahkan wajah Lina kini masam sekali. Sedangkan Arka hanya menyunggingkan senyum tipisnya melihat Ariska bisa tertawa lebar begitu. Padahal itu hanya lah ucapan sederhana tapi membuat Mamanya tertawa begitu lebar.
"Kurang asem ya emang kamu ini, Azura. Bukannya bantu Tante Lina cari gandengan malah diledekin," ucap Lina dengan tatapan sebalnya.
"Nanti sama Om-Om pengawalnya Opa aja. Azula kenalin," ceplos Azura dengan asal.
Astaga... Nggak mau Tante sama muka-muka datar tidak pernah senyum itu,
Aku takkan membialkan senyummu hilang, Ma. Sekali pun Alka ndak bisa belsama Papa,
***
Tak...
"Ini, Bos. Kartumu tidak berguna di hadapan anakmu," ucap seorang laki-laki dengan wajah masamnya. Bahkan dia langsung melemparkan kartu berwarna hitam itu di atas meja kerja.
Dia adalah Carlo yang langsung kembali ke kota setelah menemui Arka. Frans yang sedang fokus pada laptopnya pun menatap aneh kartu yang dibawa kembali oleh Carlo. Padahal dia sudah meminta pada Carlo agar memberikannya kepada Arka. Carlo duduk di hadapan Frans sambil menghela nafasnya berat. Seperti ada beban berat yang ditanggung di pundaknya.
"Maksudmu apa, Carlo? Ini buat Arka dan Ariska. Kok malah dibalikin ke aku sih?" seru Frans dengan raut wajah kesalnya.
"Bapak Frans yang terhormat, anakmu itu agak lain. Dia bilang nggak butuh kartu itu karena bisa ambil uangnya sendiri. Bos kan tahu sendiri kalau Arka kemarin bisa ambil uang seratus ribu di rekening perusahaan. Dia bisa ambil uang sendiri di rekening Tuan Frans tanpa pakai kartu. Pokoknya kartu ini nggak penting bagi dia," ucap Carlo membuat Frans menepuk dahinya pelan.
"Aku lupa, Carlo. Dia kan bisa ambil uang sendiri dari rekening perusahaanku kalau butuh sesuatu. Tapi kaya nggak merasa bersalah sama sekali dia sudah ambil uang Bapaknya ya?" ucap Frans tak habis pikir dengan anaknya itu.
"Ngapain merasa bersalah, Tuan Frans? Saat masih di dalam perut aja sampai sekarang, Tuan nggak pernah kasih nafkah untuknya. Jadi kalau ambil uang Tuan Frans, ya anggap saja sebagai nafkah yang belum dibayarkan." ucap Carlo dengan jawaban menohok.
Jangan jujur-jujur amat, Carlo. Menyakitkan,
Udah tahu menyakitkan, kerjanya masih asal-asalan.
Hei... Kamu menyindir atasanmu sendiri,
Bodo amat,
lg ya thor byk2🤭😄💪
tq thor🙏😍
lanjutttt💪😄
kmu tu dulu pas diap kejadian kurang usaha nyari keberadaan ariska