Lin Tian lahir dengan seluruh meridian tertutup rapat. Di mata dunia kultivasi, ia tak lebih dari sampah—mustahil menyerap qi, mustahil berdiri sejajar dengan siapa pun. Namun di balik tubuh "cacat" itu, tersimpan sebuah segel kuno yang justru menjadi alasan keluarganya dibantai hingga tak bersisa.
Ketika seorang pengembara tua bernama Mo Cang membuka segel tersebut, Lin Tian akhirnya mengenal qi untuk pertama kali. Sayang, kebahagiaannya hanya bertahan sebentar. Musuh lama sang guru datang, dan Mo Cang tewas di hadapannya.
Kehilangan keluarga. Kehilangan harga diri. Kini kehilangan satu-satunya orang yang menganggapnya anak.
Dari abu tragedi itu, bangkitlah seorang kultivator yang tak kenal ampun. Ia tidak membunuh demi kesenangan—tapi siapa pun yang menghalangi jalannya, tak akan pernah melihat matahari esok hari.
Istana Langit Hitam telah memilih mangsa yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 - Tetesan Cairan Hitam dan Sapuan Jiwa Purba
Hutan di luar tembok utara Kota Naga Langit sunyi mencekam, hanya diiringi suara angin malam yang membawa bau debu reruntuhan dan amis darah dari kejauhan. Lin Tian tidak berhenti berlari. Dengan kecepatan penuh, ia menembus pepohonan rimbun hingga jarak sepuluh mil dari ibu kota, sebelum akhirnya menemukan sebuah gua tersembunyi di balik tirai air terjun kecil yang mengering.
Ia melangkah masuk ke dalam kegelapan gua, napasnya masih tersengal. Darah hitam yang ia muntahkan tadi adalah sisa-sisa energi liar dari ledakan dantian Xue Tu yang belum sepenuhnya tercerna.
Tanpa membuang waktu, Lin Tian duduk bersila di atas batu datar. Ia mengeluarkan beberapa bendera formasi dari cincin spasial Xue Tu dan menancapkannya di sekeliling gua, mengaktifkan Formasi Penyembunyi Aura tingkat tinggi. Cahaya samar berkedip, mengisolasi gua ini dari dunia luar.
Di dalam dantiannya, lautan qi hitam keemasan bercampur merah itu sedang bergejolak hebat. Energi masif dari ledakan pseudo-Inti Emas Xue Tu telah memampatkan qi gas di dalam tubuhnya hingga mencapai titik jenuh. Kini, di pusat pusaran lautan qi tersebut, terbentuk tetesan-tetesan cairan berat berwarna hitam pekat yang berkilau seperti air raksa.
Ini bukan Inti Emas. Ini adalah Lautan Qi Cair, sebuah fenomena mutlak yang hanya terjadi dalam catatan kuno ketika seorang kultivator memadatkan qi-nya melampaui batas wajar tanpa membentuk inti padat. Setiap tetesan cairan ini seberat gunung, mengandung daya hancur yang jauh melampaui qi gas milik kultivator Pondasi Awal Puncak mana pun.
Rasa sakit yang luar biasa merobek meridiannya. Pembuluh darahnya menonjol di permukaan kulit, seolah-olah ada ular-ular hitam yang merayap di bawah dagingnya. Namun, darah jantung naga purba dan darah leluhur Keluarga Lin langsung merespons. Panas yang membakar dan kehangatan yang menenangkan bercampur menjadi satu, membasuh meridiannya yang robek, memaksanya melebar dan mengeras seperti baja spiritual.
Lin Tian menggertakkan gigi, keringat dingin membasahi jubah hitamnya. Ia memutar Segel Dewa Penelan Langit, memaksa tetesan-tetesan qi cair yang liar itu untuk tunduk pada kehendaknya. Proses ini berlangsung selama tiga jam penuh. Ketika ia akhirnya membuka matanya, sepasang pupilnya memancarkan kilatan merah dan hitam yang membuat udara di dalam gua terasa berat.
Ia telah menstabilkan kultivasinya. Ia masih berada di ranah Pengumpulan Qi, namun kapasitas dan kepadatan qi-nya kini setara, bahkan melampaui, kultivator Pondasi Awal Puncak yang telah menyentuh pintu gerbang Inti Emas.
Setelah menenangkan napas, Lin Tian mengalihkan perhatiannya pada cincin spasial merah darah milik Xue Tu. Ia menyapukan kesadarannya ke dalam ruang luas di dalamnya.
Kekayaan seorang Tetua Istana Langit Hitam sungguh mengejutkan. Terdapat tumpukan batu roh tingkat tinggi yang memancarkan cahaya lembut, puluhan botol pil darah tingkat tinggi (yang langsung ia umpankan ke Segel Dewa Penelan Langit untuk dimurnikan menjadi energi murni), dan berbagai artefak pembunuh. Namun, yang paling menarik perhatiannya adalah sebuah slip giok berwarna merah tua dan sebuah lempengan besi berkarat yang terbungkus kain sutra.
Lin Tian memegang slip giok itu dan mengalirkan qi-nya. Suara Xue Tu yang arogan dan dingin langsung bergema di dalam pikirannya.
"Jika kau mendengarkan rekaman ini, berarti aku, Xue Tu, telah mati dalam menjalankan misi agung. Jangan menangis untukku. Sampaikan cincin dan lempengan besi ini kepada Tetua Agung di markas utama Sekte Bulan Darah, yang tersembunyi di kedalaman Pegunungan Seribu Iblis di wilayah barat laut. Katakan padanya bahwa 'Kunci Gerbang Darah' telah siap, dan formasi di Ibu Kota hanyalah langkah pertama untuk membangunkan Leluhur Iblis. Balas dendamku akan diwakilkan oleh lautan darah yang akan mereka ciptakan."
Lin Tian menghancurkan slip giok itu menjadi debu, matanya menyipit dingin. Sekte Bulan Darah. Pegunungan Seribu Iblis.
Ternyata, Istana Langit Hitam di Kota Qilin Hitam dan cabang di Ibu Kota hanyalah sayap dari organisasi yang jauh lebih besar dan lebih tua. Xue Tu hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan untuk mempersiapkan kebangkitan sesuatu yang disebut "Leluhur Iblis".
Ia membuka bungkusan kain sutra dan menatap lempengan besi berkarat itu. Permukaannya dipenuhi oleh rune-rune kuno yang memancarkan aura kebencian dan dosa yang pekat. Saat jari Lin Tian menyentuhnya, Segel Dewa Penelan Langit di dantiannya bergetar hebat, seolah merasakan adanya benda yang sangat kompatibel dengan sifat "penelannya". Ini bukan sekadar kunci, ini adalah artefak warisan kuno yang terkait dengan hukum ruang dan kegelapan.
Tiba-tiba, sebelum Lin Tian bisa mempelajari lempengan itu lebih dalam, seluruh hutan di luar gua bergetar hebat.
Bukan gempa bumi. Itu adalah tekanan spiritual.
Lin Tian membekukan napasnya. Ia segera menarik seluruh auranya ke dalam titik terkecil di dantiannya, membiarkan Segel Dewa Penelan Langit menyelimuti tubuhnya dengan selubung kekosongan, menyamarkannya menjadi sebongkah batu mati tanpa tanda-tanda kehidupan.
Di luar gua, langit malam yang gelap tiba-tiba terbelah oleh cahaya ungu yang menyilaukan. Tiga sosok terbang melayang di atas hutan, memancarkan aura Inti Emas yang membuat pepohonan di bawahnya layu seketika. Namun, di belakang mereka, terdapat satu sosok tua berjubah emas yang berjalan di udara seolah menapak tangga tak kasat mata.
Pria tua itu tidak memancarkan aura yang meledak-ledak. Justru, kehadirannya membuat hukum ruang di sekitarnya terdistorsi. Saat ia bernapas, qi alam di seluruh hutan tersedot masuk ke dalam paru-parunya.
Ranah Jiwa Purba (Nascent Soul).
Sal satu dari monster tersembunyi Kekaisaran Naga Langit telah terbangun dari tidur panjangnya akibat hancurnya Urat Naga Bumi.
"Pencuri itu melarikan diri ke arah utara," suara pria tua berjubah emas itu bergema, tidak keras, namun terdengar jelas di telinga setiap makhluk hidup dalam radius puluhan mil. "Sapu hutan ini. Bunuh siapa pun yang memiliki aura asing. Aku ingin kepalanya, dan aku ingin tahu sekte mana yang berani mencuri dari Kuil Leluhur Kekaisaran."
Ketiga ahli Inti Emas itu membungkuk hormat, lalu melesat ke tiga arah berbeda, melepaskan indra spiritual mereka yang menyapu setiap inci tanah, gua, dan pepohonan.
Gelombang indra spiritual milik ahli Inti Emas menyapu melewati air terjun dan menembus formasi penyembunyi gua Lin Tian. Jantung Lin Tian berhenti berdetak sesaat. Ia tidak berani mengedipkan mata, tidak berani mengalirkan qi, bahkan tidak berani memikirkan dendamnya. Ia membiarkan pikirannya kosong, menyatu dengan kegelapan gua.
Indra spiritual itu berhenti di dalam gua selama tiga detik yang terasa seperti tiga abad.
Akhirnya, gelombang itu bergerak menjauh. Bagi ahli Inti Emas itu, gua tersebut hanyalah celah batu biasa yang tidak memiliki fluktuasi energi.
Setengah jam kemudian, ketika tekanan Jiwa Purba di langit benar-benar menghilang menuju arah lain, Lin Tian baru berani menghembuskan napas panjang. Keringat dingin telah membasahi seluruh tubuh bagian dalamnya.
Ia sadar, meski ia telah membunuh Xue Tu dan menghancurkan formasi mereka, Kekaisaran Naga Langit bukanlah tempat yang bisa ia lawan sendirian saat ini. Satu ahli Jiwa Purba sudah cukup untuk menghabisinya dengan satu jentikan jari. Jika ia tetap tinggal di wilayah ini untuk memburu sisa-sisa Istana Langit Hitam, ia akan langsung berhadapan dengan monster-monster tua kekaisaran yang sedang murka.
Lin Tian berdiri, membereskan bendera formasi, dan menatap ke arah barat laut.
Pegunungan Seribu Iblis. Tempat di mana hukum kekaisaran tidak berlaku, tempat di mana monster, iblis, dan kultivator sesat berkumpul. Di sanalah markas utama Sekte Bulan Darah berada. Di sanalah jawaban tentang Leluhur Iblis dan masa lalu Keluarga Lin yang sesungguhnya terkubur.
"Kekaisaran ini terlalu sempit untuk menampung dendamku," gumam Lin Tian, memasang kembali topeng kulit ular iblisnya, mengubah wajahnya menjadi seorang pedagang paruh baya yang terlihat lemah dan tidak mencolok. "Tunggulah aku di neraka kalian yang sesungguhnya, Sekte Bulan Darah."
Menjelang fajar, ketika patroli kekaisaran sedang sibuk menggeledah wilayah utara, seorang pedagang tua dengan gerobak kayu berisi kulit binatang perlahan melaju keluar dari hutan, membaur dengan rombongan pengungsi yang melarikan diri dari gempa ibu kota, menuju jalan raya barat laut yang panjang dan berdebu.