Terbunuh tepat saat ingin mengubah hidupnya, seorang pemuda reinkarnasi ke Dunia "Astral" dunia raksasa berisi 10 benua. Berbekal kekuatan, ingatan, dan wujud Uchiha Sasuke, ia diberi satu misi suci oleh Dewa Agung: memburu 'Eternity', satu-satunya pemilik 'System' yang mengancam tatanan dunia.
Namun, perburuannya berubah rumit saat menembus lantai 100 sebuah dungeon. Bukannya monster, ia justru bertemu Saviera, seorang Demigod, dan Elaina, anak malaikat kecil yang tiba-tiba memanggilnya "Papa".
Di antara misi memburu sasaran misterius dan ikatan keluarga baru yang mengisi kehampaan jiwanya, jalan mana yang akan ia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shodiq Daryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 : Sosok di Balik Topeng
Mereka meninggalkan Solenne keesokan paginya, memilih untuk tidak menunggu kabar lanjutan dari Katedral Agung yang mungkin tidak akan pernah datang secara jujur. Dalam perjalanan menjauh dari kota megah itu, Sasuke akhirnya menyampaikan sesuatu yang telah ia simpan sejak malam kemunculan Dewa Agung di penginapan Aurelian.
"Dewa Agung memintaku kembali ke tempat pertama kali kami bertemu," Sasuke berkata, ketika mereka berhenti untuk beristirahat di sebuah persimpangan sepi. "Sendirian. Dia bilang akan menjelaskan semuanya tentang 'Yang Tertinggal' di sana."
Saviera menatapnya, dahinya berkerut. "Sendirian. Lagi."
"Aku tahu ini bertentangan dengan kesepakatan kita," Sasuke mengakui cepat, sebelum Saviera sempat protes lebih jauh. "Tapi ini permintaan Dewa Agung sendiri, bukan keputusan sepihakku seperti waktu di Aldric. Dan tempat itu... aku tidak yakin kalian bisa ikut, bahkan jika aku memintanya. Itu semacam ruang di antara dunia, tempat aku pertama sadar setelah kematianku."
Saviera terdiam lama, mempertimbangkan penjelasan itu. "Kau janji akan menceritakan semuanya begitu kau kembali? Tidak ada yang disembunyikan?"
"Aku janji," Sasuke menjawab tegas.
Elaina, yang duduk di antara mereka, menggenggam tangan Sasuke erat. "Janji kelingking?"
Sasuke tersenyum kecil, mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking kecil Elaina. "Janji kelingking."
---
Malam itu, di sebuah padang terbuka jauh dari kota mana pun, Sasuke duduk bersila, memejamkan mata, mencoba mengingat kembali sensasi yang ia rasakan saat pertama kali membuka mata di ruang kosong penuh cahaya putih itu—ruang antara kematian dan kehidupan barunya.
Ia tidak sepenuhnya yakin bagaimana caranya kembali ke sana secara sukarela, namun instingnya, dipandu oleh kekuatan yang mengalir dalam dirinya sejak reinkarnasi, mulai menuntunnya. Dunia di sekelilingnya perlahan memudar, digantikan kehampaan putih yang familiar, sunyi namun tidak menakutkan.
"Kau datang," suara yang familiar menggema dari segala arah, dan sosok Dewa Agung mulai terbentuk dari cahaya putih itu, seperti pertama kali mereka bertemu.
"Kau bilang akan menjelaskan semuanya," Sasuke berkata langsung, tidak membuang waktu untuk basa-basi.
Dewa Agung mengangguk pelan, ekspresinya jauh lebih serius dari yang pernah Sasuke lihat sebelumnya. "Duduklah. Ini cerita yang panjang, dan kau berhak mendengar semuanya."
---
Mereka duduk berhadapan di tengah kehampaan putih itu, dan Dewa Agung mulai bercerita, suaranya berat dengan beban yang tampaknya telah ia pikul sangat lama.
"Sepuluh ribu tahun lalu," ia memulai, "sepuluh dari kami—perwakilan kekuatan tertinggi dari sepuluh benua Astral—membentuk perjanjian untuk menciptakan sistem yang bisa menjaga keseimbangan dunia ini. Sistem Level, Status, semua yang kau kenal sekarang. Kami menyebut diri kami Dewan Sepuluh."
"Termasuk penguasa Titan?" Sasuke bertanya, mengingat petunjuk dari Pastor Elric.
Dewa Agung menatapnya, sedikit terkejut dengan pengetahuan itu, sebelum mengangguk. "Ya. Namanya—dulu—adalah Kronos Aetherion. Penguasa Titan yang paling berkuasa di masanya, dan salah satu pendiri Dewan Sepuluh yang paling vokal."
"Apa yang terjadi padanya?"
"Kronos punya visi berbeda tentang bagaimana sistem ini seharusnya digunakan," Dewa Agung melanjutkan, matanya menerawang jauh mengenang masa lalu. "Ia percaya kekuatan seperti System—kemampuan istimewa yang jauh melampaui batas normal—seharusnya diberikan pada mereka yang 'layak', dipilih oleh Dewan sendiri, untuk menciptakan generasi penguasa yang sempurna. Sisanya dari kami menolak keras ide itu—terlalu berbahaya, terlalu dekat dengan permainan tuhan yang bahkan kami sendiri seharusnya tidak sepenuhnya berhak lakukan."
"Jadi terjadi konflik," Sasuke menyimpulkan.
"Perang saudara di antara Dewan, tepatnya," Dewa Agung mengoreksi, suaranya semakin berat. "Kronos, bersama beberapa pengikut setianya, mencoba merebut kendali penuh atas sistem yang telah kami ciptakan bersama. Kami berhasil mengalahkannya, meski dengan kerugian besar di kedua belah pihak. Alih-alih membunuhnya—sesuatu yang bahkan kami sendiri tidak yakin mampu lakukan sepenuhnya terhadap kekuatan sebesar itu—kami menyegelnya, mengasingkannya jauh dari dunia yang bisa ia pengaruhi."
---
"Tapi segel itu tidak bertahan selamanya," Sasuke berkata, sudah menduga arah cerita ini.
"Tidak," Dewa Agung mengonfirmasi, kepalanya tertunduk sedikit, seolah menanggung rasa bersalah yang telah lama ia pikul sendirian. "Selama ribuan tahun, ia perlahan mendapatkan kembali kekuatannya, mencari celah-celah kecil untuk memengaruhi dunia dari balik segelnya. Uskup Agung yang sekarang... adalah salah satu hasil dari pengaruhnya yang perlahan menyebar. Aku curiga ini sudah terjadi sejak beberapa dekade lalu, mungkin lebih."
"Uskup Agung yang asli," Sasuke berkata pelan, mengingat wajah ketakutan yang sempat ia lihat, "dia masih ada di sana. Terjebak."
Dewa Agung menatapnya, sesuatu yang mendekati kekaguman muncul di matanya. "Kau melihatnya juga."
"Elaina yang melihatnya lebih dulu," Sasuke mengakui jujur. "Dia bilang ada 'kakek yang sedih' di dalam sana."
Sebuah senyum kecil dan tulus muncul di wajah Dewa Agung, campuran antara kesedihan dan sedikit kekaguman. "Anak itu punya kepekaan yang luar biasa. Ya—Uskup Agung yang asli, seorang pria bernama Aldric Thorne, masih hidup, dalam artian tertentu. Kesadarannya tertindas jauh di dalam, dikendalikan oleh pengaruh Kronos yang perlahan menguasai tubuhnya seiring waktu."
"Kenapa kau tidak menghentikannya lebih awal?" Sasuke bertanya, sedikit kemarahan mulai muncul dalam suaranya. "Kau tahu ini terjadi, dan kau membiarkannya berlanjut selama ini?"
---
Dewa Agung menghela napas panjang, menatap Sasuke dengan kejujuran yang jarang ia tunjukkan. "Karena aku tidak sepenuhnya yakin bagaimana caranya, Sasuke. Kronos adalah salah satu yang terkuat di antara kami, bahkan dalam kondisi tersegel sebagian. Menghadapinya secara langsung berisiko melepaskan lebih banyak kekuatannya daripada yang bisa kami kendalikan. Aku sudah mencoba berbagai cara diam-diam selama bertahun-tahun untuk melemahkan pengaruhnya, namun ia selalu menemukan cara untuk beradaptasi."
"Dan misi yang kau berikan padaku," Sasuke berkata, potongan-potongan mulai tersusun dalam benaknya, "berburu Eternity. Apa hubungannya dengan semua ini?"
Dewa Agung menatapnya lama, sebelum akhirnya menjawab. "Aku curiga, meski belum sepenuhnya yakin, bahwa Kronos juga tertarik pada kekuatan System yang dimiliki Eternity. Jika ia berhasil mendapatkannya, entah bagaimana caranya, kekuatannya akan bertambah jauh melampaui apa yang bisa kami tangani bersama. Program 'Ksatria Suci' yang coba dihentikan olehmu—aku curiga itu bukan sepenuhnya inisiatifku sendiri. Itu kemungkinan besar dorongan dari Kronos, menggunakan wajah Uskup Agung, untuk mempercepat perburuan terhadap Eternity demi kepentingannya sendiri."
Sasuke merasakan beban baru menghantam kesadarannya—misi yang selama ini ia jalani, ternyata terjalin dalam konspirasi yang jauh lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan.
"Jadi apa yang harus kulakukan sekarang?" Sasuke bertanya, suaranya penuh tekad meski beratnya situasi ini nyaris tak tertahankan.
Dewa Agung menatapnya lama, sebelum akhirnya berkata, "Aku tidak bisa memberimu jawaban mudah, Sasuke. Tapi aku bisa memberimu kebenaran, dan kepercayaan bahwa kau akan menemukan jalanmu sendiri—seperti yang selalu kau lakukan sejak awal."
---
*Bersambung ke Bab 35: Warisan Dewan Sepuluh*
jangan lupa mampir ya ke novel saya judulnya : di bawah nama yang di pilih Takdir 💪💪