Di tengah kemegahan Kerajaan Hikari yang dipimpin oleh sang Ratu muda yang egois, Miyura, ketegangan sosial kian memuncak akibat pajak yang mencekik rakyat. Di balik dinding istana yang megah berbalut arsitektur barok, Miyura hidup berdampingan dengan pelayan setianya, Aragoto, yang selalu menuruti setiap titahnya. Di sisi lain, di perbatasan kota pelabuhan Fushi yang kumuh, hiduplah Jesslyn, seorang gadis berjiwa bebas yang hari-harinya diwarnai oleh melodi musik. Di kota yang sama, Liini White hidup dalam pengucilan dan kesendirian, hanya bisa menatap Jesslyn dari kejauhan seperti menggapai sesuatu yang mustahil ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IΠD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gathering
Sore itu, di sebuah taman tersembunyi yang dipenuhi bunga-bunga mekar dengan arsitektur klasik yang asri, langkah kaki ringan membawa Jesslyn menyusuri jalan setapak berbatu. Di tengah keindahan tempat tersebut, ia tidak sengaja berpapasan dengan Pangeran Yoshi, yang tengah berdiri menikmati semilir angin sore sambil mengenakan pakaian bangsawan birunya yang elegan.
Mendapati kehadiran seorang gadis berambut hijau di taman pribadinya, Yoshi sedikit menoleh dan tersenyum ramah menyambut kedatangan Jesslyn.
"Ah, selamat sore," sapa Yoshi dengan nada lembut dan berwibawa, sedikit membungkuk sopan. "Kelihatannya kau terpesona dengan tempat ini. Jarang sekali ada orang yang bisa masuk sampai ke bagian dalam taman ini."
Jesslyn, yang sedikit terkejut, buru-buru merapikan roknya dan membalas sapaan itu dengan senyuman manisnya. "Ah, selamat sore juga, Tuan. Maafkan saya jika mengejutkan Anda. Saya hanya berjalan-jalan menikmati udara sore, lalu tidak sengaja tersesat ke tempat seindah ini. Tempat ini sungguh luar biasa."
Yoshi tertawa kecil mendengar jawaban polos tersebut, sorot matanya menyiratkan kehangatan. Ia berjalan pelan mendekati pembatas taman yang menghadap langsung ke pemandangan kota.
"Tidak apa-apa, kau tidak perlu meminta maaf," ujar Yoshi ramah sambil menatap sekeliling taman. "Tempat ini memang sengaja kubuat tersembunyi dari keramaian istana. Sebenarnya, taman ini adalah milik pribadi yang sudah kurawat dan kuurus sendiri sejak aku masih kecil."
Mendengar pengakuan itu, mata Jesslyn langsung membelalak lebar. Ia menatap Yoshi dengan ekspresi terkagum-kagum secara terang-terangan, membuat pipinya merona gemas karena tak menyangka seorang bangsawan berpendidikan tinggi mau meluangkan waktu masa kecilnya untuk merawat tanaman.
"Sungguh? Kau merawatnya sendiri sejak kecil?" seru Jesslyn dengan nada takjub, kedua tangannya bertumpu di depan dadanya. "Itu luar biasa sekali, Tuan! Biasanya seorang bangsawan hanya tahu cara menikmatinya saja, tapi kau benar-benar memperlakukannya seperti teman masa kecilmu sendiri. Taman ini jadi terasa jauh lebih istimewa."
Yoshi tersenyum hangat, merasa tersanjung dengan kepolosan dan ketulusan pujian dari gadis di hadapannya itu. Ia lantas melanjutkan ceritanya dengan antusias.
"Kau benar, taman ini memang sudah seperti bagian dari diriku," lanjut Yoshi sambil menunjuk ke arah deretan bunga mawar putih di sudut taman. "Dulu, saat aku merasa lelah dengan aturan istana yang kaku dan pelajaran membosankan dari para guru privat, aku selalu berlari ke sini. Aku menanam bibit pertamaku di sana—bunga mawar putih itu—dengan tangan kecilku sendiri, meskipun sempat salah memberikan pupuk dan membuat hampir seluruh tanamannya layu di tahun pertama."
Jesslyn tertawa kecil, membayangkan pemandangan Pangeran Yoshi kecil yang panik karena tanamannya hampir mati. Suasana di antara mereka mendadak terasa begitu cair dan akrab, jauh dari kesan kaku dunia bangsawan yang selama ini ditakuti oleh orang-orang desa.
"Tapi dari kegagalan kecil itu, aku belajar bagaimana cara merawat kehidupan dengan sabar," tambah Yoshi dengan senyuman penuh kenangan. "Setiap sudut taman ini menyimpan cerita masa kecilku, mulai dari tempatku menangis diam-diam hingga tempatku bermimpi tentang masa depan negeri ini."
Yoshi tersenyum lembut menatap ekspresi kagum di wajah gadis di hadapannya. Ia melangkah sedikit lebih dekat, lalu menatap lurus ke dalam mata hijau zamrud Jesslyn dengan penuh ketulusan.
"Jika kau mau, Jesslyn... kau bisa datang ke sini kapan pun kau inginkan," ucap Yoshi dengan nada suara yang hangat dan menenangkan. "Aku akan memberikan izin khusus kepadamu. Anggap saja tempat ini terbuka untuk siapa saja yang bisa menghargai keindahannya dengan tulus, bukan untuk mereka yang hanya melihatnya sebagai simbol status."
Mendengar tawaran tersebut, Jesslyn sontak tertegun. Ia langsung menggelengkan kepalanya pelan, sementara rasa tidak enak menyergap hatinya.
"Ah, tidak... Tuan Yoshi, saya tidak enak dan merasa tidak pantas," sangkal Jesslyn dengan suara gugup, menarik sedikit tangannya ke belakang. "Saya hanyalah seorang gadis dari desa biasa, tidak pantas bagi seseorang dari kasta rendahan sepertiku untuk mendatangi taman pribadi seorang bangsawan terhormat seperti Anda."
Tanpa diduga, sebelum Jesslyn sempat menarik kedua tangannya sepenuhnya, Yoshi dengan sigap namun lembut mengenggam kedua tangan Jesslyn dengan tangannya sendiri. Sentuhan hangat itu seketika membuat tubuh Jesslyn menegang. Detik itu juga, rona merah yang pekat menjalar cepat di kedua pipinya, membuat jantungnya berdegup kencang karena terpesona oleh tindakan sang pangeran.
Yoshi tersenyum semakin manis, mengeratkan sedikit genggamannya untuk meyakinkan gadis itu. "Jangan pernah merendahkan dirimu sendiri, Jesslyn. Di tempat ini, tidak ada kasta ataupun status sosial. Yang ada hanyalah dua orang yang berbagi ketenangan. Kehadiranmu justru membuat taman ini terasa jauh lebih hidup."
Wajah Jesslyn semakin memerah, napasnya sedikit tercekat menahan rasa salah tingkah yang luar biasa. Ia tak mampu berkata apa-apa lagi selain mengangguk pelan dengan cepat untuk menyembunyikan rasa malunya.
"Terima kasih... terima kasih banyak, Tuan Yoshi," ucap Jesslyn terbata-bata sambil membungkuk sopan berkali-kali. Namun, tiba-tiba ia teringat pada jam pekerjaannya di rumah. "Ah, ampun! Aku baru ingat, aku harus segera pulang karena ada tugas yang harus diselesaikan di rumah!"
Tanpa menunggu lebih lama lagi, dengan wajah yang masih merona merah dan senyuman tersipu, Jesslyn langsung berbalik dan berlari kecil meninggalkan area taman, meninggalkan jejak tawa ringan yang manis di udara.
Yoshi berdiri terpaku sejenak di tempatnya, menatap ke arah kepergian gadis berambut hijau itu dengan senyuman terkulum di bibirnya. Perlahan, ia menggelengkan kepalanya pelan seraya bergumam seorang diri.
"Gadis yang luar biasa..." gumam Yoshi pelan, menikmati sisa aroma kehangatan yang tertinggal setelah kepergian Jesslyn dari dunianya.