Dijodohin sama Kian, sahabat dari kecil yang pernah nempelin permen karet di rambut gue itu sebuah bencana.
Gue tahu betul bobroknya Kian dari A sampai Z, tahu cara mikirnya yang ajaib sampai rekor kencannya yang melebihi jumlah anggota DPR. Kalau dipikir secara logika, harusnya tanpa pikir panjang gue langsung nolak.
Tapi masalah utamanya satu, Gue suka sama Kian.
Sialan emang.
Kini, demi gengsi Kian yang terluka gara-gara ditolak di meja makan, gue jadi terjebak masa percobaan 6 bulan jadi pasangan PDKT resmi. Masa di mana gue harus bertahan di antara dada yang deg-degan parah, dan dorongan kuat buat ngeplak kepala Kian saban hari.
Sanggupkah gue bertahan tanpa kehilangan akal sehat ini?😭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Barisan Mantan dan Tembok Cina
Mengantar gue konsultasi skripsi ternyata bukan cuma gertakan Sambal terasi. Kian benar-benar berdiri di depan pintu ruang dosen pembimbing gue selama satu jam penuh. Dia menyandarkan punggung di dinding koridor, berdiri tegap bak pengawal pribadi kerajaan yang siap mengeksekusi siapa pun yang berani menyapa gue, termasuk Rendy, kalau-kalau cowok itu nekat lewat lagi.
Begitu pintu ruangan terbuka dan gue melangkah keluar sambil memeluk draf skripsi yang dipenuhi coretan tinta merah, Kian langsung menghampiri.
"Gimana?" tanyanya, langsung mengambil alih draf tebal di tangan gue.
"Revisi total bab tiga," jawab gue lesu, menyandarkan kepala sejenak ke bahunya tanpa sadar karena saking lelahnya. "Dosen gue minta ditambahin data lima tahun terakhir. Pusing banget."
Kian sempat membeku dua detik pas kepala gue menyentuh bahunya, sebelum akhirnya dia terkekeh pelan. Tangannya terangkat, menepuk-nepuk puncak kepala gue.
"Ya udah, nanti malam gue bantu cari datanya di rumah. Sekarang kita makan dulu. Lu mau makan apa?"
"Gue mau es krim," rengek gue, mendongak menatapnya. "Biar otak gue gak mendidih."
Kian memutar bola matanya, tapi bibirnya mengukir senyum tipis. "Dasar bocah. Ya udah, ayo."
Kami berakhir di sebuah kafe es krim yang cukup populer di dekat area kampus. Tempatnya estetik, dipenuhi lampu-lampu gantung hangat dan pasangan-pasangan muda yang lagi pacaran.
Gue menyendok es krim rasa vanilla salted caramel gue dengan nikmat, sementara Kian cuma memesan Americano dingin tanpa gula. Tipikal Kian, sok dewasa padahal kalau makan senengnya yang kuah-kuah biar gak cape ngunyah.
Di tengah-tengah keheningan yang nyaman itu, HP Kian yang ditaruh di atas meja tiba-tiba menyala. Layarnya menampilkan notifikasi pesan masuk dari aplikasi pesan singkat.
Gue gak sengaja melirik. Di layarnya, tertera nama pengirim, Sisca.
Dada gue langsung terhenyak. Sisca. Gue kenal nama itu. Sisca adalah mantan pacar Kian waktu semester empat, seorang cewek jurusan Manajemen yang cantik, modis, dan dulu pernah bikin gue nangis sesenggukan di kamar mandi karena Kian sempat memprioritaskan acara kencan mereka dibanding nemenin gue berobat pas demam tinggi.
Isi pesannya yang mengambang di layar terkunci kelihatan jelas. Ki, free gak nanti malam? Aku di Jakarta, mau ngobrol bentar dong...'
Tangan gue yang lagi memegang sendok es krim mendadak kaku. Rasa manis salted caramel di lidah gue mendadak berubah hambar seketika.
Gue buru-buru memalingkan wajah, menyedot air putih, dan memutus kontak mata dari layar HP-nya. Ingat, Ra. Jangan kelihatan cemburu. Lu tadi udah janji sama Naya buat nguji dia.
Kian meraih HP-nya, membaca pesan itu sekilas. Gue memperhatikan gerak-gerik matanya dari sudut mata.
Gue menebak-nebak apa yang bakal Kian lakukan. Apakah dia bakal mengetik balasan dengan cepat? Apakah dia bakal beralasan ada urusan nanti malam dan membatalkan janjinya buat bantuin draf skripsi gue? Benteng pertahanan yang tadi siang sempat goyah gara-gara aksi cemburu Kian di kantin, kini langsung kembali berdiri kokoh setinggi Tembok Cina.
Tuh kan, batin gue sinis. Paling entar dia ngeles.
"Ra," panggil Kian.
Gue mendongak, memasang raut muka secuek mungkin. "Kenapa?"
Kian gak membalas chat itu secara sembunyi-sembunyi. Sebaliknya, dia malah menyodorkan layar HP-nya tepat di depan muka gue.
"Sisca nge-chat gue," kata Kian tenang.
Gue mengerutkan dahi, pura-pura gak peduli walau jantung gue udah berdegup kencang. "Ya... terus? Kenapa laporan ke gue? Ya lu balas lah."
Kian menatap gue lurus. Dia lalu menekan tombol voice note di ruang obrolan Sisca, menaruh HP-nya di dekat bibir, dan berbicara dengan suara yang cukup kencang sampai bisa gue dengar dengan sangat jelas.
"Sori ya, Ca. Nanti malam gue gak bisa. Gue udah ada janji mau nemenin calon istri gue ngerjain revisi skripsi di rumah. Next time aja kalau pas kumpul anak-anak yang lain."
Klik.
Pesan suara itu terkirim.
Gue melotot. Mulut gue sampai sedikit terbuka karena syok berat. Kian menolak mantan pacarnya yang paling berkesan... secara gamblang, tegas, dan terang-terangan menyebut kata 'calon istri' di dalam pesan suara itu?!
Kian menaruh kembali HP-nya di meja dengan posisi dilipat telungkup, seolah-olah obrolan sama mantannya itu cuma hal sepele yang gak bernilai sama sekali. Dia lalu menyandarkan tubuh, menopang dagu pakai tangan kanan sambil menatap gue dengan cengiran tengilnya yang biasa.
"Gimana, Calon?" goda Kian, matanya berbinar-binar jahil. "Lulus gak ujian integritas gue hari ini?"
Gue menelan ludah pahit, muka gue seketika panas bukan main sampai ke leher. Sialan! Cowok ini bener-bener tahu kalau dia lagi diuji!
"Siapa... siapa juga yang lagi menguji lu!" seru gue gagap, buru-pura menyendok es krim dalam porsi besar buat menutupi rasa salah tingkah gue yang udah di ambang batas.
Kian tertawa renyah. Tawa hangat yang bikin pertahanan Tembok Cina di dalam dada gue mendadak runtuh lagi, hancur berkeping-keping tanpa sisa.
"Elora, Elora," gumam Kian pelan, mengulurkan tangannya untuk mengusap lembut sisa es krim di sudut bibir gue menggunakan ibu jarinya. "Gue udah bilang kan? Gue serius. Gue gak akan biarkan cewek mana pun masuk di antara kita selama masa enam bulan ini. Termasuk mantan-mantan gue."
Gue terpaku, menatap mata Kian yang begitu jernih dan tulus di bawah remang lampu kafe. Dan malam itu, ketakutan terbesar gue perlahan mulai bergeser. Gue gak lagi takut kalau Kian cuma main-main... tapi gue mulai takut kalau enam bulan ini selesai, dan gue makin gak sanggup buat hidup tanpa dia.