Indonesia
NovelToon NovelToon
Keluarga Suamiku Adalah Masalahku

Keluarga Suamiku Adalah Masalahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ovelia.shin

Nadira menikah dengan Arga karena percaya bahwa laki-laki itu akan menjadi tempatnya pulang. Namun setelah menikah, ia sadar bahwa yang ia nikahi bukan hanya Arga—melainkan seluruh keluarganya.
Ibu mertua yang selalu merasa berhak mengatur kehidupan mereka. Adik ipar yang iri dan gemar mengadu domba.

Akankah Nadira tetap bersabar menghadapi sikap keluarga suaminya.Sementara Arga sang suami tak bisa bersikap tegas.Karena baginya Nadira dan keluarga sangat penting bagi hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ovelia.shin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

— JANGAN PAKSA AKU PERGI

Pagi itu, Arga kembali berangkat kerja seperti biasa.

Sebelum pergi, ia sempat menghampiri Nadira yang sedang menyiapkan sarapan.

“Jangan terlalu capek hari ini.” ucap Arga mengingat Nadira.

Nadira tersenyum.

“Iya.” jawab Nadira sambil mengangguk paham.

Arga mencium keningnya.

“Aku pulang agak malam. Ada meeting.” ucapan Arga memberitahu sebelum ia berangkat.

“Iya,aku mengerti." jawab Nadira lagi.

Setelah mobil Arga keluar dari halaman, Nadira pun kembali ke dapur.

Namun baru beberapa menit kemudian, suara Bu Ratih terdengar.

“Nadira!” panggil sang ibu mertua.

Nadira segera menghampiri.

“Iya, Bu?” sahut Nadira.

Bu Ratih duduk bersama Rani di ruang tengah.

“Mulai hari ini, Ibu tidak mau kamu terlalu sering berada di kamar.”

Nadira mengerutkan kening.

“Aku tidak mengerti.”

“Kamu harus lebih banyak membantu di rumah.”

Nadira menarik napas.

“Aku sudah membantu.”

“Belum cukup.”

Rani menyela,

“Rumah ini masih banyak yang harus dikerjakan,kak.”

Nadira menatap sekeliling.

Rumah itu sudah bersih.

“Pekerjaan apa lagi?” tanya Nadira bingung.

Bu Ratih tersenyum tipis.

“Kamu cari sendiri.”

Nadira terdiam.

Ia mulai sadar.

Ini bukan tentang pekerjaan rumah.

Ini tentang membuatnya merasa tidak pernah cukup.

“Baik,” jawab Nadira akhirnya.

Ia berbalik.

Namun Bu Ratih kembali memanggil.

“Nadira.” panggilnya lagi.

Nadira menoleh.

“Kalau kamu merasa tidak sanggup…”

Bu Ratih sengaja berhenti.

“…Kamu bisa pulang ke rumah orang tuamu.”

Nadira membeku.

Rani tersenyum kecil.

Untuk beberapa detik, Nadira tidak menjawab.

Kemudian ia berkata,

“Jadi itu yang Ibu inginkan?” tanya Nadira sesaat menatap serius ke arah ibu mertuanya.

Bu Ratih mengangkat alis.

“Apa?”

“Aku pergi.”

Bu Ratih tidak menjawab.

Nadira mengangguk pelan.

“Baik. Sekarang aku mengerti.”

Rani langsung berkata,

“Jangan salah paham. Ibu hanya memberi pilihan.”

Nadira menatapnya.

“Tidak.”

Ia tersenyum tipis.

“Kalian sedang menunggu aku menyerah.”

Bu Ratih terlihat kesal.

“Kamu terlalu percaya diri.” ujar bu Ratih dengan gaya sombongnya.

“Aku hanya sudah mulai bisa membaca maksud kalian.”

Nadira kemudian berjalan pergi.

Siang harinya, Nadira masuk ke kamar dan membuka lemari.

Ia mengambil beberapa pakaian.

Bukan untuk pergi.

Ia hanya ingin melihat barang-barang yang sudah ia miliki.

Namun tiba-tiba sebuah foto jatuh dari sela-sela buku.

Foto lama Arga dan Livia.

Nadira terdiam.

Foto itu pasti sengaja disimpan di sana.

Ia mengambilnya.

Di belakang foto terdapat tulisan tangan.

Andai waktu bisa kembali.

Nadira menatap tulisan itu cukup lama.

Dadanya terasa sesak.

Namun ia tidak menangis.

Ia justru tersenyum getir.

“Jadi kalian benar-benar ingin aku pergi.”

Ia memasukkan foto itu ke dalam amplop.

Kemudian turun ke bawah.

Bu Ratih sedang duduk bersama Rani.

Nadira meletakkan amplop itu di meja.

“Ini.”

Bu Ratih melihatnya.

“Apa?” tanya bu Ratih.

“Foto Arga dan Livia.”

Wajah Rani langsung berubah.

“Dari mana kamu mendapatkannya?”

Nadira menatapnya.

“Di kamar aku.”

Bu Ratih terdiam.

Nadira melanjutkan,

“Aku tidak tahu siapa yang menaruhnya di sana.”

“Tapi aku tahu satu hal.”

Ia menatap ibu dan anak itu.

“Kalau kalian ingin aku pergi, jangan gunakan cara seperti ini.” ujar Nadira mulai kesal.

Rani berdiri.

“Aku tidak tahu apa-apa!” sahut Rani seolah tidak mau dilibatkan.

“Aku juga tidak bilang kamu yang menaruhnya.”

Rani langsung diam.

Bu Ratih menatap Nadira tajam.

“Kamu menuduh Ibu?”

“Tidak.”

Nadira menggeleng.

“Aku hanya mengatakan apa yang aku temukan.”

Kemudian ia mengambil ponselnya.

“Aku akan memberitahu Arga.”

Bu Ratih langsung berdiri.

“Jangan!”

Nadira berhenti.

Untuk pertama kalinya, ia melihat kepanikan di wajah Bu Ratih.

“Kenapa?”

Bu Ratih tidak menjawab.

Nadira tersenyum kecil.

“Sekarang aku semakin yakin.”

Rani mencoba merebut ponsel Nadira.

Namun Nadira mundur.

“Jangan sentuh aku.”

“Nadira!”

“Cukup!”

Suara Nadira meninggi.

Ruang tengah mendadak sunyi.

“Aku sudah terlalu lama diam.”

Matanya berkaca-kaca, tetapi suaranya tetap tegas.

“Aku menghormati Ibu karena Ibu adalah ibu Arga.”

“Aku menghormati Rani karena dia adik suamiku.”

“Tapi itu bukan berarti kalian boleh mempermainkan hidupku.”

Bu Ratih terdiam.

Nadira mengambil napas.

“Kalau kalian memang ingin aku pergi…”

Ia menatap mereka satu per satu.

“Suruh Arga sendiri yang mengatakannya.”

“Selama suamiku masih menginginkanku di sisinya, aku tidak akan pergi hanya karena kalian menyuruhku.”

Setelah mengatakan itu, Nadira berbalik.

Namun sebelum sampai tangga, ponselnya berdering.

Arga.

Nadira menatap layar.

Ia mengangkatnya.

“Halo?”

Suara Arga terdengar dari seberang.

“Kamu kenapa?”

Nadira terdiam.

Arga langsung bertanya lagi.

“Suaramu beda.”

Nadira menatap Bu Ratih dan Rani.

Keduanya memandangnya dengan wajah tegang.

Untuk pertama kalinya, Nadira memiliki kesempatan untuk menceritakan semuanya.

Namun ia belum tahu apakah lebih baik mengatakan semuanya sekarang,atau menunggu sampai Arga sendiri melihat kebenarannya.

1
tanjiro azuma
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!