"Ternyata selama ini aku salah mengira. Perempuan yang kutemui di pondok baru itu bukanlah perempuan yang mengajakku ta'aruf. Aku terlalu cepat menyimpulkan hanya karena namanya sama. Ah, betapa cerobohnya aku... Seandainya sejak awal aku tidak terburu-buru membuat penilaian, mungkin kebingungan ini takkan pernah terjadi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Aisyah
Pagi tadi aku mendapat kabar bahwa Aisyah ingin berkunjung ke rumah UstadzSyaiful.
Entah mengapa, sejak mendengar kabar itu, hatiku mulai berdebar lebih kencang. Ada sesuatu yang sulit kujelaskan. Antara gugup, khawatir, dan rasa tidak tenang yang terus memenuhi pikiran.
Padahal, aku juga masih memberikan harapan kepada Aisyah yang dulu pernah kutemui di pondok. Entah apakah dia masih menanti sesuatu dariku, atau justru sudah melupakanku karena aku tak kunjung memberikan kabar.
Pikiran itu terus mengusik.
Aku mulai membayangkan kedatangan Aisyah yang belum pernah kutemui sebelumnya. Seperti apa perangainya? Bagaimana cara bicaranya? Apakah dia akan mudah diajak berbicara?
Dan yang paling membuatku khawatir...
Bagaimana jika nanti aku justru mulai membandingkannya dengan Aisyah yang pernah kutemui?
Aku menghela napas panjang.
Tidak. Aku tidak boleh terus memikirkan semuanya dalam keadaan seperti ini.
Sebelum bertemu Aisyah, aku memutuskan untuk keluar dan berlari mengelilingi area pondok. Mungkin dengan berlari, pikiranku bisa sedikit lebih jernih. Setidaknya aku bisa memberi ruang bagi diriku sendiri untuk menenangkan hati sebelum menghadapi apa pun yang akan terjadi nanti.
Aku mulai berlari pelan melewati halaman pondok yang masih sejuk. Udara pagi menyentuh wajahku, sementara langkah kakiku terus bergerak mengikuti jalan setapak di sekitar pondok.
Satu putaran.
Dua putaran.
Namun, ternyata berlari tidak serta-merta membuat pikiranku berhenti.
Nama Aisyah masih saja terlintas di kepala.
Aku memperlambat langkah, lalu menarik napas dalam-dalam.
“Ya Allah…” gumamku lirih.
Aku menundukkan kepala sejenak, mencoba menata kembali pikiranku.
Setelah beberapa saat, aku kembali melangkahkan kaki. Tanpa sadar, langkahku membawaku tepat ke depan rumah Ustadz Syaiful.
Aku menghentikan langkah.
Di halaman rumah itu terlihat sebuah mobil baru saja datang.
Pintu mobil terbuka.
Seorang perempuan turun dari dalamnya.
Ia mengenakan jilbab berwarna ungu muda yang menjuntai sederhana. Gerakannya tenang ketika melangkah keluar dari mobil.
Entah mengapa, dadaku tiba-tiba terasa sesak.
Jantungku berdetak jauh lebih cepat.
Aku menatap perempuan itu beberapa detik.
“Jangan-jangan…”
Aku segera mengalihkan pandangan, lalu kembali melihat ke arahnya.
Apakah dia Aisyah?
Aku tidak tahu apakah jantungku berdebar karena baru saja berlari mengelilingi pondok, atau karena untuk pertama kalinya aku melihat sosok perempuan yang selama ini hanya ada dalam bayanganku.
Namun satu hal yang pasti...
Untuk pertama kalinya sejak pagi, aku benar-benar merasa gugup menghadapi sebuah pertemuan.
Aku beranjak meninggalkan tempat itu dan memutuskan untuk kembali ke asrama.
Baru beberapa langkah berjalan, ponselku tiba-tiba berdering dari dalam saku. Aku segera mengambilnya dan melihat layar.
Ummu.
Aku mengangkat telepon itu.
“Assalamu'alaikum, Nak,” terdengar suara Ummu dari seberang.
“Wa'alaikumussalam, Ummu,” jawabku.
“Nak, segera ke sini. Aisyah sudah datang,” kata Ummu.
Aku terdiam sesaat.
Entah mengapa, setelah mendengar kalimat itu, jantungku kembali berdegup lebih cepat.
“Baik, Ummu,” jawabku singkat.
Telepon pun berakhir.
Aku mempercepat langkah menuju asrama. Berbagai pikiran kembali memenuhi kepala. Perempuan berjilbab ungu muda yang kulihat tadi terus terbayang. Jadi benar, dia Aisyah?
Sesampainya di asrama, aku segera masuk ke kamar. Aku mandi sebentar untuk menyegarkan tubuh setelah berlari. Namun anehnya, air yang membasuh wajah dan tubuhku tidak mampu menghilangkan kegugupan yang sejak tadi bersarang di dada.
Aku berdiri di depan cermin setelah selesai bersiap.
Memandangi pantulan diri sendiri.
“Tenang,” bisikku kepada diri sendiri.
Aku menarik napas panjang.
“Ini hanya sebuah pertemuan.”
Namun hati kecilku seolah membantah.
Bukan. Ini bukan sekadar pertemuan.
Setidaknya, tidak bagiku.
Ada dua nama yang sama. Dua kisah yang berbeda. Dan entah bagaimana, keduanya kini seolah bertemu di satu titik yang sama.
Aku menghela napas sekali lagi, kemudian mengambil langkah keluar dari kamar.
Aku berjalan menuju rumah Ustadz Syaiful.
Semakin dekat aku dengan rumah itu, semakin kencang pula detak jantungku.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah pintu itu kubuka.
Aku juga tidak tahu seperti apa Aisyah yang akan kutemui.
Yang kutahu, sebentar lagi aku akan berhadapan langsung dengannya.
Dan mungkin, setelah pertemuan ini, aku tidak bisa lagi menghindari keputusan yang selama ini terus kutunda.
Aku masuk ke rumah Ustadz Syaiful setelah mengucapkan salam.
“Assalamu'alaikum.”
“Wa'alaikumussalam,” jawab beberapa suara hampir bersamaan.
Aku melangkah masuk.
Di ruang tamu, kulihat hanya ada Ummu Aisyah, istri Ustadz Syaiful, dan perempuan berjilbab ungu muda yang kulihat tadi.
Jadi benar...
Dia Aisyah.
Jantungku kembali berdetak lebih cepat.
“Sini, Nak. Kami buat camilan karena Aisyah mau datang,” kata istri Ustadz Syaiful sambil menyodorkan sepiring kue cucur kepadaku.
Aku mengangguk sambil menerima piring itu.
“Terima kasih, Ummu.”
“Oh iya, kalian belum pernah bertemu, bukan?” tanya Ummu.
Aku belum sempat menjawab ketika Ummu langsung memanggil perempuan berjilbab ungu itu.
“Aisyah, sini!”
Aisyah yang ternyata masih sibuk di dapur menjawab dari dalam.
“Sebentar, Umi.”
Aku menundukkan pandangan. Entah kenapa, mendengar suaranya saja membuat jantungku kembali berdebar.
Aku mencoba mengalihkan perhatian dengan memulai pembicaraan bersama Ummu.
“Oh iya, Ummu... bagaimana keadaan Ummu?”
Ummu terdiam sejenak.
“Biasa, Nak. Kita bahas hal itu nanti saja. Saya tidak mau membuat Aisyah sedih,” jelasnya.
Aku mengangguk.
“Iya, Ummu.”
Tak lama kemudian, Aisyah datang dari arah dapur sambil membawa dua piring. Satu berisi brownies dan satu lagi berisi kukis.
“Ku dengar kemarin Umi habis periksa, ya?” tanyanya kepada Ummu.
“Iya, Nak. Hasilnya insyaallah baik,” jawab Ummu.
Namun, meskipun Ummu berusaha tersenyum, aku bisa melihat ada kekhawatiran yang terselip di balik tatapannya.
Aku memilih diam.
Kami pun tidak lagi melanjutkan pembicaraan tentang pemeriksaan itu. Suasana segera dialihkan kepada hal-hal ringan.
Aisyah banyak bercerita tentang daurah yang diikutinya kemarin. Ia bercerita dengan begitu santai, sesekali tersenyum ketika mengingat kejadian-kejadian kecil selama daurah.
Aku hanya mendengarkan.
Aneh.
Aku sempat membayangkan pertemuan ini akan terasa canggung. Membayangkan kami akan duduk dalam diam, saling mencari bahan pembicaraan.
Ternyata tidak.
Aisyah terlihat biasa saja.
Tidak ada kecanggungan di wajahnya. Tidak ada sikap yang membuatku merasa dia sedang menunggu sesuatu dariku.
Justru aku yang sejak tadi merasa kaku.
Aku beberapa kali mencoba ikut tersenyum, tetapi pikiranku tidak benar-benar berada di ruangan itu.
Aku memperhatikan Aisyah diam-diam.
Inikah perempuan yang selama ini hanya kukenal dari cerita?
Inikah Aisyah yang hendak dikenalkan kepadaku?
Lalu tiba-tiba terlintas wajah Aisyah yang pernah kutemui di pondok.
Aku menghela napas dalam-dalam.
Mengapa aku merasa seperti ini?
Aku bahkan belum memberikan jawaban apa pun kepada Aisyah yang dulu. Namun kini aku duduk di hadapan Aisyah yang lain, seolah sedang membuka kemungkinan baru.
Rasa bersalah perlahan memenuhi dada.
Aku merasa seperti telah mengkhianati seseorang.
Tapi...
Apakah ini benar-benar bisa disebut pengkhianatan?
Aku sendiri tidak tahu.
Bukankah aku tidak pernah berjanji?
Namun, kalau memang tidak ada janji, mengapa hati ini terasa seberat itu?
Aku menundukkan pandangan pada secangkir teh di hadapanku.
Mungkin bukan Aisyah yang membuatku canggung.
Mungkin akulah yang belum selesai dengan diriku sendiri.
jangan lupa masukkan untuk karya ku.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
😄🙏🙏🙏