Larasati, wanita pekerja keras yang sudah lelah hidup dalam kesulitan dan pernah terluka oleh orang yang hanya mementingkan harta, jatuh hati pada Agung—pria sederhana yang tampak tidak memiliki apa-apa, namun selalu menyayanginya dengan tulus dan penuh perhatian. Meski diperingatkan kerabat dan teman agar tidak membuang waktu pada pria yang dianggap tidak mampu mensejahterakannya, Larasati tetap teguh memilih Agung. Mereka menikah dengan sangat sederhana, berjanji untuk membangun kehidupan bersama dalam suka maupun duka.
Selama berbulan-bulan mereka berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan gaji yang pas-pasan, namun kasih sayang Agung tak pernah berkurang sedikitpun. Hingga suatu hari, kedatangan seorang pria tua berwibawa dengan mobil mewah mengubah segalanya. Larasati akhirnya mengetahui kenyataan yang disembunyikan Agung selama ini: suaminya bukanlah orang miskin, melainkan pewaris tunggal keluarga konglomerat Wijaya yang sengaja menyamar menjadi orang biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Badai Keuangan yang Mengguncang
Hari Senin pagi yang seharusnya tenang berubah menjadi mimpi buruk dalam sekejap. Saat pasar saham dibuka, harga saham Saraswati Group jatuh bebas secara drastis. Lima belas persen hilang hanya dalam tiga puluh menit pertama, dan terus merosot tajam seiring dengan menyebarnya isu-isu bohong yang dirancang sempurna: Saraswati Group bangkrut tersembunyi, Proyek perkebunan mereka gagal total, Agung dan Larasati kabur membawa uang rakyat.
Di ruang rapat direksi yang biasanya tenang dan penuh wibawa, kini terasa seperti medan perang yang kacau. Layar besar di dinding menunjukkan grafik saham yang terus menukik tajam ke bawah. Para direktur dan komisaris berteriak satu sama lain, wajah mereka pucat pasi, ada yang panik menjual saham pribadi mereka secara diam-diam, ada yang menuntut Agung segera mundur dari jabatan demi menyelamatkan sisa aset perusahaan.
Agung berdiri di ujung meja panjang, wajahnya datar namun matanya memancarkan ketegasan sang pemimpin yang tidak akan goyah meski dunia di sekelilingnya runtuh. Tangannya yang besar menekan permukaan meja marmer dengan kuat, dan suaranya yang rendah namun menggelegar berhasil membungkam semua keributan dalam sekejap.
“Cukup!” teriaknya tegas. “Menjual saham sekarang sama saja dengan menjatuhkan perusahaan kita sendiri ke dalam lubang yang lebih dalam. Dan kalian yang menginginkan aku mundur — ingat baik-baik. Aku tidak membangun perusahaan ini dari hampir bangkrut menjadi seperti sekarang hanya untuk lari meninggalkannya saat badai datang. Aku akan tetap di sini. Sampai napas terakhirku.”
Larasati duduk di samping suaminya, wajahnya cantik namun pucat. Tangannya yang biasanya cekatan mengatur strategi bisnis kini gemetar sedikit di bawah meja — bukan karena takut kehilangan kekayaan, tapi karena ia tahu betapa besarnya tanggung jawab yang mereka pikul. Ribuan karyawan, ribuan keluarga petani, ribuan orang yang menggantungkan hidup pada perusahaan ini. Jika mereka gagal, semuanya akan hancur.
Setelah rapat yang melelahkan dan penuh ketegangan berakhir, mereka berdua ditinggal sendirian di ruangan yang luas dan sunyi itu. Larasati bersandar di kursinya, menutup matanya rapat-rapat, berusaha menahan sakit kepala yang mulai menyerang pelipisnya.
“Mereka menyerang kita dari segala sisi, Yang,” bisiknya lelah. “Jalur ekspor ke Eropa dan Amerika tiba-tiba diblokir tanpa alasan jelas. Beberapa bank besar menarik pinjaman mereka secara sepihak. Dan investor besar yang sudah bekerja sama dengan kita selama belasan tahun tiba-tiba menarik dana mereka. Ini bukan serangan biasa. Ini direncanakan dengan sangat matang oleh orang yang punya kekuatan jauh lebih besar dari Kevin atau Pak Surya.”
Agung berjalan mendekat, lalu berjongkok di depan istrinya. Ia mengambil tangan dingin Larasati dengan kedua tangannya yang hangat, mengusap punggung tangan wanita itu berulang kali dengan gerakan menenangkan.
“Aku tahu. Ada tangan dingin asing di balik semua ini. Tim intelijen kita sudah melacak jejak dana yang menjual saham kita besar-besaran. Semuanya berasal dari satu kelompok investasi asing yang dipimpin oleh seseorang bernama Viktor Reinhard. Orang Jerman yang dikenal sebagai pemakan perusahaan bangkrut. Dia membeli perusahaan yang sedang sakit, memecah-belah asetnya, lalu menjualnya untuk keuntungan besar tanpa peduli nasib karyawan di dalamnya.”
Larasati membuka matanya, menatap mata suaminya dalam-dalam.
“Dan dia mengincar kita?”
“Dia mengincar tanah kita, Laras. Tanah perkebunan yang memiliki emas di bawahnya dan Kopi Melati yang tak ternilai harganya. Dia tahu kita tidak akan pernah menjualnya secara sukarela. Jadi dia mencoba menghancurkan kita secara finansial sampai kita tidak punya pilihan selain menyerahkan segalanya padanya dengan harga murah.”
Larasati menarik napas panjang dan dalam. Ia mendongak menatap langit-langit ruangan yang tinggi, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
“Kadang aku lelah, Yang. Kadang aku berpikir… apakah ada habisnya perjuangan ini? Begitu satu masalah selesai, masalah lain yang jauh lebih besar datang menghantam. Kita sudah melewati begitu banyak. Berapa banyak lagi yang harus kita tanggung?”
Agung bangkit berdiri, lalu menarik tubuh istrinya masuk ke dalam pelukan erat. Ia mencium ubun-ubun Larasati lama sekali, membiarkan wanita itu menyembunyikan wajahnya di dadanya dan melepaskan sedikit beban yang ia pikul sendirian.
“Ingat tidak malam terburuk kita di kontrakan dulu?” bisik Agung pelan, suaranya bergetar karena kenangan pahit yang juga manis itu. “Saat itu kita tidak punya uang sepeser pun. Beras di toples sudah habis. Listrik diputus. Kamu sedang hamil muda dengan Lala, dan kamu sakit demam tinggi tapi kita tidak punya uang untuk membeli obat. Kamu ingat apa yang kamu katakan padaku malam itu?”
Larasati mengangguk pelan di dada suaminya, air mata akhirnya menetes juga membasahi kemeja pria itu.
“Aku bilang… tidak apa-apa, Yang. Kita sudah melewati yang terburuk. Selama kita masih bersama, besok pasti akan lebih baik.”
“Benar,” Agung mengangguk, suaranya penuh keyakinan yang menular. “Kita sudah melewati titik terendah di mana kita bahkan tidak punya uang untuk makan sehari sekali. Sekarang kita punya perusahaan, kita punya ribuan orang yang mendukung kita, kita punya keluarga yang utuh. Ini bukan titik terendah kita. Ini hanya badai yang akan berlalu juga. Dan kita akan melewatinya bersama. Seperti selalu.”
Berita tentang krisis keuangan yang menimpa keluarga Saraswati akhirnya sampai juga ke telinga Lala di desa perbatasan. Gadis remaja itu duduk diam di tepi jurang, memegang telepon genggamnya dengan tangan gemetar setelah mendengar penjelasan ibunya yang berusaha terdengar tenang di seberang sana. Ia tahu ibunya berusaha melindunginya dari kekhawatiran, tapi Lala bisa mendengar getaran lelah di suara Larasati yang tidak bisa disembunyikan.
Reno duduk di sampingnya, wajahnya penuh kekhawatiran melihat perubahan ekspresi Lala.
“Apa yang terjadi? Apa ada yang salah dengan keluargamu?”
Lala menoleh padanya, matanya berkaca-kaca namun penuh tekad yang menyala.
“Ayah dan Ibu sedang menghadapi krisis besar di perusahaan. Seseorang berusaha menghancurkan mereka secara finansial. Aku tidak bisa hanya diam di sini menikmati kedamaian sementara orang tuaku berjuang sendirian di kota. Aku harus pulang. Aku harus membantu mereka dengan cara apa pun yang aku bisa.”
Reno mengangguk mantap tanpa ragu sedikit pun. Ia sudah berjanji akan menjaga Lala dan mendukungnya apa pun yang terjadi.
“Aku ikut bersamamu. Kemana pun kau pergi, aku ada di sisimu. Dan aku yakin… ada cara yang bisa kita lakukan untuk membantu. Mungkin bukan dari sisi bisnis, tapi dari sisi yang selama ini dilupakan orang.”
Sementara itu, di rumah besar Jakarta, Bagas yang baru berusia sepuluh tahun duduk sendirian di ruang kerja ayahnya yang kosong. Ia melihat tumpukan dokumen keuangan yang berantakan di atas meja, melihat grafik saham yang jatuh bebas di layar komputer yang menyala. Anak laki-laki itu yang pendiam dan suka mengamati ini sebenarnya memiliki bakat luar biasa di bidang teknologi dan angka — bakat yang selama ini belum terlalu diperhatikan orang tuanya karena kesibukan mereka.
Dengan jari-jarinya yang kecil namun cekatan, Bagas mulai mengetik sesuatu di keyboard. Ia meretas masuk ke dalam sistem jaringan kelompok investasi asing yang menyerang mereka — bukan untuk mencuri data, tapi untuk melacak pola pergerakan dana mereka. Matanya yang cerdas menyala saat melihat pola yang tidak terlihat oleh para analis keuangan dewasa di perusahaan. Ia menemukan celah. Ia menemukan kelemahan dalam strategi serangan Viktor Reinhard yang bisa dimanfaatkan untuk membalikkan keadaan.
Anak kecil itu segera mencetak laporannya yang rapi dan terperinci, lalu berlari keluar ruangan mencari orang tuanya dengan wajah penuh semangat. Ia mungkin masih kecil, tapi ia ingin membuktikan bahwa dia juga bisa berkontribusi menyelamatkan keluarga dan perusahaan yang dibangun dengan keringat darah ayah dan ibunya.
Malam itu jatuh dengan berat dan sunyi. Di kamar utama rumah besar, Agung dan Larasati duduk berdampingan di tepi ranjang, lelah luar biasa setelah seharian berjuang menenangkan investor dan karyawan. Laporan keuangan di tangan mereka menunjukkan angka yang menyedihkan. Jika keadaan terus seperti ini, dalam dua minggu lagi mereka akan kehilangan kendali atas sebagian besar aset perusahaan.
“Kita mungkin harus menjual sebagian properti di pusat kota untuk menutupi kekurangan dana sementara,” kata Larasati pelan, suaranya berat karena harus melepaskan aset yang mereka bangun dengan susah payah. “Atau mencari investor baru yang mau menanamkan modal meskipun dengan harga saham yang murah sekarang.”
Agung menggeleng pelan. Ia menarik tubuh istrinya mendekat, membiarkan Larasati bersandar nyaman di dadanya sambil tangannya membelai rambut panjang wanita itu dengan lembut.
“Menjual aset hanya akan membuat kita semakin lemah. Dan mencari investor baru di saat seperti ini sama saja dengan mengundang serigala masuk ke dalam kandang domba. Mereka akan mengambil alih perusahaan kita dari dalam.”
Ia terdiam sejenak, lalu menunduk menatap wajah istrinya dengan tatapan yang tulus dan lembut, hilang sudah sifat dingin sang CEO.
“Kau tahu tidak… kalau memang nanti semuanya benar-benar hancur. Kalau kita benar-benar kehilangan segalanya. Apakah kau akan menyesal menikah denganku? Apakah kau akan menyesal pernah terjebak dalam semua kerumitan hidupku ini?”
Larasati mendongak cepat, matanya membelalak tidak percaya mendengar pertanyaan itu. Ia mengangkat tangan, menutup mulut suaminya dengan lembut namun tegas.
“Jangan pernah bicara begitu, Agung Pratama Saraswati. Jangan pernah. Aku tidak pernah menyesal sedetik pun menikahimu. Bahkan saat aku tahu kau bohong soal identitasmu. Bahkan saat kita hampir bercerai karena amarahku. Bahkan saat kita menghadapi musuh yang ingin membunuh kita sekalipun. Karena bagiku… hidup bersamamu, meski penuh badai seperti ini, jauh lebih berharga daripada hidup tenang dan mewah tanpa bersamamu.”
Ia mencium bibir suaminya pelan namun penuh makna, ciuman yang mengandung seluruh cinta dan kesetiaan yang telah mereka bangun selama belasan tahun.
“Kalau nanti kita benar-benar kehilangan segalanya… tidak apa-apa. Kita akan mulai lagi dari nol. Sama seperti dulu. Kita bisa kembali tinggal di kontrakan kecil. Aku bisa kembali bekerja keras dari bawah. Kau bisa kembali bekerja serabutan. Yang penting… kita masih bersama. Anak-anak masih sehat. Itu sudah cukup bagiku. Itu sudah lebih dari cukup.”
Air mata Agung akhirnya menetes juga. Ia memeluk istrinya erat-erat seolah ingin menyatu dengan tubuh wanita itu. Wanita yang mencintainya saat dia tidak punya apa-apa. Wanita yang tetap setia berdiri di sisinya saat dia memiliki segalanya. Wanita yang bahkan siap kehilangan segalanya lagi asalkan tetap bersamanya.
“Aku beruntung sekali memilikimu, Laras. Lebih beruntung dari yang bisa diucapkan kata-kata.”
Tepat saat itu, pintu kamar terbuka pelan. Bagas masuk berlari kecil dengan wajah berseri-seri, diikuti oleh Lala dan Reno yang baru saja tiba di rumah.
“Ayah! Ibu! Aku menemukan sesuatu!” seru Bagas semangat, menyerahkan laporan cetakannya pada orang tuanya. “Lihat ini! Ada celah dalam cara mereka menyerang saham kita. Kalau kita memutar dana kita seperti ini dan bekerja sama dengan petani untuk menunda penjualan panen sebentar… kita bisa menjebak mereka balik dan menyelamatkan perusahaan!”
Agung dan Larasati saling berpandangan terkejut, lalu segera membaca laporan yang dibuat putra kecil mereka. Semakin lama mereka membaca, semakin mata mereka berbinar karena harapan yang baru saja tumbuh kembali. Laporan itu cerdas, teliti, dan sangat brilian — jauh melampaui usia Bagas yang baru sepuluh tahun.
Lala maju selangkah, wajahnya penuh tekad.
“Dan aku juga punya rencana, Ayah, Ibu. Aku akan mengumpulkan perwakilan petani dari seluruh desa. Mereka bersedia membantu kita. Mereka mau menunda penjualan panen mereka sebentar dan mendukung kita dengan cara apa pun yang mereka bisa. Mereka bilang… keluarga Saraswati sudah banyak menolong mereka. Sekarang giliran mereka menolong kita.”
Reno juga mengangguk mantap.
“Saya juga sudah menghubungi beberapa kenalan lama saya yang bekerja di media independen. Mereka bersedia membantu menyebarkan kebenaran tentang kondisi perusahaan kita dan niat jahat kelompok Viktor Reinhard. Tidak semua orang mau dibohongi oleh isu-isu palsu.”
Agung dan Larasati menatap anak-anak mereka dan Reno yang berdiri di depan mereka dengan penuh semangat dan keyakinan. Rasa lelah yang tadi menghimpit dada mereka perlahan luruh, digantikan oleh kehangatan dan kekuatan yang baru tumbuh kembali.
Mereka tidak sendirian dalam perjuangan ini. Mereka punya keluarga yang utuh, anak-anak yang sudah tumbuh menjadi pribadi yang luar biasa, dan ribuan orang yang setia berdiri di belakang mereka. Badai keuangan ini mungkin besar dan mengerikan. Tapi mereka sudah melewati badai yang jauh lebih mengerikan saat mereka hanya berdua di kontrakan kecil dulu.
Dan sekarang, dengan seluruh kekuatan keluarga dan orang-orang yang mencintai mereka… mereka yakin bisa melewati badai ini juga. Dan keluar sebagai pemenang yang lebih kuat dari sebelumnya.
Namun di luar sana, di sebuah hotel mewah di pusat kota, Viktor Reinhard menerima laporan bahwa serangannya tidak berjalan semulus yang dia rencanakan. Pria Jerman itu tersenyum dingin, tidak marah sedikit pun. Ia justru merasa tertantang.
“Bagus. Keluarga ini ternyata lebih kuat dari yang kuduga. Tapi itu baru permulaan. Jika mereka ingin bermain keras… mari kita lihat seberapa kuat mereka saat aku menyerang hal yang paling mereka hargai selain harta dan perusahaan. Anak-anak mereka.”
Ia menekan tombol telepon di mejanya, suaranya dingin tanpa perasaan.
“Siapkan tim khusus. Targetkan anak laki-laki mereka, Bagas. Dia yang menemukan celah strategi kita. Buat dia tidak bisa lagi mengganggu rencana kita. Dengan cara apa pun.”