Miracle. menceritakan Ayyasy dan teman-temannya yang hanya siswa biasa melihat bintang jatuh yang jatuh ke arah gunung belakang komplek mereka. mereka menyentuh batu itu dan mendapatkan kekuatan. setelah mereka mendapatkan kekuatan, ancaman ancaman dari monster monster mulai berdatangan. mereka pun harus menjadi penjaga dunia.
bersamaan dengan itu, mereka juga mulai bertemu dengan pahlawan pahlawan dari kota lain yang memiliki nama tim yang sama yaitu, Miracle
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Dari Kehampaan
Jauh dari hiruk-pikuk Kota Zenith dan ketenangan SMA Perbatasan, di sebuah dimensi antah-berantah yang tak tersentuh oleh peta Empat Kota, atmosfer terasa dingin dan mati. Tempat itu adalah Kuil Kehampaan—sebuah reruntuhan batu hitam yang melayang di tengah ruang hampa tanpa batas, tanpa cahaya matahari maupun pergerakan udara.
Di tengah aula utama kuil yang temaram, Erebos berdiri membisu di atas lingkaran ritual gaib. Kristal kelam yang sempat terlepas saat pertarungannya di alun-alun kini kembali mengambang sempurna di atas telapak tangan kanannya, memancarkan gelombang hitam yang kian pekat dan tidak stabil.
Pecahan energi yang ia kirimkan ke SMA Perbatasan memang berhasil dihancurkan oleh kerja sama ke-32 pahlawan Miracle. Namun, raut wajah Erebos di balik bayangan penutup kepalanya sama sekali tidak menunjukkan kekecewaan. Sebaliknya, sebuah senyuman dingin dan penuh intrik terukir jelas.
"Pahlawan dari Empat Kota... kalian sungguh padu," bisik Erebos, suara gema dinginnya memantul di pilar-pilar batu kuil yang lapuk. "Kalian berhasil mempertahankan benteng kecil kalian dan menikmati kedamaian sementara. Tapi kalian tidak sadar... bahwa setiap serangan yang kulepaskan hanyalah cara untuk membaca batas kekuatan kalian."
Erebos mengangkat tangan kirinya ke udara. Dari kegelapan lantai kuil, mencuat sebuah peta hologram dimensi raksasa yang menampilkan titik koordinat Empat Kota: Zenith, Kosmik, Cyber, dan Harvest, dengan SMA Perbatasan tepat berada di titik tengah pertemuannya.
Dengan pergerakan jemarinya, Erebos mengarahkan empat titik energi hitam dari kristal kelamnya menuju empat sudut utama peta tersebut.
"Kalian terlalu fokus menjaga tempat berkumpul kalian di SMA Perbatasan," gema suara Erebos kian dalam dan penuh intimidasi. "Kalian berpikir aku hanya mengincar satu titik. Padahal untuk menguasai dunia ini dan meremukkan pilar perdamaian kalian sampai ke akar-akarnya, aku hanya perlu memisahkan kalian kembali."
Rencana Erebos untuk penyerangan selanjutnya telah matang. Ia tidak lagi akan menyerang secara frontal dengan satu gelombang pasukan bayangan. Langkah berikutnya adalah memicu anomali energi kehampaan secara serentak di jantung masing-masing kota asal mereka:
Sektor Inti Energi di Kota Kosmik: Untuk mematikan sistem analisis dan pelacak milik Dimas.
Jaringan Server Utama di Kota Cyber: Untuk melumpuhkan komunikasi dan sihir teknologi Arunnaqa.
Lumbung Elemen di Kota Harvest: Untuk mengacaukan pasokan sihir pertahanan alami Tasya dan Davi.
Pusat Logistik dan Pertahanan Kota Zenith: Untuk memancing Ayyasy dan Night terpisah dari rombongan utama.
Ketika ancaman berskala besar meletup di empat tempat yang berbeda secara bersamaan, ke-32 anggota Miracle akan dipaksa untuk membagi kekuatan mereka menjadi tim-tim kecil. Dan di saat itulah—ketika ikatan kebersamaan mereka terenggangkan oleh jarak—Erebos akan turun langsung untuk menghancurkan mereka satu per satu.
Erebos menggenggam rapat kristal kelam di tangannya. Peta hologram di hadapannya seketika meledak menjadi debu hitam yang menyebar ke dalam kegelapan dimensi.
"Nikmatilah hari libur kalian yang hangat, Ayyasy... Night... dan seluruh anak-anak Miracle," bisik Erebos seraya berbalik melangkah menuju pintu gerbang dimensi kehampaan. "Karena saat badai selanjutnya datang, tidak akan ada lagi tempat untuk bersembunyi."
Erebos menghentakkan tongkat batu hitamnya ke lantai aula Kuil Kehampaan. Getaran spiritual yang kuat merambat cepat melalui celah-celah batu kuno, memicu nyala api berwarna ungu gelap di sepanjang dinding kuil. Dari balik kegelapan lorong-lorong kuil yang suram, bermunculan sosok-sosok panglima kehampaan—empat entitas bayangan kelas tinggi yang memiliki aura jauh lebih pekat ketimbang monster-monster yang menyerang SMA Perbatasan sebelumnya.
Keempat panglima itu berlutut di hadapan Erebos, menundukkan kepala mereka yang tak berwajah di atas lingkaran ritual gaib.
"Kalian berempat adalah ujung tombak dari fase ini," ujar Erebos dengan nada dingin yang menembus jiwa. "Masing-masing dari kalian akan memimpin pasukan pecahan kehampaan menuju target yang sudah ditentukan. Jangan biarkan mereka menyadari koordinasi ini sampai semuanya terlambat."
Panglima pertama, yang diselimuti oleh aura petir hitam bermuatan distorsi frekuensi, mengangguk perlahan. Ia ditugaskan untuk mengacaukan Kota Cyber, melumpuhkan seluruh jaringan komunikasi dan benteng teknologi tempat Arunnaqa dan para ahli siber berasal.
Panglima kedua, berupa sosok pelindung bertubuh batuan kelam yang menyerap energi di sekitarnya, dialokasikan untuk memporak-porandakan lumbung elemen Kota Harvest, memutus pasokan sihir alami yang menjadi benteng utama para pengguna sihir pertahanan seperti Davi dan Tasya.
Panglima ketiga, berupa pusaran gravitasi berbentuk bayangan tanpa wujud fisik, diperintahkan untuk mengacaukan observatorium dan pusat energi Kota Kosmik, menutupi pandangan analisis Dimas dari bahaya yang sebenarnya.
Dan panglima terakhir, sosok paling pekat yang membawa bilah pedang kehampaan pekat, akan dikirim ke Kota Zenith untuk memicu kekacauan terbesar demi memancing Ayyasy dan Night.
"Ingat," sambung Erebos seraya melangkah melewati keempat panglimanya, "tujuan kalian bukan sekadar merusak fasilitas kota. Tujuan utama kalian adalah memecah fokus ke-32 pahlawan Miracle tersebut. Buat mereka terdesak hingga terpaksa mengambil keputusan untuk bertarung secara terpisah."
"Baik, Yang Mulia Erebos..." bisik keempat panglima itu serempak, suara mereka bergema ganda seperti bisikan angin malam yang beracun.
Dengan satu kibasan jubah Erebos, sebuah retakan dimensi berbentuk pusaran hitam raksasa menganga di tengah aula. Keempat panglima kehampaan melangkah masuk ke dalam gerbang dimensi tersebut satu per satu, membawa serta ribuan benih teror yang siap meletup di Empat Kota.
Erebos berdiri menatap retakan dimensi yang perlahan menutup kembali. Di tangannya, kristal kelam berdenyut semakin kencang, menyelaraskan denyut energinya dengan empat retakan yang baru saja dibuka.
"Kalian telah membangun ikatan yang kuat di SMA Perbatasan," bisik Erebos, menatap bayangan Kota Zenith yang terpantul di permukaan kristalnya. "Tapi ikatan terkuat sekalipun akan retak jika ditarik ke empat arah yang berbeda secara bersamaan. Pertunjukan yang sesungguhnya... baru saja dimulai."
Kegelapan di Kuil Kehampaan makin memikat, menyembunyikan badai besar yang kini mulai merayap pelan menuju dunia permukaan, siap menguji ketahanan ke-32 pahlawan Miracle Zenith sampai pada batas terluar mereka.