Tiga tahun menikah, Rendy selalu dihina, diperlakukan seperti pembantu, dan dibeda-bedakan oleh ibu mertua serta iparnya karena hanya dianggap seorang sopir miskin tak berpendidikan. Clarissa, sang istri, hanya bisa diam menahan tekanan keluarga besarnya. Puncaknya, saat bisnis keluarga mengalami krisis, Rendy difitnah mencuri, dipaksa menandatangani surat cerai, dan diusir di tengah hujan deras tanpa membawa apa pun.
Namun, keluarga itu tak pernah tahu bahwa Rendy sebenarnya adalah satu-satunya ahli waris Pradipta Group—konglomerat terbesar yang sengaja menyamar demi menguji ketulusan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Mita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Tamu Tak Diundang
Kedatangan Siska di ambang pintu penthouse membawa gelombang kecanggungan yang membeku di dalam ruangan. Tatapan tajam sekretaris cantik itu sempat menguliti penampilan Clarissa yang acak-acakan sebelum akhirnya beralih penuh kepatuhan pada sosok Rendy Pradipta.
Rendy memiringkan kepalanya sedikit, melirik Clarissa yang masih terduduk lemas di sofa kulit.
"Masuklah ke kamar mandi di sebelah dalam, Clarissa," ujar Rendy pendek. Suaranya datar, tanpa emosi, namun menyiratkan perintah mutlak yang tidak bisa dibantah.
Clarissa menggigit bibirnya kuat-kuat. Dengan sisa tenaga dan persendian lututnya yang masih gemetaran akibat sentuhan gairah Rendy beberapa saat lalu, ia bangkit dari sofa. Jemari lentiknya merapikan gaun backless merah marunnya yang kusut, lalu berjalan gontai menuju pintu kamar mandi utama berlapis kaca buram di sudut penthouse.
CLLACK!
Pintu kamar mandi terkunci dari dalam. Clarissa menyandarkan punggung mulusnya yang terbuka pada daun pintu yang dingin, menarik napas panjang dengan dada yang naik turun tak beraturan.
Di ruang utama penthouse, Siska melangkah masuk dengan balutan gaun malam perak yang memeluk erat lekuk tubuhnya yang indah. Aroma parfum mawar mewah yang memikat menyebar halus saat ia berjalan mendekati Rendy.
"Saya membawa berkas analisis aset tambahan milik Pak Hendra dan Ibu Rosma, Tuan Presdir," tutur Siska dengan suara yang mendadak melunak—berubah menjadi begitu merdu, halus, dan sarat akan nada manja yang sengaja ditinggikan.
Siska menyerahkan map kulit hitam itu, namun alih-alih langsung melepaskannya, jemari lentiknya yang berpoles kuku merah secara sengaja mengusap punggung tangan Rendy. Usapan lembut itu terasa begitu lambat, memberikan sengatan kehangatan yang amat memikat.
Rendy menerima berkas tersebut tanpa memindahkan posisi tangannya. "Apakah ada masalah dengan penilaian tim auditor?"
Siska melangkah satu pijakan kian merapat. Paha mulusnya yang terpapar di balik belahan gaun perak bergeser pelan menyentuh celana bahan tegap Rendy. Siska mendongakkan wajah cantiknya, menatap rahang tegap sang Presdir dengan binar mata yang dipenuhi kekaguman dan gairah yang tak tersembunyi.
"Tidak ada masalah, Tuan," bisik Siska seraya memiringkan kepalanya sedikit. Suara desah napas hangatnya sengaja ditiupkan pelan ke arah leher kemeja putih Rendy. "Hanya saja... tim auditor menemukan beberapa rekening rahasia atas nama Ibu Rosma yang digunakan untuk menampung uang hasil memeras pengusaha lokal. Saya pikir Anda perlu meninjaunya malam ini juga... sambil saya temani."
Jemari Siska merayap naik, mengusap lembut dada kemeja putih Rendy seraya merapikan letak kerahnya dengan gerakan yang amat intim dan memanjakan.
Di balik pintu kamar mandi berlapis kaca buram, Clarissa berdiri mematung.
Suara percakapan di luar terdengar begitu jelas melalui celah pintu yang tipis. Setiap desah manja Siska, setiap usapan suara sekretaris itu yang merayu mantan suaminya, menghantam dada Clarissa bagaikan tikaman pisau beracun.
Clarissa memegangi dadanya yang berdegup kencang. Di dalam ruangan mandi yang dingin dan diterangi pendar lampu temaram itu, gelombang cemburu yang teramat dahsyat membakar seluruh aliran darahnya. Hatinya teremas nyeri membayangkan bagaimana Siska—seorang wanita karier yang begitu cantik, sempurna, dan berkelas—kini sedang menyentuh, merayu, dan memamerkan bentuk tubuhnya di depan Rendy.
Tidak... Mas Rendy itu suamiku... bisik batin Clarissa dalam keputusasaan yang menyiksa. Air mata kembali meleleh menyusuri pipinya yang hangat.
Namun, kenyataan pahit seketika menampar kesadarannya. Rendy bukan lagi suami penurut yang selalu menunggunya di rumah kontrakan kusam. Rendy adalah raja triliuner yang kini memiliki segalanya, dan wanita seperti Siska memiliki akses penuh untuk mendapatkan perhatian pria itu setiap detik.
Rasa cemburu itu bercampur dengan desir panas bekas sentuhan bibir Rendy yang masih tertinggal di lehernya, menciptakan siksaan batin yang membuat Clarissa nyaris tak sanggup berdiri tegak.
Di ruang utama, Rendy membuka map dokumen tersebut, membaca deretan angka di bawah pijaran lampu dinding tanpa mengubah raut wajahnya yang membeku.
"Bagus," komentar Rendy dingin seraya menutup map tersebut. "Simpan dokumen ini. Besok pagi gabungkan dengan bukti penggelapan dana milik Dion."
Siska menyunggingkan senyum memikat, matanya melirik sinis ke arah pintu kamar mandi kaca buram di sudut ruangan. Sebagai seorang wanita yang cerdik, Siska tentu sangat menyadari kehadiran Clarissa di dalam sana. Keberadaan mantan istri Rendy yang bersembunyi bagaikan tikus kecil justru memantik naluri dominasinya untuk memamerkan posisinya di sisi sang Presdir.
"Baik, Tuan Presdir," jawab Siska dengan nada yang amat lembut. "Kalau begitu, saya mohon izin untuk merapikan beberapa berkas di meja Anda sebelum saya pamit pulang."
Siska memutar tubuhnya, melangkah anggun menuju area sudut ruangan tepat di dekat kamar mandi tempat Clarissa bersembunyi.
Saat berjalan melewati ambang pintu kamar mandi berlapis kaca buram itu, Siska sengaja menghentikan langkah kakinya sejenak. Dengan gerakan jemari yang amat halus dan terlatih, Siska memegang anting berlian mewahnya yang menggantung anggun di daun telinga kirinya.
KLIK!
Dengan sengaja, Siska melepaskan kait anting berlian mahal tersebut, membiarkan perhiasan berkilau itu terjatuh dan memantul pelan tepat di atas lantai marmer... persis di celah bawah pintu kamar mandi tempat Clarissa berdiri menahan napas.
Sambungan Bab 24
Bunyi gemerincing halus dari anting berlian yang memantul di atas marmer terdengar begitu jelas di tengah keheningan ruangan. Perhiasan itu menggelinding pelan hingga berhenti tepat di celah tipis bawah pintu kamar mandi.
"Ah, anting saya terjatuh," ujar Siska dengan nada suara yang sedikit ditinggikan, sengaja memastikan setiap perkataannya terdengar menembus pintu kaca buram.
Siska membungkukkan tubuhnya yang terbalut gaun perak dengan gerakan yang amat anggun dan sengaja dilambat-lambatkan. Jemari lentiknya mengambil anting berlian tersebut tepat di depan celah pintu, seraya menyunggingkan senyum kemenangan yang sarat akan penghinaan bisu bagi wanita yang berada di balik pintu.
Dari balik celah sempit di bawah pintu, Clarissa sempat menangkap kilatan cahaya berlian dan bayangan jemari lentik Siska yang berpoles kuku merah darah.
Jantung Clarissa berdegup kencang bagai dihantam palu raksasa. Ia menahan napasnya erat-erat, meremas gaun backless merahnya dengan telapak tangan yang basah oleh keringat dingin. Rasa cemburu, kehinaan, dan rasa sakit yang menyayat hati menyatu menjadi gelombang menderita yang membakar dadanya. Ia merasa bagaikan seorang pencuri yang tengah bersembunyi di dalam tempat yang seharusnya pernah menjadi hak miliknya.
Siska kembali menegakkan tubuhnya secara perlahan, berbalik menghadap Rendy yang masih berdiri tenang di dekat meja utama.
"Sudah saya ambil, Tuan Presdir," tutur Siska dengan suara merdu yang memanjakan pendengaran. Matanya menatap Rendy penuh binar godaan. "Kalau begitu, saya pamit dulu. Jangan bekerja terlalu larut... saya khawatir kesehatan Anda terganggu."
Rendy hanya mengangguk pendek tanpa ekspresi. "Bagas akan mengantarmu ke bawah."
Siska menyunggingkan senyum tipis yang amat memikat, melangkah anggun melewati Rendy seraya sengaja membiarkan kibasan gaun peraknya mengusap pelan kaki celana bahan Rendy sebelum akhirnya keluar dari pintu utama penthouse.
CLLACK!
Pintu mahoni gelap menutup rapat kembali. Suasana di dalam ruangan luas itu seketika kembali sunyi mencekik.
Rendy berdiri mematung beberapa saat di bawah pijaran lampu keemasan. Pandangannya yang dingin terarah lurus ke pintu kamar mandi berlapis kaca buram.
"Keluar, Clarissa," suara Rendy mengudara—berat, rendah, dan memotong keheningan tanpa rasa iba sedikit pun.
Pintu kaca buram bergeser pelan. Clarissa melangkah keluar dari dalam kamar mandi dengan tubuh yang bergetar hebat. Wajah cantiknya pucat pasi, matanya sembap dan memerah akibat sisa air mata yang tak sanggup lagi ia tahan.
Melihat Rendy yang berdiri tegap dalam keagungannya, seluruh pertahanan emosional Clarissa runtuh sepenuhnya.
"Apakah... apakah wanita itu yang sekarang menggantikanku, Mas?" suara Clarissa pecah dalam keputusasaan yang teramat dalam, air mata meluncur deras membasahi pipinya seraya ia menatap pria yang amat dicintainya itu. "Apakah kamu sengaja membiarkan wanita lain menyentuhmu dan menghinaku hanya untuk membalas dendam pada keluargaku?!"