“Aku tidak akan menceraikanmu, Tiara.”
Haikal mengucapkan kalimat itu tanpa sedikit pun keraguan.
“Dan aku mengizinkanmu tetap tinggal di rumah ini.”
Air mata Tiara mulai mengalir lagi.
“Tapi, izinkan aku untuk menikah lagi.”
Tiara menatap pria yang selama ini menjadi tempatnya menggantungkan seluruh hidup. Pria yang baru saja ia kira akan menerima kekurangannya yang divonis mandul oleh Dokter.
Ternyata, Haikal hanya tidak ingin kehilangan istrinya. Ia ingin mempertahankan Tiara sebagai istri pertama sekaligus mengambil wanita lain sebagai calon ibu bagi anak-anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoungLady, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Sejak mendengar kabar tentang Intan yang kembali muncul di sekitar Permana, Tiara tidak bisa lagi menganggap semuanya sebagai kebetulan.
Dulu, Intan mengejar Haikal ketika pria itu masih memiliki segalanya. Ia masuk ke dalam kehidupan rumah tangga mereka, menghancurkan kepercayaan, dan membuat Haikal percaya bahwa Tiara adalah wanita yang tidak mampu memberinya keturunan.
Namun sekarang keadaan sudah berubah.
Haikal telah jatuh.
Pabriknya bermasalah, utang menumpuk, dan tubuhnya pun digerogoti penyakit berat. Tidak ada lagi kemewahan yang bisa dibanggakan. Tidak ada lagi kehidupan nyaman yang bisa dijadikan sandaran.
Dan anehnya, tepat ketika Haikal kehilangan semuanya, Intan justru mulai mendekati Permana.
Tiara tidak bodoh.
Ia tahu apa yang sedang dilakukan wanita itu.
“Jadi, setelah target pertamamu bangkrut dan sakit parah, sekarang suamiku menjadi target kedua?” gumam Tiara.
Tangannya mengepal.
Permana bukan Haikal.
Permana tidak mudah dipengaruhi oleh kecantikan atau rayuan murahan. Namun Tiara tetap tidak ingin mengambil risiko.
Ia akan membuat Intan takut.
Kalau wanita itu masih nekat mendekati Permana, Tiara akan menyeretnya ke kantor polisi atas kejahatan yang pernah dilakukannya terhadap Haikal.
Keesokan harinya, Tiara sengaja datang ke salah satu kantor cabang milik Permana.
Hari itu Permana kebetulan sedang berada di sana untuk memeriksa laporan keuangan dan beberapa dokumen penting.
Begitu Tiara memasuki lobi, ia langsung melihat seseorang yang sangat dikenalnya.
Intan.
Wanita itu sedang duduk di ruang tunggu sambil memegang map lamaran pekerjaan.
Tiara berhenti melangkah.
Dalam hati, ia tertawa sinis.
Ternyata benar.
Intan bukan sekadar ingin bertemu Permana.
Wanita itu sedang mencari jalan untuk masuk ke dalam perusahaan suaminya.
Tiara berjalan mendekat.
“Intan?”
Intan menoleh.
Wajahnya langsung berubah.
“Kamu?”
Tiara tersenyum.
“Kenapa terkejut?”
“Aku sedang melamar pekerjaan.”
“Di perusahaan suamiku?”
Intan terdiam.
Sebelum ia sempat menjawab, pintu ruangan Permana terbuka.
Seorang staf keluar dan berkata, “Bu Tiara, Pak Permana sedang ada di dalam.”
Tiara mengangguk.
“Baik.”
Namun sebelum masuk, ia melihat Intan berdiri dan membawa mapnya.
“Pak Permana juga ingin bertemu denganku,” kata Intan.
Tiara hanya tersenyum.
“Silakan.”
Mereka akhirnya masuk bersama.
Permana yang sedang duduk di belakang meja langsung mengangkat wajah.
Ia terkejut melihat Tiara.
“Kamu datang?”
Tiara tersenyum.
“Iya, Mas. Aku ingin melihat suamiku bekerja.”
Permana berdiri dan menghampiri istrinya.
Namun sebelum sempat mengatakan sesuatu, Intan meletakkan map di atas meja.
“Saya datang untuk melamar pekerjaan, Pak.”
Permana menatap map tersebut.
“Posisi apa?”
“Bagian administrasi.”
Permana membuka map itu sekilas.
Kemudian wajahnya berubah dingin.
“Tidak.”
Intan tertegun.
“Tidak?”
“Kamu tidak diterima.”
Intan mengerutkan kening.
“Tapi Bapak bahkan belum mewawancarai saya.”
“Tidak perlu.”
“Kenapa?”
Permana meletakkan map itu kembali di meja.
“Karena perusahaan ini bukan tempat yang tepat untukmu.”
Wajah Intan memerah.
“Bapak tidak adil! Kenapa langsung menolakku tanpa tes dan interview?”
Permana menatapnya tajam.
“Kamu ingin tahu kenapa?”
Intan terdiam.
Permana berdiri.
“Kamu penggoda, perusak rumah tangga orang. Orang seperti kamu mau diterima bekerja di perusahaan saya yang bersih?”
Suasana ruangan mendadak sunyi.
“Mimpi!”
Wajah Intan pucat.
“Bapak…”
“Saya tahu apa yang kamu lakukan kepada Haikal.”
Intan menggigit bibir.
Permana menekan tombol telepon di mejanya.
“Panggil keamanan.”
Tiara yang berdiri di samping suaminya hanya menyaksikan dengan tenang.
Beberapa detik kemudian, dua petugas keamanan datang.
“Bawa wanita ini keluar dari perusahaan.”
Intan panik.
“Pak, tunggu!”
Permana tidak menghiraukannya.
“Mulai sekarang, jangan pernah datang lagi ke perusahaan saya untuk alasan apa pun.”
Kedua petugas keamanan mendekati Intan.
Wanita itu akhirnya terpaksa membawa mapnya.
Sebelum keluar, Intan menatap Tiara dengan kebencian.
Tiara justru tertawa kecil.
“Tidak semua pria gampangan seperti Haikal.”
Ia melangkah mendekati Intan.
“Mas Permanaku berbeda.”
Intan mengepalkan tangannya.
“Awas kamu, ya!”
Tiara tidak gentar.
“Sebaiknya kamu pergi dan menjauh dari suamiku.”
Ia berhenti sejenak.
“Atau aku akan membuat laporan kepada polisi atas kejahatan yang kamu lakukan pada Haikal.”
Seketika keberanian Intan lenyap.
Wajahnya berubah pucat.
“Tidak…”
Tiara menatapnya dingin.
“Apa?”
“Jangan lakukan itu.”
Intan mulai ketakutan.
“Aku mohon.”
Tiara menyilangkan tangan.
“Kenapa takut?”
Intan menunduk.
“Aku akan pergi dari sini.”
“Dan?”
“Aku tidak akan mendekati Pak Permana lagi.”
Tiara menatapnya lama.
“Bagus.”
Intan kemudian dibawa keluar oleh petugas keamanan.
Namun sebelum mencapai pintu, ia tiba-tiba berhenti.
Ia menoleh kepada Tiara. Tatapannya tajam, mulutnya bergetar seperti sedang mengumpat dalam diam.
"Kali ini, aku tidak akan kalah darimu lagi, Intan."
Bersambung…